NovelToon NovelToon
ARKANA

ARKANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:121.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Canum Xavier

Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.

Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.

Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.

" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.

Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Pertama

" Awan aku ada pertanyaan untukmu", Kana berkata sambil menatapku.

Aku membalas tatapan Kana tidak suka. Tadi dia diam saja di kelas, sekarang tiba-tiba datang dan bilang dia punya pertanyaan untukku.

" Gak ada waktu", jawabku spontan lalu berjalan meninggalkan Kana.

Kana mengikuti dari belakang. Sepertinya sadar aku sedang kesal.

" Kamu kenapa jutek banget?", tanya Kana sambil menarik tanganku.

Aku tidak menjawab hanya menghela nafas yang menandakan jangan ganggu aku. Kana tidak puas dengan aku yang tidak menunjukan tanda untuk memberikan jawaban. Dia menarik tanganku kencang dan membuat kami berhenti di lorong sekolah.

" Pulang sekolah temani aku pergi. Aku ada pertanyaan untuk kamu", perintah Kana seperti biasanya.

Aku melepaskan tanganku dari Kana. " Tidak aku tidak mau. Titik", jawabku yakin tapi sedikit takut.

Kana menatapku tajam lalu menarik tanganku lagi yang hendak pergi. " Kamu kenapa sih. Marah-marah tidak jelas", Kana berkata kesal.

" Kamu juga kenapa sih, maksa-maksa terus. Emangnya kamu siapa berani perintah-perintah aku", aku menjawab ketus tapi setelah itu aku menyesal karena jawabanku itu.

Perdebatan kami itu membuat beberapa siswa yang lewat di lorong itu terus memperhatikan kami.

Kana menatapku tajam tidak seperti biasanya. Lalu dia melepaskan genggaman tangannya padaku.

" Jadi aku ini si pemaksa di matamu? Kamu keberatan?", Kana bertanya tajam.

" Ya, kamu memang pemaksa. Egois. Gak mau dengerin orang lain", aku menyahut dengan penuh energi melupakan penyesalan sepersekian detik lalu karena merasa berkata kasar pada Kana.

"Oke baik. Kalau begitu aku tunggu kamu di gerbang sekolah saat pulang. Titik", Kana bertitah tanpa memperdulikan perkataanku. Setelah itu dia berbalik pergi meninggalkanku sendirian di lorong.

Aku yang kesal karena keegoisan Kana langsung menghentakkan kakiku. " Kana jahat, egois, tukang paksa.. Dasar kodok jelek", aku mengumpat pelan sambil menahan kejengkelanku.

***

Aku mengintip ke arah gerbang sekolah. Berharap Kana tidak ada di sana. Tadi terkahir aku lihat dia ada di ruang kelas bersama teman-temannya.

" Aman kan?", Inka bertanya.

" kayaknya sih aman", aku masih melihat berkeliling.

" Ya udah, yuk cuslah", Inka menyeret tanganku berlari kecil menuju gerbang sekolah.

Saat berbelok dari gerbang aku dan Inka terkejut melihat Kana berdiri di dekat motornya. Tetapi yang membuat hatiku entah kenapa berdenyut sedikit nyeri karena ada Helmi di sana sedang menyentuh lengan Kana dan sebuah mobil putih terparkir tidak jauh dari mereka.

" Eh kayaknya Helmi lagi berduaan sama Kana. Ini kesempatan bagus Awan. Ayo kabur", kata Inka yang berusaha membantuku kabur dari Kana.

" Eh iyaa yuk", aku gelagapan karena sempat tertegun dengan pemandangan di depanku itu.

Inka menghentikan sebuah angkot yang lewat dan kami langsung menyerbu masuk ke dalam angkot. Sempat aku lihat mata Kana mengawasi ku dari tempatnya. Aku tidak bisa mengartikan tatapannya itu padaku, jadi aku menebak mungkin Kana kesal aku melawan titahnya.

" Waah akhirnya kamu selamat juga. Gelo pisan ya Kana sekarang", Inka mengipas badannya dengan tangan.

Aku yang juga kepanasan ikut mengipasi badan tapi tidak menyahuti perkataan Inka.

" Eh makan bakso enak kali ya", ajak ku pada Inka.

" Hayu lah, lapar euy. Sambil minum es teh enak kali ya", sahut Inka semangat.

***

Masalah itu tidak selesai sampai di situ saja. Besoknya di jam olahraga Kana mengambil kesempatan itu untuk membuatku tidak bisa kabur darinya.

Pelajaran hari ini adalah bermain lempar bola dengan pasangan. Di mana Aku dan Inka sudah menjadi pasangan dan dengan entengnya Kana menyuruh Inka mencari pasangan lain.

Inka yang kesal pergi dengan ngedumel. Jujur saja lama kelamaan Inka dan Kana bisa bermusuhan juga.

Aku berdiri berhadapan dengan Kana untuk melakukan pemanasan sesuai instruksi guru olahraga.

" Mau kabur ke mana lagi kamu", kata Kana pelan sambil memperagakan pemanasan.

" Siapa yang kabur", aku menjawab pelan tapi ketus

" Kemarin kamu kabur dari aku. Padahal jelas-jelas kamu melihat ke arahku. Apa itu bukan kabur namanya", Kana menuduh kejam.

" Tidak... Aku tidak kabur. Kamu kan lagi pacaran. Ngapain aku nimbrung", aku menjawab jutek.

