NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:71.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 8

...Rencana Chika Season 3...

Molly sedang di kamar mandi, menangis karena perlakuan mereka terutama Chika.

"Iya," jawab Chika acuh.

"Kok lo masih mau temenan sama anak kayak gitu sih?" tanya cewek yang lain, masih bisik-bisik. "Bukannya sering ngerepotin?"

"Ah, biarin aja," kata Chika. "Lo nggak usah ngurusin dia. Bentar lagi juga pergi"

Begitu Molly membuka pintu kamar mandi mereka langsung diam, pura- pura sibuk ngomongin hal yang lain. Ia merasa harus segera pergi.

"Gue... pulang dulu ya, Chik," katanya buru-buru pergi tanpa dapat menyembunyikan air matanya.

Molly berlari keluar, sambil menangis.

"Molly, tunggu!" panggil Chika, yang ternyata menyusulnya.

Mereka sudah ada di teras.

Molly menoleh dengan sedih, membuat Chika sedikit merasa bersalah.

"Harusnya lo nggak datang. Teman-teman gue emang begitu... tapi...,"

Chika menjelaskan dengan ragu-ragu. Ada kepahitan di wajahnya saat mengatakan hal-hal yang menyakitkan itu. "Tapi mereka teman-teman gue sekarang. Teman yang sangat gue butuhin untuk sharing dan cerita. Bukan teman yang bisanya cuma bikin gue jadi kayak baby sitter..."

Molly berusaha mempercayai bahwa ucapan itu keluar dari seorang sahabat yang sangat ia sayangi.

"Gue nggak bisa temenan sama lo lagi, Mol," kata Chika menegaskan. "Jangan datang ke sini lagi"

Jadi sejak itu hari-hari berlalu dengan sepi.

****

"Kamu mau ke mana?" tanya Mama saat melihat Molly bersiap-siap keluar.

"Mau beli krayon baru," jawab Molly sambil tersenyum.

Mama sedang sibuk memasak. "Hati-hati," ia berpesan tanpa menoleh sedikit pun. "Alamat rumah ada di tas kamu kan? Jangan sampai kesasar lagi"

"Iya," sahut Molly sambil menarik gagang pintu dan keluar dengan girang.

Hari ini cerah dan terasa membaik. Mungkin liburan yang membosankan akan segera berakhir. Kemarin Papa membelikan seragam dan perlengkapan sekolah yang baru. Tapi, nggak tahu kalau Molly lebih membutuhkan krayon daripada semua itu. Jadi Papa memberinya uang untuk bisa membelinya sendiri. Barang-barang seperti itu adalah teman yang berharga baginya sekarang.

Molly mempunyai banyak pilihan pada rak-rak yang memajang semua jenis crayon dan mulai bingung memilihnya. Senyum bahagia terukir di wajahnya dalam kehampaan. Meski hampa, ia tetap menghargai apa yang ia lakukan sebagai dirinya.

Di tempat lain, ketika Molly berusaha menghadapi kenyataan seorang diri, Chika terlihat memandang ke arahnya. Kebetulan ia juga ada di sana untuk membeli perlengkapan sekolah. Tapi, tidak sendirian.

"Chik, berapa lama lagi sih?" Getta yang bosan menggerutu padanya.

"Iya, ini juga kelar," jawab Chika buru-buru meninggalkan titik di mana ia melihat Molly yang asyik melihat-lihat krayon. Jika ia berdiri lebih lama lagi di sana, mungkin Molly akan melihatnya.

Jadi ia menarik lengan Getta untuk segera pergi dan meninggalkan toko buku.

****

"Tadi gue lihat Molly," kata Getta, membuat Chika yang sedang makan tersedak. Getta memandanginya heran sambil mengernyit. "Kenapa kaget sampai begitu sih?"

Chika meminum soda dinginnya untuk meredakan rasa perih di tenggorokannya. "Di mana?" tanya Chika sambil menepuk dada dan ia mendapati Getta yang duduk di depannya tampak murung.

Getta menatapnya sebentar. "Di toko buku," jawabnya, tenang.

Chika diam lagi.

"Jadi lo udah lama nggak temenan sama dia lagi?" tanya Getta, tiba-tiba.

Chika tersenyum getir. "Sejak akhir semester satu dia udah nggak main ke rumah lagi," jelasnya. "Dia punya banyak teman baru sekarang. Lupa sama gue"

"Tapi, tadi dia sendirian," Getta berkata dengan rasa ingin tahu.

