“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Ah
“Tapi pasti pengembangannya sulit bukan? Anggur semahal itu, Jika harga anggur semahal itu maka—” kalimat dari sang kepala desa di sela.
Jemari tangan Tristan memetik varietas buah anggur lokal. Warnanya merah, tapi buahnya tidak begitu besar. Perlahan menekannya, hingga pecah, menghasilkan cairan berwarna merah kental pekat.”Kalau begitu, bertahan saja dengan varietas anggur lokal, jika tidak laku di pasaran. Sulit untuk dijual di supermarket, hanya bisa menjadi minuman anggur kualitas standar. Yang aku inginkan, anggur untuk dijadikan minuman kualitas premium. Anggur yang dapat dijual segar kepada para orang kaya yang tinggal di gedung tinggi, dan anggur yang dapat dibeli oleh kelas menengah. Tanah di desa ini begitu luas, seharusnya cukup untuk cadangan.”
“Apa maksudmu dengan cukup untuk cadangan?” Gandhi meminta penjelasan.
“Kita tidak berkutat pada satu varietas. Varietas Ruby Roman yang aku katakan, kita akan kembangkan dalam tiga rumah kaca, sebagai uji coba. Jika panen berhasil akan dikembangkan pada lahan yang lebih luas. Tanamannya tidak boleh keluar sedikitpun dari rumah kaca. Tapi untuk mempertahankan hasil panen petani, kita akan tetap mempertahankan kebun anggur lokal juga mengembangkan varietas premium yang bisa ditanam di luar rumah kaca. Rumah kaca khusus akan dibangun untuk pembibitannya saja.” Perencanaan yang diucapkan oleh Tristan terdengar begitu matang.
“Wah…dengan begitu bukan hanya hasil panen petani yang akan aman. Tapi juga dapat di saat yang sama mengembangkan hasil pertanian yang baru?” Gandhi membulatkan matanya. Menelan ludahnya, tapi hanya satu hal yang ada di pikirannya. Anggaran…
Desa ini merupakan desa miskin, warga desa bahkan kesulitan untuk membeli bahan pangan. Mereka dulu bertani jeruk seperti desa-desa di sebelahnya. Tapi harga selalu ditekan oleh tengkulak.
Desa makmur berhenti menanam jeruk secara tiba-tiba. Beralih pada perkebunan anggur, mereka menjadi desa yang paling kaya dan maju di kabupaten. Karena itu desa lumbung emas juga ikut-ikutan menanam anggur. Tapi harganya terus ditekan oleh tengkulak. Para pemuda di desa bahkan separuhnya sudah pergi ke kota. Karena tidak bisa mengandalkan hasil ladang lagi.
“Tapi tentang rencanamu. Itu memerlukan pendanaan yang besar. Kami tidak bisa hanya modal tanah saja, kami tidak bisa hanya modal tenaga saja. Kami bisa mengajukan bantuan pada pemerintah. Tapi prosesnya lama, diperlukan juga peninjauan. Belum lagi, jika tidak ada perencanaan hasil yang nyata maka pemerintah tidak akan memberikan bantuan.” Gandhi menghela nafas berkali-kali.
“Karena itu aku katakan, aku kemari bukan hanya untuk mengajarkan kalian menanam anggur. Tapi aku juga kemari untuk mengajak kalian kaya bersama. Aku…aku yang akan membantu kalian. Kita akan menandatangani kontrak kerjasama, kalian yang memiliki ladang. Sementara aku yang membantu permodalan dan pengelolaannya. Kalian menyumbang tenaga, aku menyumbang uang dan ilmu. Nanti kita membuat kontrak resmi, isinya anggur akan dijual sesuai harga yang aku sepakati.” Tristan tersenyum kepada Gandhi.
Pria kekar berusia 45 tahun itu. Menitihkan air matanya, tiba-tiba saja memeluk tubuh Tristan.
“Anak muda! Aku setuju! Kalau ada warga desa yang tidak setuju aku akan meyakinkan mereka!” Suara teriakan darinya, memeluk Tristan begitu erat.
“Paman aku sesak…” Tristan berusaha keras untuk tersenyum.
“Ma…maaf! Kamu adalah dewa rezeki desa ini. Bukan! Kamu adalah malaikat pelindung!” Pujian yang diucapkan oleh Gandhi.
“Aku jenuh dengan kata-kata malaikat pelindung atau Dewa rezeki. Jangan memberikan pujian apapun padaku. Karena di desa sebelah aku sudah cukup dipuji, tapi akhirnya dikatakan sebagai lintah darat. Penghisap darah para petani, rumahku juga dibakar. Padahal aku memberikan harga yang lebih tinggi dari para tengkulak lainnya.” Tristan sama sekali tidak mengerti, kerugian besar sudah dialami olehnya akibat warga desa makmur yang melanggar kontrak.
Uang miliaran rupiah melayang begitu saja. Modal untuk pupuk organik, perbaikan kondisi tanah, pengairan khusus, itu merupakan modal yang besar. Belum lagi pembuatan rumah kaca untuk proses pembibitan.
“Kami berjanji tidak akan menyia-nyiakan ketulusanmu. Bahkan jika kamu mencalonkan diri menjadi pejabat. Kami akan memilihmu! Kami bukan kacang yang lupa kulitnya. Kami selalu membawa kulitnya kemana-mana.” Itulah janji yang diucapkan oleh Gandhi.
Hal yang membuat Tristan tidak dapat berkata-kata.
