NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jifa Flora Dewi

Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.


Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : TABRAKAN DUA SERIGALA

Dinginnya dinding marmer di koridor Hotel Grand Velvet tak lagi sanggup mendinginkan kepala Azahra Aletta. Tubuhnya gemetar hebat, bertumpu pada lutut yang lemas. Di dalam dadanya, rasa panik bergulung bagaikan gelombang pasang yang siap meremukkan seluruh kesadarannya.

Clarissa Vance telah melempar bom. Foto dirinya bersama Ethan Austin di karpet merah sudah terkirim ke ponsel James Daniel. Dan dalam hitungan menit, sang CEO bersuara berat yang otoriter itu akan menyeberangi kota, membawa amarah murka yang pasti akan menghancurkan hidup Azahra tanpa sisa.

Lari.

Satu kata itu terngiang berulang kali di benak Azahra. Ia harus pergi sekarang juga. Ia harus melepas gaun sutra mahal ini, meninggalkan perhiasan berlian Ethan, membuang kedua ponselnya, dan mengunci diri di kamar kos sebelum kedua pria itu menemukannya.

Azahra memaksa dirinya berdiri, menyapu air mata ketakutan dari pipinya. Namun, baru dua langkah ia membalikkan badan menuju pintu keluar darurat di ujung koridor, sebuah suara bernada dingin memotong niatnya.

"Kau mau ke mana, Azahra?"

Azahra membeku di tempat.

Ethan Austin berdiri beberapa meter di belakangnya. Pria itu menyandarkan satu tangannya di saku kemeja tuxedo-nya, sementara mata kelabunya menatap Azahra dengan pandangan yang sangat menusuk. Tidak ada lagi senyum formal yang biasa ia tampilkan di depan media. Pria itu mengamati raut wajah Azahra yang pucat pasi dan bahunya yang naik turun tak teratur.

"Ethan..." bisik Azahra, suaranya nyaris hilang di udara.

"Saya menunggumu di dekat panggung selama sepuluh menit," ujar Ethan, melangkah mendekati Azahra dengan gerakan perlahan seperti seekor harimau yang sedang mengunci mangsanya. "Dan saat saya menyuruh asisten saya mencarimu, saya melihatmu berdiri gemetar di sini. Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu."

Azahra menelan ludah yang terasa sekeras batu. "Saya... saya mendadak merasa sangat tidak enak badan, Ethan. Bisakah kita meninggalkan acara ini sekarang? Tolong... bawa saya pergi dari sini."

Azahra memohon dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, rasa panik membuat pertahanan pragmatisnya hancur total. Ia benar-benar memohon agar Ethan membawanya pergi sebelum James tiba.

Ethan memicingkan mata, menangkap ketakutan murni yang terpancar dari mata gadis itu. Bukannya kasihan, kejanggalan dalam sikap Azahra justru makin memicu kecurigaan dalam benak Ethan yang penuh perhitungan.

"Kakek saya baru saja akan mengumumkan pertunangan resmi kita di atas panggung lima menit lagi, Azahra," kata Ethan datar, jemarinya meraih pergelangan tangan Azahra dan meremasnya pelan. "Kita tidak akan pergi ke mana-mana sampai acara ini selesai."

"Ethan, tolong! Saya mohon—"

"Cukup, Azahra," potong Ethan tegas, tidak memberikan ruang untuk bantahan sedikit pun. Pria itu memutar tubuh Azahra dan membimbingnya kembali ke arah pintu geser raksasa yang menghubungkan koridor dengan ballroom utama. "Simpan dramamu. Kau adalah tunanganku malam ini, dan kau akan menjalankan peranmu sampai akhir."

Suasana di dalam Grand Ballroom masih riuh rendah oleh suara denting gelas anggur, alunan musik orkestra, dan percakapan para pengusaha papan atas. Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya keemasan yang mewah, menyilaukan mata Azahra yang kini merasa bagaikan seorang terpidana mati yang sedang digiring menuju tiang gantungan.

Ethan membimbingnya berdiri di dekat tangga menuju panggung utama, di mana Edward Austin—sang kakek—sedang berbincang dengan beberapa pejabat tinggi.

