Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Namun bagaimana jika seseorang di tuntut untuk selalu sempurna?
Arkabian Selat Muara. Ketua besar dari ALTARES Gang. Laki-laki yang memiliki paras hampir sempurna di SMANBA. Hal yang paling tidak ia sukai adalah, ada orang yang mengusik kehidupannya.
**
"Menurut lo cinta itu apa?"
"Cinta itu luka, cinta itu sakit. Dunia itu jahat Lun, kita dipertemukan oleh semesta tapi tidak ditakdirkan bersama."
Akankah kehadiran seseorang mampu membuat Arka berubah? Yuk baca dan pergi ke dunia Arka»
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ejubestie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Satu Persatu Dinding Pembatas Rubuh
"Loh, Ayah mau kemana?''
Baru saja Luna pulang diantar Arka setelah hujan mulai reda, namun saat pulang ia mendapati Ayahnya tengah mengemas baju-bajunya dalam koper.
Rey merapikan kopernya dan duduk di sofa dan menepuk sebelahnya, mengkode agar putrinya duduk disana.
"Ayah ada pekerjaan nak."
"Ini 'kan mau malem, kenapa nggak besok pagi aja?" Luna sedih itu tandanya ia akan ditinggal sendiri dirumah. Itu semua pasti akan membuat dirinya bosan.
Rey menatap putrinya sendu, sebenarnya ia berat hati jika meninggalkan Luna sendirian. Tetapi bisnis kali ini tidak bisa ia serahkan kepada sekertaris nya, bisnis yang sangat penting dan banyak orang yang ingin menjatuhkan Reyhan.
"Ini sangat penting, kalau kamu bosan besok Tante Gita Ayah suruh tinggal dirumah kita untuk nemenin kamu, gimana?'' Rey mengelus pucuk kepala Luna
Luna tersenyum lalu menggenggam tangan Ayahnya." Nggak papa kok, Luna bisa sendiri. Takutnya nanti ngerepotin tante Gita,"
"Ayah nggak tenang kamu sendiri, Ayah tadi udah kabarin tante Gita, katanya nanti bakalan kesini."
Luna menghela nafasnya. Ia benar-benar tidak ingin merepotkan siapapun, walaupun perlu ia akui, Luna takut jika sendirian.
Reyhan pasti sangat khawatir, itu wajar saja. Luna ini anak perempuan satu-satunya apalagi ia sangat menyayangi putrinya ini.
Seorang Ayah pasti akan melakukan apapun demi anaknya, bukan?
Luna hanya mengangguk, selang beberapa menit tante Gita datang sebelum Reyhan berangkat.
Pria paruh baya itu berpesan pada Gita agar menjaga malaikat kecilnya.
Semoga Ayah selamat sampai tujuan
...*****...
Cahaya matahari mengusik tidur Luna, seperti biasa gadis itu bersiap berangkat sekolah, bedanya sekarang tanpa ada Rey dirumah ini.
Luna mengucek matanya dan mengambil ponsel miliknya.
"Tumben banget, dia kenapa?"
Dirinya terkejut melihat notifikasi panggilan tak terjawab sebanyak ini, dari jam 5 panggilan itu berdering.
Sepagi ini mau apa orang itu mengganggu Luna? Apakah berniat untuk membanggakan sahur?
Luna tidak memikirkan lebih lanjut, dirinya bersiap dan pergi untuk sarapan. Sepertinya hari ini dunia banyak memberikan kejutan. Lihat sekarang siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah berada dirumahnya.
Bahkan dengan entengnya mengobrol dengan Tante Gita.
"Pagi tante." Sapa Luna lalu duduk dimeja makan
"Pagi juga, Luna," Gita nampak menyiapkan sarapan buat dirinya
"Ehm. Gue nggak disapa?"
Luna memutar bola matanya malas, sepagi ini dirinya sudah diberikan sarapan yang menyebabkan sekali.
"Mau ngapain, pagi-pagi kesini?"
Gita kembali dengan membawa semangkuk sup, dan lauk lainnya.
"Kenapa kamu nggak bilang ke tante kalau kamu punya pacar?" Tanya Gita yang duduk ditengah-tengah
"Luna sama Arka nggak pacaran tan,"
Tante Gita hanya tersenyum jahil menanggapi Luna, sedangkan Arka dengan santai menyantap sarapannya.
Entah ada apa dengan Arka belakangan ini, cowok itu nampak ingin merubuhkan dinding yang membatasi dirinya dengan Luna.
Luna hanya takut jika dirinya mengharapkan lebih, dia juga takut jika akan menyakiti hatinya sendiri.
"Ganteng juga ya, Luna pinter kalau nyari cowok," Gita terus menerus menggoda Luna. Pasalnya gadis itu tidak pernah dekat dengan siapapun, tetapi tiba-tiba Arka datang pagi-pagi dan mengejutkan Gita hari ini.
"Selera Una emang tinggi tan, beruntung Una bisa dekat dengan Arka." Jawab Arka enteng.
