Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.
Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.
Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan yang Tumbuh
Minggu-minggu setelah insiden di taman berjalan dengan ritme baru yang aneh — di satu sisi, keamanan di sekitar Indra meningkat berlipat ganda, dengan Bram dan timnya kini mengawal setiap gerakannya bahkan ke sekolah, tapi di sisi lain, ada kehangatan baru yang tumbuh di dalam rumah itu, sesuatu yang seolah lahir dari krisis yang mereka lalui bersama.
Alena kini menghabiskan lebih banyak waktu di penthouse dari yang seharusnya diperlukan sesi terapi biasa. Ia mulai makan malam bersama mereka beberapa kali seminggu, membantu Indra dengan proyek-proyek sains kecilnya yang jauh melampaui level anak sekolah dasar, dan — tanpa disadari siapa pun secara resmi — mulai mengambil peran yang jauh lebih personal dari sekadar psikolog yang dibayar.
Sore itu, Indra sedang membangun sebuah rangkaian elektronik sederhana di meja ruang tengah, sesuatu yang katanya "buat hadiah ulang tahun Ayah bulan depan", ketika ia tiba-tiba berhenti dan menatap Alena dengan ekspresi serius yang selalu membuat orang dewasa di sekitarnya waspada.
"Kak Alena," katanya, "boleh aku tanya sesuatu yang agak personal?"
"Tentu."
"Kakak suka sama Ayah, ya?"
Alena tersedak air yang sedang diminumnya, batuk kecil sebelum berhasil mengatur napas kembali. "Kenapa kamu tanya begitu?"
"Karena Ayah senyum beda kalau lagi ngobrol sama Kakak," jawab Indra, seolah itu adalah kesimpulan ilmiah paling jelas di dunia. "Dan Kakak juga suka mainin ujung rambut kalau lagi deket-deket sama Ayah. Itu tanda-tanda ketertarikan romantis, aku baca di jurnal psikologi yang Kakak pinjemin minggu lalu."
Alena menatap anak itu dengan campuran rasa geli dan malu yang tak bisa ia sembunyikan. "Kamu benar-benar membaca jurnal psikologi untuk hiburan?"
"Aku baca semuanya untuk hiburan," jawab Indra, seolah pertanyaan itu agak konyol. "Tapi Kakak belum jawab pertanyaanku."
Alena menghela napas, menyadari tidak ada gunanya berbohong pada anak yang kemampuan analisisnya sudah melampaui kebanyakan orang dewasa. "Aku... nggak tahu, Indra. Ayahmu orang yang rumit. Ada banyak hal yang harus aku pikirkan sebelum aku bisa jawab pertanyaan itu dengan jujur, bahkan pada diriku sendiri."
"Kenapa rumit?" Indra menaruh obeng kecilnya, memberikan perhatian penuh pada percakapan ini, seolah masalah asmara orang dewasa adalah teka-teki menarik lain yang layak dipecahkan.
"Karena hidup ayahmu penuh bahaya," jawab Alena jujur. "Dan orang yang jatuh cinta pada seseorang seperti itu harus siap menghadapi bahaya yang sama."
Indra memikirkan itu sejenak, kening kecilnya berkerut dengan cara yang sangat mirip dengan ayahnya saat sedang berpikir keras. "Tapi Kakak udah menghadapi bahaya itu waktu di taman. Dan Kakak tetap di sini."
Kata-kata sederhana itu menghantam Alena lebih dalam dari yang seharusnya bisa dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun. Ia tidak punya jawaban untuk itu, karena Indra benar — ia sudah menghadapi kenyataan paling menakutkan dari dunia Luki Subroto, dan bukannya lari, ia justru semakin terikat.
"Kamu terlalu pintar untuk usia kamu," katanya akhirnya, tersenyum kecil.
"Itu yang semua orang bilang," jawab Indra, kembali pada rangkaian elektroniknya dengan santai, seolah ia baru saja tidak membongkar rahasia terdalam yang belum berani diakui Alena bahkan pada dirinya sendiri.
Malam itu, setelah Indra tidur, Luki menemukan Alena masih duduk di ruang tengah, menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan.
"Masih di sini?" tanyanya, duduk di sofa seberangnya.
"Indra ngajak ngobrol soal proyek elektroniknya tadi. Aku kehilangan jejak waktu." Alena tersenyum kecil, tidak menyebutkan bagian lain dari percakapan mereka.
Luki menuangkan dua cangkir teh, menyerahkan satu kepadanya. "Dia semakin dekat dengan Anda. Lebih dari yang pernah saya lihat dengan psikolog manapun sebelumnya."
"Dia anak yang luar biasa," jawab Alena, menerima cangkir itu. "Kadang aku lupa dia baru enam tahun. Cara dia berpikir, cara dia memperhatikan orang lain — itu jauh melampaui usianya."
"Kadang saya khawatir soal itu," kata Luki, suaranya lebih pelan sekarang, penuh kekhawatiran yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun selain Alena belakangan ini. "Ia terlalu pintar untuk bisa benar-benar menikmati masa kecilnya. Ia melihat terlalu banyak, menyimpulkan terlalu cepat. Kadang saya berharap ia bisa lebih... biasa saja. Lebih santai."
"Kepintarannya bukan kutukan, Luki," kata Alena, memilih kata-katanya hati-hati. "Yang membuatnya berat adalah situasi di sekitarnya, bukan otaknya sendiri. Kalau kamu bisa memberinya rasa aman yang cukup, kepintarannya akan jadi anugerah, bukan beban."
Luki menatapnya lama, sesuatu di matanya melunak dengan cara yang belum pernah Alena lihat sebelumnya — bukan ketegangan seorang ayah yang khawatir, melainkan kelegaan seseorang yang merasa dipahami sepenuhnya, tanpa perlu menjelaskan setiap detail.
"Bagaimana Anda bisa begitu memahami kami berdua?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik.
"Karena aku memperhatikan," jawab Alena sederhana. "Bukan karena aku dibayar untuk itu. Tapi karena aku ingin."
Kalimat itu menggantung di udara antara mereka, penuh dengan makna yang tak terucapkan tapi jelas dipahami keduanya. Luki menatap Alena lama, jari-jarinya melingkari cangkir tehnya yang mulai dingin, dan untuk sesaat, jarak di antara mereka terasa begitu tipis hingga hampir tidak ada sama sekali.
Tapi kemudian ponsel Luki bergetar keras di meja, memecah momen itu dengan brutal. Ia melihat layarnya, dan wajahnya langsung berubah — kelegaan yang tadi terpancar di matanya kini digantikan dengan ketegangan yang familiar.
"Ada apa?" tanya Alena, khawatir.
"Bram," jawab Luki, sudah berdiri, sudah mengambil jasnya. "Antasena baru saja mengirim pesan langsung ke nomor pribadi saya. Ia ingin bertemu."
Alena berdiri juga, jantungnya berdebar cepat. "Apa yang dia mau?"
Luki menatap layar ponselnya sekali lagi, membaca pesan yang membuat rahangnya mengeras dengan kemarahan yang jarang sekali ia tunjukkan sejelas ini.
"Dia bilang," kata Luki pelan, "dia siap 'bernegosiasi' soal Indra. Tapi hanya kalau saya datang sendirian, malam ini juga, ke tempat yang ia tentukan."