SEASON 6!
*Diwajibkan melihat seluruh deskrip, sebelum baca, ehe ^^
SINOPSIS:
Dennis dan teman-temannya pergi mengunjungi kampung halaman Mizuki sekaligus ingin berlibur di sana. Tak jauh dari rumah Mizuki, mereka menemukan rumah kecil di dalam hutan yang sudah tidak ditempati dan terdapat banyak bunga Lycoris Radiata, atau yang sering disebut oleh orang Jepang sebagai bunga Higanbana.
Bunga itu terlihat indah. Tapi yang membuat heran adalah kenapa bunga itu bisa mekar sebelum waktunya?
Tak hanya itu, salah satu dari mereka tiba-tiba jatuh sakit dan mulai saat itu, kematian aneh yang diakibatkan oleh bunga tersebut kembali bermunculan dan meneror satu desa. Bunga tersebut memang memiliki makna kematian, tapi tidak sebenarnya bisa menyebabkan kematian ketika menyentuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada bunga tersebut?
=============================
GENRE LENGKAP: Horor, misteri, supranatural, teen, romance, gore, action
COVER: ORIGINAL BUATAN AUTHOR!
JADWAL UPDATE: SETIAP HARI!! (Kalau up-nya bolong", positif thinking aja authornya sibuk ya :v)
[ PERINGATAN! Novel ini mengandung unsur kekerasan, pertumpahan darah, pembunuhan yang berlebih (gore). Yang tidak nyaman dengan hal itu, disarankan untuk membaca novel lain. ]
IG: @pipit_otosaka8
Terima kasih telah mampir ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit Otosaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8– Rumah Sakit
*
*
*
Tap tap tap!
Seseorang berlari di lorong rumah sakit dengan napas tersengal-sengal. Saat tiba di sebuah ruang kamar pasien, ia bertemu dengan Dennis yang lagi duduk di ruang tunggu.
"Ayah! Di mana kak Rei?!" Itu Brian. Ia terlihat gelisah saat mendengar kabar Rei masuk rumah sakit itu.
"Jangan khawatir. Dia baik-baik saja." Jawab Dennis lirih. Ia ingin mengelus kepala Brian untuk menenangkannya. Tapi lagi-lagi Brian menepis tangan Dennis, lalu sedikit menjauh darinya. "Jangan perlakukan aku seperti anak kecil."
"Kau kan memang masih anak kecil, Brian." Dennis membalasnya.
"Tapi aku tidak mau kecil terus, ayah! Ayah juga seharusnya kayak kak Rei, dong! Dia orangnya menyenangkan, tidak pengangguran dan dia itu hebat dalam segala hal. Gak kayak ayah!"
"Duh, mulai lagi." Dennis sedikit membuang muka dari Brian lalu menghembuskan napas panjang. Ia sebenarnya lelah dibanding-bandingin terus. Tapi sudah segala cara Dennis lakukan untuk membuat Brian terlihat bahagia di dekatnya. Tapi tidak semudah yang ia harapkan.
"Sudahlah, Brian." Ibunya langsung menenangkan Brian dengan memijit sedikit pundaknya. "Bagaimanapun juga dia kan ayahmu. Itu sudah menjadi ciri khasnya dan kamu gak boleh memandang rendah pada ayahmu. Semua orang punya kekurangan masing-masing."
"Ah, ibu juga sama aja malah ngebela ayah. Coba bikin ayahku lebih kuat dan pemberani! Lagian juga kalau ibu tahu ayah punya banyak kekurangan, kenapa ibu mau sama dia?!"
"Maaf, aku mau pergi ke toilet dulu." Dennis bangkit dari tempat duduknya, lalu meninggalkan Brian dan Cahya yang masih berdiri di depan pintu kamar pasien.
Cahya nyaris tidak kuat melihat perlakuan Brian. Ia menghela napas untuk berlaku tegas pada Brian sekarang. "Nak! Apa kau tahu arti orang kuat yang sebenarnya? Yaitu seperti ayahmu! Ayahmu adalah termasuk orang kuat yang sebenarnya."
"Hah? Apaan tuh? Dia bahkan tidak bisa apa-apa selain makan dan nonton tv di rumah. Dia bahkan tidak bisa berkelahi."
"Brian! Orang kuat itu bukanlah orang yang selalu menang dalam sebuah perkelahian. Tapi orang kuat itu adalah orang yang paling sabar di dunia ini dan bisa menahan emosinya." Cahya melipat tangannya ke depan lalu menggeleng pelan sambil menunduk. "Hah ... ayahmu sebenarnya sudah merasa sakit hati karena ucapanmu. Tapi dia tetap sabar untuk terus berusaha menghiburmu. Dia hanya ingin kamu bahagia di dekatnya, Brian."
