NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jawaban yang Melegakan dan Hadiah kecil untuk Awal Kebaikan

Pagi itu, seberkas cahaya matahari yang hangat menerobos masuk melalui celah jendela kamar Maira. Setelah malam panjang penuh air mata tobat di atas sajadah, ia terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Sebelum bersiap berangkat kerja ke kafe, Maira berdiri mematung di depan lemari pakaiannya yang terbuka lebar. Sepasang matanya meneliti deretan baju yang tergantung di sana.

Maira menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak memiliki satu pun jilbab atau hijab instan di dalam lemarinya. Satu-satunya penutup kepala yang ia temukan terselip di bagian laci paling bawah hanyalah selembar hijab putih instan sisa zaman sekolah menengah dulu.

“Masa iya gue pergi kerja pakai kerudung sekolah? Yang benar aja,” batin Maira sembari tersenyum kecut pada dirinya sendiri.

Maira menggeleng pelan, lalu meletakkan kembali kain putih itu ke tempatnya. “Ya udah deh, gak apa-apa. Nanti gue coba beli hijab yang baru habis pulang kerja aja,” putusnya dalam hati.

Sebagai gantinya, kali ini Maira memilih pakaian yang jauh lebih sopan dan tertutup daripada biasanya. Ia mengenakan celana jeans berpotongan longgar yang tidak membentuk lekuk kakinya, dipadukan dengan atasan kemeja berlengan panjang yang tertutup rapat. Untuk rambut panjangnya, karena belum memiliki hijab, ia kembali mengikatnya dengan rapi membentuk gaya kuncir kuda yang simpel.

Sebelum melangkah keluar dari pintu rumahnya, Maira menghentikan langkah sejenak. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik lirih, “Bismillah... ya Allah, lancarkan urusan Maira hari ini.”

Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. Ini adalah kali pertama dalam hidup Maira, setelah bertahun-tahun lamanya ia tenggelam dalam amarah dan ego, ia kembali berdoa dan memohon petunjuk dengan tulus kepada Tuhannya sebelum memulai hari.

Maira melangkah keluar gerbang dengan langkah kaki yang terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Sisa-sisa mata sembab akibat menangis semalaman berhasil ia samarkan dengan pulasan riasan tipis yang natural. Sentuhan kosmetik yang minimalis itu justru membuat wajah Maira terlihat jauh lebih bersih, cantik, dan manis memancarkan aura yang berbeda.

Suasana kafe siang itu tidak terlalu ramai, memberikan sedikit waktu senggang bagi para karyawan. Di dekat meja barista, Maira menghampiri Aisyah yang sedang sibuk menata gelas-gelas kaca.

Maira berdeham pelan, mendadak merasa sedikit kikuk. “Syah... bisa tolongin gue gak?” tanya Maira setengah berbisik.

Aisyah menoleh, menatap Maira dengan pandangan bertanya. “Tolong apa, Mbak Maira?”

“Lo... pas balik kerja nanti ada waktu luang gak? Gue... gue mau beli hijab, Syah. Tapi gue butuh saran Lo kali ini, soalnya gue bener-bener gak tahu bahan atau model hijab yang bagus kayak gimana,” ucap Maira dengan wajah yang sedikit merona karena malu.

Mendengar penuturan Maira, sepasang mata Aisyah seketika berbinar cerah. Sebuah senyuman ramah dan tulus langsung mengembang di wajah manisnya. “MasyaAllah... iya, Mbak! Nanti saya temenin ya habis shif kita selesai. Kebetulan saya tahu toko jilbab yang bagus dan murah di dekat sini.”

Maira mengembuskan napas lega. “Makasih banyak ya, Syah.”

Sembari melanjutkan pekerjaan mereka mengelap meja konter, Aisyah sesekali melirik Maira dengan pandangan penasaran yang sejak kemarin ia tahan. Akhirnya, gadis itu memberanikan diri untuk bertanya. “Mba Maira... saya boleh nanya sesuatu gak? Sebenarnya... Mbak kenal sama Mas Fatih di mana?”

Pertanyaan tak terduga itu sukses membuat Maira menghentikan gerakan tangannya. Wajahnya mendadak terasa hangat. “Eumhh... agak malu sih gue kalau diceritain detailnya, Syah,” ucap Maira sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Yang jelas... Fatih itu udah menyelamatkan hidup gue dari bahaya. Dua kali malah.”

Maira terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ia pantas menanyakan hal yang sejak kemarin mengganggu pikirannya. Namun, rasa penasaran yang membuncah mengalahkan rasa gengsinya.

“Oh, iya... by the way, Fatih itu... pacar Lo yah, Syah?” tanya Maira mencoba terdengar sekausal mungkin, meski di dalam dadanya jantungnya berdegup sedikit lebih kencang menanti jawaban.

