NovelToon NovelToon
RED IS YOU

RED IS YOU

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Nela Kurniaty Idris

Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.

Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.

Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?

Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.

WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PETUAH CINTA

Desau angin malam  dapat terdengar dari dalam kamar, seorang wanita memilih menikmati sejuk yang mungkin tercipta untuknya malam ini. Matanya tak juga terpejam meski sudah dipaksa.

Red menarik selimut agar sempurna menutupi tubuh Razqa dan melakukan hal yang sama untuk dirinya. Dadanya panas, gelisah tak jelas membayangkan apa yang sedang Rangga lakukan di malam pengantinya. tapi air mata tidak bisa keluar. Red memang jarang sekali menangis, malam ini saat dia ingin pun, air mata itu tak juga hadir.

Abah sering bilang, tidak boleh ada air mata untuk pengkhianatan.

Mungkin karena doktrin itu pula, tubuh dan pikirannya patuh untuk tidak menangisi kepergian. Meski dia mempercayai dan masih bergantung dengan janji yang Rangga ucapkan.

Enam bulan yang berat sudah dilaluinya, berjuang hidup dan menutupi kenyataan dari Razqa. Bekerja apa saja termasuk menjadi sales promotion girl dua bulan terakhir ini. Kini dia siap menghadapi enam bulan berikutnya.

***

Di atas kasur ukuran besar yang tidak kalah dingin, padahal di atasnya sudah berbaring sepasang pengantin. Seorang wanita memakai baju serba tipis mencoba mendekati sang suami.

“Hey, kamu ngapain!?”

Tidak seperti pasangan pengantin lain, lelaki ini justru tampak begitu terkejut dan takut melihat wanita dengan pakaian setengah  jadi itu mendekatinya.

“Mau … mau tidur lah mas,” ucap istrinya pelan.

“Ini tempat tidur Runa, kamar mu sebelah sana. Ka-mar-ta-mu! tanya sama Bi Evi atau Mama kalau kamu belum tau,” jawab Rangga tegas.

Acy sekali lagi mengelus dadanya, stok kesabarannya masih cukup banyak. Mungkin ini adalah resiko yang harus dia terima karena harus memiliki Rangga dengan cara mencurinya dari Runa.

“Tapi kan, Runa?” Acy mencoba menyadarkan Rangga bahwa Runa saat ini hanya sebatas halusinasinya saja.

“Runa apa? Runa udah bukan istri ku? Ingat Acy, Runa itu hanya janda sementara! Kamu yang akan bantuin aku buat dia kembali ke kamar ini! Ini memang rumah Mama, tapi kami terbiasa menghabiskan malam di ranjang ini kalau menginap disini, itu di lemari sana gak boleh ya kamu masukin baju-baju kamu. Ya itu sih kalau kamu mau anak kamu dapat hak yang sama seperti anak pada umumnya,”

“Mas Rangga! Dia gak salah!”

Acy memegang perutnya yang masih datar.

“Ya, aku tau! Hanya saja dia bernasib cukup malang karena harus hidup dalam Rahim seorang perempuan seperti kamu! Sudahlah Acy, aku benci malam itu, aku benci mengingat hal yang menyebabkan Runa dan Razqa meninggalkan ku!”

“Tapi dia pengen tidur disini, Mas.”

Acy masih mencoba merayu Rangga.

“Berhenti disitu! Oke kalau anak itu mau tidur disini, aku yang akan tidur di ruang tamu.”

Rangga membawa bantal dan selimutnya keluar kamar. Sebelum menutup pintu kamar, langkahnya berhenti sebentar.

“Oh ya satu lagi, jangan lagi mencoba merayu ku dengan baju saringan kelapa itu. Kamu tanpa busana saja pun aku sama sekali tidak tertarik. Aku tidak akan pernah menyentuh mu! kalaupun  suatu hari aku khilaf, kamu mungkin akan mendapatkan tubuhku, tapi kamu tau betul kan siapa pemilik cinta ku?”

Kemudian Rangga meninggalkan Acy yang termangu mencerna kalimatnya. Rangga ternyata sangat jauh dari perhitungannya. Padahal sebelum kejadian itu, Rangga cukup ramah dan menghargai Acy sebagai teman.

Acy memukul-mukul Kasur dengan tangannya. Entah cinta atau ambisinya yang kini lebih kuat. Dia belum akan menyerah, ini baru malam pertama. Ya, malam pertama yang menyedihkan.

***

Langit fajar kian terang, Red terbangun dan mendapati Razqa yang sudah tidak berada disampingnya, mungkin dia pindah ke kamar kakeknya. Wanita dua puluh empat tahun itu menguncir rambut lebatnya dan segera menuju dapur.

Red menyiapkan alat dan bahan untuk membuat nasi goreng. Kemampuan memasak Red bisa diandalkan. Tidak memerlukan waktu lama, nasi goreng sudah tersaji lengkap dengan ayam suir, telur dadar dan acar.