Azahra berdiri di samping Ethan dengan tubuh kaku. Setiap detik yang berputar terasa seperti siksaan tak bertepi. Matanya terus melirik ke arah pintu masuk utama ballroom, berharap ada keajaiban yang menahan kedatangan James.

Namun, keajaiban tidak pernah memihak pada orang yang bermain api.

Pukul 09.10 malam.

Pintu ganda berbahan kayu jati tebal di pintu masuk utama ballroom mendadak terdorong terbuka dengan kasar. Suara benturan pintu dengan dinding bergaung cukup keras, sanggup membungkam alunan musik orkestra selama beberapa detik.

Beberapa petugas keamanan hotel mencoba menghalangi, tetapi sosok pria yang melangkah masuk memancarkan aura kegelapan dan amarah yang begitu dahsyat hingga tak ada satu pun satpam yang berani memegang tubuhnya.

James Daniel telah tiba.

CEO Daniel Corporation itu melangkah masuk tanpa setelan jas formal. Kemeja putihnya yang tergulung hingga siku tampak sedikit kusut, kancing teratasnya terbuka, memamerkan urat-urat lehernya yang bertonjolan akibat amarah yang membakar dada. Matanya yang biasanya tenang dan tajam kini memerah pekat, dipenuhi murka yang sanggup melumat apa saja di hadapannya.

Di tangannya, ponsel pintarnya masih menyala, menampilkan foto Azahra Aletta yang sedang dirangkul mesra oleh Ethan Austin.

Para tamu undangan di dalam ballroom mulai berbisik-bisik. Kedatangan seorang CEO raksasa bisnis dalam kondisi seperti itu jelas merupakan skandal yang siap meledak. Di sudut ruangan, Clarissa Vance berdiri menepi sambil memegang gelas anggurnya, menyunggingkan senyum iblis penuh kepuasan melihat rencananya berjalan begitu sempurna.

"James..." bisik Azahra pelan. Seluruh sendi di tubuhnya terasa melumpuh seketika saat pandangan mata James terkunci padanya.

Ethan yang merasakan perubahan sikap Azahra melirik ke arah pintu masuk. Alisnya bertaut tajam saat melihat James Daniel—saingan bisnis terberatnya di sektor properti—melangkah lurus ke arah mereka dengan tatapan membunuh.

"Apa yang dilakukan CEO Daniel Corp di acara privat Austin Group?" gumam Ethan dingin, melangkah satu senti ke depan untuk menghalangi pandangan James dari Azahra.

Namun James tidak memedulikan etika bisnis atau pandangan ratusan pasang mata yang kini tertuju padanya. Langkah kakinya yang lebar dan mantap dengan cepat mengikis jarak di antara mereka. Begitu sampai di hadapan Ethan dan Azahra, James tidak berhenti.

Dengan satu gerakan cepat dan kasar, tangan kekar James terulur, menyambar pergelangan tangan kiri Azahra dan menarik gadis itu keluar dari balik punggung Ethan!

"Aah!" Azahra menjerit pelan saat tubuhnya terhentak ke depan.

Seketika itu juga, refleks perburuan Ethan bangkit. Tangan kanan Ethan langsung menyambar lengan kanan Azahra, menahannya dengan kekuatan penuh hingga tubuh Azahra kini berada tepat di tengah-tengah tegangnya cengkeraman kedua pria dominan tersebut.

Suasana di dalam ballroom mendadak hening total. Bahkan orkestra pun berhenti bermain. Ratusan tamu undangan menahan napas menyaksikan dua konglomerat muda paling berkuasa di kota ini sedang saling cengkeram atas seorang gadis biasa.

"Lepaskan tanganmu dari wanita saya, James," suara Ethan bergaung rendah, sangat dingin, namun dipenuhi ancaman mematikan. Mata kelabunya berkilat membahayakan.

James menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan amarah. Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Azahra tidak memudar sedikit pun. "Wanitamu? Kau bercanda, Ethan? Gadis ini adalah kekasih saya dan asisten pribadi saya di Daniel Corp!"

Kasak-kusuk terkejut langsung membahana di seluruh ruangan. Edward Austin yang berdiri di panggung utama mengerutkan kening mendalam, sementara para wartawan yang menyusup di antara tamu undangan mulai menyalakan kamera mereka secara tersembunyi.

