Kehidupan Alex anak seorang pengusaha ternama dan tekemuka yang hidup bebas dan tidak terarah.
Kehidupan Filece, yang merubah nama nya sendiri menjadi Zahra setelah menghadapi gelombang hidup di tengah keluarganya.
akan kah Alex dan Zahra bisa hidup bersama dengan bahagia atau malah sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ima alyanadira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-9
"huuuuaaaah… " Alexi menguap dan mengucek matanya, ia berusaha duduk dari pembaringannya
"Ouh sudah sangat siang, mengapa aku tidak sadar yah". Lirih Alex melihat jam di ponselnya.
Dan ketika hendak berdiri Alex baru tersadar kalau dirinya tidak menggunakan sehelai kain pun.
"Shit! Mengapa bisa begini". Heran Alex meraih handuk nya lalu melilitkannya di pinggang.
Dan secara tidak sengaja Alex melihat bercak darah di tempat tidurnya itu.
"Darah". Gumam Alex semakin bingung dan ia berusaha memulihkan ingatannya.
Lalu
"Astagaaaaa, apa yang sudah aku lakukan". Pekik Alex panik mengingat kejadian tadi malam
"Ouh tidak, ini tidak mungkin terjadi, bagaimana bisa aku melakukan hal itu terhadapnya". Tampik Alex
"Bagaimana aku akan menghadapi wanita itu". Gumam Alex lagi
"Arrrggghhhh". Geram Alex mengacak kasar rambut nya
Seusai mandi dan berbenah diri Alex keluar dari kamarnya.
Bagaikan pencuri yang mengendap- endap Alex berjalan, pandangannya menyapu seluruh bagian ruangan apartemen mencari keberadaan Zahra dan di benaknya sudah begitu banyak persiapan jawaban bantahan tentang kejadian tadi malam, karena apa yang dia lakukan adalah di luar dugaan dan ketidak sengajaan.
Namun sudah kesana kemari ia mencari tidak ada tanda-tanda keberadaan Zahra.
"Kemana dia". Batin Alex
"Ah biarkan saja, bukankah ini lebih baik". Batin Alex akhirnya
Dalam kesunyian dialog antara Alex dan batin nya sendiri tiba-tiba
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk dari luar
Dari lubang pengintaian di balik pintu Alex melihat siapa yang datang
" Mama". Dengan cepat Alex membukakan pintu
"Mama ada apa kemari?".
Harini membola matanya jengah, mendengar pertanyaan Alex barusan.
"Apa kau tidak senang mama datang kesini". Gerutunya
"Bukan begitu ma, tapi mama tidak ada memberi kabar akan datang kemari".
"Memangnya, mama harus permisi dulu untuk datang kesini? Kalian sudah lama tidak datang kerumah, jadi mama datang saja kesini".
"Di mana istri mu itu". Tanya Harini mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan.
"Ada ma dikamar nya". Jawab Alex asal saja.
"Ini mama bawakan belanja dapur untuk kalian". Harini memberi beberapa kantong belanjaan kepada Alex
Alex mengambilnya dan menaruhnya di dapur
Dengan sangat terpaksa Alex melangkah menuju kamar Zahra dan mengetuknya
"Zahra". Panggil Alex dengan suara sedikit tercekat karena ia masih merasa canggung untuk bertemu Zahra saat ini.
Namun nama yang dipanggil tidak kunjung membukakan pintu, hingga beberapa kali ketukan dan panggilan hingga membuat Alex merasa gusar sendiri.
"Ada apa sayang? Apa istrimu belum bangun, ini sudah sangat siang lho!, Istri macam apa istrimu itu". Cerca Harini
Alex berfikir mungkin Zahra juga belum siap untuk bertemu dengan nya saat ini.
"Mungkin Zahra sedang tidak enak badan ma". Jawab Alex asal lagi
"Mama dari awal sudah tidak menyukainya, lha kan seperti ini, masa suami sudah berulang kali memanggil tidak menjawab, tapi sudahlah dia adalah pilihanmu, kamu pasti lebih tau tentangnya". Kesal Harini
"Jangan begitu dong ma". Bujuk Alex kepada Harini
"Kalau begini mending mama pulang saja, oh ya mama hampir lupa, papa menyuruh mu dan istrimu itu datang kerumah malam ini". Harini berbicara sambil melangkah kan kaki nya keluar dari apartemen itu dengan perasaan kesal
"Baiklah ma, nanti malam aku akan kesana". Ucap Alex ikut mengantar Harini di depan pintu
________
Alex melirik arloji di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 19:00
"Bro, aku pulang duluan ya". Pamit Alex
"Cepat amat, bahkan kita belum MEMAKAI hari ini". Ucap Rey
"Kalian saja, malam ini aku ingin pulang cepat".
"Suami sayang istri atau suami takut istri". Sindir Rey
"Jaga ucapanmu Rey!, atau aku akan melupakan persahabatan kita". Geram Alex dengan rahang yang mengeras ketika mendengar ucapan Rey yang tidak mengenakkan hati itu
"Mungkin kau sudah lupa dengan janji kamu Lex, janji kalau kau tidak akan pernah mencintai wanita itu, dan janji kau akan fokus dengan geng kita, tapi seperti nya kau mulai menyukainya". Ejek Rey lagi
"Aku tidak melupakan janjiku, cam kan itu!". Geram Alex mulai terpancing emosi.
