NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26 PENGKHIANAT DI BALIK MEJA

***

Hujan musim semi akhir turun hampir setiap hari di tanah tinggi Kastil Ravengard. Kabut menggantung seperti tirai tebal di sekitar kastil batu, menambah rasa sepi pada setiap lorongnya. Sudah hampir satu minggu sejak Darian pergi berperang dan Kastil Ravengard terasa seperti jantung yang berdetak pelan… tapi tidak lagi hidup.

Di kamar utama, Iris duduk bersandar di kursi malas dekat perapian. Jubah wol membungkus tubuhnya, sementara satu tangannya mengelus perutnya yang kini membuncit dengan jelas.

“Ayahmu selalu diam-diam saat ada tekanan,” gumam Iris sambil menatap api, “tapi kau... kau menendang seperti hendak membakar seluruh kastil saat ibu duduk diam terlalu lama.”

Tendangan lain menyusul. Kali ini cukup kuat hingga membuat tubuh Iris sedikit meringis.

Lisa segera menghampiri dari sisi meja teh. “Yang Mulia! Anda tidak apa-apa?”

Iris hanya mengangkat tangan. “Dia aktif. Sangat aktif.” Ia mengusap peluh di pelipisnya. “Kau ingat laporan tabib kerajaan yang datang minggu lalu?”

Lisa mengnoduk. “Mereka menyebutkan... anak ini memiliki dua aliran utama—api dan angin. Gabungan langka.”

Iris tersenyum tipis. “Langka... dan menyusahkan.” Ia menatap perutnya. “Seperti ayahmu. Keras kepala dan suka memberontak dari dalam.”

Lisa tersenyum. Tapi belum sempat menjawab, ketukan cepat di pintu membuat mereka berpaling.

Seorang pelayan pria masuk dengan tergesa. “Yang Mulia. Lady Virelle dari dewan penasihat bangsawan... memohon audiensi darurat.”

Iris mengangkat alis. “Pagi-pagi begini?”

“Dia datang bersama dua anggota senior dari wilayah barat. Mereka... tidak bersedia menunggu.”

Iris menghela napas panjang. Ia berdiri perlahan, tangan masih menempel di perut.

“Kalau begitu, biarkan mereka naik ke ruang kecil di sayap timur. Aku akan menemuinya di sana. Tapi... pastikan api di perapian menyala penuh. Jika mereka datang membawa hawa dingin politik, aku akan menantangnya dengan panas dari dalam.”

Tiga bangsawan wanita bergaun berat duduk di sisi panjang meja bundar. Di tengah mereka, Lady Virelle—wanita paruh baya dengan mata tajam dan senyum palsu yang sudah terkenal di kalangan istana—duduk dengan postur kaku.

Saat pintu dibuka dan Iris masuk, keheningan menyambutnya.

Ia melangkah dengan anggun meskipun mengenakan gaun sederhana berwarna kelabu pucat. Rambut peraknya dikepang rendah, dan hanya satu bros Ravengard yang disematkan di dada—tanda bahwa ia bukan sekadar wanita, tapi kepala rumah tangga tertinggi sementara sang Grand Duke pergi.

“Lady-Lady sekalian,” sapa Iris dingin. “Terima kasih telah datang. Semoga ini benar-benar darurat... bukan sekadar keinginan untuk minum teh pagi di kastil milik orang lain.”

Lady Virelle tersenyum tipis. “Oh, tentu. Tapi sejujurnya, Yang Mulia... banyak yang khawatir. Kepergian Grand Duke Darian... meninggalkan ruang kekuasaan yang agak longgar di wilayah utara.”

“Longgar?” Iris duduk perlahan, menahan satu gerakan tendangan dari perut. “Yang saya tahu, hukum kekaisaran menyatakan bahwa istri sah dari penguasa memegang kuasa administrasi penuh selama ketidakhadiran suaminya.”

Lady dari wilayah barat menimpali, “Ya, tentu... dalam tatanan ideal. Tapi... dalam situasi seperti ini, kami berpikir akan lebih stabil bila dibentuk... semacam dewan pengarah. Untuk mengatur distribusi logistik, pengawasan garnisun, dan... pengamanan warisan jika sesuatu terjadi pada Grand Duke.”

Iris tidak langsung menjawab. Ia menatap mereka satu per satu.

Lalu pelan-pelan, ia menyandarkan diri ke belakang kursinya.

“Kalian datang... bukan untuk membantu. Tapi untuk mencium bau warisan darah. Kalian mengira Darian takkan kembali. Dan kalian pikir, aku hanya wanita hamil yang bisa dibujuk atau ditakut-takuti.”

