NovelToon NovelToon
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).

Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.

Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.

Sampai mereka tau sisi lainnya.

Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:

"Apa mau main?"

Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - ANALISIS SISTEM YANG BUNGKAM

BAB 8 - ANALISIS SISTEM YANG BUNGKAM*

Perjalanan pulang dari kediaman utama keluarga Wijaya menuju penthouse Kuningan terasa berkali-kali lipat lebih mencekam daripada saat mereka berangkat tadi sore.

Di dalam kabin Toyota Alphard hitam yang melaju tenang menembus aspal Jakarta, keheningan yang tercipta begitu tebal dan pekat. Aroma parfum mahal Dean yang berwangi wood maskulin dan tajam masih mendominasi udara, berpadu dengan hawa dingin AC mobil yang menusuk kulit. Di depan, Pak Rudi fokus mengemudi dengan pandangan lurus ke depan, sesekali melirik spion tengah dengan ekspresi canggung karena menyadari atmosfer di kursi belakang yang mendadak berubah drastis.

Sinta duduk bersandar di dekat jendela kiri, melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah berpaling menatap jalanan malam. Pipi dan lehernya yang semula merah padam karena malu, kini sudah berganti menjadi rahang yang mengeras karena dongkol setengah mati. Dia sengaja menggeser posisi duduknya sejauh mungkin hingga mepet ke pintu mobil, menciptakan jarak satu meter yang mutlak dari suaminya.

Sementara itu, Dean duduk di sisi kanan, meletakkan tablet peraknya di atas pangkuan. Untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, fokus seorang Dean Galang Wijaya terhadap laporan keuangan triwulan perusahaan benar-benar buyar total. Wajahnya tetap lempeng tanpa ekspresi seperti patung manekin, namun matanya sesekali melirik ke arah siluet istrinya yang membisu.

Di balik ketenangan wajah papan pengumumannya, sistem pemrosesan logika Dean sedang mengalami kepanikan massal akibat mendadak kehilangan kendali atas respons sang istri.

*[POV DEAN]*

Detak jantung saya berada di angka sembilan puluh enam denyut per menit, di atas standar istirahat saya yang biasanya stabil. Berdasarkan parameter visual dan analisis gestur sejak kami meninggalkan ruang makan Mama dua puluh empat menit lalu, Nona Sinta sedang melakukan aksi mogok bicara atau 'silent treatment'.

Dia menggeser poros tubuhnya menjauhi saya sejauh sembilan puluh delapan sentimeter, melipat tangan sebagai bentuk pertahanan psikologis, dan menolak melakukan kontak mata sekecil apa pun.

Saya sudah meninjau ulang seluruh kalimat yang saya ucapkan di meja makan tadi secara kronologis. Laporan yang saya berikan kepada Mama mengenai frekuensi hubungan dan tidak adanya penggunaan alat pengaman adalah seratus persen akurat, berbasis data medis yang valid, dan sangat transparan demi efisiensi komunikasi keluarga. Tidak ada satu pun kesalahan logika dalam struktur kalimat saya.

Lalu, mengapa dia mendiamkan saya? Apakah ada gangguan pada sistem saraf emosionalnya akibat salah mencerna potongan daging steak tadi? Ini tidak logis. Saya harus meminta konfirmasi demi mengembalikan stabilitas operasional domestik kami malam ini.

Dean berdeham pelan, memecah kesunyian di antara mereka dengan suara berat andalannya yang datar. "Nona Sinta."

Sinta tidak bergerak satu senti pun. Jangankan menyahut, melirik pun tidak. Dia tetap menatap lampu-lampu jalanan metropolitan yang berkelebat di luar jendela, berpura-pura tuli dengan sangat anggun.

Dean menaruh tabletnya di samping kursi, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah kiri, mempersempit jarak di antara mereka. "Nona Sinta, saya mendeteksi adanya perubahan signifikan pada respons interpersonal kamu sejak dua puluh empat menit yang lalu. Jika ada ketidaknyamanan fisik atau ketidakpuasan terhadap menu makan malam tadi, tolong sampaikan secara verbal. Diam seperti ini sangat tidak efisien untuk komunikasi kita."

Mendengar kata "tidak efisien" dan "secara verbal" keluar dari mulut pria kaku itu, pertahanan jaim Sinta langsung retak. Sifat aslinya yang "toa masjid" mendadak meronta-ronta ingin tertawa sekaligus gemas setengah mati karena ke-kaku-an suaminya yang luar biasa ajaib ini.

Sinta meremas tas tangannya kuat-kuat, menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh lambat-lambat ke arah Dean. Dia sengaja memasang senyum paling anggun, paling manis, dengan tatapan yang dibuat se-lempeng mungkin. Sinta sengaja meniru intonasi bicara robotik Dean, lengkap dengan struktur bahasa kaku andalan suaminya untuk meledek pria itu habis-habisan.

"Saya sama sekali tidak apa-apa, Pak Dean," jawab Sinta dengan nada bicara datar yang dibuat-buat, meniru persis gaya bicaranya seolah-olah dia sedang membacakan pengumuman resmi perusahaan. "Berdasarkan analisis pribadi saya, saya hanya sedang melakukan optimalisasi terhadap energi vokal saya. Hal ini bertujuan agar besok pagi saya dapat bertugas di rumah sakit dengan performa fisik yang maksimal dan tingkat produktivitas seratus persen, sesuai dengan standar efisiensi yang Anda terapkan dalam rumah tangga ini."

Setelah mengucapkan kalimat sindiran maut yang menjiplak habis gaya bahasa suaminya itu, Sinta langsung kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela dengan cepat, mengakhiri sesi obrolan secara sepihak dan kembali bungkam total.

Dean mengerjap dua kali. Pria kaku itu benar-benar tertegun di tempat duduknya, menatap profil samping wajah istrinya dengan mata yang sedikit melebar. Otak korporatnya yang biasa sanggup menyelesaikan masalah penggabungan perusahaan multinasional dalam waktu singkat, malam ini mendadak mengalami error sistem yang parah. Dia menangkap jelas bahwa Nona Sinta baru saja mengembalikan seluruh kosakata bisnisnya langsung ke wajahnya, tapi dia bingung apakah itu sebuah pujian karena istrinya memahami prinsipnya, atau justru sebuah ancaman bahaya bagi sisa malamnya di penthouse.

Di depan, Pak Rudi yang mendengar Sinta meniru gaya bicara bos besarnya dengan sangat sukses langsung tidak tahan lagi. Sang supir senior terpaksa batuk keras-keras untuk menutupi suara tawa ringkihnya yang hampir meledak hingga membuat bahunya bergetar hebat pelan. Pak Rudi tahu betul, bos mudanya yang jenius ini baru saja kalah telak dalam perdebatan tanpa kata melawan istrinya sendiri.

 

1
falea sezi
🤣🤣malu yeee q kirim hadiah biar up makin banyak🤣
falea sezi: lah kenapa libur thor🤭
total 2 replies
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha
🤭🤭🤭
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
🤣🤣 lempeng amat pakk dean🤭
falea sezi
nyimak bagus q kirim hadiah nih
Lea
Lanjut 🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
mamah fitri
wkwkwkw... asli ngakak dengan karakter pak Dean.. lucu banget sih ya🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭 jangan lupa like ya kak oh ya boleh kasih ulasan hehehe ... tar aku update sehari 1 bab dulu.. soalnya masih nulis yang Toxic and control juga...hehehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!