Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Bu, Winda ingin merantau ke Jakarta." kata Winda suatu hari. Bu Kirno yang sedang memotong sayuran, terkejut dan menghentikan pekerjaannya. Dia menatap ke arah Winda.
"Apa? Merantau ke Jakarta? Kenapa? Apa kamu tidak bahagia di sini?"
"Bukan begitu, Bu. Winda hanya ingin mencari pengalaman kerja."
"Tapi kamu jadi ninggalin ibu sama bapak."
"Maaf Bu tapi tolong izinkan Winda pergi ya..."
"Sama siapa kamu ke Jakarta?"
"Sama saya, Bu..."
Tiba-tiba terdengar suara Adi. Tak lama kemudian si empunya suara masuk.
"Assalamualaikum, Bu..." sapa Adi seraya mencium punggung tangan Bu Kirno.
"Waalaikumssalam, nak Adi."
"Bu, sarapan ya. Sama teh manis hangat." kata Adi seraya duduk di kursi yang tersedia.
"Iya, tunggu."
Bu Kirno menyiapkan pesanan Adi.
"Memangnya mas Adi mau ke Jakarta?" tanya Winda sambil duduk di kursi samping Adi
"Rencananya sih begitu. Mau jengguk saudara yang lagi sakit. Mau bareng?"
"Kalau mas Adi gak keberatan sih."
"Wah, dengan senang hati."
"Kapan berangkat?"
"Terserah kamu. Tapi kalau bisa sih secepatnya. Udah gak betah tinggal di rumah pak lurah."
"Kok bisa? Bukannya harusnya betah karena di kelilingi oleh dua gadis cantik."
"Justru karena itu. Mereka luar biasa centil sehingga membuat aku menjadi risih."
Winda tertawa mendengar penuturan Adi.
"Terus kapan kamu mau berangkat, Win?"
"Rencana sih besok sore, mas."
"Tujuan kamu ke Jakarta untuk apa?"
"Mau cari kerja."
"Bukan untuk melupakan Gito?"
Winda diam tak menjawab. Matanya menatap lurus ke depan.
"Ini sarapannya, nak Adi."
Bu Kirno menyerahkan makanan pesanan Adi.
"Terimakasih, Bu."
Adi segera memakan makanannya. Untuk sesaat perbincangannya dengan Winda terhenti.
"Bagaimana jika kita berangkatnya nanti sore?" usul Adi setelah dia selesai makan. Winda terkejut.
"Nanti sore, mas?"
"Iya. Kenapa, kamu keberatan?"
"Bukan begitu. Aku belum izin bapak ibu. Tadi baru sebatas menyampaikan wacana saja."
"Ya sudah biar aku yang minta izin ibu sama bapak."
Winda mengangguk. Adi mengikuti Winda ke dalam rumah, menemui kedua orang tua Winda.
"Ibu, bapak, saya mohon izin untuk mengajak Winda pergi ke Jakarta sore nanti."
Bapak dan ibu Kirno terkejut mendengar perkataan Adi.
"Kok mendadak banget?" tanya pak Kirno.
"Iya maaf pak. Soalnya saya juga mau ke Jakarta sore ini, mau jenguk saudara yang lagi sakit. Jadi saya pikir sekalian bareng. Biar sama-sama ada teman di perjalanan."
"Oh, begitu. Ya kalau bapak terserah Winda kapan mau berangkatnya. Kebetulan dia memang ada wacana ke Jakarta. Bagaimana, Winda?"
"Kalau ibu sama bapak mengizinkan, Winda berangkat sore ini bareng mas Adi." kata Winda.
"Baiklah, nak. Bapak sama ibu mengizinkan kamu ke Jakarta bareng dengan Adi. Pesan ibu sama bapak, kamu hati-hati di Jakarta. Kamu harus bisa jaga diri, jangan sembrono..."
Masih banyak lagi wejangan yang di berikan oleh pak Kirno baik untuk Winda maupun untuk Adi. Setelah beberapa saat, Adi pamit pulang ke rumah pak lurah untuk berkemas.
####
Sore harinya, Adi datang ke rumah Winda untuk bersama menuju ke ibukota. Winda pun telah bersiap.
