Nalendra Adiwijaya terpaksa menerima perjodohan dengan Kinan Artanegara, karena kekasih hatinya kabur di hari pertunangan mereka.
Kinan yang sudah lebih dulu jatuh cinta pada Nalen sejak usia remaja pun begitu bahagia saat bisa menikah dengan pria itu.
Sayang, indahnya pernikahan yang diimpikan oleh Kinan bertolak belakang dengan pernikahan yang dia jalani bersama dengan Nalen.
Karena sikap acuh Nalen, Kinan pun harus merasakan kesakitan dan kecewa yang teramat mendalam karena kerap di abaikan oleh suaminya sendiri.
Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Kinan dan Nalen? Saat masa lalu Nalen kembali. Bahkan di saat Kinan belum bisa meluluhkan hati sang suami??
yukk simak kisah mereka di sini....
Bantu follow ya...
ig :author_triyani
tiktok :triyani_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAS.Bab 9
...🌸🌸🌸...
...*Happy Reading*...
*
Plaaakkkkk
Sebuah tamparan keras langsung mendarat di wajah tampan sang putra.
"Hey, apa yang anda lakukan Pak? Kenapa anda menampar kekasihku?"
Deg
Belum lagi rasa terkejut akan pertemuan ini usai. Kini semua orang kembali dibuat terkejut dengan pengakuan dari si wanita yang ada di samping Nalen saat ini.
"Apa? Kekasih?" jawab Papa Bram tersenyum sinis pada putranya dan wanita itu.
"Ok, bagus. Hebat kamu Nalendra Adiwijaya, Papa sungguh salut padamu. Pulang ke rumah sekarang, kita bicara di rumah." lanjut Papa Bram yang langsung berlalu meninggalkan putranya yang masih terdiam membeku di tempatnya.
"Maaf Andra, sebaiknya kita tunda acara ini. Keadaan nya tidak memungkinkan untuk melanjutkan nya. Aku pamit dulu, sepertinya aku harus membuat perhitungan dengan putraku itu." ucap Papa Bram sebelum meninggalkan tempat itu.
"Bicarakan dengan baik baik Bram. Aku akan menunggu penjelasan dari putramu, akan semua ini," jawab Papa Andra yang juga tidak kalah marahnya dengan Papa Bram.
Namun, Papa Andra tidak bisa begitu meluapkan emosinya di tempat umum seperti ini. Papa Andra yakin, ada alasan di balik semua kejadian ini.
Papa Andra akan mencoba bersikap tenang sampai mendengar langsung penjelasan akan apa yang terjadi dari anak dan menantunya itu.
"Baiklah, tapi sebelum nya. Maafkan atas perlakuan dari putraku Ndra. Aku tidak tahu harus dimana aku taruh mukaku saat berhadapan dengan mu setelah ini."
"Aku tahu, pasti ada alasan di balik semua kejadian ini. Bicarakan lah lebih dulu dengan putramu. Setelah ini, kita bicara lagi bagaimana baiknya,"
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu."
"Iya, kita juga sekalian pergi saja. Maaf ya Pak Joko, Bi Siti. Sepertinya acaranya kita lanjut lain kali saja." ucap Papa Andra mengakhiri pertemuan hari ini dengan menekan rasa marah dan juga rasa malu nya.
"Tidak apa apa Pak. Kami Mengerti, kalau begitu kami ijin pamit ya," jawab Pak Joko yang tidak mau terlalu ikut campur lalu memilih pergi bersama dengan putrinya menuju ke rumah kontrakan Maura.
"Iya Pak, sekali lagi. Kami mohon maaf." jawab Papa Andra.
Sementara kedua Mama hanya bisa diam membeku saat melihat kelakuan putra dan menantunya itu.
Kedua wanita paruh baya itu tidak menyangka jika Nalen ternyata melakukan hal yang di luar batas seperti saat ini.
"Ayo sayang kita pulang," ajak Mama Dela pada akhirnya memilih membawa putrinya pergi.
"Mama duluan saja ya, aku masih ada urusan." jawab Kinan yang memang membutuhkan sedikit ruang untuk sendiri, saat ini.
"Ayo, biar aku temani." sambung Deril yang langsung membawa Kinan dalam gandengan nya.
Kinan sendiri tampak pasrah saat Deril menggandeng tangan nya, lalu membawa nya pergi ke tempat yang di butuhkan oleh Kinan saat ini.
Semua nya pun tampak membubarkan diri. Hanya tinggal Nalen yang masih berdiri didalam sana. Menatap nanar ke arah semua orang yang pergi meninggalkan restoran itu.