"Kamu juga harus mengerti perasaan ayahmu itu. Kau sudah hidup enak, segala keinginanmu dituruti, kami sangat baik padamu. Tapi kau selalu menilai kekurangannya. Itu tidak baik, Brian."
Brian sebenarnya pura-pura tidak mendengarnya. Sudah beberapa kali Cahya menasihatinya seperti itu sampai Brian hapal dengan kata-katanya. Tapi ia tetap tidak percaya dengan ucapan ibunya karena ia sendiri belum melihat langsung kehebatan ayahnya tuh bagaimana. Jadi ia masih belum mengakui ayahnya.
"Brian? Kau dengar, tidak?" tanya Cahya.
"Iya, iya! Ih! Tapi tetap saja ayahku itu belum terlanjut hebat seperti Kak Rei."
"Brian!!"
"Eh? Ada apa ribut-ribut di sini?" Pintu ruangan yang ada di samping mereka pun terbuka dan Rei keluar dari dalamnya. Brian terlihat sangat senang dan langsung memeluk Rei.
"Kak Rei, syukurlah kau baik saja. Aku sangat khawatir padamu."
"Ya, ini untungnya luka kecil saja. Aku sudah pernah terkena luka tembak yang lebih besar sampai harus dirawat di sini. Tapi untungnya yang kali ini tidak terlalu fatal dan aku sudah boleh pulang."
"Aku akan menyuruh ayah untuk mengantarkan kak Rei pulang, ya? Terus nanti aku ingin menemani Kak Rei di rumahmu!"
"Eh? Aku sudah biasa tinggal sendiri. Kau tau itu, kan?"
"Aaaa ... tapi aku mau sesekali menginap dan menemani kak Rei!"
Cahya juga ikut senang Rei baik-baik saja. Tapi ia merasakan apa yang Dennis rasakan saat ini. "Brian selalu membanggakan Rei daripada ayahnya. Dennis, aku harap kau kuat."
Sementara itu, Dennis yang habis keluar dari toilet langsung kembali ke tempat tadi. Tapi di sepanjang jalan, ia terus-menerus bergumam. "Sesuai dengan arti namanya, anak yang kuat dan baik hati. Aku memberinya nama Brian Efendy karena aku ingin anak itu tumbuh menjadi lelaki dengan sikap yang baik. Tapi kenapa jadi seperti ini? Apa karena aku salah mendidiknya, atau karena pergaulannya di sekolah yang buruk? Hmm ... Apa aku harus mengamati Brian terus?"
"Akhir-akhir ini dia sering berantem di sekolahnya. Apa dia sedang ada masalah di sana?"
Dennis akhirnya kembali. Dari lorong di depannya, ia melihat Rei sudah keluar dari ruangannya dan terlihat sedang menghibur Brian. Dennis merasa ragu ingin mendekati mereka. Bahkan kalau diperhatikan, mereka terlihat cocok sebagai ayah dan anak yang sebenarnya.
"Oh, Dennis!"
Dennis yang sedang melamun pun tersentak saat mendengar suara Rei memanggilnya. Dengan cepat, ia langsung menghampirinya. "Kau baik-baik saja, Rei?" Dennis memulai pembicaraan mereka dengan bertanya.
"Iya, tidak apa-apa. Berkatmu aku bisa kabur dari mereka walau pada akhirnya aku harus menghadapi mereka juga." Jawab Rei. Lalu ia menunjuk ke tangan kanan Dennis dan bertanya keadaanya. Karena sebelumnya, Rei melihat tangan kanannya Dennis itu terluka juga akibat pecahan kaca mobilnya.
"Ah, aku juga baik-baik saja, kok! Luka kecil, tidak masalah. Ehehehe ...."
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?" tanya Cahya cemas. Sementara itu, Brian terus menyimak. Dia berdiri di samping Rei dan menggenggam tangan pria itu.
"Oh, yang tadi itu, aku sedang menjalankan misi. Tapi bodohnya aku malah tidak berhati-hati dan lupa membawa senjataku." Jawab Rei.
"Waw, keren! Misi apa itu?" tanya Brian. "Pasti berbahaya!"
"Iya memang berbahaya. Awalnya hanya kasus perselingkuhan. Aku pikir ini akan mudah. Tapi ternyata bukan kasus yang seperti itu." Rei mulai menjelaskan. "Pelakunya adalah mantan ******* yang menjadi buronan polisi. Aku sedang ada di cafe kota saat itu. Ku lihat orang yang mencurigakan, ternyata dia sedang menyamar dan aku ikuti dia.
