Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Suara deru mobil di halaman depan. Belum sempat ia menyelesaikan sapuan terakhir di lantai dapur, suara pintu utama yang terbuka dengan kasar langsung menyentak keheningan rumah.
Lagi-lagi Widya dan Tari pulang dengan membawa rentengan paper bag bermerek. Keduanya melangkah angkuh dan menjatuhkan tubuh mereka di atas sofa beludru, melempar barang belanjaan mereka di atas sofa.
"Grizla! Grizla, cepat kemari! Ambilkan minum, aku haus ini!" teriak Widya dari ruang tamu, suaranya melengking memenuhi seisi rumah. Ia mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas tangan sutra, wajahnya berkerut masam.
"Iya, Bu. Sebentar," jawab Grizla denga malas. Ia berjalan santai sambil membawa segelas air putih dingin di atas nampan.
Dengan kasar, Widya menyambar gelas tersebut hingga airnya sedikit memercik ke meja. "Lama sekali! Kamu sengaja ya membuat aku ini mati kehausan?" semprot Widya setelah meneguk air itu hingga tandas.
Grizla hanya bisa menunduk, meremas jemarinya. "Maaf, Bu. Tadi saya sedang mengepel di belakang."
Tari yang sedang sibuk memeriksa tas baru dari dalam paper bag-nya mendongak, menatap Grizla dengan pandangan meremehkan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Alasan terus," cibir Tari sambil melempar paper bag kosong ke lantai. "Heh, sekalian bawakan aku susu kotak yang rasa stroberi di kulkas. Pakai es batu, ya! Jangan kelamaan, kulitku bisa kering kalau dehidrasi setelah seharian belanja."
"Iya, Tari. Tunggu sebentar," jawab Grizla, berusaha menahan nada suaranya agar tetap datar.
"Dan ingat, jangan pakai gelas yang retak sedikit di pinggirnya itu. Aku tidak sudi bibirku menyentuh gelas murahan," susul Tari berteriak saat Grizla baru saja membalikkan badan.
Grizla mempercepat langkahnya menuju dapur. Begitu sampai di balik dinding pembatas, ia langsung menyandarkan tubuhnya ke konter dapur. Napasnya memburu, menahan badai emosi yang bergemuruh di dadanya.
"Ck! Dasar mertua dan ipar yang menyebalkan!" cerutu Grizla. "Uang belanja dihabiskan untuk foya-foya, sementara aku di rumah sudah seperti pembantu tak digaji! Entah kayak mana setelah mendengar kalau Antonio gajinya di potong."
Dari ruang tamu, sayup-sayup terdengar lagi suara Widya yang mulai mengomentari debu di meja televisi.
Tak lama, pintu depan terhempas keras. Keluar Antonio dengan wajah yang memerah padam, napasnya memburu menahan dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun.
Matanya langsung tertuju pada deretan kantong belanjaan berlogo brand ternama yang tergeletak di atas meja ruang tamu.
"Ibu, Tari, kalian pergi belanja lagi?!" suara Antonio meninggi, memecah keheningan rumah. "Bukannya uang yang kuberi kemarin itu khusus untuk keperluan dapur dan bayar listrik? Dan sekarang kalian malah membelanjakannya untuk barang-barang bermerek ini?!"
Tari, yang sedang asyik mematut diri di depan cermin dengan tas barunya, langsung menoleh dan mengerucutkan bibirnya manja. "Ih, Mas Antonio kok pelit banget sih? Ini kan lagi diskon besar-besaran. Sayang tahu kalau dilewatkan."
"Diskon kamu bilang?!" Antonio berjalan mendekat, merampas kantong belanjaan itu dengan tangan gemetar. "Ini harganya jutaan, Tari! Kamu mikir tidak, kita mau makan apa bulan ini?"
Widya, ibu Antonio, yang sedang bersandar santai di sofa langsung berdiri. Wajahnya mengeras, tidak terima melihat anaknya membentak anaknya.
"Kamu ini kenapa sih, Antonio? Datang-datang langsung marah-marah seperti orang kesurupan!" semprot Widya tak mau disalahkan. "Daripada uangmu itu habis dipakai tidak jelas oleh istrimu untuk hal lain, ya lebih baik Ibu yang pakai, kan? Ibu ini yang melahirkanmu!"
"Tapi bukan untuk gaya hidup mewah begini, Bu..." suara Antonio melemah karena frustrasi, namun ibunya langsung memotong.
"Halah, alasan saja! Lagian bentar lagi kamu gajian, kan? Jabatanmu kan manajer di kantor besar. Ngapain pelit-pelit sama Ibu kandung sendiri? Kamu sudah jadi anak durhaka sekarang?!" tuding Widya sambil bersedekap dada.
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..