“Huum, nasi goreng mimi!”

Seru Razqa yang baru datang bersama kakeknya dari pintu depan.

“Salam dulu sebelum masuk rumah, Razqa!” ingat sang kakek sambil meletakkan sajadah dan peci di tempatnya. Abah Anwar baru pulang dari shalat subuh berjamaah di masjid bersama cucunya.

“Eh iya, Assalamualaikum mimi!”

“Waalaikumsalam, oh Razqa ikut kakek ke masjid ya?” sambut Red.

Abahnya itu selama ini bukan hanya menjaga Razqa, tapi juga memberikan pendidikan yang baik untuk puteranya.

“Razqa, bangunin Om Eja sana, pasti dia belum shalat subuh,” perintah sang kakek.

Tanpa banyak bertanya, Razqa menuju ke kamar Reza dan benar saja Omnya itu masih meringkuk di dalam selimutnya. Razqa naik ke tempat tidur bujang milik Reza dan menggoyang-goyangkan badannya.

“Om, Om Eja bangun udah siang. Shalat subuh dulu!”

“Erhmmmmmh.”

Bukannya bangun, kembaran Razqa beda usia itu malah menutup wajah dan telinganya dengan bantal serta menepis tangan Razqa dari tubuhnya.

“Oom gak mau bangun nih? Yaudah, tidurlah …. Tidurlah … tidurlah Om Eja ….”

Setelah membuat Reza semakin nyaman dengan tidurnya, Razqa keluar memberi laporan pada sang kakek bahwa Reza menolak bangun dan malah semakin tertidur. Abah Anwar sebentar pergi ke kamar mandi kemudian menuju kamar Reza.

“Aisyah … Aisyah, tolong Abang Eja, oh Aisyah! Abang tenggelam, ini lautan beneran Aisyah bukan lautan asmara! Toloooooong Aisyaaaah ….”

Reza tampak melambai-lambaikan tangan dengan ekspresi kelemasan. Razqa terpingkal-pingkal menertawakan omnya, sedangkan Abah Anwar bercekak pinggang, murka. Sempat-sempatnya anak bungsunya itu memimpikan seorang gadis padahal sudah melewatkan shalat subuhnya.

“Nih, ini Aisyah nih!” Abah menarik kuping Reza, baju Reza sudah setengah basah karena percikan air dari gayung yang Abah bawa.

“Aduh, Aduh, ampun Aisyah, Abang janji besok taubat, gak main game sampai pagi lagi,” ungkap Reza masih dalam igaunya.

Kupingnya kini memerah, Reza terkejut saat matanya sudah terbuka dan kesadarannya sudah sempurna. Ternyata Aisyah dalam mimpinya adalah Abahnya di dunia nyata. Pantas saja agak sedikit berkumis tipis menyeramkan.

Reza menggusal-gusal matanya. “Abah?”

“Bangun dan shalat sekarang! atau Abah doakan cinta kamu bertepuk sebelah tangan?”

Ancaman Abah selalu telak.

“Ampun Bah ampun, iya ini Eja bangun, Abah!”

Reza kesal melewati Razqa yang yang terpingkal-melihatnya dimarahi Abah. Reza tau bocah itu tadi tidak sungguh-sungguh saat membangunkannya.

“Kamu sih!” rutuk Reza kepada Razqa yang bersembunyi di belakang tubuh sang kakek.

***

Setelah melaksanakan shalat subuh yang kesiangan, Reza bergabung bersama Abah, kakak dan keponakannya di meja makan. Rambutnya masih basah, wajah kusutnya dipaksa segar daripada Abah kembali ke kamar dan dia mendapat siraman susulan.

Runa memperhatikan lipatan wajah Reza yang masih menahan kantuk. Dia menuangkan secangkir teh panas dan mengambilkan nasi goreng ke piring adiknya.

“Aisyah itu anak kiyai, Ja. Bayangin kalau bapaknya tau kelakuan kamu di rumah seperti ini. Disuruh mendirikan shalat aja kamu lalai, gimana mau mengimami anak orang?”

Abah memulai kalimat pembukanya, lelaki paruh baya itu tidak pernah bosan mengingatkan anaknya tentang kewajiban yang satu itu.

“Cukup ya, Abah sayang! Eja udah shalat. Dan siapa juga yang mau sama Aisyah, Bah?”

“Iya kek, Om eja gak suka sama Ustadzah Aisyah kok. Cuma bobok terus mimpi apa sih Om tadi? Lautan Asmara? Lautan apa sih itu? Ada buayanya gak Om?” tanya Razqa polos, mengingat kalimat saat Reza meracau tadi.

Sontak tawa keluarga sederhana itu renyah dan hangat menyatu bersama cerahnya sinar matahari yang masuk dari jendela dapur mereka. Reza melototkan matanya ke arah Razqa, bocah itu bukannya takut malah semakin lebar membuka mulutnya.

