Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 Egois, Keterlaluan
Suasana kepulangan yang tak begitu enak pun menyelimuti. Lana dan Galih sudah mencoba mencairkan suasana tetapi tak begitu berhasil. Sikap Bu Tutik yang masih tampak tak puas itu membuat gurat sedih di wajah-wajah Bulik Darmi serta Paklik Tarmo.
“Ya ampun, Bu. Lain kali tidak perlu lah memprotes masakan tuan rumah buat kita. Kan ya sesuka mereka mau menghidangkan makanan yang bagaimana.” Lana yang kesal tak kuasa menahan protesnya. Langsung ditumpahkannya begitu mobil telah meluncur pulang membelah jalanan dusun yang berlubang-lubang menuju jalan besar ke arah kota.
“Ya memang hidangan itu terserah si tuan rumah. Tapi Darmi berkali-kali menggaungkan untuk menunggu matang dulu masakannya, seolah aku akan sangat puas saja dengan hasilnya nanti. Eh, ternyata semuanya pedas. Tidak makan enak juga aku kan?”
“Tapi kan Bu—“ Lana hampir saja meneruskan berbantah, tetapi kemudian ia menelannya kembali dan memilih diam setelah jemari suaminya terasa menyentuh lengannya tanda menyuruhnya berhenti. Dalam hati Lana juga kesal dengan Galih yang tak berani membantah sang ibu. Kalau tidak mau dirinya yang membantah, ya setidaknya Galih berani mengambil sikap yang tegas. Menyalahkan ketika memang ibunya salah kan juga bukan hal yang buruk. Daripada ibunya terus menyakiti hati orang lain, sebaiknya Galih harus segera memberikan pencerahan kepada Bu Tutik.
Beruntung didikan ibu dan pesan ayahnya membuat Lana memilih mengikuti permintaan suaminya walau masih ada rasa kesal dalam hati.
“Kayaknya aku jadi ngerti deh kenapa istrinya Mas Gilang itu tidak sudi berdiam lama-lama di rumah kita, Mas.” Sesampai di rumah, Lana menumpahkan kekesalannya di dalam kamar.
“Hus, kamu itu nggak tahu cerita aslinya seperti apa.” Galih memungkas pendek tanpa minat membahasnya lebih jauh. Sepertinya ia juga sudah mulai bosan dengan keluhan istrinya mengenai sang ibu. Mau bagaimana lagi. Sudah begitu tabiat ibunya. Akan susah kalau berharap Bu Tutik bisa berubah secara kilat.
“Ah, tapi aku sih juga misal jadi dia pun akan melakukan hal yang sama deh. Sayangnya suamiku ini beda banget sama abangnya. Tunduk amat sama ibunya! Oke, itu emang sikap yang bagus sih, Mas.Tapi ya lihat-lihat dulu lah ibunya itu bener apa nggak. Jangan membabi-buta takluknya. Kebangetan ish!"
Namun seperti biasa, Galih hanya akan mengalah dan diam. Tak membantah tetapi juga tak akan menyalahkan sang ibunda. Uh, lama-lama Lana yang akan mengambil alih tugas itu kalau memang suaminya tak mampu, pikir Lana kemudian.
Suatu sore, Lana sedang duduk-duduk di teras sambil membaca majalah. Ia sedang beristirahat sepulang kerja dan tengah menantikan Galih pulang karena suaminya itu memang seringkali harus lembur sehingga pulangnya jauh di atas jam pulang kantor biasanya.
Sebuah seruan salam mengejutkannya yang asyik tenggelam dalam sebuah cerbung yang terrdapat dalam majalah tersebut.
“Eh, wa’alaikumsalam, Bu RT. Wah, silakan masuk, Bu.”
Gegas ia menjawab salam sambil buru-buru membukakan pintu pagar rumahnya, mempersilakan Bu Endang untuk masuk.
“Sedang santai ya, Mbak?” tanya Bu Endang yang adalah bu RT di lingkungan rumah Bu Tutik tersebut.
“Hehe, iya, Bu. Saya lagi baca-baca aja ini. Ada apa, ya?” Lana tak sabar ingin tahu keperluan Bu RT sampai ke rumahnya. Karena tidak biasanya begitu.
“Ini lho saya menunggu bisa bertemu Mbak Lana untuk … anu … menagih uang tunggakan iuran kematian dan kas RT. Beberapa kali saya ke sini tapi Cuma ketemu sama Bu Tutik aja. Kata beliau nagihnya ke Mbak Lana aja.” Bu Endang menjelaskan dengan nada suara yang terdengar sungkan.
