NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skenario Kebetulan

Malam harinya, di dalam kesunyian kamar, aku tidak bisa tenang. Pikiranku terus tertuju pada akun Instagram @arga.wjya. Setelah menimbang selama hampir satu jam dengan jantung yang berdegup kencang, aku akhirnya memberanikan diri untuk mengetik sebuah pesan di kolom Direct Message (DM).

“Hai Arga, maaf ya soal kejadian di trotoar kemarin sore. Aku benar-benar salah orang dan gak bermaksud bikin kamu takut. Salam kenal, aku Via.”

Dengan tangan sedikit gemetar, aku menekan tombol kirim. Malam itu, aku tidur dengan sejuta harapan.

Namun, harapan itu perlahan mengikis. Satu hari... dua hari... hingga tiga hari berlalu, tidak ada tanda-tanda pesan itu akan dibaca, apalagi dibalas. Statusnya tetap sama, tidak beralih menjadi seen.

Akun itu seperti kuburan sepi bagi pesan-pesanku, aku mulai frustrasi. Setiap beberapa menit sekali, aku terus mengecek ponselku sampai layarnya terasa panas.

"Sudah gue bilang, kan. Dia itu anak hitz, Via. DM dari cewek kayak kita pasti tertimbun di antara ratusan DM lainnya."

Suara Rara memecah keheningan sore itu didalam kamarku. Aku sedang telentang di kasur sambil menatap langit-langit dengan lesu, meratapi ponsel yang tergeletak di samping bantal.

"Tapi seenggaknya dibaca gitu loh, Ra," keluhku parau, membalikkan badan menghadap Rara yang sedang sibuk mencat kuku kakinya.

"Ini boro-boro dibalas, dilirik aja enggak. Aku merasa kayak remah-remah rengginang."

Rara justru tertawa terbahak-bahak, sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati.

"Hahaha! Makanya, jangan ketinggian kalau pasang ekspektasi. Lagian lo juga lagak-lagaan pakai DM segala, ya jelas tenggelam lah. Mungkin dia mikir lo itu akun fake atau penguntit."

"Ih, Rara. Bukannya menghibur malah mengejek!" Aku melempar bantal kecil ke arahnya, yang dengan mudah ditangkap oleh Rara sambil menjulurkan lidah.

"Gue bukan mengejek, Via sayang. Gue cuma menertawakan kefanatikan lo," ujar Rara, menaruh botol kuteksnya lalu duduk bersila menghadapku.

"Terus sekarang mau gimana. Mau nangis bombay lagi?"

Aku langsung bangkit dari kasur, duduk tegak dengan tatapan mata yang kembali menajam. Rasa frustrasi tiga hari ini mendadak menguap, digantikan oleh keras kepala yang kembali bangkit.

"Gak. Aku enggak bakal menyerah cuma gara-gara DM enggak dibalas," ujarku mantap.

"Kalau jalur digital tertutup, berarti aku harus pakai jalur darat. Aku harus bertemu langsung sama dia!"

Rara melotot. "Maksud lo, lo mau datang ke kampus elitnya terus cegat dia di depan gerbang. Via, jangan gila, kejadian kemarin aja udah bikin dia takut. Apalagi kalau lo tiba-tiba muncul lagi di kampusnya, dia bakal mikir lo ini psikopat yang lagi menguntit dia!"

"Ya makanya itu!" Aku memajukan tubuhku, memegang kedua tangan Rara dengan erat.

"Pertemuan kita nanti enggak boleh kelihatan kayak disengaja. Harus terdengar dan kelihatan kayak kebetulan yang alami, biar dia gak curiga."

Rara menarik tanganku, menatapku penuh sansi. "Kebetulan yang alami...Gimana caranya, kota ini luas, Via."

"Nah, karena itu aku minta saran dari kamu, Ra," Aku memasang wajah paling memelas yang kubisa, mengerjapkan mata berulang kali di depan sahabatku itu.

"Rara yang pintar, yang cantik, yang banyak idenya... tolong kasih aku strategi. Gimana caranya biar aku bisa berpapasan sama Arga secara 'kebetulan' di sekitar lingkungan kampusnya, tanpa kelihatan kayak penguntit?"

Rara menghela napas panjang, bersedekap dada sambil menatap langit kamar, tampak berpikir keras.

"Hmm... kebetulan yang alami ya. Kalau lo cuma nunggu di halte depan kampusnya, itu basi dan gampang ketahuan."

"Terus?" tanyaku antusias, beringsut lebih dekat.

"Ingat kata anak jaket jins kemarin. Arga itu anak basket, kan?" Rara melirikku dengan senyum misterius yang mulai terbit di bibirnya.

"Dan kampus elit, kayak Universitas Bakti Bangsa itu fasilitas olahraganya lengkap banget. Lapangan basket mereka sering dipakai buat turnamen antar kampus, atau dibuka untuk umum kalau akhir pekan."

"Lalu hubungannya sama aku?"

"Kebetulan, sepupu gue itu kuliah di sana lewat beasiswa, dan ikut unit kegiatan mahasiswa yang sering mengadakan acara di area olahraga," lanjut Rara sambil menjentikkan jarinya.

