Sinopsis:
Zayden Levano, pewaris perusahaan besar, dihadapkan pada permintaan tak terduga dari kakeknya, Abraham Levano. Sang kakek memintanya untuk mencari Elara, seorang gadis yang kini bekerja sebagai wanita penghibur di klub malam. Keluarga Zayden memiliki hutang budi kepada keluarga Elara, dan Abraham percaya bahwa Elara berada dalam bahaya besar karena persaingan bisnis yang kejam.
Permintaan ini semakin rumit ketika Abraham menuntut Zayden untuk menikahi Elara demi melindungi dan menjaga warisan keluarga mereka. Di tengah kebingungan dan pertarungan moralnya, Zayden juga harus menghadapi kenyataan pahit bahwa istrinya, Laura, mengandung anak yang bukan darah dagingnya. Kini, Zayden terjebak antara tanggung jawab keluarga, cinta yang telah retak, dan masa depan seorang gadis yang hidupnya bergantung padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Nurcahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap di Apartemen Zayden
Bab 9
Pulang sekolah, tanpa menunggu lama, Elara langsung menuju kantor Zayden. Dengan langkah cepat dan kemarahan yang sudah mendidih, ia memasuki ruangan mewah pria itu.
"Apa yang kau lakukan Tuan?" sergahnya begitu masuk, tanpa menunggu salam. "Anda mengirim orang-orang seperti itu ke sekolahku tanpa memberitahu aku dulu? Anda membuat semuanya jadi heboh!"
Zayden, yang sedang duduk dengan tenang di balik mejanya, hanya memandang Elara dengan mata dingin. “Aku hanya ingin semuanya cepat selesai, Elara,” jawabnya dengan nada yang seolah-olah semuanya masuk akal. “Kau akan homeschooling, jadi lebih baik kita urus ini sekarang.”
“Tapi kau bisa mengirim seseorang yang lebih... biasa!” Elara hampir berteriak. “Bukan bodyguard seperti itu! Tuan membuat sekolahku seperti ada kasus besar! Ini bukan caranya!”
Zayden berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Elara dengan langkah perlahan, matanya tetap tenang. “Aku tidak mau berdebat lagi. Semuanya sudah selesai, Elara. Kita tidak punya banyak waktu.”
Elara terdiam, merasa tak berdaya menghadapi kekuatan Zayden yang seolah tak terbantahkan. Ada sesuatu yang sangat dingin dalam sikapnya, dan untuk pertama kali, Elara merasa sedikit takut. Bukan karena ancaman fisik, tapi karena pria ini, meskipun begitu tenang dan karismatik, bisa mengendalikan hidup dia sepenuhnya.
Zayden lalu mengajak Elara keluar untuk fitting gaun pengantin dan pemotretan prewedding. Meski awalnya terkejut, Elara tak punya pilihan selain menurut. Saat mereka tiba di butik mewah di pusat kota, Elara baru menyadari betapa besarnya pernikahan yang direncanakan Zayden. Meski pria itu menyebutnya sebagai pernikahan sederhana, segalanya terasa luar biasa dan mengesankan.
Elara terpana melihat gaun putih yang disiapkan untuknya, kelopak bunga mawar yang tersebar di lantai, dan fotografer profesional yang siap memotret mereka. Semua ini terlalu besar, terlalu megah untuk seorang gadis kampung berusia tujuh belas tahun.
"Ini... terlalu mewah," bisiknya pelan.
Zayden hanya tersenyum tipis. “Ini hanyalah permulaan, Elara. Percayalah, aku hanya ingin yang terbaik untuk kita.”
Namun di balik senyuman itu, Elara merasakan ada sesuatu yang lebih. Sesuatu yang tidak ia mengerti, tapi perlahan mengekang kebebasannya.
"Oh ya Tuan, apa istri Anda udah tahu tentang kita?" tanya Elara, sambil melihat-lihat baju pengantin yang lainnya.
"Kamu ini aneh. Kalau dia tahu, mana mungkin kita bisa nikah."
Elara mengangguk. "Benar juga," gumamnya.
"Lagian, ngapain kamu bahas hal itu. Hal bodoh. Tak perlu ditanyakan!"
"Eh?" Elara sedikit tersinggung dengan ucapan Zayden. Dia tidak terima siapa pun merendahkannya.
"Selesai dari ini, kita ke toko perhiasan, kemudian ke tempat catering."
"Hah..." Elara menarik napas lelah. Kenapa harus mereka yang lakukan? Masa seorang bos ngurus ini itunya sendiri. "Apa karena ini sembunyi-sembunyi dari istri pertama?" pikiran Elara menebak-nebak,
###
Meskipun Elara baru saja pergi ke beberapa tempat dengan Zayden, tapi pria itu tidak bisa mengantar calon istrinya pulang ke rumah. Dia selalu sibuk, tidak bisa pergi terlalu lama. Elara selalu di antar oleh Pak Sobri.
Seperti halnya petang ini, Elara masih menunggu Pak Sobri di kantor Levano. Sedangkan Zayden sibuk di balik meja kerjanya.
Tok! Tok! Tok!.
Pak Sobri masuk setelah dipersilakan Zayden, rupanya dia baru saja mengantar Laura dari salon, makanya terlambat. Elara merasakan ada sesuatu yang berbeda pada degup jantungnya, saat mendengar nama Laura? Apakah dia cemburu? Sakit hati?
"Elara?" Zayden memanggil Elara yang duduk di sofa. "El. Elara?"
