Adhisti merupakan komplotan copet yang melakukan hal itu karena suatu alasan. Sedangkan Alsaki merupakan seorang yang terkenal. Pria ini benar-benar jenuh dengan keriuhan kehidupan yang selalu ramai akan fans yang memburunya. Hingga suatu saat, Al yang menyelinap ke ruang housekeeping tak sengaja bertemu dengan Adhisti, seorang housekeeping wanita di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
Al meminta tolong kepada Adhisti untuk diam dan tak memberitahu kepada orang-orang jika ia bersembunyi disana. Pria itu bahkan membuntuti Adhisti hingga kerumahnya yang reot.
Siapa sangka, benih-benih cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, saat keduanya sering di pertemukan dalam keadaan Adhisti yang tengah beroperasi mencopet.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Secuil rasa kagum
...🌻🌻🌻...
Al langsung memalingkan wajahnya menatap Luna, sebelum Dhisti mengetahui jika dirinya ada di sana. Not today!
Sungguh, ini bukanlah waktu yang baik bagi Al untuk saling bertemu.
" Oh Ya Dhis, bawakan makanan terbaik di tempat kita untuk menjamu tamu spesialku ya?"
Idho tak mengetahui jika disana ada satu orang yang tengah ketar-ketir manakala dirinya berbicara dengan wanita berkulit kuning itu.
" Baik bang!"
Selama Dhisti dan Idho saling mengobrol, Al terpaksa tersenyum menatap Luna demi menghindari kecurigaan semua orang.
Membuat Luna terbawa perasaan dan salah persepsi.
Sepeninggal Dhisti, Idho yang tak sengaja melihat Al menatap Luna seketika menarik seulas senyuman.
" Ah iya, jadi...apa kalian berpacaran? Kalian benar-benar terlihat cocok sekali!"
Al langsung tersentak saat mendengar ucapan Idho yang mengandung sebuah ketidakbenaran itu.
" Apa wanita itu sudah pergi? Huft, syukurlah!"
Sadar akan raut tak suka yang di tunjukkan oleh Al, Luna seketika memberikan klarifikasi sebelum pria itu semakin marah.
" Masih teman!" Sahut Luna dengan senyumnya yang elegan. Luna sadar, bahwa membuat Al menyukai dirinya bukanlah perkara sepele.
Idho langsung terkekeh mendengarnya, " Masih berarti akan bukan?"
Al terdiam dengan celotehan Idho, sementara Luna kembali tersenyum manis seraya melirik Al yang sama sekali tak bereaksi.
" Karyawanmu banyak juga disini?" Al lebih memilih mengganti topik pembicaraan sebab ia memang tak berminat untuk membahas hal itu.
Pria dengan tindik di kedua telinganya itu seketika mengangguk usai menyeruput soft drink miliknya, " Yang itu tadi anak baru. Kalau yang lainnya merupakan karyawan sejak tempat ini baru buka. Dan kau tahu, selama itu pula belum ada satupun dari mereka yang resign!"
Wow, Daebak!
Al mengangguk dengan tatapan bangga, tak mengira jika berandal kelas bisa menjadi entrepreneur sukses macam sekarang ini.
" Aku rasa Bu Winda akan pingsan melihatmu se sukses ini sekarang!" Celetuk Al yang membuat mereka bertiga tergelak.
Namun, sedetik kemudian, perasaan was-was itu muncul, Al merasa tak nyaman sebab ada Dhisti disana. Bukannya apa-apa, selain ia belum siap untuk mengakui siapa dirinya kepada wanita itu dalam kondisi seperti ini, tidak tau kenapa, ia lebih senang jika ada orang yang mengenalnya tanpa embel-embel ketenarannya.
Singkat kata, Aku terhibur dengan sikap Dhisti yang aneh dan blak-blakan itu.
Dilain pihak, Dhisti yang diminta oleh bos-nya untuk membawakan makanan terbaik andalan cafe mereka, kini menyampaikan pesan itu ke pantry tempat dimana pesanan itu akan dibuat.
" Dari bang Ridho , ada tamunya dua orang, minta menu spesial!" Seru Dhisti sembari mengeluarkan sebuah catatan yang ia sobek secara asimetris.
" Okay!"
Semua musti serba cepat dan tak ada waktu berbasa-basi. Sebab untuk itulah mereka dibayar.
Meski hanya part time, tapi Dhisti senang karena bang Ridho selalu memberikan dia upah sehabis bekerja. Dan upah yang lumayan itu, selalu Dhisti sisihkan untuk ia tabung.
Dhisti yang selalu serius dalam bekerja, sampai tak menyadari jika ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan dirinya melayani tamu, membersihkan meja kotor, hingga menghidangkan makanan.
Ya, Al yang terlibat obrolan serius bersama Luna dan Idho dari jarak beberapa meter, nampak melihat Dhisti bekerja dengan giat.
Membuat pria itu merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. " Wanita itu sungguh bekerja dengan keras!"
Tapi tunggu dulu, bukankah wanita itu merupakan housekeeping atau cleaning service di mall?
Membuat sekeping ingatannya barusan, ia jadikan modal untuk bertanya kepada Idho.
" Sebentar, karyawan mu itu bukannya petugas kebersihan di Mall..."
Al mengerutkan keningnya serius manakala mengajukan pertanyaan tersebut.
" Kok kamu tahu Al?" Balas Idho tak kalah serius.
Al seketika gelagapan demi melihat tatapan penuh selidik dari Luna juga Idho. Damned!
" Emmm, gak sengaja lihat aja. Kemarin waktu aku ketemuan sama rekan kerjaku di mall, aku lihat anak itu. Dan sekarang heran aja dia bisa ada disini. Kok bisa dualisme gitu!" Jawab Al nyengir. Berharap tak ada yang curiga terhadapnya saat ini.
Luna yang melihat raut wajah belingsatan Al langsung menaruh curiga. Al sedari tadi ia lihat tengah memperhatikan wanita yang tekun riwa-riwi membersihkan meja itu, dan sekarang?
" Itu Dhisti, anak yang aku bilang baru tadi. Ngambil part time aja disini. Kalau dia libur disana, dia kerja disini. Anaknya cekatan banget, makanya aku terima!"
" Jadi anak itu bekerja keras demi kakeknya? Wow!"
Mendecak kagum dalam hati saat mendengar hal luar biasa itu. Kini, sembari meminum minuman yang ada di depannya, Al tak henti menatap Dhisti yang sangat gesit kala bekerja.
Membuat Luna mengikuti arah pandang Al, dan membuat wanita itu semakin penasaran.
" Siapa wanita itu sebenarnya?" Batin Luna dengan melirik ke arah Dhisti.
.
.
.
novel ini yg sengaja belakangan dibaca.
Paragraf akhir yg bikin mata ku basah. Cm sm km aku pernah ngomong ttg sesuatu yg gak sanggup aku tulis sndr.
Gpp, ini sudah mewakili. Terima kasih ya mom.