Warning🌈
Novel ini penuh dengan cerita baper dan menegangkan. Jadi jangan lupa siapin tisu ama jantungnya..
Meisya Michelle seorang mantan Nona Muda berumur 19 tahun yang sudah menjadi yatim piatu karna ulah orang terdekatnya di umurnya yang masih muda.
=====
William Edison seorang CEO muda dengan wajah tampan dan coolnya yang bisa meluluhkan hati banyak kaum wanita. Namun di balik semua itu ada hal mengejutkan yang hanya segelentir orang yang mengetahuinya.
======
Pertemuan berujung cinta.
Itulah sebuatan yang tepat bagi mereka. Masa masa indah terjalani, sampai suatu badai besar datang ke hubungan mereka.
Apakah mereka bisa melewatinya?
Atau malah hanyut ikut terbawa badai?
Bagaimana kelanjutan dari ceritanya?
Yukk langsung aja di baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa stevani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
🌹🌹 Happy Reading 🌹🌹
William membawa Meisya ke sebuah taman yang lumayan sepi. Di tuntunya Meisya kepada sebuah kursi yang tersedia di taman tersebut. Seakan takut menghilang William tak melepaskan genggaman tangannya itu, bahkan saat di dalam mobil pun dia masih menggenggamnya dengan posesif.
Keadaan taman tersebut sedikit sep, hanya Ada beberapa orang saja yang melewati taman itu. Meisya duduk di salah satu kursi, sedangkan William bukannya duduk di sebelahnya dia malah berjongkok di hadapan Meisya.
"Kenapa kamu berjongkok will? Ayo bangunlah dan duduk di sini" ucap Meisya yang merasa sedikit risih dengan tingkah William.
"Tidak biarkan Aku di sini" tolak William
"dia bicara Aku? bukan saya?" batin Meisya merasa aneh.
"Jadi apa yang mau kamu bicarain?" tanya Meisya bingung.
"Michelle sebelumnya Aku mau tanya dulu ya?" ucap William.
"Apa will?" tanya balik Meisya.
"Kamu punya temen dulu waktu kecil ga? tanya William mengelus telapak tangan Meisya.
"mm, punya, dia laki-laki emang kenapa will? Kok kamu bisa tau?" jawab Meisya.
"Aku tau karna anak laki-laki itu adalah.." William menghentikan pembicaaanya dan menatap intest wajah Meisya.
"adalah siapa will?" tanya Meisya penasaran.
"itu adalah Aku Michelle" jawab William.
"Hah?"
"Iya, Aku anak kecil itu Michelle" ucap William menunjuk dirinya sendiri.
"K-kamu serius" Tanya Meisya tak percaya.
"Mm,, Michelle tatap mata aku" ujar William
Tanpa berpikir panjang Meisya langsung menatap mata William. Dia mencoba mencari kebohongan dari pernyataan William tadi. Namun dia tak menemukannya. Hanya terlihat ada kejujuran di manik-matik mata tersebut.
"Jadi dia menolongku tadi karna dia mengetahui kalau aku adalah sahabatnya? Dia menolongku bukan karna dia suka padaku? Ahkk.. sadar lah mee, ingat derajatmu" batin Meisya,
Memang dia sempat berpikir kalau William membantunya tadi karna William menyukai dirinya. Namun itu ternyata tidaklah seperti yang dipikirkan oleh Meisya.
"Kamu percaya kan?" tanya kembali William.
"Iya, jadi kamu liam? Sejak kapan kamu tau kalau Aku ini temanmu?" tanya Meisya pelan.
"Aku tau sejak kemarin, satu hari kamu menginap di rumahku" jelas William.
"Ohh...oo" balas Meisya yang hanya ber-ohh ria.
"Kamu gak seneng ketemu sama Aku lagi" Tanya William yang sebenarnya mengharapkan pelukan hangat dari Meisya.
"Ehh, seneng kok malahan seneng benget Aku bisa ketemu lagi sama kamu" jawab Meisya cepat.
"Terus kamu gak mau peluk sahabat kamu ini"Tanya William yang posisinya masih berjongkok.
Meisya langsung menghamburkan pelukan pada William. Dirinya sangat merindukan pelukan hangat dan menenangkan dari William. Beberapa saat kemudian William melepaskan pelukannya dari Meisya.
"I Love you"ucap William sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajah Meisya.
Sedangkan Meisya sendiri merasa kaget dengan apa yang di ucapkan William tadi kepadanya. Dia merasa dirinya salah mendengar ucapan William tadi.
"Aduhh telingaku ini,apa karna aku menyukainya sehingga Aku mendengar seolah-olah dia mengatakan cinta kepadaku"batin Meisya sambil menggosok-gosok telinganya.
