"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB LIMA: Arus Bawah (Bagian 1)
TOK TOK TOK
“Zang, bisa ikut ke ruanganku bentar?” Vanno mengetuk mejaku. Konsentrasiku buyar seketika.
“Sure thing,” jawabku sambil mengikuti langkahnya.
“Ada apa?” tanyaku tanpa basa-basi. Tidak biasanya bos divisi sebelah mencariku di awal pagi begini. Pasti ada sesuatu.
“Si Ian kenapa sih?” pertanyaan itu adalah pertanyaan ke sekian di minggu ini. Dan aku mulai kehabisan jawaban untuk menanggapinya.
“Kenapa lagi dia? Performa kerja menurun?”
“Nggak, sama sekali nggak. Proyek-proyek dia malah selesai lebih cepat dari target. Tapi bukan itu yang gue maksud,” Vanno mendekatkan kursinya ke arahku. Wajahnya serius. Ini pasti masalah yang sama seperti yang ditanyakan Andra dan mbak Cyntia beberapa hari yang lalu.
“Emangnya putus dari Sarah sebegitu buruknya sampai dia berubah jadi kayak elu?” pertanyaan Vanno sukses membuatku tertawa terbahak-bahak. Sialan.
“Kamu nyindir? Nggak suka sama sikapku ke pegawai-pegawai wanitamu?” pancingku sambil masih tertawa tanpa henti. Vanno pun ikut tertawa juga.
“Oh, come on man! Gue nggak masalah sama itu. Maksud gue, kalian berdua ini punya karisma sendiri-sendiri. Lu, cowok yang cool, masa bodoh, nggak sembrono. Sedangkan Ian, cowok yang warm, ramah, dan supel. Kalian berdua nih beda, sangat jauh berbeda. Jadi, ketika Ian tiba-tiba bersikap kayak elu, pasti ada yang salah kan? Nggak mungkin dia baik-baik aja.”
“I know. Mbak Cyntia sama Andra juga nanyain hal yang sama ke aku beberapa hari yang lalu. Masalahnya aku nggak berhak buat cerita ke kalian tentang apa yang terjadi antara Ian dan Sarah. It’s complicated. Aku pingin bantu kalian, tapi aku juga nggak mau lancang dengan melanggar privasi Ian,” kulihat Vanno mengganguk-anggukkan kepalanya mengerti.
“Iya, sih. Tapi bisa nggak lu bantu gue buat ngomong ke dia? Gue bisa aja sih ngomong sendiri, tapi gue nggak enak. Dia sahabat gue, bagian penting dari tim gue, tapi yang jadi bos juga gue. Dia cerita nggak sih kalau dia batalin proyek yang dia kerjain sama Satrio?”
“What?” kali ini aku benar-benar terkejut. This is new. Aku hanya tahu dari Andra jika Ian membatalkan semua kerja sama yang terkait dengan Sarah. Bagiku itu masih wajar. Tapi Satrio?
“Iya, dia batalin proyek itu seminggu sebelum target. Padahal dia satu-satunya analyst programmer di proyek itu. Dan proyek itu tendernya gede gila. Gue kelabakan, kebakaran jenggot buat cari ganti. Waktu gue tanya alasan dia mundur, dia bilang cuma lagi males. Dan lu tahu kan kalau itu bukan jawaban seorang Ian? Ian nggak mungkin ninggal kerjaan dengan alasan banci kayak begitu,” Vanno bersungut-sungut. Aku mengangguk mengiyakan.
“Ya, dia bukan orang kayak gitu emang.”
“Nah, lu paham maksud gue kan? Jadi please, bantu guelah. Gue nggak ngerti mau minta tolong siapa lagi kalau bukan ke elu. Cuma elu yang kemungkinan besar bakal didenger sama dia. Kalau misal dia sampai butuh cuti juga pasti gue kasih. Selama apapun yang dia ajuin, gue jamin bakal gue acc,” ujar Vanno pasrah.
“Tenang! Pasti gue bantulah. Tapi sementara ini turutin aja dia mau proyek yang kayak gimana,” saranku disambut anggukan mantap dari laki-laki berkulit putih itu.
“Thank’s bro!” Vanno menepuk lenganku. Aku pun tersenyum sembari beranjak keluar dari ruangannya.
Selang beberapa menit kemudian, pekerjaanku yang sempat tertunda karena kedatangan Vanno akhirnya selesai. Kususun berkas yang baru kucetak itu dan kuputuskan untuk pergi ke ruangan Andra. Namun baru beberapa langkah aku keluar dari bilik, kulihat ada pemandangan yang tidak biasa. Meja Sarah kosong, bersih tanpa ada berkas apapun. Aku berjengit.
“Dian, kok meja Sarah kosong? Bukannya tadi dia masuk?” tanyaku pada Dian, yang duduk bersebelahan dengan bilik milik Sarah.
“Lho, lu belum tahu? Si Sarah kan dipindah ke lantai satu, ke divisinya pak Agung.”
“Ha? Siapa yang mindah?” tanyaku keheranan.
“Si Andra. Nggak tahu, mendadak gitu,” jawaban Dian semakin membuat keningku berkerut. Buru-buru kulangkahkan kakiku ke ruangan Andra. Dia menelengkan kepalanya ketika melihatku masuk tanpa mengetuk pintu.
“Kenapa tiba-tiba mindah Sarah?” aku bertanya tanpa babibu. Andra mengacak-acak rambutnya. Sepertinya pertanyaanku sudah jadi antisipasinya.
“Pak Wijaya ngontak Direktur. Aku nggak bisa nolak,” jawab Andra singkat, padat, jelas. Aku terduduk lemas. Tidak butuh waktu lama untukku mencerna kalimat Andra barusan.
Bagiku, Ian adalah laki-laki yang tidak ingin terlihat kaya. Dia juga tidak ingin menghamburkan uangnya hanya untuk hura-hura. Tak salah jika dia berharap akan jatuh cinta layaknya orang biasa, yang berakhir bahagia tanpa drama. Yah, tapi takdir berbeda. Sudah garis-Nya jika dia bukan laki-laki sederhana. Semua hal tak akan mudah dengannya. Pun dari dirinya pula aku berkaca, bahwa ternyata putus cinta dari anak orang sekaya dia akan menjadi semengerikan ini akhirnya.
...***...