"Assalamualaikum..." sapa Adi.
"Waalaikumssalam. Masuk, mas." jawab Winda yang sedang menunggu Adi. Adi masuk ke dalam rumah dan mencium punggung tangan bapak dan ibu Kirno. Mereka berbincang-bincang sebentar lalu Winda dan Adi berpamitan kepada kedua orang tua itu. Mereka menaiki angkutan yang akan membawa mereka ke terminal. Sesampainya di terminal, Adi membeli tiket bis untuk mereka berdua. Tak berapa lama kemudian bis pun berangkat. Sepanjang perjalanan Winda lebih banyak diam.
"Kenapa, Win?" tanya Adi.
"Gak kenapa-kenapa, mas. Cuma kepikiran ibu sama bapak. Pasti kerepotan jaga warung."
"Kamu tenang saja. Aku yakin bapak sama bapak kamu gak akan kerepotan. Percaya sama aku."
Winda tersenyum dan mengangguk. Mereka pun berbincang-bincang untuk menghilangkan penat. Karena sudah mengantuk, Winda pun tertidur, sambil merebahkan kepalanya di bahu Adi. Adi tersenyum dan mengambil ponselnya. Lalu dia melakukan chatting dengan seseorang.
####
Setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam lamanya, bis pun tiba di sebuah terminal di ibukota. Adi yang merasa pegal di badannya, karena tidak pernah bepergian jauh dengan bis, terbangun lebih dahulu. Di regangkan nya otot-otot badannya, lalu dia membangunkan Winda. Di tepuknya pipi wanita itu dengan pelan.
"Win, bangun. Kita sudah sampai."
Winda membuka matanya dan memandang berkeliling.
"Kita di mana, mas?"
"Kita sudah sampai di ibukota. Sekarang kita lagi di terminal bis. Turun yuk..."
Winda merapikan rambut dan pakaiannya, dan mengambil tas nya. Lalu dia turun dari bis. Sesampainya di bawah, dia memandang berkeliling.
'Akhirnya, sampai juga aku di ibukota.' kata Winda dalam hati.
"Ayo kita ke sana. Kita sarapan dahulu." ajak Adi sambil menunjuk ke arah sebuah warung bubur ayam. Winda pun mengikutinya. Mereka memesan dua porsi bubur ayam. Selesai makan, mereka berbincang-bincang dengan pemilik warung.
"Bu, mau tanya .." kata Adi.
"Ya mas..."
"Tempat kost terdekat di sini di mana ya?"
"Untuk siapa, mas?"
"Ini untuk adik saya." Adi menunjuk ke arah Winda.
Winda mengerenyitkan alisnya mendengar jawaban Adi.
"Ooo... Nanti keluar terminal mas dan mbak nya belok kanan. Ada gang kecil masuk. Kurang lebih jarak limapuluh meter ada rumah cat putih, di situ tempatnya. Kemarin masih ada yang kosong."
"Baik, bu terimakasih atas informasinya. Ini semua jadi berapa?"
"Semuanya jadi tiga puluh ribu, mas."
Adi menyerahkan uang sejumlah tiga puluh ribu.
"Terimakasih ya Bu."
"Sama-sama, mas."
Adi dan Winda meninggalkan warung itu dan menyusuri jalanan yang di tunjukkan oleh ibu pemilik warung. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah bercat putih. Kebetulan masih ada kamar kost yang kosong. Setelah bertemu dengan pemilik kost, dan merasa cocok, Winda pun tinggal di tempat kost itu. Setelah ibu kost pergi, Adi pun berpamitan kepada Winda.
"Win, aku pamit ya." kata Adi.
"Mas Adi mau ke mana?"
"Aku mau jengguk saudara yang lagi sakit."
"Ya udah hati-hati. Terimakasih ya sudah bantuin aku."
"Iya sama-sama. Kalau ada perlu apa-apa, kamu hubungi aku aja ya..."
"Iya, mas."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam."
Adi meninggalkan Winda. Setelah Adi menghilang dari pandangan, Winda pun masuk ke kamar nya untuk berbenah. Sementara itu, sesampainya di pertigaan, Adi masuk ke dalam sebuah mobil yang telah menunggunya.
meluncur ke cerita lainnya