Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09. Pertemuan Kekasih
"Langkahku hanya menuntunku begitu saja." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Bram meninggalkan Diandra yang hanya terdiam melihat tingkahnya. Ah, konyol sekali aku, gumamnya dalam hati, masih memacu mobilnya di jalanan yang sepi. Dia sejujurnya tak tahu dimana Zea berada. Gadis itu bisa berada dimana saja. Bisa di apartemennya, atau bahkan di diskotik.
Menerima telepon dari Zea di samping Diandra, Bram merasakan sesuatu yang berbeda di dirinya. Bram seolah ingin menyembunyikan Zea dari Diandra, sekecil apapun itu. Padahal dari awal dia sudah menceritakan perihal hubungannya dengan Zea sebelum akhirnya menyetujui untuk menikah dengan Diandra.
Bram tahu dengan benar bahwa mereka harus menjaga privacy masing-masing, dengan tidak saling mencampuri urusan satu sama lain. Mereka telah menyetujui ini sebelumnya, dan seharusnya Bram tidak perlu khawatir tentang itu. Dia juga yakin bahwa Diandra tidak akan mengusik urusan asmaranya, sama seperti dia harus menutup rapat-rapat telinganya untuk urusan asmara gadis itu.
Bram menghentak setir mobilnya. Dia tak suka berada dalam posisi ini, entah apa yang terjadi pada perasaannya. Dia ingin segera menemui kekasihnya, namun meninggalkan istrinya seperti itu meninggalkan perasaan tidak biasa dalam hatinya.
Bram yang terus bergelut dengan fikirannya, akhirnya memacu mobilnya hingga tiba di apartemen Zea. Dia langsung naik ke lantai 21, tempat dimana Zea tinggal. Dia hanya berharap Zea ada disana, tanpa mencoba menelepon gadis itu. Tidak ada gunanya berbicara dengan gadis yang sedang menangis, kan?
Bram memasukkan kata sandi tepat di pintu apartemen Zea, diikuti bunyi klik yang terdengar. Pintu itu terbuka. Isakan tangis menyambut kedatangan Bram, yang otomatis celingukan mencari sosok gadis itu.
Zea melihat ke arah pintu, dia tahu Bram akan datang. Bukankah pria itu sangat mencintainya? Apapun pasti dilakukan untukku, fikirnya dalam hati.
Zea lalu bangkit dan berlari menuju Bram yang masih berdiri beberapa langkah di depan pintu, kemudian memeluk Bram erat, dengan air mata yang masih mengalir dipipi mulusnya.
"Sayang.. akhirnya kamu datang," ucapnya manja, menenggelamkan kepalanya pada dada Bram. Bram memeluk gadis itu erat.
"Kenapa? apa yang terjadi?" bisik Bram pelan.
Zea mengadahkan kepalanya, melihat Bram.
"Kontrakku tidak diperpanjang, aku harus mencari agensi dan kontrak baru," jelas Zea pelan, dengan sedihnya.
Bram menuntun gadis itu duduk di tepi ranjang dan memegang tangannya.
"It's okay. Kamu bisa cari kontrak yang lain," hiburnya sambil mengusap-usap rambut Zea yang hitam lembut.
Gadis itu mengangguk.
"Aku sekarang pengangguran, sampai dapat kontrak lagi," ujar Zea lagi. Gadis itu memonyongkan bibirnya.
"Kamu mau kan, beliin aku tas kemarin? Aku sudah pesan," senyumnya merekah perlahan, manja bergelayut pada Bram.
Bram menghela napas.
"Pasti. Aku akan belikan untukmu," jawabnya lagi. Membalas pelukan Zea dan mengecup puncak kepala Zea sekilas.
"Asyikk.. makasih sayangku..," ucap Zea senang. Aliran air matanya kini berubah jadi senyum berbinar. Hilang seketika raut wajah kesedihannya.
"Murah kok itu, cuma 500 juta aja," lanjutnya lagi, dengan senyum merekahnya.
Bram bergidik. Dia terlanjur berjanji pada wanitanya. Bram pernah mengatakan bahwa perusahaannya sedang berada di ujung tanduk. Dia pernah meminta Zea untuk mengerti kondisinya. Bahkan alasannya menikah adalah untuk menyelamatkan perusahaan, yang selama ini telah menghidupi keluarganya. Namun begitulah Zea, tidak terfikir untuknya hal apa yang sedang dilalui Bram saat ini. Dia hanya tidak ingin ambil pusing, atau hanya sekedar tidak peduli.
Zea lahir dari keluarga biasa, namun memiliki takdir bagus dan paras yang cantik, yang kemudian membantunya untuk menjadi seorang model. Profesinya menuntut dia untuk punya gengsi yang cukup tinggi, dan mulai menggunakan uang untuk membeli barang-barang branded yang sesungguhnya tidak sangat diperlukan.
Tiba-tiba saja seleranya berubah dan hanya menggunakan barang mahal di seluruh tubuhnya, mulai dari baju, tas, sepatu, hingga aksesoris yang dapat mendukung karirnya. Syukurnya dia punya Bram yang selama setahun terakhir ini membantu kondisi finansialnya. Zea tidak pernah salah dalam memilih pria.
Zea mengalungkan tangannya pada leher Bram, memberikan senyuman mautnya.
"Kita lakukan malam ini?" tanyanya menggoda. Bram belum menjawabnya namun dia sudah lebih dulu mengecup bibir pria itu.
Bram tentu langsung menyambut ajakan Zea. Bram membalas ciuman Zea dan membuatnya bernapas terengah-engah.
Bram selalu takluk akan pesona wanitanya. Zea selalu mampu membuatnya menginginkan gadis itu. Zea memang selalu boros, namun dia akan selalu hebat di ranjang. Zea selalu begitu.
Malam itu berlalu dengan lambat, meninggalkan Diandra yang masih terjaga di dalam kamarnya, menanti kedatangan seseorang. Sedangkan seseorang yang dinanti Diandra, telah terlelap dengan wanita lain di pelukannya.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Yuk bantu like, komen dan vote-nya yaa kak shaay.. makasih banyak sudah mampir 💕
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