follow ig author: @bungadaisy206
Ana tidak jelek. Dia adalah gadis yang sangat cantik. Tapi kenapa Ana tak kunjung menikah? Kata orang, Ana digantung waris oleh mantan pacarnya. Sebagai penangkal mitos itu, Ana harus rela dijodohkan dengan anak dari sahabat ayahnya. Ana yang tidak punya pilihan, dia pun menerima pernikahan itu. Pernikahan yang diatur oleh keluarganya dan keluarga calon suaminya.
Yuks ikuti kisah cinta dan kehidupan rumah tangga 2A (Ana dan Arnold) dalam novel Istri Baru Tuan Arnold karya Syehalea.
IG : @bungadaisy206
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syehalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Ingin Bekerja
Hari pertama Arnold dan Ana tinggal bersama di villa Peony, mereka mewarnainya dengan pertengkaran. Di awali pertengkaran saat bangun tidur hingga menjelang siang. Sungguh istri barunya itu membuat Arnold hampir gila. Ana yang selalu bersikap dingin membuatnya pusing dan tidak tenang.
"Ana, apa yang harus kulakukan untuk membuatmu menerimaku." batin Arnold.
Arnold mengacak rambutnya dengan tidak karuan. Entahlah, harus dengan cara apa ia melampiaskan kekesalan yang menumpuk di hatinya. Di satu sisi, ia tidak mungkin memaksa Ana. Tapi di sisi lain, ia tidak kuat jika harus selalu menahan keinginannya. Khususnya menahan hasratnya.
"Bruuukkk!"
"Praaakkkk!"
Suara berisik dari arah kamar begitu horror. Arnold melampiaskan kekesalannya dengan melemparkan barang-barang di sekitarnya. Ia melempar beberapa benda kesembarang arah. Ia bukan kesal pada Ana, tapi kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa meluluhkan hati istrinya itu.
Semua pelayan sudah panik, tidak ada satupun dari mereka yang berani menghadapi Arnold jika sedang mengamuk. Mereka sangat kenal dengan watak tuannya. Saat marah, Arnold begitu kejam dan menyeramkan melebihi monster.
Salah satu pelayan lari dengan tergesa menghampiri Ana yang duduk di teras depan. Ana tidak tau jika suaminya sedang mengamuk di dalam kamar. Mimi mendekat dengan panik ia berkata:
"Nyonya muda, sepertinya tuan muda mengamuk. Bisakah nyonya menenangkan tuan muda Arnold?" pinta Mimi dengan nafas terputus-putus karena berlari menghampiri Ana.
"Jika dia mengamuk bawalah ke rumah sakit jiwa, mungkin dia sudah tidak waras." jawab Ana dengan malas, menatap sekilas ke arah Mimi.
Mendengar ucapan Ana yang seperti itu, Mimi tertunduk lesu memperlihatkan raut sedih dan memprihatinkan. Ia tidak bicara apapun, hanya dengan diam menatap wajah Ana penuh harap.
Ana melihat raut pelayan itu, wajahnya menyedihkan. Membuat hatinya tidak tega. Ia menghela nafas pelan mengarahkan pandangannya pada Mimi.
"Baiklah, aku akan membujuknya." kata Ana dengan datar.
Seketika ekspresi Mimi berubah, ucapan Ana itu bagai angin segar.
Ana melangkahkan kakinya, menapaki anak-anak tangga menuju kamar utama. Sesampainya di depan pintu, Ana berhenti. Ia enggan mengetuknya karena takut. Lama berdiri, membuatnya tidak tenang dengan suara gaduh di dalam kamar itu. Ana memberanikan diri mengetuk pintu itu, beberapa kali mengetuk namun tidak ada jawaban dari dalam.
Beberapa menit sudah berlalu, Ana memutuskan untuk masuk ke dalam kamar itu. Hatinya berdegup, ia takut jika Arnold benar-benar memaki atau bahkan memukulnya. Ana berusaha memberanikan dirinya dan masuk perlahan.
Saat memasuki kamar, pemandangan utama yang di lihatnya adalah barang-barang yang berserakan disegala arah. Ana membuka mulutnya dengan ragu.
"Kenapa kamu marah? masih kesal dengan yang tadi pagi? jika kamu mau marah ya marah saja padaku, jangan pada benda yang tidak berdosa. Lagi pula itu salahmu, kenapa terus meminta hal yang tidak-tidak," ucap Ana.
Arnold menatapnya dengan tajam, kemarahan tampak jelas tergambar di wajahnya.
"Aku ... Apakah aku salah menginginkan kamu yang adalah istriku yang sah? kenapa kamu terus menolak dan menghindari sentuhanku? apakah aku salah meminta hak seorang suami? Ana, coba katakan padaku apa kurangnya aku? apa aku kurang tampan, kurang kuat atau kurang perkasa, huh?" Arnold meluapkan emosinya di depan Ana mencecar istrinya dengan banyak pertanyaan.
Ana merasa terpojok. Ia diam tanpa berkata apapun, ia ketakutan hingga kakinya sedikit gemetar. Air mata sudah menggenang menutupi pupil matanya. Dengan takut ia pun mengeluarkan suaranya.
" Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku janji setelah tiga bulan aku siap melakukannya. Aku mohon beri aku waktu," ucapnya dengan lirih.