"Gadis ini adalah tunangan resmi saya," sahut Ethan tanpa keraguan, suaranya tetap tenang meski urat di pelipisnya mulai menegang. "Kami memiliki perjanjian hukum yang sah yang ditandatangani minggu lalu. Apapun ilusi yang kau miliki tentang dirinya di kantormu, tidak ada hubungannya dengan saya."

"Perjanjian hukum?" James tertawa keras—sebuah tawa dingin yang tak sedikit pun menyentuh matanya. Ia mengangkat ponselnya dengan tangan yang bebas, lalu melemparkan layar ponsel tersebut tepat ke arah wajah Ethan. "Lihat ini, Ethan! Wanita ini menandatangani kontrak sebagai kekasih saya lima hari yang lalu dengan bayaran ratusan juta rupiah dari rekening pribadi saya! Dia membohongiku, dan dia menggunakan uangmu serta uangku untuk permainan gilanya!"

BOM!

Pengakuan James menghantam ruangan itu seperti ledakan nuklir.

Azahra memejamkan mata rapat-rapat. Air mata ketakutan dan rasa malu akhirnya menetes menembus pipinya. Seluruh rahasianya, kebohongannya, dan motivasi finansialnya telah ditelanjangi secara brutal di hadapan ratusan orang berkuasa.

Ethan menatap layar ponsel James. Di sana terpampang foto-foto dokumen perjanjian antara Azahra dan James Daniel yang sempat difoto oleh Clarissa Vance, lengkap dengan tanda tangan Azahra di atas materai.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Ethan Austin, Azahra melihat topeng dingin pria itu hancur.

Wajah Ethan membeku. Raut ketenangannya menghilang, berganti dengan kilat amarah murni yang jauh lebih mengerikan daripada murka James. Ego, gengsi, dan rasa dominasi Ethan Austin sebagai seorang pria dari kasta tertinggi telah diinjak-injak oleh gadis biasa yang ia pikir "mudah diatur".

Ethan perlahan memalingkan pandangannya dari ponsel James, menatap Azahra yang sedang tertunduk menangis di antara cengkeraman mereka berdua.

"Jadi..." suara Ethan terdengar begitu pelan, tetapi sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "...aroma parfum leather dan tobacco malam itu... adalah milik James Daniel?"

Azahra tak sanggup menjawab. Ia hanya bisa terisak pelan, tubuhnya berguncang hebat.

"Jawab saya, Azahra!" bentak Ethan, suaranya meledak memecah keheningan ballroom, membuat beberapa wanita sosialita di dekat mereka terlonjak kaget.

"Maaf... maafkan saya..." cicit Azahra di antara isak tangisnya. "Saya... saya salah. Saya hanya butuh uang untuk melunasi utang-utang ibu saya... Saya tidak bermaksud permainan ini jadi seperti ini... Tolong... lepaskan saya! Batalkan saja semua kontraknya, ambil kembali uang kalian! Lepaskan saya!"

Azahra mencoba menarik kedua tangannya dari cengkeraman Ethan dan James, berharap kebohongannya yang terbongkar akan membuat kedua pria kaya ini merasa jijik dan membuangnya seketika.

Clarissa Vance di sudut ruangan tersenyum makin lebar. Ya, buang wanita murahan itu! Hancurkan dia! batin Clarissa penuh kemenangan.

Namun... apa yang terjadi selanjutnya justru melenceng jauh dari dugaan Clarissa, Azahra, maupun semua orang di ruangan itu.

James Daniel tidak melepaskan cengkeramannya. Pria itu justru menarik tubuh Azahra makin rapat ke sisinya, menatap Ethan dengan pandangan penuh permusuhan dan obsesi murni.

"Ambil kembali uang kami?" bisik James, suaranya serak oleh rasa kepemilikan yang terlanjur membakar dadanya. "Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah masuk ke dalam hidupku, Azahra? Kau sudah menandatangani perjanjian denganku. Kau milikku, di dalam maupun di luar kantor."

