sebuah kisah dua orang asing yang ditakdirkan menjadi keluarga. tanpa tau bahwa pertemuan mereka akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zean amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 8
zean berjalan menelusuri lorong-lorong rak buku. tangannya bergerak kesana kemari menyusuri satu persatu buku disana. dia berniat meminjam beberapa buku untuk menjadi bahan belajarnya. jujur saja..
"huh,.. aku kehabisan stock buku yang harus dipelajari" desah Zean. sudah banyak buku fia baca, pelajari. begitu juga soal soal seperti latihan, kompetisi, dari yang sulit hingga sangat sulit.
sungguh dia beruntung, setidaknya dia memiliki kartu member jadi dia bisa bebas meminjam di perpustakaan besar ini.
dan tepat, dia berdiri di salah satu rak buku yang tinggi. dan benar saja, buku yang dia cari ada di atas sana.
Zean menoleh kesana kemari mencari tangga untuk memanjat nya. tapi tidak ada. tepat saat Zean hendak berbalik. dia menabrak seseorang.
dan buku orang itu jatuh berhamburan. Zean membantu orang itu memungutnya. dan saat akan mengambil salah satu buku.
Zean terkejut, ini buku yang ingin Zean ambil.
Dan tanpa tahu malu dia mengambil nya.
"hm? " heran orang itu. dia merasa sedikit familiar dengan orang di depannya ini.
saat Zean mengangkat kepalanya, dia terkejut. deg..
"owh maaf. ini bukumu ya? " sadar Zean.
dia ingin mengembalikan buku yang sempat dia ambil tadi. tapi orang itu seakan tidak mendengar sapaan Zean. dia melihat Zean dengan tatapan... terkejut.
'ya tuhan, si rambut pirang' otaknya hanya bisa merespon itu.
"Ah, iya. tidak apa-apa. Aku juga yang kurang fokus tadi. " jawabnya sambil mengambil buku itu.
"Apa kau membutuhkan buku itu? " tanya Zean kembali.
orang itu menoleh dan menggeleng kan kepalanya.
"tidak, Aku tidak sengaja menemukan buku ini di tumpukan buku yang berbeda. aku berniat meletakkan nya di buku yang sama. " ucapnya.
Zean kemudian mengatakan kalau dia membutuhkan buku itu, dia bahkan akan mencari tangga untuk memanjat nya.
mendengar hal itu, tanpa basa basi orang itu langsung memberikan nya pada Zean. Zean menerima dengan baik dan berterima kasih.
orang itu memperhatikan tumpukan buku tebal yang ada ditangan Zean.
"kau sangat rajin. " kekehnya pelan.
"huh? " Zean tidak mendengarnya.
"kalau boleh tau, siapa namamu? " tanya orang itu. dia tau Zean, tapi.. dia ingin mendengar nya sendiri.
"Zean." jawab Zean sambil tersenyum ramah.
wushhh, ssrrrhhh....
angin lagi-lagi mengikuti nama itu disebutkan!
....
Zean belajar dikamarnya,.. sebentar lagi ujian nasional. dia harus semakin giat belajar. Sekolah nya akan memberikan Zean reward. dia berniat akan membelikan hadiah untuk ayahnya. sebagai hadiah ulang tahunnya. memikirkan nya saja membuat Zean bersemangat.
di dalam dapur..
"huh.. kenapa pusing sekali? " keluh ayah Zean.
dia tidak enak badan akhir-akhir ini. tapi dia merahasiakan nya dari Zean. karena dia tau dia pasti akan mengkhawatirkan nya. dia tidak ingin mengganggu ujian terbesarnya. ujian nasional ini sangat penting. dari yang dia dengar, ujian itu menjadi nilai plus untuk masuk perguruan tinggi bergengsi.
dia kemudian meminum obat yang ada di dalam laci, sambil memandang putranya yang belajar.
'dia sudah benar-benar menjadi dewasa' dalam batinnya. dia senang melihat itu.
dia kemudian melanjutkan memasak. dia tidak sabar menunggu hasil kupon yang dibelinya. berharap lotre tersebut dimenangkan olehnya.
....
Dalam kamar mewah
Gavin,.. dia memutar mutar gelas alkohol yang ada di tangannya. sampai suara seseorang menghentikan nya.
"Gavin? waktunya makan malam. ayo turun untuk makan malam. " ucap clara dibalik pintu tertutup.
bukan menjawab Gavin malah melemparkan gelas itu ke arah pintu, dan
Prang!!
gelas itu pecah.
clara terkejut akan hal itu. sebenarnya dia ingin bicara mengenai anaknya malam ini. tapi, dia mengurungkan nya. Gavin benar-benar buruk. dia takut Zean akan dilukai olehnya. dia kemudian tidak membalas dan turun kebawah untuk makan malam dengan Adrian. dia meminta pelayan membersihkan pecahan gelas di kamar Gavin agar tidak melukainya.