Melihat reaksi dari Meisya, William yakin Meisya menganggap dia salah bicara. Itulah mengapa Meisya menggosok-gosok telinganya.
"Hee, kamu gak salah denger kok" ucap William menghentikan tangan Meisya yang masih berada di telinganya.
"Ehh, ga apa?" tanya Meisya terkejut.
Melihat hal tersebut sontak membuat William terkekeh dengan sikap Meisya sedikit kaget dan sadar dari lamunannya.
"Kamu ga salah denger kok Michelle"ucap ulang William sambil tangannya menyelipkan rambut Meisya ke belakang telinganya.
"I Love You Meisya Michelle" ucap William lembut dengan tangan yang tadi di telinga Meisya kini tengah mengelus pipi mulus gadis di depannya.
Bluss...
Pipi Meisya seketika langsung merah merona seperti tomat setelah mendengar kembali pengakuan William yang ke dua kalinya. Dia menatap wajah William mencari kebohongan dari kata-takanya tadi, namun nihil tak ada satupun ke bohongan.
"Jangan bermain-main dengan perasaan will" ucap Meisya menundukkan kepalanya.
"Hee, Aku tidak bercanda Michelle"ucap William mengangkat dagu Meisya agak mau menatapnya.
"Aku tak pernah ingin mempermainkanmu Michelle, Aku mengatakan hal yang sejujurnya di rasakan oleh hatiku" jelas William panjang lebar.
Meisya masih belum membalas ucapan dari William, dirinya masih terus beranggapan bahwa William tak akan bisa menerima perbedaan status sosial mereka saat ini.
"Meisya Michelle maukah kamu jadi pacarku? Ehh tidak-tidak maukah kamu jadi calon istriku? ucap William dengan tangan kirinya yang masih menggenggam tangan Meisya dan tangan kanannya menyodorkan buket sebuah mawar merah yang asalnya tidak di ketahui.
Bluss
Lagi dan lagi William berhasil membuat Meisya malu dan pipinya sudah seperti kepiting rebus.
"dimana dia mendapat bunga mawar itu?" batin Meisya bertanya-tanya karna setahunya tak ada yang menghampiri mereka di taman itu.
"D-dimana kami mendapatkan mawar ini will? diaini kan tidak ada orang" Tanya Meisya.
"Apa itu penting sekarang? Kau bahkan belum menjawab pertanyaan ku tadi? Maukan kau menjadi calon istriku? tanya William tanpa menjawab pertanyaan Meisya tadi.
"Will mohon berikan aku waktu untuk memikirkannya" ucap Meisya.
"Kenapa? Bukankah kau juga merasa nyaman bersama denganku"tanya William bingung.
"Benar will, Aku memang nyaman bersamamu. Namun untuk membangun sebuah hubungan di perlukan lebih dari rasa nyaman. Mungkin rasa nyamanmu itu hanya karna Aku ini sahabat kecilmu atau karna kau kasihan kepadaku karna Aku sendirian. Yang jelas kau harus menanyakan pada dirimu sendiri will" jelas Meisya lembut yang secara panjang lebar menjelaskan arti hubungan pada William.
Mendengar penjelasan dari Meisya membuat William tertegun. Memang dia merasa nyaman di dekat Meisya, namun dia tak tahu apa yang membuatnya nyaman. Yang jelas dia nyaman berada di samping Meisya.
"Mm,, baiklah aku mengerti, Aku akan memberi waktu selama semalam dan pilihan dari jawabannya hanya Ya dan Setuju" ucap William tegas dengan memberikan pilihan jawaban yang tidak masuk akal.
"ahkk, pilihan seperti apa itu, dia membuat kedua pilihan yang keduanya sama-sama menguntungkannya." batin Meisya
"Bagaimana bisa kau membuat pilihanku seperti itu" protes Meisya tak terima.
"Ya memang seperti itu dan Aku akan menunggu jawabanku besok pagi" ucap William seraya berdiri.
"Sekarang ayo pulang, dan ini kau terimalah" ucap William menyerahkan buket mawarnya.
"Dan tidak ada penolakan" ucapnya lagi.
Meisya mengambil bunga mawar itu seraya berdiri. Mereka kemudian segera melangkah menuju mobil dengan tangan William masih tetap memegang tangan Meisya erat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tambahkan ke Favorite ya teman-teman..
Like, Coment, Vote, dan Hadiah ya...
Biar author makin semangat...
Hehehehehehehehhe......
Tap Be Continue.....
bay bay bay
bay bay
bay
🤗
dengan istri kecilku steve
ceritanya bagus.. semoga happy ending. ditunggu up y. kalo bisa sampai anak William dan Meisya y..