Lady Virelle masih tersenyum, meski matanya menyempit. “Kami hanya berpikir logis. Bayi yang belum lahir... bukan jaminan kesinambungan kekuasaan. Dan banyak wilayah yang sudah gelisah.”

Iris menatap tajam.

“Jika kau merasa warisan ini goyah, Lady Virelle… silakan coba ambilnya.” Ia mengelus perutnya. “Tapi aku jamin... bahkan dari dalam kandungan, anak ini akan membakar surat keputusan apa pun yang kau keluarkan.”

Senyap.

Iris berdiri perlahan. Tubuhnya gemetar sedikit, entah karena emosi atau karena bayinya yang kembali bergerak dengan liar.

“Sampaikan pada bangsawan-bangsawan pengecut lainnya... Grand Duchess Ravengard tidak akan menyerahkan satu inci pun wilayah, satu lembar pun surat hak, atau satu butir pun warisan kepada siapa pun yang mencoba menjadikan kekosongan ini sebagai ladang rampasan.”

Lisa segera menghampiri dari pintu. “Yang Mulia... sebaiknya Anda kembali ke kamar. Denyutnya mulai terlalu cepat.”

Iris mengnoduk, tapi matanya tetap pada para tamu yang kini sedikit panik.

“Aku pamit dulu. Perutku menendang terlalu keras saat mencium pengkhianatan.”

Ia berbalik tanpa memberi salam, meninggalkan mereka dengan gema langkahnya yang mantap.

Iris terbaring di ranjang, napasnya naik turun. Perutnya masih terasa panas, seperti ada pusaran sihir kecil yang liar di dalamnya.

Lisa menaruh kompres dingin di pelipisnya. “Tuan Kecil sangat... kuat, Yang Mulia. Aku belum pernah melihat bayi seaktif ini, apalagi belum genap enam bulan.”

Iris mengnoduk lemah. “Dia... bisa merasakan.”

“Merasakan?”

Iris menoleh, menatap langit-langit.

“Emosi. Tekanan. Pengkhianatan. Dan... mungkin ketakutanku sendiri.”

Lisa menggenggam tangan sang Duchess. “Anda tidak sendiri.”

Iris menatap jendela, di luar kabut kembali turun, menutup langit Ravengard.

“Aku hanya berharap... ayahnya bisa kembali sebelum dunia mencoba memutus sayap anak ini.”

**

Di luar kamar, jauh di menara pengintai, seorang pengawal menyaksikan kilasan sosok berjubah gelap yang bergerak dari bayangan ke bayangan. Seseorang sedang mengamati kastil… dan mereka bukan dari dalam.

Ancaman sesungguhnya… mungkin baru akan dimulai.

Langit utara selalu kelabu.

Kabut abadi menyelimuti wilayah utara, kerajaan berbenteng yang dikelilingi punggung gunung bersalju dan hutan konifer gelap. Di sinilah para ksatria tidak sekadar berperang demi kekuasaan—mereka berperang demi bertahan hidup. Angin musim dingin menusuk sampai tulang, dan medan berbatu selalu menelan yang lemah.

Di antara badai ringan yang melintasi dataran, sebuah barisan pasukan berkuda tiba.

Darian Ravengard duduk tegak di atas kuda perangnya, mengenakan zirah berlapis baja hitam yang diselimuti mantel wol gelap berbordir lambang gagak perak. Wajahnya teduh, dingin seperti udara yang mengelilinginya. Matanya menatap jauh ke depan, ke barisan tenda-tenda militer besar yang menjulang di kaki Benteng Eslen the Frosthold—markas militer utama di perbatasan utara.

Suara sangkakala menyambut kedatangannya.

Dan dari tengah kemah utama, seorang pria bertubuh tegap dengan jubah berbulu serigala putih dan rambut perak yang nyaris sama dengan istrinya melangkah maju.

Duke Maeltorn, ayah dari Iris asli.

“Grand Duke Ravengard,” ucap Maeltorn dengan suara dalam yang menggema, “akhirnya kau datang ke tanah kelahiran istrimu.”

Darian turun dari kudanya, melangkah pelan namun penuh wibawa. Ia melepas helm perangnya dan membungkuk singkat, tapi tegas.

“Yang Mulia Duke Maeltorn,” balasnya. “Terima kasih atas penyambutanmu.”

Mereka saling tatap sejenak—mata abu-abu gelap yang keras bertemu mata tajam Darian. Hubungan mereka bukan hubungan yang sentimental, tapi sejak pernikahan Darian dengan Iris, ada garis penghormatan tak terlihat di antara mereka.

