Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Jalan Keluar
Pintu terbuka sebelum Sekar sempat mengulang perintahnya.
Wida berdiri di ambang, memandang tangan Rendra yang mengunci pergelangan istrinya. Ia tidak terkejut. Tidak pula menyuruh putranya melepaskan.
"Jangan membuat suara sampai terdengar pelayan," katanya.
Rendra akhirnya membuka genggaman.
Bekas jarinya tertinggal merah di kulit Sekar.
"Mulai besok, dia tidak boleh keluar sendirian," lanjut Wida. "Ponsel dan kartu keluarganya simpan dulu. Kalau pikirannya sudah jernih, kita bicara lagi."
"Mama tidak berhak menahan saya."
"Tidak ada yang menahanmu. Kami hanya menjaga agar kamu tidak dipengaruhi orang luar."
Sekar mengambil serpihan dokumen dari lantai. "Kalau pintu dibuka tetapi uang, kendaraan, dan telepon disita, namanya tetap penahanan."
Wida mendengus. "Lihat? Perempuan ini sudah menganggap keluarga sendiri musuh."
Rendra memejamkan mata. "Pulang ke kamar, Sekar. Jangan paksa aku melakukan hal yang lebih keras."
Sekar keluar tanpa menjawab. Di lorong, seorang petugas keamanan berdiri dekat tangga. Ketika ia sampai di paviliun, dua perempuan yang biasa membantu dapur sudah menunggu untuk mengambil ponsel dan kunci mobil.
Ia menyerahkan ponsel utama yang sudah dibersihkan dari berkas penting.
Ponsel cadangan tetap tersembunyi di lapisan tas mukena.
***
Tiga hari berikutnya, Paviliun Sekar berubah menjadi sangkar yang pintunya tidak pernah benar-benar dikunci.
Setiap kali ia berjalan ke taman, petugas keamanan ikut sepuluh langkah di belakang. Rekening bersama tidak bisa dipakai. Sopir mengatakan semua mobil sedang dibutuhkan keluarga. Bahkan paket obat dari rumah sakit dibuka Wida sebelum diserahkan.
Rendra tidak kembali. Ia tinggal di kamar Kirana dan mengirim pesan melalui Wida bahwa mereka akan bicara setelah Sekar tenang.
Sekar memakai waktu itu untuk menghafal jadwal penjagaan.
Pada sore ketiga, ia mengeluh nyeri perut dan meminta kontrol ke RS Medika Prima. Wida menolak pada awalnya, tetapi Sekar mengingatkan bahwa jika sesuatu terjadi setelah hasil sedatif tersebar, keluarga Danuwijaya akan lebih sulit menjaga nama baik.
Mereka mengizinkannya keluar dengan satu mobil dan dua pengawas.
Ningsih sudah menunggu di musala rumah sakit. Setelah salat, Sekar berganti kerudung dan masker, lalu keluar melalui pintu samping bersama rombongan jemaah perempuan. Ningsih mengulur waktu dengan menjatuhkan isi tas dekat pintu utama.
Lima menit kemudian, Sekar sudah berada di dalam mobil daring menuju sebuah warung kopi kecil di belakang masjid tua.
Seorang lelaki lanjut usia duduk di sudut paling jauh. Rambutnya putih seluruhnya, tetapi punggungnya masih tegak. Ketika Sekar melepas masker, cangkir di tangannya bergetar.
"Mbak Sekar?"
Sekar mengenali wajah itu dari foto-foto lama di rumah Eyang Wiryo. "Pak Djoyo."
Lelaki tua itu berdiri dan menundukkan kepala. Matanya langsung merah.
"Saya menunggu bertahun-tahun. Saya takut tidak sempat menyerahkan amanat Eyang."
"Mama bilang Eyang meninggalkan jalan keluar untuk saya."
Pak Djoyo menyuruhnya duduk, lalu memesan teh panas agar percakapan mereka tidak menarik perhatian. Dari saku dalam jaketnya, ia mengeluarkan sebuah amplop kusam.
Di dalamnya ada kunci kuningan, salinan sertifikat Vila Reksonegoro, dan sebuah surat tulisan tangan.
Sekar menyentuh tanda tangan Eyang Wiryo di bagian bawah. Tenggorokannya tercekat.
"Vila di Puncak tidak pernah masuk harta bersama orang tua Mbak atau pernikahan Mbak," jelas Pak Djoyo. "Hak itu dikunci melalui wasiat dan struktur kepemilikan keluarga. Pak Bambang berkali-kali mencoba mengubah pengelolaan, tapi tidak bisa menjualnya."
