NovelToon NovelToon
KUTUKAN JARAN GOYANG

KUTUKAN JARAN GOYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Bad Boy / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : Meminta Tumbal

Ketakutan terbesar yang selama ini berkecamuk di dalam benak Bagus akhirnya benar-benar menjadi kenyataan yang mengerikan. Memasuki bulan kedua semenjak ritual malam Selasa Kliwon itu dilakukan, perubahan kondisi fisik pada diri Sri sudah tidak lagi bisa disembunyikan atau ditutupi oleh pakaian modis apa pun. Gadis cantik yang dulunya selalu tampil bugar, segar, dan memancarkan aura berkelas khas wanita karir itu kini tampak sangat mengenaskan. Kulit tubuhnya yang kuning langsat mulus perlahan-lahan berubah warna menjadi pucat keabu-abuan yang kusam, seolah-olah seluruh aliran darah di dalam pembuluh tubuhnya tidak lagi berjalan dengan normal layaknya manusia hidup. Postur tubuh Sri pun menyusut drastis dalam waktu singkat, menjadi sangat kurus kering hingga tulang-tulang selangka di bawah lehernya menonjol tajam dan kaku di balik pakaian longgar yang ia kenakan sehari-hari.

Efek tiada henti dari cambukan batin dan keterikatan jiwa akibat pengaruh getaran getir Aji Jaran Goyang ternyata secara perlahan menguras habis seluruh energi inti kehidupan milik Sri. Jiwanya yang dipaksa secara gaib untuk terus-menerus merindukan dan memikirkan Bagus setiap detik membuat sistem metabolisme alami tubuhnya rusak kacau balau. Sri menjadi sangat sering lupa untuk makan, bahkan saat disuapi secara langsung oleh Bagus dengan penuh rasa cemas pun, ia hanya mampu menelan beberapa sendok makanan saja sebelum akhirnya berhenti. Sri hanya akan tersenyum kosong dengan tatapan mata manekinnya, lalu berkata dengan nada suara datar bahwa lambungnya sudah merasa sangat kenyang hanya dengan menatap wajah Mas Bagus di depannya. Tidak hanya itu, setiap malam tiba, Sri selalu mengigau histeris dalam tidurnya dengan tubuh yang bergetar. Mulutnya komat-kamit merapalkan potongan mantra bahasa Jawa kuno yang sering Bagus baca, sementara aliran keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya yang kian hari kian ringkih dan rapuh.

Panik dan ketakutan setengah mati melihat kondisi Sri yang semakin kritis menyerupai mayat hidup, Bagus akhirnya nekat kembali tancap gas mendatangi rumah tua Joglo di pinggiran kota milik Ki Demang, tempat ia pertama kali mengambil minyak mistis tersebut.

Suasana di dalam rumah praktisi spiritual paruh baya itu masih sama persis seperti kunjungan pertamanya. Harum aroma terapi yang pekat dari kepulan asap dupa hitam berpadu dengan udara dingin menusuk tulang yang keluar dari pendingin ruangan. Ki Demang tampak sedang duduk bersila dengan tenang di atas karpet beludru merahnya, menatap tajam ke arah pintu masuk menyambut Bagus yang datang dengan napas terengah-engah dan raut wajah yang dipenuhi oleh kecemasan serta keputusasaan yang mendalam.

"Ki, tolong... tolong saya, Ki.” Kata Bagus tanpa basa-basi lagi, suaranya bergetar hebat menahan tangis penyesalan yang ingin meledak. "Kondisi Sri makin kurus kering, Ki. Muka dia pucat sekali seperti mayat hidup yang berjalan. Dia juga sekarang sering mengigau aneh setiap malam. Saya takut dia kenapa-napa, Ki. Saya mau sudahi dan batalkan saja ilmu pelet ini, Ki. Saya mau dia kembali normal seperti Sri yang dulu saja, tidak apa-apa kalau dia harus membenci saya lagi."

