Dean tidak pernah berpikir dia akan hidup. Setelah dua kali terkena hujaman peluru, dan tubuhnya yang terbentur bertubi-tubi di lereng tebing. Dia yakin, pas dirinya terjun ke laut Dia pasti mati!
Siapa sangka, tubuhnya masih kuat terbawa arusnya ombak, dan terdampar di tepian pantai. Meski begitu, dia masih berpikir...
Dia pasti, akan mati!
Wanita itu.... Yah... Bisa dibilang malaikat penyelamat hidupnya. Dengan sepasang kakinya yang indah bertelanjang kaki berlari kecil di atas pasir menghampirinya. Menemukan tubuhnya yang malang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 Nina Arnante
Pohon berukuran diameter kecil, maupun sedang, banyak tumbang di tanah. Daun dan rantingnya pun nggak luput berserakan. Semak-semak, debu, kotoran, serta barang-barang ringan, yang semalam terbawa angin, berhamburan dimana-mana. Rumah-rumah penduduk pekarangannya pada rusak. Kecuali kapal-kapal dalam kondisi aman, jelas karena berat. Lagi pula, semalam badai yang datang bukanlah tsunami.
Nggak luput rumah wanita itu, tanaman sayur, obat-obatan, bahkan bunga-bunga kesayangannya berterbangan dimana-mana. Dia sudah lihat yang di samping rumah. Kini dia sedang berdiri di jendela kamar yang menghadap depan. Sama semuanya hancur! Badai semalam hampir meluluhlantakkan setengah pulau Elvaros. Memang tidak semua karena badai itu tidak besar. Tapi setidaknya telah menghancurkan sebagian kehidupan di sana. Bagaimana tidak? Walau tidak semuanya, namun rata-rata kebun-kebun penduduk tidak berbentuk. Tentu jadi mengurangi sumber mata pencarian mereka.
Dia menatap sayu lalu membalikkan badan. Matanya langsung terpana.
“Kau sudah bangun?”
Yang disapanya menyipitkan mata. Sinar Matahari yang masuk menembus kaca jendela menghalangi pandangannya. Wanita itu berjalan ditemani kilauan sinar di belakangnya. Dean terus berusaha melihat jelas. Ketika yang diperhatikannya sudah berdiri di dekatnya, dia langsung melebarkan kedua matanya.
“Ternyata obatku reaksinya tidak cepat. Seharusnya semalam. Tapi tidak apa-apa, setidaknya kau sudah bangun," ujar wanita itu.
Seharusnya usai pria itu di peluknya, beberapa menit kemudian sudah bangun. Nyatanya, lambat.
Wanita itu meraih mangkok di atas nakas. Dia sudah menyiapkan semua itu sebelum masuk kamar. Jadi di nakas, selain bubur, ada segelas air putih, dan secangkir ramuan.
“Bangkitlah, dan bersandar lah di belakang ranjang. Bisa, 'kan?”
Dean mencoba bangun. Namun baru saja membangkitkan tubuh, selimut yang menutupi setengah tubuhnya melorot. Seketika wanita itu langsung buang muka. Dia lupa, hal itu pasti bakal terjadi. Nggak kalah terkejutnya Dean hal nggak sepantasnya terpampang. Hingga yang tadinya tenaganya masih lemah, entah dapat kekuatan dari mana secepat kilat dia menarik. Kedua tangannya langsung memegang erat selimut di sisi kiri dan kanan pinggang, biar ketika dia bersandar tidak terjadi hal serupa. Sambil melirik-lirik tipis, dia menyandarkan tubuhnya. Sungguh dia malu sekali.
Wanita itu merasakan gerakan di sebelahnya seperti telah selesai menyelamatkan hal memalukan. Perlahan-lahan dia menoleh, dan mengaduk-aduk bubur, menyendok nya, meniup-niupnya.
“Bukalah mulut kau."
Dean membuka mulut.
Sepanjang wanita itu menyuapi, pria itu masih tak bergeming. Dia masih terpesona oleh kecantikan wanita di depannya. Apa lagi ini jarak dekat.
"Ya, ya, aku tahu. Aku memang cantik, kau tak perlu terpesona begitu."
Rupanya yang diamatinya tahu. Dean rasanya ingin tertawa geli. Ternyata selain baik hati, dan judes, wanita itu punya kepercayaan diri. Ya, tentu nggak bisa dibantahnya, mau sejuta kali wanita itu mengakui dirinya cantik. Nyatanya, nyata.
Wanita itu meletakkan mangkok di nakas. Lalu memberi minum, selanjutnya ramuan.
“Kau harus minum ini. Tubuh kau butuh tenaga. Ramuan ini sangatlah bagus buat menambah metabolisme tubuh setelah beberapa hari kau tak sadarkan diri. Juga, agar kau bisa bangkit."
Usai semua selesai, wanita itu berdiri meraih nampan.
“Sekarang, aku bisa tenang meninggalkan kau."
Meski penyelamat hidupnya telah berlalu, namun harum tubuhnya masih tertinggal. Dean menarik nafas panjang untuk merasakan keharuman yang tersisa. Lalu matanya mengindai sekeliling. Dilihatnya di kursi goyang, ada seragam tentaranya, dan beberapa setelan baju berbahan wol, serta celana dal*mnya. Dia beralih ke samping ranjang, ada tongkat kayu yang diletakkan di sisi kepala ranjang. Kemudian dia mendesah. Berarti benar dugaannya, wanita itu kemarin membuatkan tongkat untuknya.
Tongkat kayu itu masih terlihat baru dibuat dengan kayu yang masih fresh, dan potongan gagang yang masih terlihat habis di belah.
