Tak hanya tiba-tiba menjadi babysitter, Zaleya Mikana dibuat kaget atas permintaan nenek yang telah menolongnya. Nenek meminta Zaleya untuk menjadi menantu keluarganya, istri sang cucu kesayangan, Rayyan. Zaleya bimbang, hingga diketahui setelahnya bahwa cucu nenek adalah kekasihnya di masa lalu yang pernah dikhianati olehnya.
Pernikahan akhirnya terjadi. Mampukah Zaleya dan Rayyan membentuk keluarga harmonis seperti harapan sang nenek, sementara banyak kesalahpahaman yang belum usai diantara keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEPAT PANGGIL DOKTER
Rayyan sampai di rumah pukul 16:30. Dikarenakan ia memiliki janji pada Elif untuk makan malam, ia pun meminta Elif mengizinkannya pulang cepat. Rayyan ingin bermain dengan Nuca dahulu sebelum bersiap keluar malam itu.
Saat pintu gerbang terbuka, Rayyan dibuat heran karena dua mobil yang biasanya terparkir di garasi tak terlihat. Ia pun bergegas masuk.
Dihampirinya Alicia yang berada di ruang utama. Ia mempertanyakan hal yang menelisik otaknya.
"Bibi, apa Rudi dan Mustofa sedang keluar?" tanya Rayyan. Alicia mengangguk.
"Betul, Tuan. Rudi sedang mengantar Fatime berbelanja, sedangkan Mustofa menjemput nona Leya," terang Alicia.
"Leya pergi? Kemana? Mengapa tak mengabariku! Menjemput ke mana? Apa ia mengajak Nuca pula?" cecar Rayyan.
"Tuan maaf, saya pikir nona Leya sudah memberitahu anda. Siang tadi ada telepon dari Rumah Sakit tempat ibu nona dirawat, dikabarkan bahwa ibu nona mengalami kejang. Ia pun akhirnya ke sana."
Rayyan bergeming. "Meninggalkan Nuca?" Alicia mengangguk.
"Nona meninggalkan stock asi untuk Nuca, Tuan. Sebelumnya ia ingin membawa Nuca, tapi mengingat kondisi Rumah Sakit tentunya terdapat virus, terpaksa nona mengurungkannya." Alicia menjelaskan dengan hati-hati, wajah Rayyan sedang tak bersahabat saat itu.
"Jam berapa ia pergi?"
"Pukul dua, Tuan."
"Sudah dua jam setengah berlalu dan ia belum kembali?" Alicia mengangguk perlahan.
Rayyan langsung meraih ponselnya, ia menghubungi Zaleya. "Kau dimana?" tanyanya ketus saat panggilan terhubung.
"Aku di Rumah Sakit, Rayyan. Apa kau masih di kantor? Atau jangan-jangan kau sudah kembali? Rayyan maaf aku belum pulang, kondisi ibuku memburuk dan aku harus menemaninya," jelas Zaleya.
"Apa Mustofa sudah sampai?"
"Be-lum." Zaleya menjawab ragu. Ia sesungguhnya masih ingin bersama ibunya. Ia justru senang jika Mustofa telat menjemputnya.
"Aku akan menghubungi Mustofa!" Panggilan seketika terputus.
Zaleya di ujung telepon kecewa, dipikirnya Rayyan menelepon karena mengkhawatirkannya dan ingin mengetahui kondisi ibunya, tapi nyatanya tidak. Seperti biasa Rayyan mengacuhkan ucapannya. Ia menutup panggilan begitu saja.
"Kau dimana Mustofa? Bukankah seharusnya kau ke Rumah Sakit menjemput nona Leya?" Rayyan bicara dengan lantang seperti sebelumnya.
"Betul saya seharusnya menjemput nona, Tuan. Tapi sayangnya saya terjebak macet dan sepertinya ini akan lama. Terjadi kecelakan beruntun di hadapan saya kini, Tuan."
Rayyan menghela napas. "Jalan mana yang kau lewati? Lakukan putar balik dan pulanglah saja, aku akan menjemput nona Leya!"
"Oh baik, Tuan," ucap Mustofa. Seperti biasa Rayyan langsung menutup panggilan tak membalas ucapan Mustofa.
Rayyan segera menemui Nuca yang sedang digendong Sezen. Menurut Sezen Nuca seharian rewel dan menolak minum susu. Badannya juga sedikit demam. Rayyan akhirnya meminta Sezen memberinya obat baru setelahnya ia menuju ke luar, ia akan menjemput Zaleya.
Jalanan yang padat membuat Rayyan sampai di Rumah Sakit pukul 17:45. Ia mencari Zaleya ke lobi namun tak menemukannya, akhirnya ia menghubungi Zaleya dan diketahui bahwa Zaleya masih berada di lantai 3, kamar isolasi ibunya. Rayyan yang sudah lama tak bertemu ibu Zaleya pun memutuskan naik ke lantai atas.
Sebuah kamar perawatan dengan banyak alat dan mesin untuk membantu pemulihan Benher ibu Zaleya terlihat di kamar itu. Rayyan perlahan masuk dan mendekat ke samping ranjang. Seperti halnya dulu saat bertemu, kini Rayyan melakukan hal yang sama. Ia langsung meraih tangan Benher dan menciumnya sebagai penghormatan.
"Ibu, senang bertemu denganmu lagi. Aku Rayyan," lirih Rayyan. Zaleya mematung melihat segalanya, ia tak menyangka Rayyan akan melakukan hal itu.
Rayyan melihat kondisi Benher tak berdaya dan tak merespon kendati sepasang netra Benher terus menatapnya. Rayyan kembali bicara. "Ibu, kau jangan khawatir akan keadaan Leya, Leya kini tinggal di rumahku dan mendapatkan semua hal yang ia butuhkan. Cepatlah membaik agar ia tak bersedih."
Seperti sebelumnya Benher tak merespon apapun. Hingga saat Rayyan ingin melepaskan tangannya dari tangan Benher, tiba-tiba dirasakannya jemari Benher mengunci tangan Rayyan seolah enggan melepaskan tangan itu.
"Leya, ibumu meresponku, ia menggenggam tanganku," ucap Rayyan sembari menoleh ke arah Zaleya.
"Sungguh?" Rayyan mengangguk. Dilihatnya tiba-tiba sepasang mata Benher mengeluarkan air mata.
"Rayyan, apa ibuku tengah menangis? Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" Zaleya mulai panik.
"Panggil dokter, Leya! Cepat panggil dokter!"
...___________...
...Jangan lupa komen sebagai support untuk karya ini. Mohon maaf jika update tak beraturan karena aktivitas real life Bubu padat🙏🏻🙏🏻❤...