NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 — Jangan Pergi Sendirian

Tiga hari setelah operasi dua puluh sembilan tumor, Anindya mengundurkan diri.

Suratnya berada di meja Pak Hendra sebelum matahari terbit. Loker sudah kosong. Nomor ponselnya tidak aktif. Tidak ada pesan untuk Surya.

Ketika Surya pulang, beberapa pakaian Anindya yang biasa ditinggalkan setelah jaga malam sudah hilang. Obat cadangan dari lemari juga diambil. Hanya satu bungkus lolipop impor tertinggal di atas meja.

Di bawahnya ada catatan pendek.

Aku tidak bisa menyeretmu ke dalam penderitaanku.

Surya berdiri lama tanpa melepas sepatu.

Dia menelepon sekali. Dua kali. Dua puluh kali. Semua panggilan masuk ke pesan otomatis.

"Dia pergi karena mencintaimu," kata Bu Ratna ketika Surya kembali ke rumah sakit. "Bukan berarti caranya benar."

"Kalau dia mencintai saya, seharusnya dia membiarkan saya memilih."

Bu Ratna belum sempat menjawab ketika ambulans membawa seorang pria dengan perdarahan hebat akibat kecelakaan. Wajahnya berubah saat melihat identitas pasien.

"Dia mantan saya," katanya.

Pria yang sebelas tahun bersamanya sebelum hubungan hancur karena tuntutan keluarga kini terbaring tanpa sadar. Bu Ratna membeku satu detik, lalu memaksa dirinya memeriksa jalan napas.

"Saya tetap dokter," katanya, lebih kepada diri sendiri.

Surya mengambil alih kontrol perdarahan abdomen. Tim menemukan robekan limpa dan cedera pembuluh. Operasi darurat dilakukan tanpa membiarkan sejarah pribadi memengaruhi keputusan. Pasien selamat dan dipindahkan ke ICU.

Setelahnya, Bu Ratna duduk di tangga darurat dengan tangan gemetar.

"Saya kira kalau melihat dia lagi, saya akan marah," katanya. "Ternyata saat nyawanya hilang, yang saya pikirkan cuma bagaimana menghentikan darah."

"Perasaan bisa selesai. Tanggung jawab tidak."

Bu Ratna memandangnya. "Kalau begitu cari Anindya. Jangan gunakan pekerjaan untuk berpura-pura kamu baik-baik saja."

Pencarian dimulai lewat jalur yang sah. Farhan menghubungi kenalan keluarga tanpa menyebarkan diagnosis Anindya. Pak Hendra memeriksa alamat darurat yang memang diberikan Anindya kepada rumah sakit. Surya meminta bantuan polisi untuk memastikan keselamatan orang dewasa dengan penyakit kronis yang pergi sendiri.

Petugas yang menerima laporan bernama Arga Wicaksono.

Usianya belum tiga puluh, tetapi tatapannya membuat orang berhenti berbohong. Dia membaca surat pengunduran diri, catatan lolipop, dan waktu terakhir ponsel aktif.

"Dia pergi sukarela," katanya. "Kita tidak boleh memperlakukan dia seperti tahanan yang harus dibawa pulang. Saya bisa membantu memastikan dia aman. Setelah itu keputusan tetap miliknya."

Surya mengangguk. "Saya hanya ingin bicara langsung."

Arga melacak mobil melalui laporan lalu lintas yang sah dan menghubungi keluarga. Farhan mendapatkan informasi bahwa Anindya berada di sebuah rumah singgah keluarga di Batu. Tidak ada pembobolan data medis dan tidak ada penyergapan.

Surya menemukannya duduk di teras, memakai sweter meski udara tidak terlalu dingin.

Anindya tidak tampak terkejut. "Saya tahu kamu akan menemukan saya."

"Lalu kenapa membuat semua orang mencari?"

"Saya perlu pergi sebelum keberanian saya habis."

"Kamu mengambil hak saya memilih."

"Saya menyelamatkanmu dari hidup yang akan dipenuhi rumah sakit."

Surya tertawa tanpa rasa lucu. "Saya dokter IGD. Hidup saya sudah dipenuhi rumah sakit."

Anindya memalingkan wajah. "Nanti kamu akan lelah."

Surya tidak berlutut atau membuat janji kosong. Dia duduk di kursi sebelah dan memberi jarak.

"Mungkin saya lelah. Kamu juga mungkin lelah pada saya. Kalau hari itu datang, kita bicara. Bukan menghilang."

Anindya menggenggam lengan sweternya.

