"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
"Mama.....hiks....hiks....." Mentari malah menangis dan berteriak saat ia akan segera tinggal di rumah mertuanya, Mentari memeluk Ranti dengan begitu erat tanpa berniat melepaskannya.
"Udah....udah...." Ranti memeluk sambil mengusap pundak Mentari, "Kamu cuman tinggal di depan rumah Mama," terang Ranti.
"Ma, Tari tinggal di rumah Mama aja ya....." Mentari tidak berniat melepas pelukannya, ia sangat tidak ingin sekali pergi.
Arka hanya diam dengan memasukan tangannya pada masing-masing saku celana nya, wajahnya terlihat datar sambil melihat Mentari dan Ranti yang tengah berpelukan. Entah apa yang ia pikirkan yang jelas semua seakan masih terasa aneh, sebab seharusnya saat ini ia tersenyum dengan bahagia. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ia malah menikah dengan anak sekolahan yang masih berusia belasan tahun. Di tambah lagi mereka tidak pernah akur, lalu bagaimana cara nya mereka bisa hidup satu atap dalam sebuah pernikahan.
"Arka," Ranti menyadarkan Arka dari pikirannya, otak nya benar-benar kacau dengan pernikahan yang tidak inginkan ini.
"Iya Ma," Arka menatap Ranti, "Arka balik dulu ya Ma.....Arka pengen istirahat," Arka memegang tengkuknya yang terasa letih, tangannya juga memijat tengkuknya.
Ranti mengerti dengan lelah yang dirasakan Arka, sebab seharian ini memang Arka tidak istirahat, "Ya....sudah," Ranti memberikan koper milik Mentari untuk di bawa Arka.
"Mama......hiks....hiks......" Mentari malah menangis dengan semakin kencang saat Arka memegang kopernya.
"Sudah.....sudah....." Ranti sedikit menarik Mentari untuk mendekati Arka, "Ayo sana pulang ke rumah mu....besok kalau mau ke rumah Mama ijin sama suami kamu," jelas Ranti yang ingin anaknya menjadi istri yang berbakti pada suaminya, meskipun ini adalah pernikahan terpaksa namun Ranti ingin pernikahan Mentari dan Arka akan terus bersama tanpa berpikir untuk berpisah.
"Tapi Ma," Mentari menatap wajah Arka, begitu pun sebaliknya, "Om....jangan garang-garang dong," kata Mentari.
Arka hanya diam menatap Mentari, tidak ada yang bisa menebak pikiran wajah datar pria tampan dengan tubuh gagah nya itu.
"Kamu itu istrinya Arka bukan keponakannya, jadi jangan panggil Om," Ranti lagi-lagi memperingati Mentari yang tampaknya sangat sulit sekali memangil Arka dengan panggilan yang sewajarnya pada suami.
Mentari memicingkan matanya menatap Arka, ia baru menyadari jika Arka selalu saja diam dengan wajah datarnya. Tapi itu tidak menjadi masalah bagi Mentari, "Ma, malam ini aja Tari bobo di sini ya," Mentari menangkup kedua tangannya, mengharapkan Ranti luluh dan mengabulkan permintaan nya.
"Kamu mau tidur di mana? Kamu lupa kamar kamu itu sudah kamu hancurkan sendiri!"
"CK..." Mentari menggaruk kepalanya dan mengingat saat beberapa saat lalu ia memporak porandakan kamarnya, "Tari tidur sama Bibik aja di dapur," lanjut Mentari dengan alasan yang aneh asalkan ia tidak pergi ke rumah Arka.
"Kamar Bibik sempit, kamar tamu masih ada Tante, Om dan sepupu kamu," jelas Ranti lagi.
"Ma Arka pamit ya.....besok Arka kesini lagi," Arka mencium punggung tangan Ranti, kemudian punggung tangan Arya.
"Iya, kalian jangan bertengkar ya Nak...." Ranti menunduk dan ingin menitihkan air mata, ia ingin sekali berteriak sebab Mentari harus berkorban sebesar itu untuk keluarga.
Arka tidak tersenyum, ia tidak mengangguk apalagi menjawab apa yang di inginkan Ranti. Sebab saat bertemu sehari-hari saja keduanya sudah terlibat ketengan apa lagi sudah bertemu setiap hari-hari nya.