Ki Demang tidak langsung memberikan jawaban. Pria tua berambut panjang itu justru menarik napas dalam-dalam, menghisap rokok herbal di sela jarinya, lalu menghembuskan gumpalan asap putih tebal yang berbau menyengat ke udara. Ia terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat dingin, sinis, dan menusuk ngilu telinga Bagus.

"Sudah pernah saya katakan dan peringatkan di awal pertemuan kita, Gus. Jaran Goyang itu bukan mainan anak-anak yang bisa kamu nyalakan dan matikan sesuka hatimu," ujar Ki Demang, sepasang matanya yang hitam legam menatap tajam menembus langsung ke dalam inti kecemasan di dada Bagus. "Ilmu kuno sakti sekelas ajian itu memiliki khodam sebuah entitas energi pelayan gaib yang bekerja siang dan malam tanpa henti untuk mencambuk batin gadis itu agar terus bertekuk lutut kepadamu. Kamu pikir pergerakan energi gaib sebesar itu gratis di dunia ini?"

"Maksud... maksud perkataan Ki Demang apa?" Bagus menelan ludahnya yang terasa sangat pahit, dadanya mendadak kembali dihantam rasa sesak yang luar biasa.

"Khodam atau pelayan gaib itu butuh upah atas jasanya. Dan upahnya adalah energi kehidupan murni dari tubuh target yang jiwanya kamu ikat," jelas Ki Demang dengan nada santai, seolah-olah sedang membicarakan transaksi jual-beli barang bekas biasa. "Semakin keras gadis itu mencoba bertahan dan melawan pengaruhnya di awal-awal hari, maka akan semakin besar pula energi tubuhnya yang diperas dan dikuras habis oleh khodam tersebut untuk meruntuhkan logikanya. Jika kamu nekat menghentikan atau mencabut ilmunya sekarang secara paksa di tengah jalan, taruhannya adalah nyawa gadis itu akan langsung melayang karena sukmanya sudah cacat, atau..." Ki Demang sengaja menggantung kalimatnya selama beberapa detik, membuat Bagus menahan nafas dengan jantung berdebar liar. "Ilmu sakti itu akan berbalik arah berputar 180 derajat, menyerang balik batin dan sistem sarafmu sendiri hingga kamu yang akan menjadi gila karena harus menanggung seluruh beban karma hitamnya."

Bagus merasa seluruh persendian tubuhnya lemas seketika itu juga. Kedua telapak tangannya langsung bertumpu pasrah pada lantai semen, menahan bobot tubuhnya yang mendadak kehilangan seluruh kekuatan. Pandangannya berkunang-kunang. Selama ini ia mengira bahwa teknologi modern, kemudahan internet, dan forum digital bisa mempermudah segala hal di dunia ini, termasuk dalam urusan memanipulasi hal-mistis tradisional. Namun, ia salah besar. Hukum alam gaib ternyata tidak pernah berubah atau bergeser barang satu senti pun sejak ratusan tahun yang lalu: setiap aliran ilmu hitam yang dilepaskan, selalu menuntut tumbal nyawa sebagai tebusan mutlaknya. Bagus akhirnya pulang kembali ke kamar kos sempitnya dengan langkah kaki yang gontai, pandangan kosong, dan pikiran yang kacau balau. Ia baru saja menyadari kenyataan pahit bahwa ambisi dendamnya telah menjerumuskan wanita yang ia cintai ke dalam jurang kematian yang mengerikan, sekaligus mengunci dirinya sendiri di dalam lingkaran kutukan yang mematikan tanpa ada jalan untuk keluar.

“Kau mengira layar kaca dan jaringan digital bisa menjinakkan hukum kuno yang sakti. Kini, ketika pelayan gaib menuntut upah darah, kau baru tersadar bahwa takhta kemenangan yang kau beli dengan dendam, terkunci rapat oleh rantai kutukan yang meminta tumbal nyawa.”

— Sang Alifas Yang Merumput

1
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
wah mau apa tuh bagus
Wijaya Mandiri Media Studio: mau ke dukun bagus nya hehehe Semar mesem 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!