Tapi mungkin satu hal yang ada di benaknya. Bagaimana sebenarnya warga desa Lumbung Emas? Apa mereka sama saja dengan warga desa makmur? Akan tidak tahu diri dan melupakan jasanya.
***
Pertemuan diadakan di balai desa, seperti apa yang dikatakan oleh Gandhi.
Mayoritas warga desa yang tinggal di tempat ini adalah orang tua, wanita, dan anak-anak. Mungkin hanya ada beberapa pemuda dan pemudi di tempat ini.
Ketika dirinya melangkah hendak masuk, suara kasak kusuk dari orang-orang terdengar.
“Jadi itu adalah Tristan? Orang yang dijuluki sebagai Dewa rezeki di desa makmur?”
“Benar! Aku pernah mendengar tentangnya. Kepala desa bahkan mengatakan dia bersedia membeli anggur dengan harga 9000 per kg. Pada akhirnya, aku bisa membayar biaya sekolah cucuku.”
“Karena pemuda ini aku bisa membeli beras untuk besok. Iya benar-benar akan membeli dengan harga rp9.000 per kg bukan. Aku berhutang nyawa padanya.”
Warga yang ada di tempat ini bagaikan sudah putus asa, menatap ke arahnya penuh harap. Mereka seperti tidak berani mendekat.
Hingga pada akhirnya dirinya berdiri di hadapan semua warga desa yang hadir. Mungkin tidak semuanya, mungkin juga hanya perwakilan dari keluarga mereka.
Dirinya mulai menyalakan layar proyektor. Vivian juga berada di sana, menatapnya penuh senyuman dan rasa kagum.
“Selamat malam semuanya, sebelumnya namaku adalah Tristan. Mungkin kalian sempat mendengar rumor buruk tentangku di desa makmur.” Ucap Tristan sedikit sungkan.
“Semua yang mereka katakan itu bohong! Mereka bodoh! 9000 per kg adalah harga grosir tertinggi! Tidak pernah ada tengkulak yang memberikan harga setinggi itu.” Seorang warga desa bernama Indra, berucap penuh semangat.
“Benar! 9000 per kg adalah harga eceran tertinggi. Warga desa makmur saja yang tidak tahu diri!” Seorang gadis desa bernama Helen ikut berteriak.
Seluruh ruangan tiba-tiba bergemuruh. Semuanya bagaikan memberikan semangat kepadanya.
“Nak Tristan! Tolong bantu desa kami!”
“Tristan kami percaya padamu!”
“Kamu adalah penyelamat bagi kami.”
Tristan menghela nafas, perlahan wajahnya tersenyum. Gambar pada proyektor kembali berganti. Pemuda itu menjelaskan rencana jangka panjangnya. Bagaimana dirinya akan membantu permodalan, dan teknologi pertanian. Sedangkan warga desa yang bekerja.
Hasil akan warga desa nikmati sendiri. Sedangkan dirinya hanya memonopoli harga dan penjualan. Harga penjualan juga terjamin, asalkan tidak ada pelanggaran kontrak.
Warga desa yang buta huruf pun mengerti dengan semuanya. Penjelasan yang menggunakan gambar. Jika tidak mengerti mereka akan mengangkat tangan, kemudian bertanya. Begitu antusias ingin mendapatkan ilmu lebih banyak.
Tapi entah kenapa Tristan sedikit ragu. Mungkin karena sebelumnya sudah dikhianati.
Tapi, ketika dirinya memberikan keterangan penutup.
Vivian bersama beberapa warga desa mendekat.
Wanita itu tersenyum, kemudian berucap.”Mereka ingin berterima kasih padamu. Sebenarnya, buah-buah anggur di desa ini ditawar dengan harga yang begitu murah. Tidak ada yang bersedia membeli dalam jumlah banyak. Jadi sebagian besar akan membusuk di pohon. Kamu adalah dewa penolong bagi mereka.”
“Nak…hari ini kamu sudah menyelamatkan nyawa suamiku. Sudah 3 hari suamiku tidak meminum obat darah tinggi. Dengan uang hasil penjualan besok, pada akhirnya suamiku bisa membeli obat.” Seorang wanita tua ringkih menangis memegang tangannya.
“Kakak, terima kasih. Aku akhirnya bisa membayar biaya sekolah. Ketika aku lulus nanti, aku akan mengabaikan hidupku dengan bekerja pada kakak.” Seorang remaja bahkan berlutut.
Suasana yang haru baginya. Apa warga desa Lumbung Emas akan menipunya? Tapi…Mereka terlihat berbeda dengan warga desa makmur saat pertama kali dibantu olehnya.
Warga desa makmur, ketika pertama kali dibantu olehnya, bahkan ingin dirinya membuat perjanjian. Jika rencana kebun anggur gagal, maka tanah dan rumahnya akan menjadi milik desa.
Tapi warga-warga di desa Lumbung Emas, terlihat begitu putus asa. Padahal, keadaan ekonomi mereka mirip dengan keadaan ekonomi desa makmur 5 tahun yang lalu.
“Tristan, karena kamu begitu baik. Vivian mau jadi pacarmu.” Ucap dokter spesialis itu berbisik padanya.
pedagangpun menolak
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
😁😁😁
semamgat berkarya, sukses selalu🤲
Sudah lebih baik kehidupan di Desa Makmur setelah Tristan datang, brati warga desa punya hp dong, ada jaringan internet masuk Desa Makmur kan? Kenapa warga Desa Makmur tetep dalam kebodohan? Tanpa mencari berita online soal penanaman anggur red globe dll😜