Sebenarnya ada pikiran lain dibenaknya. Sejak dia tinggal di sini. Tak pernah dengar ada suara orang lain. Apakah wanita itu tinggal seorang diri? Kemana kedua orang tuanya? Kemana sanak saudaranya?
**********
“La la la... La la la...” Terdengar lantunan merdu.
Dean melirik ke jendela samping. Sebenarnya dari tadi dia terus mendengarnya sejak wanita itu pergi. Bahkan didengarnya suara lain. Suara sapu, suara barang, dan suara bercocok tanam. Dia nggak tahu apa yang dilakukan wanita itu. Namun jika dia tidak salah tebak, pasti sedang membereskan pekarangan.
Jadi kamar itu memiliki 2 jendela. Menghadap depan dan samping rumah.
Suara merdu perlahan-lahan mengecil, muncul lagi membesar sesudah di dalam rumah. Selanjutnya, terdengar suara sibuk di dapur.
“La la la... La la la...”
Beberapa saat kemudian, pemilik suara merdu itu masuk kamar membawa nampan. Tampilan wanita itu berbeda memakai topi pantai. Sudah cantik, tambah cantik. Ya, ampun... Ya! Wanita itu pasti kepanasan di luar.
Yang diperhatikannya meletakkan nampan di atas nakas, lalu duduk di sampingnya.
“Bagaimana keadaan kau sekarang?”
"Boleh aku tahu, aku ini dimana?" Dean bicara lain, dan akhirnya buka suara.
"Ini, pulau Elvaros."
“Boleh aku tahu nama kau?”
“Namaku Nina Arnante. Kau?”
“Aku Dean Wilsh. Aku sangat berterima kasih sekali kau telah menyelamatkan aku.”
“Tentu, memang apa lagi yang bisa kau ucapkan?”
Dean tersenyum. Wanita ini rupanya ketika judes makin memesona. Kata-kata pedas yang keluar dari bibir indahnya tidak mengurangi kecantikannya.
“Jadi, bagaimana kondisi kau sekarang?” Nina balik ke topik awal.
“Meski masih lemah, tapi ragaku sudah membaik. Namun biar begitu, tubuhku memiliki satu kendala, jantungku terus berdebar.”
Melotot. “Berdebar?”
Nina langsung menundukkan kepalanya untuk mendengar denyut jantung. Dean tersenyum geli sembari mengamati rambut indah di bawah dagunya.
Hmm... Rambutnya pun wangi, sama harumnya seperti tubuhnya.
"Kemarin jantung kau tidak apa-apa. Kenapa kini jadi berdebar?” Nina mengerutkan kening, setelah balik ke posisi semula.
Tentu saja kemarin tidak apa-apa. Hari ini karena aku melihat kau, Nina.
“Mana aku tahu, Nina.” Dean menjawab memasang wajah polos.
“Ya! Memang kau tidak tahu, aku berkata hanya karena heran saja.”
Nina meraih mangkok, mengaduk-aduk bubur.
“Ini sudah jam makan siang. Bangunlah, aku akan menyuapi kau."
Dean sebelum bangkit memegang dulu selimutnya agar kejadian tadi tidak terulang. Nina memasukkan suapan pertamanya.
“Kau ahli pengobatan herbal?” Dean bertanya sembari menelan bubur.
“Aku bukan ahli lagi. Super ahli! Bersyukurlah, aku yang menemukan kau." Nina berucap dengan menaikkan sedikit dagunya ke atas.
Tersenyum. "Tentu, aku bukan hanya berterima kasih saja. Tapi sangat bersyukur sekali kau yang menemukan aku."
Nina meringis. Ini kedua kalinya dia mendengar hal memuakkan! Dulu dia pernah menolong orang. Dean adalah orang kedua yang ditolongnya. Orang pertama pernah juga mengucapkan hal itu. Sehabis itu, pergi entah kemana rimbanya.
“Itu, pakaian kau. Di situ juga ada 3 helai baju. Aku membuatnya dari bahan wol." Nina merubah topik, menunjuk dengan memajukan bibirnya ke arah kursi goyang.
Melirik. "Aku sudah lihat. Terima kasih. Seharusnya kau tak perlu repot. Kasih saja aku baju seadanya."
“Aku ini tinggal sendiri. Aku tidak memiliki baju pria.” Nina berbohong, padahal ada di gudang.
“Kau tinggal sendiri? Dimana kedua orang tua kau, dan sa..”
Memotong. "Kau tidak perlu tahu."
Mendelik. "Kenapa?"
Nina memberi tatapan tak mengenakkan. Keadaan mendadak jadi hening. Dean pun tak mau buka suara lagi, dia sadar posisi.
Setelah memberi makan, Nina mengganti ramuan di dada begitu pula di kaki. Tapi kali ini sehabis di kasih obat, dada Dean di perban, dan kakinya dibebat. Setelah selesai, dia mengangkat nampan.
“Aku membebat kaki kau, karena besok kau pasti sudah bisa bangun. 3 kali minum ramuan di cangkirku. Kau sudah ada tenaga, dan bisa bangkit. Nanti malam aku akan berikan yang terakhir. Kurasa jantung kau tidak apa-apa. Nanti juga membaik."
“Nina." Dean memutuskan memberanikan diri angkat suara. Karena hal itu masih ingin disampaikannya.
“Apa?”
“Terima kasih atas segalanya.”
“Ya, ya, ya,” ucap Nina sambil lalu.
Lelaki itu kembali ke dalam peraduannya di kasur. Sambil menghirup aroma tubuh wanita itu yang tertinggal.
Nina Arnante... Nina Arnante...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa kasih rating bintang 5, like, dan komen. Tinggalkan jejakmu...
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah greget baca dewi dan mas kris