NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGADILAN DI BAWAH REMBULAN MUSIM GUGUR

Alunan musik kecapi dan suling bambu terdengar syahdu dari Aula Emas Tengah Malam, tempat Perjamuan Agung Musim Gugur Kekaisaran Han dilangsungkan.

Ratusan meja giok dipenuhi hidangan mewah dan arak buah yang disajikan oleh para dayang berbusana sutra indah. Di atas tahta naga, Kaisar Han duduk dengan wibawa mutlak, didampingi oleh Permaisuri yang memancarkan keanggunan tirani di sebelahnya.

Shen Meili, sang Putri Ketiga, duduk di barisan depan faksi keluarga kekaisaran. Meskipun wajahnya tersenyum anggun saat meminum araknya, jemarinya terus meremas saputangan sutranya dengan gelisah. Matanya berulang kali melirik ke arah pintu aula yang masih tertutup rapat.

“Mengapa belum ada kabar dari Faksi Belati Beracun? Jalang dari barat itu seharusnya sudah menjadi mayat yang membusuk di hutan bambu sekarang,” batin Meili dengan perasaan cemas yang kian memuncak.

Tepat saat musik istana mencapai puncaknya, pintu gerbang Aula Emas tiba-tiba dibuka paksa dari luar dengan bunyi berdentum keras.

Keheningan seketika menyergap seluruh ruangan. Para pejabat tinggi, pangeran, dan putri istana serentak menoleh ke arah pintu.

Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa memecah keheningan. Li Feng berjalan memimpin di depan, mengenakan baju zirah militernya yang masih ternoda oleh cipratan darah segar. Wajah sang jenderal muda tampak kaku, hitam oleh kemarahan yang tak tertahankan.

Di belakang Li Feng, beberapa pengawal militer menyeret tubuh seorang pria bertopeng kain hitam yang tangannya telah dirantai besi. Dan di samping mereka, melangkah Gu Rulan /Shen Xianle.

Malam ini, Rulan tampak sangat menyedihkan namun tetap memukau. Jubah hijau mudanya yang indah tampak robek di bagian lengan, memperlihatkan sedikit balutan kain kasa putih yang ternoda darah.

Rambutnya yang semula tertata rapi kini agak berantakan, dan wajahnya yang seputih porselen tampak pucat pasi, memancarkan aura seorang dewi yang baru saja lolos dari badai kehancuran.

"Apa-apaan ini, Jenderal Li?! Bagaimana bisa kau membawa tahanan berdarah dan membuat kekacauan di tengah Perjamuan Agung?!" seru Perdana Menteri Shen, ayah dari Permaisuri, sembari berdiri dari kursinya dengan wajah murka.

Li Feng tidak memedulikan teguran itu. Ia langsung melangkah ke tengah aula, lalu berlutut dengan satu kaki menghadap ke arah Kaisar Han di atas tahta.

"Mohon ampun, Yang Mulia Kaisar!" suara bariton Li Feng menggema tegas di seluruh penjuru aula.

"Hamba terpaksa menyela perjamuan karena baru saja menggagalkan sebuah konspirasi pembunuhan keji di wilayah ibu kota. Nona Gu Rulan, tamu kehormatan dari wilayah barat yang membawa kontribusi besar bagi militer kita, telah disergap oleh pembunuh bayaran dari Faksi Belati Beracun di hutan bambu gerbang barat!"

Mendengar kata "Faksi Belati Beracun" dan "pembunuhan", bisik-bisik ketakutan dan keterkejutan langsung meledak di antara para pejabat.

Kaisar Han mengerutkan dahinya, tatapannya yang tajam beralih ke arah Rulan yang kini ikut berlutut dengan tubuh yang bergetar pelan di samping Li Feng. "Nona Gu, apakah laporan Jenderal Li benar? Siapa yang berani menyentuh tamu kekaisaran di malam festival suci ini?"

Rulan mengangkat wajahnya perlahan, sepasang matanya yang jernih kini dipenuhi air mata yang mengalir di pipinya sebuah akting sempurna yang mampu meremukkan hati siapa pun yang melihatnya.

"Benar, Yang Mulia Kaisar," ucap Rulan dengan suara yang bergetar halus bagai denting senar yang rapuh. "Pelayan rendah ini hanya berniat menghadiri perjamuan untuk mempersembahkan bakti dari wilayah barat. Namun, di tengah jalan, kereta kami diserang secara kejam.

Jika bukan karena pertolongan tepat waktu dari Jenderal Li, pelayan ini pasti sudah mati tanpa tahu apa kesalahan yang telah saya perbuat di kota yang megah ini..."

"Jenderal Li!" Kaisar Han menggebrak sandaran tahta naganya, membuat cawan-cawan giok di meja bergetar. "Siapa dalang di balik serangan ini? Katakan, dan Aku akan mengeksekusi seluruh sembilan keturunannya!"

Li Feng menegakkan punggungnya, lalu mengarahkan telunjuknya langsung ke barisan depan keluarga kekaisaran, tepat ke arah tempat duduk Shen Meili. "Dalang dari semua ini adalah tunangan hamba sendiri... Putri Ketiga, Shen Meili!"

