Hanan Arsman, Laki-laki baik yang telah menikahiku, membuatku nyaman dan aman, namun hatiku masih mencintai yang lain.
Seorang pria bernama Izqian Abraham.
Ia cinta pertamaku yang telah membuat sejuta kenangan dalam hidupku.
Butuh waktu bertahun-tahun aku melepaskan semua perasaanku padanya, namun gagal. Padahal aku telah terikat dengan sebuah tali pernikahan.
Aku mencintainya dan nyaman bersamamu. Maaf, aku tak bisa menahan hati dari rasa.
Apakah ini yang disebut Karma? Setelah aku berikrar sumpah janji cinta, ujian pernikahanku pun datang...
Bertahun-tahun, Kami berusaha agar memiliki buah hati. Apakah kami akan memilikinya? Ataukah kekandasan pernikahan yang ku dapat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uda Qian
Kami duduk dengan rapi, kemudian di pimpin do'a oleh Ketua Kelas. Setelah berdo'a, Guru keluar terlebih dahulu, barulah kami berhamburan seperti semut berbondong-bondong keluar pintu.
“Hai Kak.”
“Tungguin siapa Kak?”
“Bla, bla, bla.” sapa teman-teman sekelasku, cari perhatian pada dua pemuda yang menunggu di depan kelas kami.
Aku berdiri di belakang pintu. Menunggu Filya yang sedang piket.
“Ros.” panggil Boy, Ia menyelonong masuk ke dalam kelasku, yang hanya tersisa Aku dan Filya, dan 2 orang lainnya yang piket.
la cengengesan. “Gimana, apa kita jadi mandi di Tinanggang?” tanyanya berbisik sembari merangkul pundak ku.
“Hm...a...” Aku pun ragu mulai berbicara dari mana. Karena aku ingin memintanya pulang lebih dahulu, dan sekarang dia sedang mengajakku bermain.
“Apa?” Boy menatapku lekat.
“Hai, Ros.” sapa Pemuda yang bersama Revand itu.
Boy menoleh ke sumber suara, dan menatap kedua pria itu, yang kemudian di susul oleh Filya yang berada di belakangku. “Maaf ya, agak lama. Aku piket nih.” jelas Filya, memotong jawabanku, yang ingin membalas sapaan pemuda populer ini.
“Gak apa-apa kok, aku rela nungguin selama apapun, demi kamu.” gombal Revand.
“Pfft!!” Aku membekap mulutku yang sedang tertawa mengejek. Revand dan Filya memang sering lebay dan mengumbar kata-kata manis di depanku.
“Issh, yang jomblo jangan cemburu ya.” sindir Filya yang sadar aku ejek.
Boy masih dalam posisi merangkul pundak ku. Diam menatap tajam ke arah Revand dan temannya. “Valdo, kau pulang duluan aja ya, Aku sama Ros ada perlu. Kami pergi sama Revand dan Kak Qian.” ucap Filya.
“Benarkah Ros?” Boy mengerutkan alisnya, menatapku, menunggu penjelasan dariku. Aku jawab dengan mengangguk.
“Hm, ya udah deh. Berarti kita gak jadi pergi ya, Aku pergi sendirian deh.” jawab nya dengan tersenyum lebar.
“Eh, jangan pergi duluan dong, besok kita pergi bareng.” ucapku dengan suara tinggi.
Ah, image yang aku jaga, musnah sudah kalau di depan Boy. Dan sekarang disaksikan oleh pemuda yang mengatakan cinta padaku. Apakah dia akan merasa ilfeel setelah ini?
“Hm, baiklah. Karena Preman mau ada urusan dulu, aku pulang duluan ya.” ucap Boy lembut, kemudian Ia mengelus kepalaku.
“Siapa yang suruh kau pegang kepalaku?” ucapku menghempaskan tangan Boy.
“Kau aja sering memukul kepalaku, aku hanya mengelus saja tidak boleh.” protes Boy.
“Pokoknya gak boleh!” sahutku.
Ya, aku dan Boy setiap saat selalu seperti ini, berdebat dan mempermasalahkan sesuatu, mulai dari hal yang sepele sampai yang serius.
“Udah, udah, kalian ini. Kau cepat pergi Valdo! Kalau kau masih di sini, kapan aku akan pergi bersama Ros. Kalian akan berdebat sampai gerbang sekolah ini di tutup, kalau dibiarkan!” sungut Filya, Ia mengusir Boy dengan mendorongnya.
Dan akhirnya, Boy pergi sembari melambaikan tangan padaku, dan aku balas dengan menjulurkan lidahku padanya.
“Dia siapa? Kalian terlihat sangat akrab sekali?” tanya teman Revand itu padaku.
Namanya Izqian Abraham, Dia Wakil Ketua OSIS, pintar, tampan, dan populer tentunya. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali sebelumnya.
“Dia sahabatku, Aku dan Dia berteman sejak dulu, sejak kami kecil, kami tetangga. Rumah bercat kuning telur sebelum sampai di rumahku itu adalah rumah dia. Nama dia Valdo.” jelasku.
“Oh, begitu.” sahutnya dengan tersenyum manis. Senyuman Izqian Abraham ini, bisa membuat orang yang melihatnya meleleh. Benar-benar cantik.