"Yah, mungkin gilirannya sendiri," Chika berkilah. Sambil memikirkan cara untuk menghindari topik tentang Molly yang kelihatannya masih mengganggu Getta sampai sekarang. "Get, nggak terasa ya kita udah kelas dua sekarang. Kira-kira kita bakal sekelas lagi nggak ya?"

Getta hanya menatapnya dengan raut nggak terbaca, tenang namun ingin mengatakan sesuatu. "Mungkin enggak, Chik," jawabnya, menatap Chika dalam-dalam dan menemukan cewek itu membelalak.

Terkejut, Chika sedikit histeris. "Kenapa?" tanya dia. "Nilai kita cuma beda sedikit kan?"

"Gue. . . mau pindah sekolah," jawab Getta tegas. "Sudah dipastikan tahun ajaran baru, gue nggak sekolah di sana lagi"

"Kenapa lo nggak pernah bilang? Lagian lo mau pindah ke mana?" Chika semakin nggak tenang.

"Ke sekolahnya Jonas," jawab Getta, yang sekarang berubah muram.

"Tapi, sekolahnya Jonas reputasinya jelek banget!" kata Chika. "Masa sih lo dari sekolah favorit mau pindah ke sekolah bobrok kayak gitu?! Padahal lo udah berusaha sekuat tenaga supaya bisa masuk ke sekolah yang sekarang tapi..."

"Lo nggak bakalan ngerti, Chik," kata Getta menegaskan. "Gue selalu ngerasa nggak tenang sejak pertama kali masuk sekolah itu. Nggak tahu kenapa...mungkin gue nggak suka sama anak-anaknya, belagu, sok pintar dan sok kaya. Bikin gue muak bergaul sama mereka"

"Masa sih cuma gara-gara itu, Get...," Chika masih nggak percaya bahwa Getta serius."Lo bakal ninggalin gue?" tanya Chika hampir menangis.

"Lo punya banyak teman yang nggak akan biarin lo sendirian," jawab Getta."Lo nggak perlu berlebihan gitu kenapa sih?" celetuknya tiba-tiba. "Gue cuma pindah sekolah, bukan pindah rumah ke luar kota."

Masalahnya bukan itu. Masa-masa itu seakan menghantuinya kembali. Karena sekolahnya Jonas adalah sekolah yang sama dengan sekolahnya Molly!

"Lagian telpon sama SMS kan ada, lo kenapa jadi lebay gitu sih?" celetuknya lagi.

"Lo mau pindah karena di sana juga ada Molly kan?" Chika merajuk.

Getta tampak gusar. "Lo pikir gue cowok begok apa?!" tandasnya, sambil membuang pandang. "Udah deh, lo jangan ngomong yang enggak- enggak."

"Ya jelas, gue mikirnya sampai ke sana. Lo pernah suka sama Molly...," ungkit Chika tertunduk.

"Iya, terus apa masalahnya?" cetus Getta. "Lagian itu dulu, sekarang...

gue udah nggak kayak gitu lagi"

Chika mengangkat kepalanya untuk mengatakan sesuatu. "Lo tau kan alasan gue sebel sama Molly, gara-gara dia nggak datang nemuin lo waktu janjian. Gue lihat Molly malah pergi sama teman-temannya ke mall," Chika mengingatkan Getta dengan kebohongan yang sama. "Gue nggak suka..."

"Udah deh nggak usah diungkit lagi," Getta kembali terlihat gusar. "Gue udah lupa"

"Getta," Chika menegur Getta yang terdiam dan memandang keluar dengan hampa.

Getta menoleh. "Apa?" sahutnya datar.

"Kenapa kita nggak pacaran aja?" tanga Chika padanya. "Padahal kita segini dekatnya, kan?"

Getta terkesiap saat membalas tatapan Chika yang penuh harap. "Gue nggak tau harus jawab apa, Chik," katanya. "Menurut gue pacaran itu cuma ngerepotin. Tapi, yang pasti, kalau lo butuh gue, gue pasti bantuin lo"

Sayang, teman-teman banyak yang heran, kenapa Getta pindah sekolah mendadak.Sebagai sahabat yang baik dan selalu ada buat sahabatnya, Chika nggak bisa jelasin. Soalnya nggak ada yang tahu kalau Getta itu broken home. Yang mereka tahu, Getta anak orang kaya yang ayahnya bekerja sebagai pengusaha -meski nggak jelas usahanya apa. Mereka nggak tahu kalau ortunya cerai dan Mama-nya Getta udah menikah lagi sama orang yang hidupnya sederhana.

