Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Malam harinya, Tirta sampai di kediaman Marchel. Rumah yang layaknya rumah hantu itu kini terlihat terang, meski aura mistisnya masih sedikit terasa.
Gadis itu masuk tanpa ada yang menyambutnya. Arga sudah menjelaskan bahwa rumah ini tidak dihuni siapa pun selain Marchel. Kamarnya pun berada sangat jauh dari kamar pria itu atas permintaannya sendiri. Entah apa alasannya, tetapi Tirta sempat menyampaikan keinginannya kepada Arga.
Arga juga mengatakan bahwa rumah ini tidak memiliki bahan makanan apa pun. Bangunannya memang lengkap, tetapi dapurnya kosong. Namun, kamar yang akan ditempati Tirta sudah dilengkapi lemari pakaian, meja rias, dan kasur yang empuk.
Tirta sempat bertanya, bagaimana mungkin kamar itu bisa selengkap itu dalam waktu yang begitu mendadak? Bukankah tidak ada penghuni lain selain Marchel?
Pria itu sempat terlihat kelabakan mendengar pertanyaan tersebut. Jawaban yang ia berikan adalah dirinya sudah menghubungi ibunya dan meminta beliau menyiapkan satu kamar untuk Tirta. Sementara kamar-kamar yang lain masih kosong, hanya berisi beberapa barang pecah belah.
Memang Tirta meminta kamar yang letaknya jauh dari kamar Marchel. Namun, apa secepat itu ibu Arga bisa memindahkan semua perabotannya?
Setelah mengantar gadis itu masuk ke kamarnya, Arga segera berpamitan sebelum semakin banyak pertanyaan logis yang keluar dari mulut gadis jangkung itu. Bahkan dirinya takut salah bicara lagi dan langsung mati mengenaskan.
Malam itu berlalu dengan tenang. Tirta bahkan tidak bertemu dengan Marchel saat menghangatkan makan malam yang sempat ia bawa dari rumahnya. Tidurnya pun sangat lelap. Entah karena dirinya memang sangat kelelahan atau memang kamar itu senyaman itu.
Pagi harinya, Tirta memutuskan akan sarapan di luar sebelum berangkat ke kantor. Lagi pula, rumah ini sangat kosong dan tidak ada bahan makanan apa pun untuk dimasak, seperti yang dijelaskan Arga.
Gadis itu sudah selesai merapikan dirinya. Kini ia tampak cantik dengan celana panjang dan blus berwarna biru langit.
Riasan tipis di wajahnya membuat penampilannya terlihat segar dan manis.
Ceklek!
Saat membuka pintu kamar, ia melihat ibu Arga baru saja hendak meletakkan beberapa kotak makanan di atas kursi yang berada di teras.
“Selamat pagi, Nak. Maaf mengagetkanmu. Ini sarapan untuk Marchel dan untukmu. Ini hari pertamamu di sini, bukan? Selamat datang, ya.” Sapa ramah wanita paruh baya itu. Tirta mengangguk pelan karena memang dirinya sedikit terkejut melihat kehadiran wanita tersebut.
“Selamat pagi, Bu. Terima kasih. Tapi sepertinya Ibu lebih baik memberikannya langsung kepada Marchel. Aku juga berencana sarapan di luar.” Ucap gadis itu dengan sopan. Wanita itu hanya tersenyum lembut.
“Tidak ada yang bisa masuk ke rumah ini tanpa seizin Marchel. Jadi Ibu akan sangat berterima kasih kalau kamu mau mengantarkannya. Kalau tidak, taruh saja di depan pintunya. Nanti dia akan mengambilnya sendiri.” Ucap wanita itu lembut, lalu mengusap pelan pundak Tirta sebelum pergi.
Tirta terdiam dengan berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya. Dirinya bisa masuk ke rumah ini, bahkan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pria itu. Apa selama ini dirinya sebenarnya seperti pencuri yang bebas keluar masuk rumah orang?
Lalu makanan ini...
Tirta menatap kotak makanan yang berada di tangannya cukup lama sebelum menoleh ke arah lorong belakang. Apa pria itu benar-benar semenyedihkan ini? Bahkan dirinya diperlakukan layaknya seseorang yang mengidap penyakit menular. Tidak salah jika gadis sepolos Tirta berpikir demikian. Bahkan orang lain pun mungkin akan memiliki pemikiran yang sama jika berada di posisi itu.