Blar!

Tuduhan itu bagaikan sambaran petir yang meruntuhkan ketenangan aula. Wajah Shen Meili seketika berubah pucat pasi bagai mayat.

Ia langsung berdiri dari kursinya, tangannya gemetar hebat. "Li Feng! Berani-beraninya kau memfitnahku di hadapan Ayahanda Kaisar?! Kau sudah gila karena tergoda oleh jalang dari barat itu?!"

"Hamba tidak memfitnah, Yang Mulia Putri!" potong Li Feng dengan nada dingin yang kejam.

"Pembunuh yang hamba seret ini adalah pemimpin pasukan penyerang. Di bawah interogasi militer, ia telah mengaku bahwa mereka menerima seratus keping emas dan stempel kediaman Putri Ketiga sebagai jaminan pembayaran!"

Pengawal Li Feng melemparkan sebuah kantong sutra merah dan sebilah belati berstempel resmi ke tengah lantai aula. Stempel itu adalah lambang pribadi milik Shen Meili yang tidak bisa dipalsukan oleh siapa pun.

Permaisuri yang duduk di sebelah Kaisar langsung mengubah raut wajahnya. Ia menyadari situasi ini telah berbalik menjadi bencana bagi faksinya. "Yang Mulia Kaisar, ini pasti sebuah jebakan! Meili adalah seorang putri yang dibesarkan dengan kebaikan, bagaimana mungkin dia mengenal organisasi pembunuh seperti itu? Pasti ada faksi lain yang mencoba memecah belah aliansi kita!" Permaisuri mencoba membela anaknya sembari melirik tajam ke arah Rulan.

Namun, keserakahan dan ketakutan Li Feng akan kehilangan pasokan tiga ribu kuda perang barat jauh lebih besar daripada kesetiaannya pada aliansi politik lamanya. Li Feng tahu, jika ia tidak membersihkan namanya sekarang dan membela Rulan, kontrak monopoli militer terbesar itu akan lenyap dari tangannya.

"Permaisuri yang agung," ucap Li Feng dengan nada menantang yang jarang ia tunjukkan sebelumnya. "Bukti stempel dan kesaksian hidup ada di sini.

Jika Putri Ketiga merasa tidak bersalah, mengapa stempel pribadinya bisa berada di tangan seorang pembunuh bayaran? Tindakan kekanak-kanakan Putri Ketiga yang didasari oleh rasa cemburu buta ini telah membahayakan hubungan diplomatik dan pasokan militer kekaisaran!"

Kaisar Han menatap stempel di lantai, lalu beralih menatap Shen Meili yang kini sudah berlutut ketakutan sambil menangis di lantai aula. Kemarahan Kaisar bukan hanya karena tindakan kriminal tersebut, melainkan karena kebodohan Meili yang melakukan tindakan serendah itu tepat di bawah hidungnya dan merusak reputasi kekaisaran di hadapan perwakilan wilayah barat.

"Cukup!" bentak Kaisar Han, suaranya menggelegar membuat seluruh aula kembali hening mencekam. "Shen Meili... kau telah mencoreng darah kekaisaran yang mengalir di tubuhmu. Demi rasa cemburu yang dangkal, kau berani menyewa pembunuh bayaran di malam festival suci!"

"Ayahanda... tolong ampuni Meili... Meili dijebak!" tangis Putri Ketiga pecah, seluruh keangkuhan dan kemewahannya runtuh seketika di atas lantai dingin aula.

"Mulai malam ini, gelar Putri Ketiga milikmu dicabut untuk sementara! Kau akan dikurung di dalam Istana Dingin selama enam bulan untuk merenungkan kesalahanmu, dan seluruh pelayan di kediamanmu akan dihukum cambuk!" tegas Kaisar Han tanpa belas kasihan.

Kaisar kemudian menatap Li Feng. "Jenderal Li, mengenai pernikahanmu dengannya... Aku menundanya tanpa batas waktu sampai perangai wanita ini diperbaiki."

Mendengar keputusan penundaan pernikahan tersebut, sebuah senyuman kemenangan yang sangat tipis terukir di sudut bibir Rulan yang tersembunyi di balik lengan jubahnya.

Aliansi terkuat antara keluarga Jenderal Li dan faksi Perdana Menteri kini telah retak sepenuhnya di hadapan publik istana. Li Feng secara terbuka telah mengkhianati Shen Meili demi ambisi barunya, dan Meili kini diseret ke Istana Dingin tempat yang sama menyedihkannya dengan Paviliun Anggrek tempat Xianle menderita dulu.

Rulan perlahan melirik ke arah sudut balkon teratas aula yang gelap. Di sana, di balik tirai bambu yang samar, sesosok pria berpakaian hitam legam Long Junwei sedang mengangkat cawan araknya ke arah Rulan, memberikan penghormatan rahasia atas keberhasilan bidak catur terbaiknya malam ini.

Tahap pertama dari pembalasan dendam Shen Xianle telah selesai dengan sempurna. Teratai putih yang dulu diinjak-injak, kini telah kembali sebagai teratai hitam beracun yang siap meracuni seluruh fondasi kekaisaran.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!