"Lalu saham Reksa Group?"
"Sebagian masih berada dalam perwalian yang harus berakhir ketika syarat tertentu dipenuhi. Sebagian lain sudah diencerkan melalui transaksi yang sangat meragukan. Pak Bambang bekerja sama dengan orang dalam perusahaan dan pihak Danuwijaya."
Pak Djoyo membuka satu lembar bagan kepemilikan. Garis-garis merah menandai perpindahan saham melalui perusahaan cangkang. Di bagian bawah, nama Astarasa muncul sebagai usaha restoran dan hotel yang masih menghasilkan keuntungan, tetapi dividennya terus dialihkan sebagai biaya pengelolaan.
"Astarasa seharusnya membiayai pemeliharaan aset keluarga," katanya. "Tiga tahun terakhir, uangnya masuk ke proyek yang tidak pernah disetujui ahli waris."
"Berapa besar kerugiannya?"
"Saya belum berani memberi angka sebelum audit. Namun cukup besar untuk membuat mereka takut kalau Mbak meminta laporan lengkap."
Sekar memotret bagan itu dengan ponsel cadangan, lalu mengirimnya langsung kepada Ningsih. Nama-nama perusahaan terasa asing, tetapi polanya mudah dipahami: keuntungan keluar, utang tinggal, kendali perlahan berpindah.
Ini bukan kekacauan rumah tangga. Seseorang telah memakai pernikahannya sebagai penutup bagi pencurian yang berlangsung bertahun-tahun.
"Siapa orang dalam itu?"
"Saya belum membawa semua nama. Terlalu berbahaya kalau dokumen ini jatuh ke tangan orang yang mengikuti Mbak."
Pak Djoyo mencondongkan tubuh. "Yang terpenting, hak atas paten teknologi inti dan rahasia dagang tidak pernah berpindah. Mereka membutuhkan tanda tangan ahli waris untuk menguasainya secara penuh."
Sekar teringat surat persetujuan yang disodorkan, rekening yang diblokir, dan ancaman Rendra bahwa seluruh hidupnya berada di rumah Danuwijaya.
"Itu sebabnya mereka tidak mau saya bercerai."
"Kemungkinan besar. Selama Mbak terisolasi, mereka bisa membuat setiap tanda tangan terlihat sukarela."
Ningsih masuk ke warung beberapa menit kemudian. Napasnya terengah.
"Pengawas sudah sadar Mbak tidak ada di ruang periksa. Kita punya waktu paling banyak dua puluh menit."
Pak Djoyo mendorong kunci ke telapak Sekar. "Pergilah ke vila. Di sana ada salinan buku saham, arsip Astarasa, dan surat-surat yang tidak berhasil mereka ambil. Saya masih menjaga tempat itu."
"Kalau saya pergi sekarang, mereka akan mengejar."
"Mereka akan mengejar kapan pun. Bedanya, di sana Mbak punya pintu yang kuncinya milik Mbak sendiri."
Sekar menutup jari di sekeliling kunci. Logam tua itu menekan kulit, berat dan nyata.
Selama ini ia membayangkan keluar dari rumah Danuwijaya sebagai terjun ke ruang kosong. Ternyata Eyang Wiryo telah membangun pijakan jauh sebelum ia tahu akan membutuhkannya.
"Apa yang harus saya siapkan?"
Pak Djoyo tersenyum untuk pertama kali. "Bawa bukti yang paling penting. Tinggalkan barang yang bisa dibeli lagi. Jangan beri tahu siapa pun kapan berangkat."
Ningsih meletakkan helm cadangan di kursi. "Kita harus kembali sekarang agar mereka tidak memperketat penjagaan malam ini."
Sekar menyimpan kunci di balik pakaian, tepat di bawah liontin patah.
Sebelum keluar, ia menatap Pak Djoyo. "Saya tidak hanya ingin berlindung. Saya ingin tahu apa yang mereka ambil dari keluarga Mama."
"Kalau begitu, Eyang tidak salah memilih pewaris."
Di luar, azan sore mengalun dari masjid. Sekar menarik masker dan berjalan kembali menuju kendaraan Ningsih.
Ia masih harus kembali ke sangkar selama beberapa hari.
Namun sekarang, sebuah kunci berada di tangannya.
Dan di Puncak, pintu yang tidak bisa dikendalikan Danuwijaya sedang menunggu untuk dibuka.