“Aduh...!” Aisyah langsung menutup mulutnya, menahan tawa kecil yang hampir lolos melihat ekspresi Maira. “Nggak, Mbak Maira! Ya ampun... Mas Fatih itu kakak kandung saya!”

Deg.

Mendengar kata 'kakak kandung' meluncur dari bibir Aisyah, entah mengapa ada sebuah gelombang kelegaan yang teramat besar menyeruak di dalam dada Maira. Perasaan sesak yang sempat mengganjal sejak kemarin sore menguap begitu saja, digantikan oleh rasa lega yang membuat senyumnya nyaris terbit.

“Ohhh... kirain pacar Lo,” sahut Maira, berusaha menyembunyikan rasa senangnya dengan berpura-pura sibuk mengelap kembali permukaan meja kasir.

“Nggaklah, Mbak. Lagian saya kan gak pacaran. Di dalam prinsip hidup saya, pacaran itu gak boleh,” jawab Aisyah santai sembari menyusun sedotan ke dalam wadahnya.

Maira mengernyitkan dahi, merasa tertarik dengan prinsip hidup temannya yang satu ini. “Ooohh... emangnya dilarang ya sama orang tua Lo?” tanya Maira penasaran.

Aisyah menghentikan aktivitasnya sebentar, menoleh ke arah Maira lalu menyunggingkan senyuman yang teramat teduh namun sarat akan makna. “Bukan dilarang sama orang tua, Mbak... tapi dilarang sama Allah,” jawab Aisyah lembut.

Jleb.

Jawaban singkat, padat, dan tenang dari Aisyah itu seketika menghantam telak lubuk hati Maira. Maira mendadak terdiam seribu bahasa, merasa sangat tersindir dengan ucapan gadis salihah di depannya. Apa yang dikatakan Aisyah memang sepenuhnya benar, namun mengingat bagaimana liarnya gaya berpacaran Maira dengan Rayn di masa lalu, rasa bersalah dan sadar diri langsung hinggap dan mengimpit dada Maira.

Ada rasa malu yang teramat besar menyergap jiwanya. Maira menyadari betapa jauhnya ia melangkah di jalan yang salah selama ini, sementara di sampingnya ada sosok Aisyah yang begitu menjaga diri demi kepatuhannya pada Sang Pencipta. Namun, alih-alih membuat Maira ingin menyerah, sindiran halus tak sengaja itu justru memantik api kecil di hatinya untuk semakin mantap berbenah diri.

Semburat warna jingga di ufuk barat menandakan waktu sore telah usai. Begitu jarum jam menunjukkan waktu pergantian shif, Maira dan Aisyah bergegas merapikan seragam kafe mereka. Sesuai janji yang sudah disepakati siang tadi, keduanya langsung melangkah membelah trotoar kota menuju sebuah toko hijab yang terletak tidak jauh dari pusat perbelanjaan.

Begitu melangkah masuk melewati pintu toko, netra Maira langsung disuguhi oleh pemandangan deretan manekin yang berbaris rapi. Toko itu tampak begitu penuh dengan warna-warni kain penutup kepala yang ditata sedemikian rupa di atas rak kayu. Ada rasa canggung yang mendadak kembali menyeruak di dalam dada Maira. Tempat ini terasa teramat asing bagi gadis sepertinya yang biasa menghabiskan waktu di tempat berpencahayaan minim.

Maira hanya berdiri mematung di dekat pintu masuk, sementara Aisyah dengan langkah riang langsung menuntunnya menuju barisan gantungan jilbab. Di sana, dengan sangat lihai dan cekatan, jemari Aisyah mulai memilih-milih kain, mencocokkan warna yang sekiranya senada dan pantas dengan warna kulit pucat Maira.

“Mbak Maira, lihat deh yang ini,” ucap Aisyah sembari mengangkat sebuah jilbab berbahan kaos yang lembut. “Kak, ini model yang instan. Bagus banget buat dipakai sehari-hari di rumah atau kalau mau keluar rumah sebentar. Simpel, gak perlu pakai peniti lagi.”

Maira mengangguk-angguk pelan, menyentuh tekstur kain kain yang ditunjukkan Aisyah.

Aisyah kemudian bergeser ke rak sebelah, mengambil dua helai kain dengan model yang berbeda. “Nah, kalau Mbak Maira mau buat dipakai pergi-pergi, jalan, atau nanti pas kerja di kafe, model segi empat atau pashmina ini bagus banget, Mbak. Bahannya jatuh dan gampang dibentuk.”