“Runa, kamu belum pulang ke Batam kan? Bisa temenin Razqa les renang gak? Reza nanti mau temenin Abah ngambil kartu pensiun Abah yang ketinggalan di rumah teman,” pinta Abah.

Abah adalah seorang pensiunan guru sastra Indonesia.

“Ha? Hari ini ya?”

Runa terkejut, hari ini dia sudah membuat janji akan bertemu dengan Rangga karena besok dia harus segera kembali ke Batam.

“Hore, ditemenin mimi!” seru Razqa.

Runa tidak bisa mengelak. Dia akan menggeser waktu pertemuannya dengan Rangga setelah Razqa selesai dengan kelas renangnya.

“InsyaAllah, Bah!” ucapnya.

Setelah selesai sarapan, Reza mengajak Razqa ke kamarnya. Itu salah satu cara agar Abah tidak mencurigainya, di kamar nanti dia akan mengizinkan Razqa memainkan game di ponselnya, sedangkan dia akan tidur sejenak, karena matanya benar-benar mengantuk setelah bermain game sampai dini hari, tadi malam.

Abah menyiram tanaman, Runa mencuci piring bekas sarapan. Setelah semua tanaman mendapatkan jatahnya, Abah kembali ke dapur hendak membantu Runa. Begitulah  Abah, sudah terbiasa dengan pekerjaan perempuan.

Runa kini sedang membersihkan beras untuk dimasak, tangannya mengaduk-aduk beras mentah itu sementara pikirannya menerawang entah kemana. Abah datang membawa sebuah centong nasi berbahan kayu jati yang terukir dua nama disana.

“Mau dicuci sampai jadi nasi itu berasnya?” sindir Abah.

“Abah?”

Runa terkejut dan segera meneyelesaikan pekerjaanya.

“Ini dicuci dulu, kebetulan centong nasi Abah udah rusak.”

Abah menyerahkan benda yang masih bersampul kain tile itu kepada Runa.

Runa mengambil benda itu dan terbacalah nama yang terukir disana. Dia hanya diam dan menatap dalam wajah Abahnya yang santai. Rahayu Arsyla dan Rangga Fadilah, ternyata itu souvenir dari resepsi pernikahan Achy dan Rangga.

“Abah udah tau?” lirihnya.

“Tau apa?” tanya Abah pura-pura, “hehehe, tau dong. Abah kan diundang sama si Suri, mantan mertua kamu itu. Itu tadi malam Abah kondangan, lumayan souvenirnya kayu jati, Run.”

"Mama Suri, mantan mertua aku. Mantan pacar Abah juga di masa lalu, hehe." Runa mencoba mencairkan suasana.

Ada nada sindir yang sangat sarkas dalam kalimat Abah membuat hati anaknya mendadak terasa runyam. Sudah barang pasti Abah akan semakin membenci Rangga dan tidak akan merestui mereka untuk kembali bersama.

“Cinta itu menyembuhkan, Runa. Bagi yang memberi maupun yang menerima. Pekik cinta kalian sangat bising, tapi kamu tidak akan bisa mendengarkan apa-apa. Karena apa? Karena kalian sudah jadi dua orang asing, hanya akan saling berpaling dan tidak akan mungkin kembali bersanding.”

Abah mengucapkannya hati-hati sambil menyusun piring yang sudah kering.

“Abah ngomong apa? Runa kan gak ngerti.”

Red menyalakan kontak dan menekan tombol memasak nasi.

“Cinta juga punya batas uji, dan cinta Rangga sudah tak layak kamu nanti!”

Red terdiam, bila pujangga sudah berdiksi, maka dia hanya bisa mencerna pelan-pelan sambil membuka KBBI.

________________________________

Kasi like, komen dan votenya buat Abah Anwar ya 🥰🥰😍😍😍

1
lLvy
aq kira abhi bakalan gak ngakuin achy adiknya
may
Ih abah ih🤣
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 2 replies
may
Capek ngetawain abhi😩
may
Bisa bisanya mas abhi🤭
may
Mas, kamu lagi gombalin aruna kan? Kok aku yang meleyot😩
may
Sunia ya? 🤭
may
Cihuyyyy🤭
may
😒😒😒
may
Eh, gimana gimana?
may
Padahal udah pernah baca, tapi tetep senyam senyum sendiri di part ini
may
Uhukk uhukkk🤭
Diandari😍
Luar biasa
may
Maksa bgt om eja🤣
may
🤣🤣🤣Ya ampun, capek ngakak
may
Suiwittttt🤭
may
Ya ampun, adegan romantis loh inii😅
may
apaan sih mas abhi🤣
may
loh😂
may
mbak erlin kok gitusih😭
may
"meminta maaf lebih baik dari meminta izin" plisss aku ngakak banget😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!