Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 ~ Siapa Laki-laki Itu?
“Shitt.” Brama menatap Kiran berlari menaiki anak tangga, mungkin menuju kamarnya. Sudah lama bergabung dengan keluarga Yudis, tentu saja sudah paham dengan tanggung jawabnya. Tidak akan membiarkan Kiran meninggalkan rumah dan menambah persoalan.
“Pak!” teriak Brama pada petugas keamanan yang menjaga kediaman Yudis.
“Siap Mas Brama.”
“Nona Kiran, jangan sampai dia keluar. Saat saya sedang tidak ada di rumah kalau dia mau pergi jangan buka pintu, apapun alasannya. Segera hubungi saya.”
“Baik, Mas.”
Brama kembali ke ruang kerja Yudis dan menghubungi seseorang, untuk memastikan berita tentang skandal Kiran segera di take down.
Sedangkan di dalam kamar, Kiran duduk di lantai balkon kamarnya bersandar pada dinding sambil terisak. Apa yang dikatakan Brama memang benar kalau foto dan video itu memang dirinya. Yang membuatnya tidak habis pikir, dia tidak mengingat pernah melakukan hal itu dan tidak tahu kapan kejadiannya.
Cukup lama Kiran berada di balkon, bahkan langit sudah menunjukan kalau sore sudah berlalu dan malam siap menjelang. Terdengar ketukan pintu kamar, Kiran pun beranjak. Tangisnya sudah berhenti, tapi mata yang sembab dan wajah yang bengkak tidak bisa disembunyikan. Dia hanya bisa menunduk, kala membuka pintu dan ada Brama berdiri di sana.
“Bersihkan dirimu, lalu makan malam. Aku tunggu di bawah, ada hal yang harus kita bicarakan dan jangan menghindar. Kamu ingin Ayahmu sehat?” tanya Brama dan Kiran pun mengangkat wajahnya lalu mengangguk pelan. “Kooperatif, kecuali kamu ingin semua semakin kacau.”
Tidak ada hal lain yang Kiran lakukan selain patuh dan membuktikan dirinya tidak bersalah. Untuk mengembalikan lagi kepercayaan Yudis, Kiran bertekad akan menghadapi dan mengikuti apa yang Brama sarankan.
***
Saat ini Kiran sudah berada di meja makan, setelah membersihkan diri dan menggunakan piyama. Makan malam yang dilakukannya hanya sendiri membuatnya kembali bersedih, biasanya meja itu akan ramai karena ulah Erlan atau Bunda yang berteriak karena anak-anaknya tidak makan dengan benar.
“Maaf yah, aku janji semua akan kembali pada tempatnya. Kita bisa duduk bersama lagi di sini,” gumam Kiran.
Sejak tadi pagi, belum ada makanan berat yang masuk ke dalam perutnya dan sekarang pun Kiran makan hanya dengan porsi kecil. Seleranya entah kemana. Baru saja meletakan sendok dan garpu lalu meraih gelas minum, Kiran dikejutkan dengan kehadiran Emran.
“Bagus bener yak. Lo masih bisa makan hah?”
“Emran, bagaimana kondisi Ayah?” tanya Kiran sudah berdiri dan hendak mendekat.
“Nggak habis pikir gue. Setelah masalah yang sudah lo buat dan lo masih bisa makan enak. Gue pulang karena diminta Bunda ambil perlengkapan orangtua kita dan lo enak-enakan menikmati makan malam. Padahal semua kekacauan ini lo yang buat.”
Dari ucapan Emran, sepertinya dia sudah tahu masalah utama yang terjadi. Percuma menyangkal karena Kiran pun belum ada bukti kalau dia tidak bersalah.
“Emran, aku hanya ….”