Ethan menyunggingkan senyum miring yang sangat membahayakan. Cengkeraman tangannya di pergelangan kanan Azahra justru makin mengencang, menolak untuk memberikan satu mili pun wilayah kekuasaannya kepada James.

"Kau salah besar, James," kata Ethan dengan nada dingin yang sarat akan deklarasi perang. "Perjanjian pertunanganku dengannya memiliki kekuatan hukum mutlak di mata keluarga Austin. Dia mungkin membohongiku tentangmu, tapi statusnya sebagai tunanganku sudah dipublikasikan ke seluruh media malam ini."

Mata James memicing tajam. "Saya tidak peduli dengan publikasimu! Dia kekasihku, dan saya yang memegang kendali atas dirinya!"

"Uji saja batasan saya, James," tantang Ethan, melangkah satu senti lebih dekat hingga kedua pria dominan itu kini saling berhadapan dengan dada yang nyaris bersentuhan, sementara Azahra terjebak rapat di antara mereka. "Saya akan mengerahkan seluruh tim hukum dan pengaruh Austin Group untuk memastikan kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya lagi."

"Dan saya akan menghancurkan setiap proyek properti Austin Group jika kau mencoba merebut apa yang sudah menjadi milikku!" balas James tanpa rasa gentar sedikit pun.

Azahra menatap kedua pria itu dengan pandangan tak percaya di balik selaput air matanya.

Mereka tidak membuangnya. Mereka tidak merasa jijik lalu mengusirnya.

Gengsi, ego yang terluka, rasa penasaran yang terlanjur dalam, serta rasa posesif yang terpicu oleh persaingan bisnis bertahun-tahun justru membakar obsesi Ethan dan James ke tingkat yang sangat berbahaya. Rahasia yang terkuak bukannya membebaskan Azahra, melainkan mengubah posisi Azahra dari sekadar "pasangan sewaan" menjadi sebuah objek perebutan yang harus dimenangkan secara mutlak oleh kedua serigala tersebut.

"Cukup!"

Suara dentukan tongkat kayu berujung perak bergaung keras di atas panggung. Edward Austin melangkah turun dengan raut wajah sangat murka. Beberapa pengawal bersetelan hitam langsung bergerak cepat, memisahkan kerumunan tamu dan memblokir para wartawan yang mencoba mengarahkan kamera.

"Bawa gadis itu dan kedua pria bodoh ini ke ruangan privat sekarang!" perintah Edward dengan nada yang tak menerima penolakan. "Sebelum keluarga kita menjadi lelucon di seluruh koran besok pagi!"

para pengawal segera mengelilingi mereka. James dan Ethan secara bersamaan melepaskan cengkeraman mereka dari tangan Azahra, tetapi pandangan mata kedua pria itu tetap terkunci rapat pada wajah gadis yang memucat itu.

"Selesai acara ini, kau ikut denganku, Azahra," bisik James tegas tepat di samping telinganya.

"Kau tidak akan ke mana-mana tanpa izin saya, Azahra," timpal Ethan dingin dari sisi sebelahnya.

Azahra berdiri mematung di antara bayang-bayang kedua pria berkuasa itu. Saat ia dilangkahkan menuju ruangan privat di belakang panggung, Azahra melirik Clarissa Vance yang kini berdiri mematung dengan raut wajah syok—rencana Clarissa untuk menghancurkannya justru berbalik menjadi bencana yang membuat Ethan dan James makin terobsesi untuk memilikinya secara nyata.

Azahra memejamkan mata erat-erat, merasakan dingin yang menyusup ke dalam tulang-tulangnya. Permainan ganda yang ia ciptakan sendiri kini telah resmi berakhir, berganti menjadi sebuah perang terbuka yang jauh lebih berdarah... dan ia tahu, di akhir perang ini, tidak akan ada pemenang yang keluar tanpa luka.

1
Nisasaidatus
kaaa kenapa g lanjutt
Jifa Flora Dewi: terima kasih sudah menyukai cerita ini saya akan segera mengupdate bab selanjutnya terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Nisasaidatus
kaa Azahra ga beneran mati kan🥺
Nisasaidatus
kaaa kenapa Azahra meninggal 🥲
Nisasaidatus
lanjuttt kaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!