"Aku tidak peduli kamu sakit apa," lanjut Surya. "Aku akan berusaha menyembuhkanmu. Tapi bahkan sebelum saya bisa, kamu tetap berhak hidup, bekerja, marah, dan dicintai."

Air mata pertama jatuh tanpa suara.

"Kamu benar-benar bodoh."

"Itu sudah terukur. Penyakit Dalam saya cuma tiga."

Anindya tertawa di sela tangis, lalu mengulurkan tangan.

Surya menggenggamnya.

"Kita coba dengan jujur," kata Anindya. "Kalau flare datang, saya bilang. Kalau kamu takut, kamu juga bilang."

"Setuju."

Arga menunggu di luar pagar bersama Farhan. Ketika Surya dan Anindya keluar berdampingan, dia hanya mengangguk.

"Saya tidak perlu membawanya pulang paksa," kata Surya.

"Bagus. Saya polisi. Urusan mengantar pesan pacar tetap milikmu."

Kalimat itu membuat mereka bertiga tertawa. Sejak hari tersebut, Arga tidak lagi sekadar nama pada laporan. Dia masuk ke lingkaran Surya sebagai orang yang memahami batas, risiko, dan arti menemukan seseorang tanpa merampas kebebasannya.

Dua minggu kemudian, gempa mengguncang sebuah kabupaten di Jawa Timur. RSUD Dr. Soetomo mengirim tim medis. Surya, Anindya, Bu Ratna, dan Rizki masuk gelombang pertama; Arga bergabung dalam koordinasi keamanan dan evakuasi.

Di pos lapangan, alat terbatas dan korban terus datang.

Arga menjaga jalur ambulans tetap terbuka ketika warga yang panik memenuhi pintu tenda. Dia tidak menghardik mereka. Dia membagi antrean berdasarkan label triase yang diberikan tim medis dan menjelaskan kenapa korban merah harus lebih dulu.

"Anak saya menangis sejak tadi!" protes seorang ayah.

Anindya memeriksa cepat, memastikan jalan napas dan sirkulasi anak stabil, lalu memasang label kuning. "Tangisnya berarti udara masih masuk dengan baik. Kami tidak mengabaikannya. Pasien yang diam di sana justru sedang kehilangan darah tanpa bisa berteriak."

Ayah itu melihat korban pucat di brankar dan mundur. Arga menempatkan seorang relawan di samping anak tersebut agar kondisinya tetap dipantau.

Koordinasi itu mencegah tenda berubah menjadi kekacauan. Bu Ratna memimpin area kuning, Rizki menangani luka dan akses cairan, sementara Surya serta Anindya bergerak pada korban merah. Mereka tidak memiliki monitor untuk setiap pasien, sehingga waktu, nadi, kesadaran, dan warna kulit dicatat manual pada kartu yang diikat ke pergelangan.

"Di rumah sakit kita mengeluh komputer lambat," kata Rizki sambil menulis. "Di sini pulpen saja jadi barang mewah."

"Jangan hilangkan," jawab Bu Ratna. "Itu satu-satunya rekam medis pasienmu."

Seorang pemuda mengalami fraktur tungkai dengan deformitas berat. Surya melakukan reposisi manual untuk mengembalikan aliran darah sebelum memasang bidai.

Korban lain datang dengan luka paha dalam. Darah menyembur setiap tekanan dilepas.

"Arteri femoralis," kata Surya.

Di bawah lampu portabel, dia menjepit pembuluh dan menjahit robekan dengan bahan yang tersedia di kit bedah lapangan. Aliran distal kembali, tetapi tekanan darah pasien tetap jatuh.

"Ada sumber lain," kata Anindya.

Mereka memeriksa ulang seluruh tubuh. Anindya menemukan pembengkakan di panggul. Surya melakukan evaluasi cepat dan menyadari ada perdarahan tersembunyi dari cabang pembuluh lain.

Tekanan langsung, balutan pelvis, transfusi darurat, dan evakuasi cepat menghentikan penurunan. Pasien tiba di rumah sakit rujukan dengan nadi masih ada.

Malamnya, Surya duduk di tanah di luar tenda. Tangannya berdebu dan kaku.

Anindya menyandarkan kepala di bahunya.

Panel Level 10 muncul lagi.

『Penyembuhan Super tetap menjadi kemungkinan tunggal untuk penyembuhan penuh SLE.』

Jalan itu masih jauh.

Namun kali ini Anindya tidak menghilang, dan Surya tidak lagi mengejarnya sendirian.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!