Padahal semua benteng tinggi itu dibangun sendiri oleh Marchel. Pria itu sendiri yang membuat seolah-olah dirinya adalah manusia yang tidak bisa didekati oleh siapa pun. Gadis itu kembali masuk sambil membawa kotak makanan yang disiapkan untuk pria tersebut. Langkahnya menuju kamar pria yang masih mengurung diri itu, lalu tangan lentiknya mengetuk pintu dengan pelan.
Tok...
Tok...
Tok...
“Aku Tirta... membawakan sarapanmu." Ucapnya pelan. Namun, tidak ada sahutan dari dalam.
Sepertinya benar apa yang pernah dikatakan Arga. Setiap tanggal lima belas hingga dua puluh, pria itu tidak akan keluar dari kamarnya. Itu berarti hari ini adalah awal dari hari-hari tersebut.
“Aku taruh makanannya di luar, ya. Nanti dimakan. Aku berangkat kerja dulu... sampai jumpa.” Ucapnya sebelum meletakkan kotak makanan itu di depan pintu. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
Rasanya seperti sedang memberi makan seekor hewan yang dikurung di dalam kandang. Setelah itu Tirta pergi melewati taman menuju gerbang depan, sehingga ia tidak perlu melewati rumah utama.
Di depan gerbang ia bertemu dengan Arga beserta kedua orang tuanya yang sedang mengenakan pakaian serba hitam, seolah hendak pergi ke suatu tempat.
“Mau ke mana kalian?” Tanya Tirta sambil menghampiri mereka.
“Kami akan memperingati delapan tahun meninggalnya Rachel dan mendoakannya.” Meski tidak mengenal siapa Rachel, Tirta hanya mengangguk pelan.
“Kamu juga mau berangkat kerja? Apa Marchel sudah keluar dari kamarnya?” Tanya Arga penuh harap. Tirta menggeleng karena tahu pria yang dimaksud Arga.
Meski raut kecewa langsung menghiasi wajah pria itu, Tirta tidak bertanya lebih jauh Dirinya tidak ingin terlalu memedulikan seseorang yang bahkan tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.
Sejak pagi hingga Tirta kembali ke rumah itu sore harinya, kotak sarapan tersebut masih berada di tempat semula. Bahkan kini sudah ada dua kotak makanan lagi di depan pintu kamar Marchel. Sore itu Tirta tetap bersikap biasa saja. Ia membersihkan diri, lalu mulai menyiapkan makan malam.
Lampu di seluruh rumah masih menyala terang sehingga dirinya tidak lagi merasa takut ataupun khawatir dengan suasana gelap. Dengan mengenakan gaun tidur miliknya, Tirta sibuk di dapur membuat nasi goreng sosis dengan ayam suwir. Meski berkali-kali mengatakan dirinya tidak akan peduli, nyatanya sesekali ia tetap melirik ke arah kamar pria tersebut.
Bahkan saat makan pun, matanya terus mengawasi apakah pintu itu akan terbuka atau tidak.
“Ck! Kenapa aku tidak bisa benar-benar acuh, sih?” Gerutunya sambil menatap sepiring nasi goreng yang memang sengaja ia sisihkan untuk Marchel.
“Ini karena aku tinggal di rumahnya. Aku hanya sedang menjaga sopan santun, bukan?” Ucapnya lagi, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah bentuk ucapan terima kasih.
Berbekal pengalaman sebelumnya, kali ini Tirta tidak langsung membawa makanan itu ke depan pintu kamar. Ia takut tanpa sengaja membuat Marchel marah, lalu pria itu kembali melempar makanan yang sudah susah payah ia masak.
Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, gadis itu kembali mengetuk pintu kamar Marchel. Seperti tadi pagi, tidak ada sahutan sedikit pun dari dalam.
Namun, kali ini pikirannya justru dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk.
Bagaimana kalau pria itu benar-benar bunuh diri?
Bukankah Arga pernah mengatakan bahwa Marchel sempat beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya karena depresi?
Ceklek!
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