"Oh ya ha ha ha, tidak lupa dengan janji, tapi lihatlah dirimu akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan istrimu itu hingga kau melupakan kita". Cerca Rey
"Kurang ajar, sudah ku katakan jaga ucapan mu". Alex yang sudah emosi melayangkan tinjunya di perut Rey dan Rey yang sudah geram pun membalasnya, terjadi lah adu jontos antara mereka berdua.
Joo dan Bian yang melihat perkelahian di antara mereka berdua berusaha melerai nya.
"Lex sudahlah Lex". Bujuk Joo, menarik tubuh Alex menjauh dari Rey
"Lepaskan, biar aku beri pelajaran dia". Teriak Alex memaki .
"Hahaha apa kau pikir aku takut". Oceh Rey yang tak mau kalah.
"Sudah Lex, jangan ladeni dia, saat ini dia hanya sedang kecewa". Joo berusaha menenangkan Alex
"Persetan dengan kalian semua nya". Umpat Alex melepaskan diri nya dari kungkungan Joo dan berlalu dengan motornya menuju apartemen dengan kondisi bibir yang pecah dan berdarah.
Setibanya di dalam apartemen pandangan Alex langsung tertuju kepada kamar Zahra.
Lalu dengan gontai Alex menuju kamarnya dan membersihkan luka nya, sesekali ia meringis kesakitan.
"Dasar bedebah kau Rey". Geram Alex sambil membersihkan luka di bibirnya.
Selesai dengan aktivitasnya Alex kembali menuju kamar Zahra untuk mencari tau keadaan Zahra saat ini.
"Kemana dia?, Apa dia masih marah". Lirih Alex
"Zahra". Alex mengetuk pintu, namun masih seperti siang tadi tak ada jawaban.
"Zahra". kali ini Alex meninggi kan suaranya, ia merasa khawatir.
"Apa terjadi sesuatu dengan nya?". Alex mencoba membuka pintu yang tak terkunci itu
"Kemana dia?, Zahra" pangilnya lagi mengintari ruangan kamar itu.
Alex mencari seluruh ruangan kamar hingga ke kamar mandi
Namun hasil nya nihil
Alex berlari menuju dapur hingga seluruh bagian apartemen tak luput diperiksanya namun hasilnya masih nihil, entah dimana keberadaan Zahra saat ini
Alex teringat dengan pondok pesantren tempat Zahra menimba ilmu.
"Mungkin dia kesana". Pikir Alex menyambar kunci motornya terburu-buru
Setiba di pondok pesantren al-hidayah
Alex menanyai tentang Zahra kepada setiap santri yang ditemuinya di pondok itu
"Apa kau melihat Zahra disini". Tanya Alex
"Maaf, kami tidak tau tentang santri wanita, lebih baik bertanya kepada ustad saja". Saran santri lelaki itu
"Baiklah, tolong pertemukan aku dengan ustad kalian". Pinta Alex
"Mari saya antar menemui ustad Alfatih". Ajak santri itu
Setibanya di ruangan ustad Alfatih
"Ustad, orang ini ingin menemui ustad". Jelas santri itu
"Ada yang bisa saya bantu". Tanya ustad Alfatih yang tidak lagi mengingat Alex
"Begini ustad, maksud kedatangan saya kemari saya ingin bertemu dengan Zahra". Jelas Alex langsung pada intinya
"Bukan kah Zahra dirumah orang tuanya". Tanya ustad Alfatih balik
Di dalam hati Alex sudah dapat menerka kalau saat ini Zahra tidak sedang dipondok ini
"Ouh begitu ya, maaf bila saya sudah merepotkan". Permisi Alex
Alex akhirnya melanjutkan pencarian nya menuju ke rumah orang tua Zahra.
Namun ditengah perjalanan ponselnya berdering terus menerus
Alex meraih ponsel dari saku celananya melihat nama yang tertera
"Papa". Gumam Alex lalu mengangkatnya
"Hallo pa".
"Dimana kamu?, apa mamamu tidak memberi tahu pesan ku pada mu?". Tanya Baskara dingin.
"Sudah pa, tapi Zahra masih tidak enak badan jadi kami tidak bisa kesana malam ini". Jelas Alex
"Apa perlu kami yang kesana".
"Ah jangan pa!, Maksud nya kami besok pasti akan kesana".
"Ya sudah". Baskara menutup ponselnya
Setibanya di rumah orang tua Zahra
"Permisi pak saya ingin bertemu dengan Zahra". Ucap Alex kepada satpam penjaga rumah itu
Satpam yang mengenali Alex adalah suami dari anak majikan nya itu merasa heran
"Maaf tuan, non Felice tidak ada disini". Jawab nya merasa heran dengan pertanyaan Alex itu
"Bapak yakin". Tanya Alex memastikan
"Yakin tuan".
"Baiklah". Alex menaiki motor nya dengan gontai
"Kemana kau pergi Zahra?, Apa kau begitu marah kepadaku". Batin Alex lelah
Entah mengapa Alex merasa kehilangan.
Entah merasa kehilangan atau merasa bersalah, ENTAHLAH