"Nalen, kamu baik baik saja kan?" tanya si wanita yang tadi menggandeng Nalen dengan cukup mesra.
"Lepas Tiara, pergilah. Aku ingin sendiri." jawab Nalen yang pergi begitu saja meninggalkan Tiara begitu saja.
Bahkan tidak memperdulikan meski wanita itu terus mengejar dan memanggilnya. Bahkan Nalen meninggalkan Tiara meski tahu jika wanita itu tidak membawa kendaraan.
Tanpa peduli akan keadaan wanita itu. Nalen terus melajukan mobilnya menuju ke kantor. Ingin sekali dia langsung pulang untuk berbicara dengan kedua orang tuanya.
Namun sayang, pekerjaan nya di kantor tidak bisa ditinggalkan begitu saja karena sang aspri yaitu Dani tengah bertugas di luar kantor. Guna menggantikan nya bertemu salah satu klien.
*
*
Sementara itu.
Kinan, Maura dan Deril baru saja tiba di sebuah pantai. Tadi saat akan membawa Kinan pergi, Deril pun membawa serta Maura bersama mereka.
Dan saat berada di perjalanan, Kinan meminta teman nya itu membawa nya ke daerah pantai. Kinan pikir, mungkin pantai adalah tempat yang tepat untuk keadaan hatinya saat ini.
Dan kini, disinilah ketiga orang itu. Duduk di pinggir pantai dengan beralaskan hamparan pasir yang luas dengan di temani angin yang berhembus dari arah laut yang luas.
"Kamu, baik baik saja kan Nan?" tanya Maura menatap sendu sahabatnya itu.
"Entahlah Ra, kadang aku berpikir untuk menyerah saja. Lelah juga ya mencintai sendiri itu. Tapi, tidak mudah juga perjalanan yang aku jalani sampai di titik aku bisa berstatus istrinya." jawab Kinan di ambang kebimbangan nya.
Bertahan sakit tapi untuk pergi pun sulit. Sebodoh itulah Kinan saat mencintai seorang Nalendra Adiwijaya.
"Kita tidak bisa memaksamu Nan, apapun keputusan mu. Kita sebagai sahabat akan selalu mendukungmu. Yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan mu," sambung Deril.
Ketiga nya pun kembali terdiam, menikmati kesunyian dengan di sertai angin pantai di senja hari.
Cukup lama ketiganya menghabiskan waktu di pinggir pantai itu, meski ketiga nya hanya sama sama terdiam menikmati indahnya langit senja.
"Kita pulang yukkk, udah mau gelap," ucap Kinan memecah keheningan.
"Baiklah, ayo kita pulang." jawab Deril langsung bangkit dari duduknya dan segera membersihkan sisa sisa pasir yang menempel di celananya.
Begitu pun dengan Maura dan Kinan. Ketiga nya pun akhirnya meninggalkan pantai setelah melihat matahari terbenam di ujung langit pantai itu.
"Aku antara pulang kemana Nan?" tanya Deril setelah menyalakan mesin mobilnya.
"Ke Rumah mertuaku saja. Mas Nalen akan pulang kesana. Tentu saja aku juga harus pulang ke sana. Kami harus segera menyelesaikan masalah ini agar tidak berlanjut," jawab Kinan yang akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah mertuanya.
Hal itu pun disetujui oleh Deril, Deril pun akhirnya membawa Kinan menuju ke rumah mertuanya dan setelah menghabiskan waktu beberapa jam di perjalanan akhirnya mobil Deril pun tiba di halaman rumah keluarga Adiwijaya yang tidak lain adalah rumah keluarga Nalen.
"Aku masuk ya terima kasih sudah mengantarku. Kalian hati-hati di jalan," ucap Kinan saat sudah tiba di halaman rumah mertuanya.
"Oke, kami pergi ya, bay Kinan," jawab Maura sambil Melambaikan tangannya sebagai penutup perjumpaan mereka hari ini.
Setelah melihat mobil yang dibawa oleh Deril menghilang dari pandangan, Kinan pun langsung masuk ke dalam rumah besar itu.
Namun, seketika langkahnya terhenti saat mendengar ucapan dari seorang pria yang tidak asing lagi di telinga Kinan.
"Aku sudah katakan pada Papa dan Mama kalau aku tidak mencintainya kan? Lalu apa salah jika aku mencari kebahagiaanku sendiri?" ucapnya penuh dengan penekanan.
Deg
Seketika, jantung Kinan serasa menghilang dari tempatnya saat mendengar pengakuan itu. Bahkan Kini Kinan sudah menjatuhkan air mata yang sejak tadi sudah susah payah dia tahan.