"Besok Sabtu, mereka ada tanding persahabatan internal di gedung olahraga kampus mereka. Arga pasti ada di sana kalau dia emang anak basket utama. Kita bisa masuk ke sana pakai akses sepupu gue dengan alasan... mau nonton tanding basket dia. Nah, di sana, lo bisa cari momen pas dia lagi jalan ke kantin, atau tempat parkir buat bikin insiden 'kebetulan'!"

Mendengar ide brilian Rara, mataku langsung berbinar cerah. Aku langsung menerjang tubuhnya, memeluk erat sahabatku itu sampai dia kesakitan.

"Rara... lo emang sahabat terbaik sedunia. Ide kamu jenius banget!" seruku kegirangan.

"Aduh, lepas, Vi. Gak usah meluk gue kaya gini, kuteks kuku kaki gue belum kering!" teriak Rara panik sambil mencoba mendorongku.

Aku melepaskan pelukan sambil menyengir lebar, sementara Rara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku.

Strategi sudah di tangan. Hari Sabtu besok, misi pertemuan 'kebetulan' dengan Arga Wijaya resmi dimulai.

"Tapi... bentar, Ra," Aku mendadak teringat sesuatu.

Kegembiraanku yang meluap tadi langsung menyusut separuh.

"Sepupu kamu itu... si Danu, kan. Yang sebulan lalu sempat kamu kenalkan sama aku pas kita makan bakso?"

Rara menghentikan kegiatannya meniup-niup kuku kakinya, lalu mendongak.

"Iya, si Danu. Kenapa emangnya?"

"Aduh, gimana ya..." Aku menggigit bibir bawahku dengan cemas.

"Gini lho. Waktu kamu kenalkan dulu, dia kan kelihatan kayak agak tertarik gitu sama aku. Gimana kalau nanti dia malah salah paham? Dia nyangka aku memberi harapan palsu ke dia, gara-gara bela-belain datang ke kampusnya cuma buat nonton dia tanding, padahal target asli aku kan bukan dia, tapi Arga."

Rara terdiam sedetik, lalu kemudian tawa renyahnya kembali meledak memenuhi kamarku. Dia sampai memegangi perutnya karena menganggap kekhawatiranku sangat lucu.

"Astaga, Via. Lo kok bisa kepikiran sampai ke sana, sih?" ejek Rara di sela tawanya.

"Ih, Rara... Aku serius, aku gak mau bikin anak orang baper, ya," ujarku sambil cemberut, melempar guling ke arahnya.

Rara menangkap guling itu, lalu menaruhnya di pangkuan. Dia menatapku dengan gelengan kepala heran.

"Via sayang, dengerin gue ya. Sepupu gue itu bukan tipe cowok yang gampang kepedean kayak gitu. Dia itu cukup populer di kampusnya, temannya banyak, cewek yang antre mau nonton dia tanding juga bejibun. Jadi, gak mungkin banget dia bakal langsung merasa diberi harapan, atau memaksa lo buat suka sama dia, cuma gara-gara lo ikut nonton tanding basketnya saja."

"Beneran ya. Kamu gak lagi menghibur aku kan?" tanyaku masih agak ragu.

"Beneran, Via. Lagian, nanti kan kita datangnya berdua. Gue bakal bilang ke Danu kalau gue yang kangen sama dia dan pengen main ke kampusnya, terus gue ajak lo biar gak sepi. Beres, kan?" Rara mengedipkan sebelah matanya, meyakinkanku.

"Dia gak akan curiga. Otomatis, alasan kita masuk ke area gedung olahraga itu jadi makin bersih dan natural."

Aku menghembuskan napas lega. Batu besar yang sempat mengganjal di dadaku rasanya langsung luruh.

"Oke, kalau gitu skenarionya aman."

"Nah, sekarang yang harus lo pikirkan itu bukan si Danu," Rara mengetuk meja dengan jarinya, mengalihkan fokusku.

"Tapi, gimana cara lo mengeksekusi momen 'kebetulan' itu nanti pas ketemu Arga. Ingat, gedung olahraga itu luas. Begitu lo lihat dia terpisah dari timnya, misalnya pas mau ke kantin atau toilet, lo harus langsung bergerak cepat."

"Aku udah kepikiran satu hal," ujarku dengan senyum misterius yang kini berganti terbit di bibirku.

"Aku bakal bawa botol minum air mineral yang tutupnya agak longgar. Nanti pas jalan berpapasan sama dia, aku bakal pura-pura kesandung kecil, terus airnya tumpah ke arah baju atau sepatunya. Otomatis kita bakal berinteraksi karena aku harus minta maaf dan bersihin bajunya. Gimana?"

Rara menatapku dengan mata memicing, menilai ideku.

"Jujur, klasik banget sih teorinya kayak di sinetron, tapi... not bad. Mengingat lo emang aslinya ceroboh, akting kesandung kayaknya gak bakal kelihatan dibuat-buat."

"Sialan kamu, Ra!" umpatku sambil tertawa, yang langsung disambar oleh tawa puas dari Rara.

Malam itu, setelah berhari-hari dilingkupi rasa frustrasi dan air mata, aku akhirnya bisa tidur dengan senyuman. Lembaran baru sudah kubuka, dan hari Sabtu besok akan menjadi penentu apakah skenario kebetulan yang kami susun ini akan berjalan mulus, atau justru membawa kejutan lain yang tidak pernah kuduga.

1
falea sezi
😒 Arga php bgt meluk belom di tembak
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!