"Una?" Tanya Gita bingung
Arka memakan sesendok terakhir sarapannya dan meneguk air minumnya. "Itu panggilan khusus dari Arka," jawabnya.
Luna hanya diam saja tidak tahu harus menanggapi apa, ia teringat Arka pasti akan tetap menang dengan keras kepalanya. Jadi percuma jika dirinya menanggapi semua ocehannya.
Setelah acara sarapan pagi tadi Luna dan Arka berangkat sekolah dan berpamitan pada Tante Gita. Di sepanjang jalan tidak ada yang berniat memulai percakapan. Sampailah mereka di sekolah SMANBA, Arka memarkirkan motornya di parkiran luas itu. Di sana sudah ada anggota ALTARES yang lain.
"Wah, lihat siapa yang datang dengan ketua kita." Itu Razi yang heboh ketika Arka memasuki gerbang sekolah sampai parkiran.
"Ada kemajuan." Ujar Devano
"Gak papa biar Ica ada temannya," Nisa bersender dibahu Alga dengan manja.
Arka turun diikuti Luna dibelakangnya. Arka sudah tau ini semua pasti akan terjadi jika dirinya berangkat dengan Luna. Tapi dirinya teringat pesan om Rey tadi malam.
Besok pagi kamu bisa 'kan berangkat bareng putri saya?
"Awas lo Ca kalau ngajarin Luna yang gak bener!" Ancam Arka.
"Ck, dasar posesif amat. Palingan gue ajarin balapan si, Ka." Jawabnya enteng.
Omongan Nisa mendapat tatapan tajam dari Arka. Cewek ini memang bandel, tetapi itulah yang membuat dirinya dekat dengan anak ALTARES termasuk Alga.
"Em, Arka." Panggil Luna
Arka dan yang lainnya kompak menoleh dengan tatapan bingung .
"Gue ke kelas ya, btw makasih udah nganterin ."
Arka hanya mengangguk dan membiarkan Luna ke kelas sendiri, untung dikoridor Luna bertemu Nara sehingga ia ada teman ngobrol saat menuju kelas. Sementara di parkiran, inti ALTARES masih enggan melangkahkan kakinya dari sana.
Mereka masih terheran-heran dengan Arka belakangan ini, padahal kesan pertama Arka dan Luna bertemu itu tidak menyenangkan, dan siapa sangka mereka bisa seakur ini sekarang.
"Ada yang lengket tapi bukan permen karet,"
"Ada yang dekat tapi nggak jadian," sambung Razi
Arka melempar tasnya mengenai tubuh Razi yang masih bertengger di atas motor milik Okta. "Bacot. Dari pada lo punya cewek banyak tapi nggak ada perasaan." Balas Arka
Semua tertawa atas jawaban ketua mereka, namun ada yang aneh diantara mereka. Reza, lelaki itu nampak gelisah dan ekspresinya tidak bisa dibaca. Walaupun pendiam tapi, sikapnya tidak seaneh ini.
Sepertinya Okta menyadari akan hal itu. "Kenapa lo, Za?"
"Lo sakit? Muka Lo kok pucet." Ucap Alga menimpali.
"Razi kembaran Lo kenapa?" Tanya Devano
"Gue juga nggak tau, dari tadi malem dia diemin gue." Jawab Razi. Walaupun Reza cuek, tapi jika dirumah cowok itu sering berbicara dengan Razi. Namun entah ada apa dengan beruang kutub itu tadi malam. Apakah terjadi sesuatu padanya?
Devano mendekat dan merangkul cowok dingin itu. Dibanding yang lain Devano lebih dekat dengan Reza, bahkan lebih dekat dari pada Razi kembarannya. "Kalau ada masalah cerita, Za. Kita semua ini keluarga lo, lo nggak sendiri, ada gue, ada Razi, ada ALTARES. Lo bisa berbagi cerita disini."
"Dengan lo cerita ke kita itu sama saja lo ngeringanin beban lo, setidaknya kita bisa bantu lo Reza," kali ini Nisa ikut berbicara
Namun Reza masih gigih dengan pendiriannya, cowok itu tetap ingin menjaga ceritanya untuk dirinya sendiri. Mungkin ada banyak beban yang cowok itu pikul. Dan dirinya tidak mau merepotkan siapapun disini.
"Berantem aja yok, Za. Jika itu bisa buat lo tenang." Ucap Arka enteng
Jika seperti biasa, Reza memang melampiaskan sesuatu dengan adu tonjok, namun ia tidak sembarang memilih target untuk dirinya hajar, kadang pohon pisang yang hanya berdiri dijalan juga bisa jadi sasaran cowok itu.
Makanya jika Reza sedang marah, hanya Arka yang berani mendekatinya. Yang lain tidak mau mengambil resiko untuk menjadi sasarannya.
"Jangan kayak anak kecil, Ka. Nggak semua diselesaikan dengan otot 'kan. Coba tanya baik-baik, kita pasti bisa nyari solusinya." Saran Alga. Alga memang orang yang paling dewasa di antara ALTARES.
"Gue mau nikah."
semangat kak... ☺