Maira menatap dua pilihan di tangan Aisyah dengan pandangan yang sedikit bingung. Sebagai pemula yang bahkan belum tahu cara memakai jarum pentul dengan benar, melihat kain pashmina yang panjang justru membuatnya sedikit pusing.

Maira tersenyum tipis, lalu menunjuk jilbab instan dan selembar kain segi empat berwarna krem teduh. “Yaudah deh, Syah. Gue ambil yang instan aja sama yang segi empat satu. Itu dulu aja yang gue coba, buat pemula kayak gue kayaknya jangan yang susah-susah dulu,” ucap Maira jujur.

Aisyah langsung mengangguk setuju dengan mata berbinar senang. “Pilihan yang bagus, Mbak! Pelan-pelan aja.”

Aisyah membawa dua pilihan hijab itu ke meja kasir. Pelayan toko yang bertugas dengan ramah langsung menerima kain-kain tersebut, melipatnya dengan rapi, lalu membungkus hijab-hijab itu ke dalam sebuah kantong plastik berlogo toko.

“Totalnya jadi seratus lima puluh ribu ya, Mbak,” ucap pelayan toko tersebut sembari menyerahkan nota pembayaran.

Maira segera merogoh tas selempangnya, berniat mengambil dompet kulitnya dari dalam sana. Namun, belum sempat jemari Maira menyentuh dompetnya, Aisyah yang berdiri di sampingnya justru bergerak jauh lebih cepat. Gadis berhijab syar'i itu sudah lebih dulu mengeluarkan selembar uang seratus lima puluh ribu rupiah dari dalam dompetnya yang ternyata sudah ia siapkan sejak tadi di tangannya.

Aisyah mengulurkan uang itu kepada pelayan kasir. “Ini ya, Mbak, uangnya pas,” ucap Aisyah ramah.

Maira terbelalak kaget. Ia refleks menahan tangan Aisyah. “Loh, Syah! Jangan... kok Lo yang bayar? Ini gue ada uangnya kok, gue bisa bayar sendiri,” ucap Maira merasa tidak enak hati, mencoba menyodorkan uangnya sendiri.

Aisyah menepis pelan tangan Maira dengan gerakan yang teramat lembut. Ia menerima kantong plastik berisi hijab itu dari pelayan toko, lalu menyerahkannya ke dalam genggaman tangan Maira.

Aisyah menatap lekat sepasang mata Maira, menyunggingkan sebuah senyuman ramah yang teramat tulus hingga membuat matanya menyipit indah. “Gak apa-apa, Mbak Maira. Tolong diterima ya? Anggap aja ini hadiah kecil dari saya buat Mbak. Jujur... saya seneng banget waktu Mbak Maira bilang mau belajar berhijab. Saya yakin, Mbak Maira pasti kelihatan cantik dan anggun banget kalau sudah pakai ini nanti,” tutur Aisyah dengan nada bicara yang teramat tulus tanpa ada maksud merendahkan sedikit pun.

Mendengar kalimat hangat dari mulut Aisyah, dada Maira mendadak bergetar hebat. Ada sebongkah rasa haru yang membuncah di dalam ulu hatinya, hingga membuat matanya terasa sedikit panas menahan air mata. Selama hidupnya, ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang mendekatinya karena ada maunya—seperti Rayn yang menginginkan tubuhnya, atau ibunya yang datang hanya saat membutuhkan uang.

Namun malam ini, di dalam toko hijab ini, untuk pertama kalinya Maira merasakan apa arti ketulusan seorang teman yang sesungguhnya melalui sosok Aisyah. Seorang teman yang tidak menuntut apa-apa darinya, melainkan hanya ingin melihat dirinya melangkah ke jalan yang lebih baik.

Maira mendekap kantong plastik berisi hijab itu erat-erat di depan dadanya. “Makasih banyak ya, Syah... makasih buat semuanya,” bisik Maira tulus, sepasang matanya menatap Aisyah dengan penuh rasa takjub dan syukur.

“Sama-sama, Mbak Maira. Semangat ya!” balas Aisyah menyemangati.

Setelah menyelesaikan urusan di toko tersebut, mereka berdua berjalan keluar menuju area depan jalan raya. Langit kota sudah sepenuhnya berubah menjadi gelap, dihiasi oleh lampu-lampu jalan yang mulai menyala terang. Karena waktu yang sudah semakin malam, mereka pun akhirnya memutuskan untuk berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing menggunakan angkutan umum yang berbeda arah.

Maira melangkah masuk ke dalam angkot dengan perasaan yang jauh lebih damai. Di dalam genggamannya, kantong plastik berisi hijab pertama dalam hidupnya itu ia pegang erat-erat, seolah kain di dalamnya adalah sebuah harta karun baru yang paling berharga yang siap menemaninya membuka lembaran hidup yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!