Dipusingkan oleh pekerjaan, membuat Dakota Cynthia Higgins melampiaskan rasa lelah dengan bersenang-senang di club malam bersama teman. Dia yang sedang mabuk pun ditantang untuk menggoda seorang pria yang tak lain adalah Brennus Finlay Dominique.
Dalam kondisi terpengaruh alkohol, mabuk berat hingga kehilangan akal sehat, Dakota sungguh merayu Brennus hingga terjadi satu malam penuh tragedi. Padahal sebelumnya tak pernah melakukan hal segila itu dengan pria manapun.
Ketika sadar, Dakota benar-benar menyesal. Bukan akibat kehilangan mahkota yang selama ini dijaga, tapi karena pria itu adalah Brennus, salah satu keturunan Dominique. Di matanya, keluarga itu memiliki sifat menyebalkan.
Brennus berusaha untuk menerima segala konsekuensi atas apa yang terjadi malam itu, tapi ternyata Dakota tidak menginginkan hal serupa. Wanita itu sudah anti dengan keluarga Dominique.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Perkara video, membuat Dakota harus mengecek satu persatu pesan yang masuk dan belum terbaca. Entah ke mana pula ia mengirim rekaman tidak senonoh itu.
Berharap semoga saja hanya halusinasi, ingatan palsu saat mabuk. Semoga juga ia tak benar-benar merekam dan mengirim pada seseorang. Bisa runyam urusan dan predikat sekretaris dengan hidup baik-baik. Iya kalau yang menerima adalah orang terpercaya dan tidak mungkin menyebar luaskan. Jika sebaliknya? Bisa-bisa ia dimanfaatkan.
Sumpah demi apa pun, Dakota nyaris gila memikirkan itu. Tiba di pesan masuk urutan ke sepuluh, tubuhnya seketika lemas saat melihat semalam ia mengirimkan sebuah video ke nomor tersebut.
Belum melihat rekamannya, tapi saat membaca nama yang tertera di sana, Dakota langsung ingin menangis, tapi tak ada air mata yang bisa dikeluarkan.
“Argh ... kenapa harus ke dia?” Memukul kepala sendiri, merutuki kebodohan. “Habis sudah gajiku, pasti dia akan memoroti dan menggunakan itu sebagai ancaman.”
Dakota mengirimkan video tak senonoh itu pada seorang pria yang pernah dekat dengannya. Hanya saja ia tidak suka karena bukannya mendapatkan pria kaya yang loyal, tapi justru dirinya yang sering mengeluarkan uang. Jadilah tak dilanjutkan pendekatannya. Namun, orang itu masih sering menghubungi, ia sering abaikan. Sepertinya semalam mengirimkan pesan padanya, jadi naik ke atas dan tak sadar terkirim ke sana.
Dakota sampai menyandarkan punggung karena terlalu pusing memikirkan rekaman itu. Belum diputar, dari luar saja sudah terlihat wajahnya yang kacau. Ia tidak kuat untuk menyaksikan adegan tak senonoh diri sendiri.
Dakota hendak menghapus video itu, tapi sayangnya sudah terlambat, pasti orang itu telah menyimpan. Buktinya pesan yang dikirimkan sangat mengesalkan. ‘Kirim uang atau aku sebar videonya?’
Lihat, kan? Betapa benalunya pria itu. Wajar saja kalau Dakota memilih meninggalkan.
“Oke, Dakota. Mari berpikir, mencari cara supaya dia menghapus video itu dan tak akan disebarkan pada siapa pun.” Perkara mabuk, runyam semua urusan hidupnya. Alkohol merusak segalanya.
Memilih untuk menyelesaikan dengan menghubungi secara langsung. Dakota menelepon pria bernama Edmud.
“Hi, Honey, akhirnya kau mau menghubungiku juga. Ternyata ganas juga, ya ... boleh sesekali ku puaskan? Tapi dibayar, ya? Milikku pasti tak kalah nikmat.”
Dakota mengepalkan tangan, mencengkeram ponsel juga saat mendengar suara sialan. Wanita sekali terkena skandal berbau peranjangan dan hal-hal negatif, pasti langsung dicap murahan. Padahal dia tidak mungkin melakukan hal gila seandainya dalam kondisi normal dan bisa berpikir rasional.
“Hapus video itu! Aku tahu kau pasti sudah menyimpannya, kan?” Dibanding menanggapi ajakan tak mermoral, lebih baik Dakota minta pada intinya saja. Malas juga basa-basi.
“Jual mahal. Kalau dengan CEO langsung beri harga murah, ya? Atau justru diberi secara cuma-cuma? Buktinya kau membuka lebar paha dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa.”
“Aku tak ada waktu untuk meladenimu. Sekarang katakan, mau berapa?” Sudahlah, Dakota tahu kalau ujung-ujungnya pasti uang.
“Nah ... aku suka mendengar tawaran itu. Lima puluh ribu euro sepertinya cukup, atau seratus ribu, ya? Hm ... sepertinya di sini ada nama baik CEO dari keluarga terpandang juga yang harus dijaga.”
“Sial! Kau memerasku!” umpat Dakota. Kenapa juga dia pernah dekat dengan pria seperti itu. Menyusahkan saja. “Ok, tapi aku mau kau menghapus di depan mataku, bahkan salinannya juga.”
“Seratus ribu euro, maka ku hapus dan tidak mungkin ku salin.”
“Ok, kita ketemu sekarang!”
“Uh ... tidak sabar mau bertemu denganku, ya? Rindu sekali?”
Rasanya ingin Dakota tonjok wajah Edmud. Tapi, daripada membuang waktu, lebih baik beri tahu lokasi ketemuannya saja. “Ravintola Vinkkeli, kita bertemu di sana.” Lalu panggilan pun ia putus sepihak.
“Sial! Gaji dua minggu ludes untuk membungkam orang.” Dakota melempar ponsel ke atas meja.
Sebelum pergi menemui Edmud, menetralkan dahulu rasa kesalnya. Menarik dan menghembuskan napas agar lebih relax.
“CEO? Pantas saja memberiku parfum mahal. Siapa pria beruntung yang mendapatkan virginku?” gumam Dakota.
Dia memang tak mengharapkan tanggung jawab. Terkesan santai walau sudah kehilangan sesuatu yang telah dijaga selama dua puluh enam tahun. Memang mau bagaimana? Dakota yang salah karena mabuk.
Namun, rasa penasaran mencuat. Dia hanya ingin tahu orangnya. Dakota meraih ponselnya lagi, lalu membuka galeri. Tidak memutar dari awal, terlalu lama. Langsung digeser pada menit-menit yang memperlihatkan wajah pria itu secara jelas.