“Oh, Ya Allah, maaf, Bu. Iya saya tidak tahu kalau ibu belum bayar. Saya udah kerja jadi tidak ingat urusan yang di rumah. Maaf, ya, Bu, jadi merepotkan Ibu ,” jawab Lana tak enak. Segera ia pamit ke dalam untuk mengambil dompet dari dalam kamar.
Sepanjang jalan ke kamar, Lana menggerutu kesal dengan sang ibu mertua. Bisa-bisanya tidak mau membayarnya dulu. Kan nanti bisa ia ganti uangnya. Ck! Malu-maluin banget emang!
“Berapa tunggakan kami, Bu?” tanya Lana sambil membuka dompetnya ketika ia telah berada di teras kembali, di mana Bu Endang sedang duduk menunggu sambil membuka-buka buku catatannya.
“Tagihan untuk tiga orang selama tiga bulan, Mbak. Jadi jumlahnya sekian,” ujar Bu Endang seraya menunjukkan catatannya.
Lana langsung membayar sejumlah tersebut dan bahkan memberikan untuk tiga bulan ke depan juga.
“Ini sekalian bayar untuk tiga bulan ke depan, ya, Bu. Siapa tahu nanti Ibu pas nagih ke sini saya sedang tidak di rumah lagi, biar tidak sampai terlambat.”
“Wah, Alhamdulillah. Terima kasih, ya, Mbak Lana. Maaf’ lho, datang-datang nagih saya,” Bu Endang lantas pamit undur diri karena masih harus menagih beberapa warga lain.
Dengan emosi yang sedikit meluap, Lana masuk lagi ke dalam rumah. Moodnya untuk melanjutkan baca cerbung tadi sudah lenyap. Berganti oleh kemarahannya atas tingkah Bu Tutik yang keterlaluan sekali tak mau membayar dulu uang iuran kematian mereka sementara ia tahu betul pasti alasannya bukan karena taka da uang. Suaminya memberikan jatah yang lumayan untuk belanja pribadi beliau. Jadi kalau untuk membayar iuran sekecil itu tentunya Bu Tutik tak akan sampai kesulitan.
“Ada suara siapa barusan, Lana?” tanya Bu Tutik yang duduk menghadap TV di ruang tengah. Kebetulan sekali, piker Lana merasa itu kesempatannya untuk meluapkan amarah. Namun, ia menahan suaranya agar tak terdengar menyakitkan.
“Bu. Tolong lain kali kalau Bu Endang ke sini nagih iuran kematian, Ibu bayarin dulu lah. Pas Lana pulang, Ibu bisa bilang nanti aku ganti uangnya, Bu.”
Bu Tutik menatap ke arah Lana dengan dahi mengernyit. Tampaknya beliau masih merasakan ada nada protes dalam suara Lana meski telah sekuat tenaga ditahan.
“Tapi kan Ibu ini sudah tua, Lana. Yang kewajibannya bayar ya yang muda, dong,” sanggah Bu Tutik.
“Loh, Lana bayar, Bu. Tapi kan Bu Endang nagihnya selalu pagi atau siang.Sementara Lana di kantor, kan? Maksud Lana Ibu bayar dulu, nantinya akan Lana ganti gitu.”
“Ih, Ibu masa’ mau minta diganti sama menantu sendiri? Uang segitu aja, kok,” ucap Bu Tutik semakin menjengkelkan.
“Ya daripada gak dibayar gini kan Lana jadi malu, Bu. Masa’ uang iuran kematian aja sampai nunggak tiga bulan.” Tanpa sadar, suara Lana sudah meni8nggi saking kesalnya.
“Loh, kamu kok jadi marahin Ibu, sih? Kalau tidak mau sampai nunggak ya kamu dong tinggalin di Ibu, pas di tanggal tagihannya. Tanggal sepuluh tiap bulan. Ingat itu!” Bu Tutik kini marah sekali.
Mata bercelak hitam tebalnya semakin menghitam dan membuat Lana mundur sedikit ketakutan.
“Baiklah, Bu. Lana akan setel alarm di tiap tanggal sepuluh untuk bayar uang iuran itu sebelum ditagih. Lagipula sudah lunas sampai tiga bulan ke depan!” Usai berkata begitu, Lana langsung melipir ke kamarnya sendiri. Ditinjunya bantal dan guling di ranjang untuk meluapkan emosi.
“Punya mertua pelit amat. Timbang nalangin belasan ribu aja gak sudi!”
Ia membenamkan kepalanya di bantal. Ia tak tahu harus kemana ia luapkan emosi dan kesalnya.
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