Chika berusaha terlihat mendukung keputusannya itu. Tapi, tetap penuh rencana. Seperti selama ini.

****

Suara piano mengalir lembut ke penjuru ruangan. Melodi dengan suara lagu yang merdu, membuat senyuman pada pendengarnya. Duduk di kursi dengan manis, menghayati perasaan yang ia mainkan dalam lagu lama tentang cinta, Papa memandangi putri cantiknya dengan kagum. Suara piano yang seindah nyanyian, Chika memilikinya lengkap dengan keluarga yang bahagia. Nggak ada yang salah, ketika ia tersenyum pada akhir lagu dan nada yang mengalun lewat jari-jarinya yang terampil juga senyum manis yang biasa ia perlihatkan.

"Harusnya kamu ikut audisi, Sayang," kata Papanya dengan wajah gembira. "Kalau kamu mau papa kenal orangnya"

Chika hanya tersenyum.

"Nanti kalau Chika jadi artis, sekolahnya gimana?" tanya Mamanya yang sedang menyusun bunga mawar segar di dalam vas yang berada di tengah-tengah ruang.

"Aku nggak mau jadi artis, Ma," kata Chika sambil menghampirinya, ikut merapikan bunga-bunganya yang indah. "Aku mau fokus sekolah kok"

"Nah itu baru bagus," Mama yang selalu kelihatan cantik, tersenyum.

Seorang pembantu rumah tangga membantu membereskan semua perlengkapan dari atas meja seperti gunting dan sarung tangan untuk membawanya ke belakang.

"Makanannya udah siap, Bi?" tanya Mama pada Bibi yang hendak pergi.

"Udah, Buk," jawab wanita paruh baya itu, sedikit membungkuk.

"Yuk," Mama mengajak Papa sekaligus Chika, yang sedang membelai kelopak mawar merah di tangannya.

Papa segera berdiri dari sofa, menuju ruang makan yang ada di sebelah ruangan. Seperti pasangan sempurna, Mama mendampinginya dengan setia.

Chika masih berdiri di dekat vas bunga. Tersenyum sambil meremas sekuntum mawar yang tadi tampak begitu indah, sekarang telah menjadi sampah di tangannya.

Makan malam keluarga berlangsung dengan cerita dan tawa Papa dan Mama tentang pekerjaan dan kantor. Chika menikmati makanannya seperti biasa dengan menu membosankan bikinan pembantu yang nggak terlalu pandai masak. Mungkin karena rasa makanannya itu-itu aja, Chika mulai bosan. Andai Mamanya bisa masak, mungkin rasanya lebih enak dari bikinan Bibi

Maklums aja, Mama yang super sibuk selalu nggak punya waktu buat masak. Pagi-pagi bangun lebih cepat hanya untuk bisa dandan sempurna dan kelihatan cantik. Kalau hari libur biasanya ke salon untuk menicure dan pedicure, menata rambut juga perawatan kulit. Kadang Chika juga diajak, tapi sering nggak ikut karena lebih enak di rumah atau pergi sama Getta dengan motornya.

Sedangkan Papa lain lagi, sering keluar kota bahkan ke luar negeri. Nggak pulang-pulang cukup lama karena punya banyak klien di mana- mana. Wajar sih, eksportir gitu lho. Tapi, setahu Chika orang tuanya damai-damai saja. Nggak pernah berantem -sepengetahuan dia, dan kalau ada waktu ketemuan, mereka mesra seperti ABG baru jadian. Contohnya malam ini, seolah dunia milik berdua. Seolah-olah Chika nggak ada di depan mereka, sekali pun Chika cemberut karena dicuekin.

Tapi, mereka memang seperti itu. Daripada berantem? Ya kan?

"Aku udahan," kata Chika pamitan untuk kembali ke kamarnya.

"Oh ya udah sayang, tidurnya jangan larut ya?" pesan Mama.

Chika tersenyum. Ya, melihat ortu yang damai terus pantas disyukuri. Toh, banyak anak-anak yang mesti jadi korban perceraian bahkan kekerasan. Getta misalnya. Dia harus tinggal sama ayahnya yang suka marah-marah dan main tangan. Getta adalah pelampiasan amarah terhadap kesalahan ibunya. Kasihan. . .

ooOoo

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
🐤
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!