"Apakah kamu yakin mau melakukannya setelah tiga bulan?" tanya Arnold dengan ragu.
"Iya." jawab Ana singkat dengan wajah ketakutan.
Melihat Ana yang ketakutan, Arnold merasa bersalah. Wajah polos Ana yang terlihat menyedihkan membuat kemarahan Arnold berangsur-angsur menghilang. Arnold mendekat dan mengusap kepala Ana.
"Maaf, aku hanya sedang kesal. Kamu sudah makan, belum? ayo kita makan dulu!" ucap Arnold dengan lembut.
Sedangkan Ana, hanya dengan patuh mengikuti Arnold menuju ruang makan.
###
Meja makan berbentuk persegi panjang terbuat dari kaca yang berkilau. Ada beberapa hidangan lezat yang dimasak special oleh pak Liam. Pak Liam, koki pribadi di villa Peony. Melihat itu, air liur Ana seakan menetes. Ia dengan tidak sabar menyendok nasi dengan beberapa lauk pauk di atas piringnya. Ana makan tanpa menghiraukan Arnold yang adalah suaminya. Ia menikmatinya sendiri dengan lahap.
"Jangan buru-buru nanti tersedak. Lagi pula, tidak ada yang ingin berebut makanan itu denganmu," kata Arnold menatap geli.
Ana mendongak, mulutnya penuh makanan. Ia dengan malu menarik senyuman kecil.
"Iya, maaf. Aku sangat lapar. Sejak menikah denganmu aku jadi cepat lapar," Kata Ana mencari-cari alasan.
"Kenapa?" tanya Arnold sembari mengerutkan dahinya.
"Hampir setiap hari kita bertengkar, dan itu menguras energiku, membuat aku selalu merasa lapar," kata Ana membuat alasan.
Arnold tidak menanggapinya, ia hanya dengan aneh menjatuhkan senyuman ringan.
"Jangan tersenyum-- , Ana menatapnya.
"Oh, iya. Aku lupa, ada sesuatu yang ingin aku minta dari kamu," kata Ana.
"Apa?"
"Aku ingin bekerja! Bisakah aku bekerja di Perusahaanmu?" pinta Ana dengan raut memelas berharap Arnold menyetujuinya.
"Uhuk, uhuk, uhuk."
Tiba-tiba Arnold tersedak mendengar permintaan Ana, Arnold terbatuk hingga matanya berair.
"Hei, kamu kenapa? Cepat minum!" Ana menyodorkan segelas air untuk Arnold.
"Tidak apa. Aku hanya kaget saat kamu bilang ingin bekerja-- kata Arnold mengatur nafasnya kemudian melanjutkan ucapannya.
"Um, baiklah. Jika kamu benar-benar ingin bekerja, aku akan memberikan pekerjaan untukmu,"
"Benarkah?" Ana dengan raut semeringah.
"Iya. Ana, di kantor belum ada yang tau jika aku sudah menikah. Menurutmu, apakah aku harus mengumumkannya dan mengadakan pesta untuk pernikahan kita?" Arnold menatap Ana dengan lekat.
"Tidak usah mengumumkannya, biarkan saja mereka tidak tau setatus kita. Itu jauh lebih baik dan nyaman untukku," jawab Ana bernada yakin dengan keputusannya.
"Baiklah. Tapi jangan menyesal jika wanita lain menggodaku. Bukankah suamimu ini sangat tampan," kata Arnold dengan percaya diri.
"Jika ada yang menggodamu, itu bukan urusanku. Aku hanya perduli dengan pekerjaanku. Coba beritau aku apa posisiku di Perusahaanmu?" Ana berlagak acuh dengan hubungannya dengan Arnold.
"Tanyalah yang sopan bukankah aku adalah bosmu," protes Arnold.
"Di rumah, kamu itu adalah suamiku bukan bosku. Jadi, jangan harap aku menuruti perintahmu. Dan kamu ... kamu jangan berani memerintahku." Ana sedikit mengancam.
"Akhirnya, kamu mengakui aku sebagai suamimu! sungguh aku menantikan kata-kata itu." Arnold melemparkan senyuman bangga.
"Jangan bangga kamu!" sahut Ana.
"Hahaha. Tentu saja aku bangga. Kamu yang tidak ikhlas menikah denganku, sekarang sudah mengakui aku sebagai suamimu," Arnold tertawa puas.
"Kamu itu hanya jimat penangkal kutukan." kata Ana dengan tatapan jahat.
"Itulah ... kamu berhutang Budi padaku," jawab Arnold menyeringai licik.
"Apa?" Ana tersentak tidak percaya jika suaminya seperhitungan itu.
"Hutang budi." Arnold mengulangnya.
"Aku dengar! Aku hanya kaget, kamu sangat perhitungan." sindir Ana.
Mereka berdua benar-benar tidak menikmati makan. Siang malam tidak hentinya berdebat dan berdebat, tak ubahnya bad couple yang tidak bahagia. Ana cemberut, mengunyah makanan dengan cepat sembari memelototi Arnold.
***
Hai readers
terimakasih sudah mampir dan membaca.
jangan lupa like, like, like...
coment, coment, coment.
biar Momy senang🤗😂
salam hangat,
Syehalea
❤️❤️❤️