Duke Maeltorn berbalik dan melangkah menuju tenda utama. “Ikuti aku. Kita tak punya waktu untuk basa-basi. Musuh tidak sedang menunggu kita menyeduh teh.”

Di dalam tenda besar yang dilapisi kulit binatang, sebuah meja panjang dipenuhi peta-peta topografi dan patung-patung strategi dari kayu. Lilin-lilin besar menyala, dan para jenderal serta kapten dari kedua kubu berdiri membentuk lingkaran menghadap peta.

“Musuh berasal dari sisi timur lembah Onthyr,” jelas Jenderal Arthel, menunjuk area dengan panah merah. “Wilayah itu seharusnya steril. Tidak mungkin bisa dilewati pasukan berat tanpa sepengetahuan penjaga perbatasan.”

Darian menyipitkan mata. “Kau bilang... ‘seharusnya’ steril?”

Maeltorn mengnoduk. “Tiga garnisun kami hilang dalam dua minggu terakhir. Tidak hanya dibunuh—tapi seolah ditelan bumi. Tanpa jejak pertempuran, tanpa asap... hanya lenyap.”

“Pasukan bayangan?” tanya Darian tajam.

“Lebih dari itu,” gumam Maeltorn. “Aku curiga... ada pembelot. Seseorang dari dalam atau... bahkan lebih luas, dari pusat kekaisaran Valeria.”

Semua mata memandang tegang.

Darian menggenggam peta di hadapannya. “Kalau ini bukan sekadar serangan biasa... maka kita sedang menghadapi musuh yang tahu kelemahan kita.”

Maeltorn mengnoduk. “Dan yang lebih berbahaya... mereka tahu kapan kekuatan kita sedang tak seimbang.”

Darian menatap peta lagi, lalu berkata pelan, “Ketika para pemimpin sibuk di garis depan... dan rumah sedang ditinggal oleh penjaganya.”

Semua diam.

Suara api dari pemanas tenda berderak pelan. Darian menyentuh dadanya, di bawah lapisan zirah. Ia tahu, rumahnya... Iris... Ravengard, sedang menjadi incaran tanpa ia sadari.

Darian masih berada di ruang strategi. Para jenderal telah keluar untuk mempersiapkan pengecekan garis depan esok pagi. Hanya tersisa dirinya dan Duke Maeltorn.

Duke tua itu menuangkan dua cangkir wine hangat khas utara dan menyerahkan satu padanya.

“Minumlah. Itu takkan membuatmu lengah... hanya membuat darahmu lebih tahan dingin.”

Darian menerima, menyesap sedikit.

Maeltorn menatapnya, lalu bertanya pelan, “Bagaimana kondisi Iris?”

Darian menghela napas perlahan. Pandangannya lembut sejenak.

“Dia kuat. Lebih dari yang pernah kukira.”

Maeltorn mengnoduk, menatap ke dalam cangkirnya. “Dia tumbuh di tanah keras. Tidak banyak yang tahu bahwa ibunya... meninggal saat mengandung anak kedua. Iris masih kecil, tapi ia melihat semuanya. Sejak itu, dia memutuskan menjadi wanita yang tak akan bergantung pada siapa pun.”

Darian tak menjawab. Tapi hatinya terguncang perlahan. Ia bisa membayangkan Iris kecil... berdiri di lorong batu yang sama, dengan mata sendu namun penuh tekad.

Maeltorn menatapnya tajam. “Jadi kumohon padamu... jangan buat dia merasa sendiri. Bahkan jika kau harus pergi... biarkan hatimu tertinggal di rumah itu.”

Darian mengnoduk pelan.

“Dia tidak sendirian,” katanya lembut. “Karena meski aku di garis depan... setiap derap kakiku, aku mendengar langkahnya di belakangku.”

Maeltorn memalingkan wajah, menyembunyikan emosi yang tak ingin ia tunjukkan. “Kau tidak seperti ayahmu, Darian. Dan itu hal terbaik yang bisa terjadi pada Iris.”

Darian tersenyum samar.

Kemudian, ia menunduk sedikit dan berkata, “Dan kau... jauh lebih manusiawi daripada yang dikabarkan orang-orang.”

Maeltorn tertawa pelan. “Itu rahasia kecil di utara.”

Di luar, salju kembali turun. Sinar matahari tertutup awan, dan medan berbatu mulai membeku.

Tapi di dalam tenda, dua pria berdiri berdampingan—bukan hanya sebagai pemimpin, tapi sebagai suami dan ayah—mempersiapkan diri bukan hanya untuk perang fisik... tapi untuk konspirasi yang lebih besar demi melindungi warisan yang tumbuh dalam rahim seorang Duchess yang ditinggal menjaga rumah sendirian.

Bersambung...

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!