" Alasan. Kalau besok kamu kabur lagi dari aku, aku akan samperin ke rumah kamu", kata Kana selow tapi pasti.

Aku melotot ke arah Kana, tidak menyangka dia akan mengancam aku sekarang. " Aku siram air kalau kamu ke rumah", aku mengancam balik.

Kana menahan tawanya karena tidak menyangka aku menjawab ancamannya. Aku mendelik sewot ke arahnya.

" Kana, Awan... Lakukan pemanasan yang benar", tegur pak guru olahraga.

" Tuh yang benar... Kamu ngobrol mulu", Kana menuduhku membuat aku melotot ke arahnya.

Dasar padahal dia yang mulai, untung aja badannya gede kalau tidak sudah aku smackdown dia aku membatin.

Saat giliran kami bermain, beberapa pasangan yang bersama kami akhirnya tekena lemparan bola membuat mereka harus keluar dari lapangan menyisakan aku dan Kana.

Kana menengok ke arahku lalu berkata " Peluk yang erat, kalau kena bola sakit. Ke mana aku pergi kamu ikutin", kata Kana serius.

Aku mengangguk cepat, dalam hati takut terkena lemparan bola. Aku berusaha bersembunyi di belakang Kana sambil menggenggam erat kedua sisi baju olahraganya.

Beberapa kali lemparan kami bisa menghindar. Lalu di sela permainan kami Kana berbisik ke arahku, mungkin teman-teman mengira kami sedang mengatur strategi tapi Kana sedang bertanya padaku.

" Awan, kamu suka pantai atau gunung?", tanya Kana serius dan pelan.

Aku tertegun sebentar membuat konsentrasi ku buyar dan pada akhirnya bola sedikit mengenai bahuku. Permainan berakhir dan menjadikan kami pemenang terakhir karena bertahan paling lama dalam arena.

Aku duduk di pinggir lapangan, Inka masih memainkan gilirannya bersama teman-teman yang lain. Kana datang menghampiri lalu menyerahkan botol air mineral kepadaku.

"Jadi?", tanya Kana padaku.

" Apa?", aku bertanya bodoh.

" Pantai atau gunung?", tanya Kana.

Aku menatap Kana lalu kembali melihat ke arah lapangan. " Aku tidak tau, aku belum pernah pergi ke kedua tempat itu. Pertama kali ke pantai saat kamu mengajakku kemarin. Ke gunung apalagi. Aku hanya tau ke kebun binatang ", aku menjawab dengan sedikit bercanda.

Kana tertegun sebentar. Mungkin dia bingung kenapa ada orang yang tidak tau menyukai pantai atau gunung.

" Kenapa? Aku aneh ya?", tanyaku malu.

" Sedikit", Kana menjawab jujur dengan sedikit senyum tersungging di ujung bibirnya.

Aku tersenyum simpul. " Ibuku dulu sering sakit-sakitan. Jadi aku dan ayah menghabiskan waktu dengan merawat ibu dan adikku yang masih kecil. Ke kebun binatang pun itu saat ibu masih sehat. Jadi kalau kamu tanya hal seperti itu, aku tidka tau Kana. Aku belum pernah benar-benar menikmati suasana gunung dan pantai", jawabku jujur pada Kana.

Kana mendengar jawabanku dan tanpa malu-malu menatapku dalam.

" Jangan melihatku seperti itu. Nanti orang kira kamu suka aku", aku menegur.

Kana berbalik menatap ke arah lapangan. " Nanti kapan-kapan kita main ke gunung, ke alam", Kana berkata padaku.

Aku melihat Kana yang tetap stay cool saat berbicara. Lalu menatap kembali ke arah lapangan. Berpikir mungkin saat ini Kana sedang bercanda denganku.

***

1
Diana
awan, tentukan pilihanmu sekarang!!🤭
Diana
so sweet😊
Diana
nah kan hawa²nya kisah mereka kayak juan nandes yg ngerebutin embun. tp walaupun akhirnya jodoh berpihak pd nandes tp aku tetap di barisan juan. hidup juan!!✊🤭
Diana
persahabatan awan dan inka mengingatkanku sama embun dan elsa. semoga kisah kasih awan kana tak setragis embun juan.
Diana
kok embun? awan kali, thor. 🤔
Diana
ke gunung apa ke pantai ya? ke gunung sj. ngapain ke pantai kl gak bisa berenang🤭
Diana
🤣🤣🤣jurus ngelawak inka
Diana
semoga konfliknya gak berat. biarlah badanku sj yg berat.🤭
Diana
masih setia dgn awan kana👍
Diana
jd pinisirin
Diana
jamanku dl SMA naik sepeda ontel, anak sekarang sdh main pesawat²an😂
Diana
ini settingnya thn berapa ya? dulu waktu SMA terakhir ada kelas bahasa (A4) alumni 93. entah thn berapa lg ada kelas bahasa.
Diana
ini novel ke 2 yg aku baca setelah merpati kertas yg berhasih membuat hatiku tidak baik² sj. semoga ini tak kalah istimewa👍🙏
ocha falisha
kasian juga tian yak...
nyR
aaaaahhhh so sweet G siiihhh
ocha falisha
kana maunya apa sih thor?
ocha falisha
apa tian memang jodohnya awan? 🤔
CheapShop
semoga ga ada konflik lagi
Ayas Arus
aaahhh bahagianya awan n nyeseknya tian
Evita
Apa cerita ini sdh selesai thor, kok akhirnya ga enak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!