"Mama......" Mentari terus merengek, ia tidak ingin pergi ke rumah Arka, tapi Ranti terus memintanya mengikuti Arka dengan menghentakkan kakinya Mentari berjalan di belakang Arka.
Tidak sampai tiga menit, Arka melangkahkan kakinya memasuki rumah gedung dengan besar dan megahnya di ikuti Mentari dengan wajah cemberutnya. Mentari menginjakkan kakinya di ruang tamu, ia memandangi ruangan itu yang terlihat bernuansa emas.
"Anak Mami," Linda berjalan cepat dan memeluk Mentari dengan cepat, Linda tidak ingin membuat Mentari merasa sungkan dan ia ingin menantunya itu menganggap rumah itu seperti rumah kedua orang tuanya sendiri.
"Mi, apa Tari harus tinggal di sini juga?" wajah Mentari memerah dan ia tersenyum kecut, semua di rumah itu terasa sangat asing untuk dirinya.
"Iya....kan kamu anak Mami....jadi harus tinggal sama Mami, dan kalau kamu nggak sedih Mami bakalan belikan kamu mobil, besok kamu bebas pilih," Linda memegang pipi Mentari, ia terlihat menatap manik mata Mentari dengan begitu tulus. Entah mengapa ia merasa Mentari sangat meneduhkan hati, padahal Mentari adalah gadis yang ketus dan gesrek.
"Iya deh Mi....." dengan berat hati Mentari mengangguk, semua pun sudah terjadi berteriak dan minta pulang pun percuma. Dan ia lebih memilih menikmati sambil menjalani semuanya dengan tenang.
"Arka," Linda menatap Arka yang sudah menaiki beberapa anak tangga.
Arka menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Linda.
"Kamu ajak Mentari juga dong," kata Linda menatap anaknya itu dengan kesal.
Arka menatap Mentari, begitupun Mentari yang memiringkan bibirnya karena kesal melihat wajah Arka.
"Tari kamu ikut Arka ya," Linda mengelus sebelah lengan Mentari.
"Emang kamar Tari dimana Ma?" gadis polos itu tanpaknya tidak mencerna dengan baik dengan status nya yang sudah menjadi istri.
Linda ingin tertawa namun ia masih berusaha menahan nya, "Kamu ikut Arka, nanti dia akan menunjukan kamar kamu di mana," terang Linda.
"O....." Mentari mengangguk dan menatap Arka, "Om tunggu Tari, Tari pengen cepat-cepat istirahat," Mentari berjalan dengan sedikit berlari mendekati Arka.
"Tari kamu panggilnya kok Om?" Linda semakin di buat bingung dengan menantunya itu, tapi Linda memaklumi sikap Mentari bahkan ia sangat tahu Mentari dan Arka memang tidak pernah akur. Dan sepertinya rumahnya yang biasa sepi kini akan terasa ramai dengan setiap kekocakan Mentari.
"Masih mending Tari panggil Om Ma," jawab Mentari yang kini berdiri tidak jauh dari Arka, namun matanya menatap Linda yang cukup jauh darinya.
"Loh kok gitu?" tanya Linda dengan wajah bingung.
"Karena sebenarnya Tari pengen panggil Kakek," kesal Mentari dan menatap Arka.
"Ahahahahah......." Linda tidak bisa menahan tawa mendengar kekocakan Mentari, belum satu jam Mentari berada di rumahnya. Namun apa yang di katakan Mentari saat ini sungguh membuatnya merasa bahagia dan mengocok perut, "Terserah kalian saja, tapi Tari kalau kamu tidak bisa panggil Mas sama Arka, paling nggak kamu harus panggil Kakak," lanjut Linda sambil terkekeh.
"Mi Tari bobo cantik dulu ya....soalnya besok Tari sekolah," kata Mentari yang merasa cukup lelah untuk hari ini.
"Ya udah.... ayo sana ke kamar," kata Linda yang masih ingin terus tertawa, padahal pagi tadi ia masih bersedih dengan apa yang terjadi. Namun malam ini ia malah di buat tertawa karena ulah Mentari.
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.