SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Si Pahama Taktik dan?
BAB 8: "SI PAHAM TAKTIK DAN CIUMAN GELAP"
Malam semakin larut di markas besar Averus—sebuah bangunan bekas pabrik tua di pinggiran kota yang sudah disulap jadi markas geng motor paling ditakuti. Suara musik rock bernada rendah bergema dari speaker gantung, bercampur dengan bau oli motor dan asap rokok tipis.
Aira duduk santai di atas sofa kulit hitam yang agak terkelupas. Kakinya selonjoran di atas meja kayu panjang, sementara tangannya sibuk memutar-mutar pisau lipat kecil yang dia temukan di meja. Di sekelilingnya, puluhan anggota Averus—termasuk para petinggi seperti Kenzo si spesialis balap dan Galang si peretas data—sedang menatapnya dengan pandangan campur aduk antara kagum dan masih shock.
Kejadian minggu lalu di mana Aira membantai lima anggota Krava sendirian, ditambah insiden di gang tadi sore, udah bikin reputasi Aira meledak di kalangan internal Averus.
"Jadi..." Kenzo membuka suara sambil menopang dagu, matanya gak lepas dari Aira. "Cewek yang dibucin-in bos kita ini aslinya preman pasar berkedok siswi berprestasi?"
"Mulut lu minta ditampar pake knalpot ya, Ken?" sahut Aira santai tanpa mengalihkan pandangan dari pisaunya. "Gue bukan cewek bucin siapa-siapa. Gue ke sini cuma mau minta ganti rugi teh dingin gue yang tumpah gara-gara anak buah lu pada kelamaan dateng."
Galang tertawa terkekeh. "Sumpah, baru kali ini gue liat ada cewek yang berani ngomong begitu di depan markas kita. Biasanya cewek-cewek pada gemetaran kalau masuk sini."
KLEK.
Pintu besi ruangan rapat utama terbuka. Langit keluar dari dalam ruangan. Jas OSIS-nya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang dua kancing atasnya terbuka dan lengan baju yang digulung sampai siku. Otot lengannya yang padat kelihatan jelas, ditambah tato naga tipis yang menyelinap dari balik kerah kemejanya—sisi liar seorang Langit Biru Adhitama yang gak pernah diperlihatkan di sekolah.
Semua anggota Averus langsung bungkam dan berdiri tegap memberi hormat.
"Kalian keluar," perintah Langit singkat pada anak buahnya. Suaranya datar tapi penuh otoritas yang tak terbantahkan.
Dalam hitungan detik, Kenzo, Galang, dan belasan anggota lainnya langsung ngacir keluar ruangan, meninggalkan Aira dan Langit berduaan di ruangan remang-remang itu.
Aira tidak bergeming dari duduknya. Dia menyarungkan pisau lipatnya lalu menyilangkan tangan di dada pas Langit berjalan mendekat.
"Gaya lu sok ganteng banget, Kanebo," ledek Aira saat Langit berhenti tepat di depan sofanya.
"Ngapain disuruh keluar semua? Lu mau introgasi gue atau mau ngajak tawuran?"
Langit tidak langsung menjawab. Dia berlutut dengan satu kaki di lantai, membuat posisinya sejajar dengan Aira yang sedang duduk di sofa. Pandangan matanya yang tajam mengunci mata Aira rapat-rapat.
"Krava mau nyerang pelabuhan tua besok malam," kata Langit, membuka informasi rahasia gengnya begitu saja tanpa ragu. "Mereka dapet suplai senjata dan bantuan dari pihak luar. Dan orang luar itu... nyuruh Valerie buat manfaatin lu."
Aira menyeringai tipis. Dia sudah menduga alur ini. Di novel aslinya, jebakan pelabuhan tua adalah momen di mana Aira Shena yang lama mati dikeroyok. Tapi di alur baru ini, Valerie tampaknya memajukan jadwalnya gara-gara dendam kesumat nilai ujian dan rasa malunya di lapangan upacara.