"Tempat perkumpulannya berada tak jauh dari tempat sepi yang tadi. Ternyata di dalam sana, mereka sedang berpesta minuman keras. Aku ingin melaporkannya, tapi ya ... lagi-lagi aku ceroboh dan membuat suara. Tentu aku ketahuan dan yang membuatku terkejut, tanpa segan-segan salah satu dari mereka menembakiku dengan pistol sampai aku terluka.
"Aku sendiri juga ingin mengeluarkan senjataku. Tapi seperti yang aku bilang tadi, aku lupa membawanya karena niatku tadi siang hanya ingin mampir ke cafe dan tidak membawa peralatanku.
"Yah, untungnya aku melihat mobil Dennis setelah keluar dari kawasan mereka. Aku langsung meminta bantuanmu. Jadi ... kalau bukan karenamu, mungkin aku sudah tamat. Terima kasih, kawan!" Rei menepuk-nepuk pundak Dennis.
Dennis menggeleng pelan, lalu tertawa kecil. "Hehe ... sebuah kebetulan yang membawa keberuntungan, ya? Tapi sepertinya tidak untukku." Dennis sedikit menundukkan kepala. Ia ingat dengan mobilnya yang rusak dan sepertinya tidak bisa diperbaiki lagi karena penyoknya sudah parah.
Rei peka dengan ekspresi Dennis. Ia mengelus kepala Dennis, lalu berkata, "Soal mobilmu itu, maaf, ya? Aku akan menggantinya. Tapi tunggu aku gajian."
Dennis merasa keenakan saat kepalanya dielus. Lalu tak lama ia tersentak dan langsung mengangkat kepalanya karena ia sadar Brian sedang memperhatikannya. "A–ah, tidak usah! Aku bisa membelinya lagi nanti. Ibuku juga pasti akan mengerti kok dengan kejadian malam ini."
"Tapi bagaimana pun juga, aku harus tanggung jawab."
"Ti–tidak! Tidak usah."
"Aku punya beberapa uang, nih! Mungkin kau akan memerlukannya."
Dennis menggeleng dan mengibaskan tangannya dengan cepat. Lalu ia mencoba untuk menghentikan pergerakan Rei yang ingin membuka dompetnya. Sampai akhirnya mereka berdua terlihat ribut, tapi juga bahagia.
Brian sedikit senang melihat kedua pria dewasa itu bahagia. Tapi ia sedikit merasa risih. Lalu tak sengaja, Brian melihat ke arah jam dinding digital yang terdapat tanggal dan hari. Saat ia melihat harinya, ia jadi teringat kalau besok adalah hari ayah. Ia diwajibkan mengajak ayahnya ke sekolah.
Sejujurnya, Brian tidak ingin membawa ayahnya ke sekolah. Tapi karena sekarang ada Rei di dekatnya, jadi langsung saja Brian meminta Rei untuk ikut dengannya ke sekolah besok. Tapi dengan alasan lain.
"Kak Rei! Kaka mau gak nganterin aku ke sekolah?" tanya Brian dengan penuh semangat.
"Eh? Nganterin kamu ke sekolah? Tapi ..." Rei berpikir sejenak. Brian mengajaknya lagi tepat di depan ayahnya. Karena merasa tidak enak, dengan keputusannya ia pun menolak dengan memberi alasan. "Maaf, besok aku ada urusan penting. Kalau mau sama ayahmu saja, memangnya kenapa?"
"Eh, emm ..." Brian cemberut, matanya sesekali menatap Dennis lalu kembali membuang muka. "Kalau sama ayah sudah pernah. Aku tidak mau sama ayah lagi. Jadi aku ingin coba berangkat bareng kak Rei. Masa gak bisa, sih? Demi aku! Ayolah ... plis ...."
"Ah, tetap tidak bisa. Maaf, ya?" Rei menggeleng pelan, lalu melambai pada Brian. "Sama ayahmu saja, ya? Oh ya maaf Dennis dan Cahya. Aku tidak bisa lama-lama. Karena sekarang sudah boleh pulang, aku harus segera melaporkan kejadian tadi agar tugasku cepat selesai."
"Ah, iya! Semangat ya, Rei! Kau memang pekerja keras!" Cahya melambai kecil. Begitu juga dengan Dennis. Tapi matanya masih melirik ke arah Brian.
"Aku tau besok hari ayah. Tapi kenapa Brian tidak mau mengajakku saja?"
*
*
*
To be continued–
di tunggu novel selanjutnya nya kak pipit, tetap semangat 💪💪💪
Kak Dennis kau ialah pelawan yang sebenarnya. kau bisa menyimpan rasa sakit di relung hatimu, kau kuat untuk menerima takdir. kau ialah pahlawan sebenarnya 😭😭😭😭
Hiks... hiks... hiks... 😭😭😭😭
biasa akhir cerita menyenangkan, kali ini berbeda 😭😭😭