Lesung pipinya, bibirnya yang merah, kulitnya yang putih bersih tanpa noda jerawat. Rambut tebal dan sedikit ikal diujungnya sungguh terlihat seksi. Tubuhnya yang berotot dan tinggi. Pokoknya laki-laki sekali.
“Hm, tapi, tadi aku dengar kamu memanggilnya Boy.” ucap Pemuda itu.
“Ya, itu panggilan akrabku dengannya.” jelasku sekenanya.
“Kami duluan ya.” ucap Filya mendadahku yang sudah naik duluan diatas motor Revand.
Revand dengan segera menstater motornya, lalu melajukan motor itu tanpa mempedulikan jawabanku pada kekasihnya, mereka meninggalkan kami berdua.
“Ros, ayo kita keluar dulu dari sekolah, takut ntar gerbang ditutup penjaga.” ajak pemuda di depanku. Dan aku mengangguk, lalu mengekorinya, naik ke atas motor Thunder birunya.
Laju motornya sangat pelan. Mungkin saja 20/km. Mungkin lebih cepat laju sepeda yang dikayuh dengan sangat semangat. “Ros, kita berhenti di lubuk gajah dulu ya? Aku ingin ngobrol berdua denganmu, bolehkah?” tanyanya mendekatkan arah tubuhnya, sehingga punggungnya menempel ke dadaku.
“Eh!!” Aku terkejut dan respon mendorong bahunya.
“Ah, maaf. Aku gak sengaja.”
“Iya.” jawabku masam.
Entah kenapa, bagiku, orang asing tak boleh menyentuhku, apalagi hal seperti tadi, padahal hampir setiap hari bahkan aku memeluk Boy dari belakang di atas motor Vega nya. Aku merasa biasa-biasa saja, tapi barusan dengan pemuda ini, aku merasa waspada.
“Hm, apakah boleh kita mampir dulu ke lubuk gajah Ros? Aku ingin mengobrol berdua denganmu.” ucapnya lagi kembali. Namun sekarang Ia tidak memundurkan punggungnya kebelakang.
“Ya, baiklah Kak.”
Aku dan Dia pun berhenti di lubuk gajah. Lubuk Gajah itu hanya lubuk yang besar seperti kolam, airnya terlihat berwarna sangat hijau, mungkin sangat dalam. Padahal air yang mengalir kesana hanya sebesar air parit.
Tempat ini ada pondok-pondok kecil, banyak yang datang untuk bersantai ke sini. Dan yang paling banyak berkunjung adalah pasangan kekasih. Aku pernah kemari pertama kali diajak Boy.
Waktu itu, aku benar-benar tertawa terkikik saat bersama Boy. Pasangan lain terlihat malu-malu, sedangkan Aku yang hanya berteman dengan Boy sangat santai. Dan sekarang, sepertinya aku di posisi canggung itu, posisi dimana aku menertawakan orang yang malu-malu.
Aku duduk di pondok yang beratap daun Rumbia, di depanku sudah terhidang es kelapa muda dan es jeruk.
“Ros.” panggilnya.
“Iya, Kak.”
“Kedepannya panggil aku Uda Qian ya.” pintanya.
“Eh, kenapa?” tanyaku.
“Aku suka kamu memanggilku dengan nama dekatku, aku gak suka kamu memanggilku dengan sebutan Kakak senior.” jelasnya.
“Berarti, kalau gitu, aku panggil Kak Qian aja, sama seperti Filya memanggil Kakak.” usulku.
“Tapi aku mau di panggil Uda Qian. Aku ingin berbeda dengan yang lain.”
“..#$&..” Aku benar-benar kehilangan akal membayangkan keinginan pria populer di depanku ini.
Panggilan Uda di kampungku, itu di peruntukan untuk orang-orang yang dekat, seperti keluarga dan terkasih seperti pacar atau suami sih lebih tepatnya. Dan aku tidak pernah memanggil laki-laki yang lebih besar dari padaku dengan Uda. Aku selalu memanggilnya dengan Kakak atau Abang.
Bukankah Uda, Abang, Kakak itu artinya sama-sama Kakak laki-laki?
Ya, benar. Tapi, itu panggilan dekat dikampung ku.
“Bolehkan aku meminta di panggil Uda Qian?” pintanya memelas, menunjukkan wajah tampannya yang begitu mempesona. Ah, imanku pun lemah harus berhadapan dengan manusia tampan seperti ini, saat melihat dia memohon.
“Baiklah, karena aku baik hati, aku akan memanggil Kakak dengan panggilan Uda Qian.” jawabku terkekeh, menertawai diriku sendiri.
Uda Qian tersenyum manis mendengarnya. “Makasih Ros.”
pada saat aku menikah, sudah tidak ada Abak disampingku, sanak..., hiks hiks 😰😰😰
mingkem ngomong Minang nyo apo yo sanak, hehehe 🤭🤭
ondee mande... dunia saleba telapak tangan, he-he-he 😆
singgah di sini kitah ❤️
Al-fatihah untuk Amak dan Abak
kampuang nan jauah di mato
salken author 👍🙏