"Terus?" tantang Aira, memajukan wajahnya sedikit. "Lu panik? Lu takut cewek yang lu sebut 'cewek lu' ini mati?"
Langit menatap bibir Aira yang bergerak-gerak tengil, lalu kembali menatap matanya. "Gue gak takut lu mati, Shena. Gue tahu lu cukup gila buat ngebantai mereka sendiri. Yang bikin gue gak tenang..." Langit mengulurkan tangannya, merapikan helai rambut Aira yang menutupi dahinya dengan gerakan yang sangat lembut—kontras banget sama citra kejamnya. "...adalah fakta kalau lu selalu nyoba bertarung sendiri tanpa ngelibatin gue."
Dada Aira berdesir aneh. Sentuhan jemari Langit di kulit dahinya terasa hangat dan menyetrum, mirip sensasi kesetrum charger HP—tapi kali ini bikin jantungnya berdegup lebih kencang.
Aira dengan cepat menepis tangan Langit pelan.
"Gue terbiasa jalan sendiri. Di dunia gue... gak ada yang bisa dipercaya selain diri gue sendiri."
"Tapi sekarang lu ada di dunia ini," balas Langit cepat, suaranya makin rendah dan dalam. "Dan di dunia ini, ada gue."
Langit berdiri dari posisinya, lalu secara mendadak menunduk, mengikis habis jarak di antara mereka. Sebelum Aira sempat memproses gerakan refleksnya buat menghindar, telapak tangan besar Langit sudah mencengkeram tengkuk leher Aira dengan lembut tapi mengunci, lalu mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Aira.
CUP.
Mata Aira melotot lebar. Permen karet di dalam mulutnya hampir saja tertelan.
Ciuman itu tidak kasar. Langit menyapu bibir Aira dengan sentuhan yang dalam, dominan, tapi penuh rasa posesif yang mendalam. Aroma parfum citrus dan kayu manis milik Langit memenuhi seluruh indra penciuman Aira, membuat otaknya yang biasa cerdas mendadak blank selama beberapa detik.
Aira mendengkus, mencoba mendorong dada Langit dengan kedua tangannya. Tapi dada cowok itu keras seperti tembok batu. Bukannya mundur, Langit malah memperdalam ciumannya, mengisap bibir bawah Aira pelan sebelum akhirnya melepaskannya perlahan.
Napas Aira agak memburu. Pipi cantiknya yang biasanya pucat kini memerah padam.
"LU... LU GILA YA, KANEBO?!" bentak Aira sambil menyapu bibirnya dengan punggung tangan, matanya menyala penuh amarah dan rasa malu yang meluap-luap. "FIRST KISS GUE DI DUNIA INI, BANGSAT!"
Langit berdiri tegap, menatap Aira yang murka dengan ukiran senyum tipis—senyuman paling puas yang pernah terukir di wajah dinginnya.
"Anggap aja itu uang muka," ujar Langit santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Uang muka apa, Anjir?!"
"Uang muka buat taktik perang besok malam," jawab Langit dengan nada penuh kemenangan.
"Lu mau acak-acak Krava dan Valerie, kan? Besok malam di pelabuhan tua, lu yang pegang kendali taktiknya. Gue dan seluruh anggota Averus... bakal jadi pasukan lu."
Aira tertegun. Kekesalannya gara-gara ciuman mendadak itu sedikit menguap, digantikan oleh gairah bertarung yang membakar dadanya. Dia menatap Langit yang kini menatapnya penuh kepatuhan implisit.
Seorang raja jalanan dan Ketua OSIS paling disegani... rela menyerahkan pasukannya ke tangan seorang cewek figuran?
Aira menyeringai lebar, menyapu sisa merah di pipinya. "Oke, Langit. Lu yang minta ya. Besok malam... gue bikin geng Krava dan Valerie nangis darah sampai gak berani nampakin muka lagi di kota ini!"
Langit mendekat lagi, berbisik tepat di samping telinga Aira yang memerah. "Sesuai perintah lu, Ratu."
see you next bab
jangan lupa lika dan komen jika suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?