"Eh, iya Tuan Zayden," El Lara baru sadar.
"Pak Sobri datang, kamu bisa di antaranya pulang sekarang. Jangan lupa, langsung kembali."
Tanpa berbicara apa pun lagi, Elara ke luar ruangan Zayden. Mereka memang belum sangat akrab, sebab belum tumbuh cinta.
###
Namun, Elara hanya pulang sebentar. Zayden memintanya untuk ke apartemen. Supaya leluasa untuk membahas yang belum mereka selesaikan untuk acara pernikahan. Elara tidak membawa pakaian ganti, dan dia tidak mau menggunakan pakaian baru yang Zayden sediakan. Elara kapok, takut dikerjai lagi saat Elara harus ganti di kamar Zayden yang ada di kantor pribadinya.
###
Malam perlahan menelan cahaya matahari yang tersisa, dan angin lembut malam berhembus, merayap pelan melalui jendela-jendela rumah sederhana Bu Nira. Di dalam rumah itu, suasana terasa dingin dan tegang. Elara duduk di hadapan ibunya, menatap cemas ke wajah yang tak menunjukkan apa pun, kecuali sorot mata yang tertahan. Sesekali Bu Nira menarik napas dalam-dalam, seperti mencoba menenangkan gemuruh yang bergejolak di dadanya.
“Bu… Aku harus mengurus persiapan pernikahan ini. Aku mungkin tak akan pulang beberapa hari…” Elara akhirnya memecah kesunyian dengan suara bergetar, menggantungkan kalimat itu di udara, takut akan reaksi yang akan muncul.
Bu Nira tetap diam. Matanya terfokus ke sebuah titik tak kasatmata, tak merespons dengan kata-kata, tapi Elara tahu betul ibunya tak setuju. Getar kemarahan itu bisa ia rasakan, meskipun Bu Nira menahannya rapat-rapat. Satu sisi, sebagai ibu, Bu Nira tak mungkin mengabaikan kecemasan yang menggerogoti hatinya. Anak gadisnya, yang baru berusia 17 tahun, tiba-tiba menikah begitu cepat. Apa kata orang kampung? Apa yang sebenarnya terjadi?
Namun, di sisi lain, Bu Nira juga tahu, ia tak bisa menahan anak gadisnya selamanya. Elara telah memilih jalan ini, meski hatinya bergetar dengan keraguan, dan Bu Nira harus memberi kepercayaan—meski terasa menyakitkan.
"Kamu mau ke mana lagi, Nak? Baru aja pulang."
"Banyak yang harus aku urus, Bu. Biar cepet beres."
“Hem ... Baiklah. Hati-hati, ya,” hanya itu yang terucap, suaranya rendah namun tajam, menyimpan ribuan makna tersembunyi.
Elara mengeluarkan amplop coklat dari tas kecilnya, lalu menyerahkannya pada ibunya.
“Ini… Dua juta, Bu. Untuk kebutuhan rumah,” katanya pelan, mencoba mencairkan kebekuan di antara mereka. Tapi, reaksi Bu Nira kali ini lebih besar dari yang diduganya. Matanya terbelalak saat memegang amplop itu, tangannya bergetar saat merasakan berat uang di dalamnya.
“Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini, Lara?” tanya Bu Nira, suaranya gemetar, antara bingung dan curiga.
Uang itu besar untuk ukuran keluarga mereka. Haruskah ia senang atau justru khawatir? Harapan samar muncul di dalam hatinya—bahwa Elara tetap berada di jalan yang benar, bahwa anaknya tidak tersesat dalam keputusasaan dunia.
Elara tersenyum kecil, meski senyum itu terasa pahit. “Ini uang halal, Bu. Uang kerja sama Tuan Zayden, untuk kebutuhan kita,” jawabnya cepat, tak ingin memperpanjang ketidakpastian. Meski masih ada yang tak terucap, Bu Nira akhirnya mengangguk pelan. Tapi hatinya tetap gelisah.
Setelah pamit, Elara pergi ke apartemen Tuan Zayden. Di sepanjang jalan, hatinya dipenuhi campuran kecemasan dan kelegaan. Ia tahu, hidupnya akan berubah dalam waktu singkat. Pernikahan ini bukanlah sesuatu yang ia bayangkan di usianya yang masih belia, tapi kini ia harus menjalani takdir yang telah dipilih untuknya.
Setibanya di apartemen milik Zayden, Elara disambut dengan keheningan yang megah. Zayden sudah menunggunya di ruang tamu yang luas, duduk dengan tenang sambil mengamati daftar-daftar yang tersusun rapi di mejanya. Persiapan pernikahan yang tak main-main; homeschooling, katering, gedung—semua sudah diatur seolah-olah ini pernikahan seorang bangsawan. Meskipun Zayden berusaha menggambarkannya sebagai pernikahan sederhana, Elara tahu betapa besarnya skala yang ia hadapi.
“Elara, mulai besok, kamu akan homeschooling. Lebih fleksibel dan memudahkanmu mengurus semuanya,” ujar Zayden dengan nada tenang tapi tegas, tak memberi ruang untuk penolakan.
Elara mengangguk pelan, tapi ada kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.
“Tapi, Tuan… Maaf, em maksudku… lain kali kalau mau urus sesuatu ke sekolah, Harusnya Tuan tak perlu mengirim bodyguard ke. Nanti semua siswa jadi heboh. Kenapa tidak kirim saja karyawan yang lebih biasa saja, mungkin perempuan?”
Bersambung...