“Halah, nggak usah bac0t. Kadang gue heran sama Ayah, kenapa dia terlalu percaya sama lo. Dari dulu kagak kelar-kelar bikin orangtua khawatir. Semua orang ingin ada di posisi kita, punya orang tua sukses. Bahkan ayah sudah menyiapkan posisi untuk lo di perusahaan, tapi kayak ngeledek banget malah pilih profesi yang nggak menjanjikan dan sekarang lo rusak kehormatan keluarga ini.”
“Emran, turunkan nada bicaramu. Bagaimanapun aku kakakmu, jadi ….”
“Jadi l0nte aja sekalian.”
Deg.
“Emran,” ucap Kiran lirih dan air matanya lagi-lagi tidak bisa diajak kompromi karena sudah sukses menetes dan turun ke pipinya
“Air mata buaya,” ejek Emran. Salah satu asisten rumah tangga mengekor langkah Emran keluar sambil menyeret koper berisi perlengkapan orangtua mereka.
“Mbak Kiran, sudah ditunggu Mas Brama di ruang kerja Bapak.”
“Oh, iya Mbak.” Kiran tersadar dari lamunannya dan segera menemui Brama.
Brama yang berada di sofa dengan laptop di pangkuannya, serta ponsel dan tablet di atas meja. Penampilannya sudah tidak serapi tadi siang, jas dan dasi sudah dia lepas dan diletakan di atas sofa di sampingnya. Melihat Kiran masuk dan duduk bersebrangan dengannya, nafas Brama semakin berat.
Bukan karena menyukai foto dan video yang sedang dia perhatikan dengan benar, tapi karena mencari petunjuk kebenaran kalau Kiran bukan pelaku sesuai dengan pengakuannya. Semakin dilihat, ada gejolak dalam tubuh Brama.
“Mas, tolong bantu aku membuktikan kalau aku tidak bersalah.”
Brama meletakan laptop ke atas meja dan mengusap kasar wajahnya.
“Kamu bilang itu bukan kamu, apa alasan mengatakan itu?”
“Karena memang bukan aku.”
Brama berdecak dan memijat dahinya pelan. kepalanya mulai berdenyut nyeri karena otaknya dipaksa terus berpikir. Masalah berita-berita di media online sudah berhasil ditangani, tapi tujuan orang yang mengirimkan semua file ini belum diketahui.
“Kiran, file-file ini asli. Bukan hasil editan atau rekayasa.”
“Tapi aku tidak pernah melakukan hal itu Mas.”
Brama mengernyitkan dahinya, bisa jadi apa yang dikatakan Kiran memang benar. gadis itu tidak mengakui karena tidak tahu. Mungkin saja Kiran memang … dijebak. Brama kembali meraih laptop dan memperhatikan dengan baik satu per satu foto-foto tersebut. Kiran terlihat memejamkan mata dari semua foto dan video yang ada.
“Kalau kamu tidak pernah melakukan hal itu dan foto ini sebagai bukti kejadian itu nyata. Coba kamu pikir, kemungkinan hal ini terjadi. Bisa saja kamu dijebak, kamu tidak sadar saat foto-foto ini diambil. Coba ingat lagi.”
Indra, pria itu Indra. Walaupun dari belakang dan tidak terlihat wajahnya, tapi itu Indra, batin Kiran.
“Coba kamu perhatikan lagi. Ini jelas bukan kamar kamu, artinya kejadian ini diluar. Menurutmu dimana dan kapan?” tanya Brama kembali menyodorkan laptop pada Kiran.
Sebenarnya Kiran malas melihat kembali foto dirinya yang terlihat memalukan. Bahkan ada pose di mana tubuhnya hampir terlihat seluruhnya polos. Namun, dia harus memastikan sesuatu. Dahi Kiran berkedut mengingat suasana kamar di foto itu.
“Hotel, ini kamar hotel tempat aku menginap saat premiere film.” Kiran menyebutkan nama hotel dan kapan dia harus bermalam di sana. kejadiannya baru beberapa hari yang lalu.
“Siapa laki-laki itu?”
dari awal bab, dah trasa beda aja👍