Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Om Dokter Menyita Kelinci
Anak perempuan di atas ranjang tampak jauh lebih kecil daripada usianya.
Tubuhnya kurus, rambutnya dipotong sebahu, dan gelang pasien longgar di pergelangan. Begitu melihat Sebastian, wajahnya langsung cerah.
"Om Dokter!"
"Pagi, Nayla."
Sebastian mendekat dan menurunkan tinggi ranjang. Suaranya tidak selembut saat berbicara kepada Amaya, tetapi cara tangannya membetulkan selimut terlihat terbiasa.
Nayla memandang Amaya. "Ini istrinya Om Dokter, ya?"
"Bukan," jawab Sebastian terlalu cepat. "Dia rekan kerja."
"Tapi datang sama-sama."
"Rekan kerja memang bisa datang bersama."
"Om Dokter nggak pernah bawa rekan cantik."
Perawat membalik badan untuk menyembunyikan senyum. Amaya menatap Sebastian dengan wajah polos.
"Mungkin hari ini istimewa."
"Tidak," kata Sebastian. "Hari ini jadwal pemeriksaan."
Jawaban yang kaku membuat Nayla terkikik. Ketegangan di wajahnya berkurang sedikit.
Amaya menahan senyum. Orang yang tidak menyimpan apa pun biasanya tidak perlu menyangkal secepat itu.
"Cantik," kata Nayla.
"Terima kasih. Kamu juga cantik."
"Mama bilang aku kurus."
"Kurus juga bisa cantik."
Nayla tersenyum, lalu melirik troli tindakan. Senyumnya mengecil.
Seorang perawat memastikan identitas, formulir persetujuan yang sudah ditandatangani Bu Lastri, serta obat anestesi lokal. Ibu Nayla menunggu di luar karena anak itu meminta hanya Om Dokter yang menemaninya.
Sebastian tetap meminta perawat memanggil Bu Lastri untuk mengonfirmasi sekali lagi bahwa penjelasan, risiko, dan izin sudah dipahami. Setelah ibunya mengangguk dari pintu, barulah persiapan dilanjutkan.
Amaya mencatat urutannya. Identitas diperiksa dengan nama dan tanggal lahir, bukan hanya gelang. Tabung sampel diberi label sebelum tindakan, tetapi waktu aktual baru diisi setelah bahan diterima. Setiap langkah menjawab satu kekacauan dalam laporan lama.
"Hari ini kita lihat sumsum tulangnya," jelas Sebastian. "Rasanya akan sakit, tapi Om hitung sampai sepuluh. Kalau mau berhenti sebentar sebelum mulai, bilang."
"Kalau hasilnya bagus, aku boleh operasi?"
"Kalau semua pemeriksaan memenuhi syarat."
Nayla mengangguk serius.
Amaya berdiri di sisi yang tidak mengganggu area steril. Ia melihat Sebastian menjelaskan setiap langkah sebelum menyentuh. Tidak ada janji palsu bahwa tindakan tidak sakit.
Setelah anestesi bekerja, Sebastian mulai menghitung.
"Satu. Tarik napas. Dua. Lihat ke perawat. Tiga."
Jarum masuk dengan gerakan cepat dan pasti.
Jari Nayla mencengkeram seprai. Bibirnya tergigit sampai pucat, tetapi ia tidak menangis.
"Enam. Bagus. Tujuh. Sedikit lagi."
Nayla mengeluarkan suara kecil melalui hidung. Sebastian berhenti sepersekian detik untuk memastikan ia masih mampu melanjutkan.
"Mau jeda?"
Anak itu menggeleng kuat.
"Lanjut," katanya dengan suara bergetar.
"Delapan. Kamu lebih berani daripada banyak orang dewasa. Sembilan."
Pada hitungan sepuluh, sampel sudah masuk tabung dan jarum ditarik. Perawat menekan area tindakan lalu memasang balutan.
"Selesai," kata Sebastian.
Nayla mengembuskan napas panjang. "Aku hebat?"
"Sangat hebat."
Hasil cepat dari pemeriksaan pendukung menunjukkan indikator awal memenuhi batas untuk tahap operasi berikutnya. Jadwal final masih menunggu tim, tetapi Nayla sudah melewati satu pintu penting.
"Mama boleh masuk," kata perawat.
"Nanti. Aku mau kasih tahu Lulu dulu."
Nayla meraih kelinci kain tua di sisi bantal. Bulunya sudah kusam, satu mata kancing berbeda warna, dan telinga kiri hanya terhubung oleh beberapa helai benang.
Saat diangkat, benang itu putus lagi.
Telinga Lulu menggantung.
Wajah Nayla berubah. Anak yang baru menerima jarum tanpa suara tiba-tiba menangis keras.
"Lulu rusak!"
"Bisa diperbaiki," kata perawat.
"Nggak bisa! Ini dari Papa."
Ia mencoba menempelkan telinga itu sendiri, tetapi jari kecilnya gemetar. Air mata jatuh ke bulu kelinci yang sudah tipis.
"Papa kasih waktu aku ulang tahun," katanya di antara isak. "Papa bilang Lulu jaga aku kalau Papa kerja malam. Sekarang Papa nggak pulang, jadi Lulu harus tetap ada."
Amaya merasakan tenggorokannya mengencang. Bagi orang dewasa, itu hanya kain kusam. Bagi Nayla, benda tersebut adalah cara terakhir seorang ayah masih menepati janji.
Tangisnya semakin menjadi. Ayah Nayla telah meninggal, dan kelinci itu satu-satunya hadiah yang masih ia bawa ke setiap perawatan. Bu Lastri bekerja tiga pekerjaan dan sudah berkali-kali mencoba menjahitnya, tetapi kain lama terus robek.
Sebastian mengulurkan tangan. "Berikan kepada Om."
Nayla memeluk kelinci. "Jangan dibuang."
"Siapa bilang dibuang?"
"Kalau rusak, orang dewasa suka buang."
"Om pinjam."
"Berapa lama?"
"Sampai Om selesai."
"Om janji nggak ganti Lulu?"
Sebastian melihat mata kancing yang berbeda dan jahitan lama di tubuh kelinci. "Nggak diganti. Yang ini tetap Lulu."
Tanpa menjelaskan lebih banyak, Sebastian mengambil Lulu dengan hati-hati dan memasukkannya ke saku besar jas putih.
"Om perbaiki dulu."
Ia memberi instruksi singkat kepada perawat, lalu berjalan keluar.
Nayla masih terisak, memandang saku yang membawa satu-satunya peninggalan ayahnya pergi.
Amaya mengikuti Sebastian dengan kesal.
Pria itu bahkan tidak tinggal untuk menenangkan anak tersebut atau menjelaskan bagaimana kelinci tua akan diperbaiki.
Memang ia mengatakan akan memperbaiki, tetapi caranya membawa Lulu pergi terasa seperti menyita barang bukti. Wajahnya juga tetap sedingin saat memerintahkan staf memindahkan sampel.
Sedikit kelembutan rupanya terlalu mahal untuk ditunjukkan.
Jangan-jangan ia berniat membuangnya dan mengganti dengan mainan baru.
Amaya menatap punggung jas putih itu.
Apakah laki-laki ini masih punya hati?
Atau hatinya memang ada, tetapi disimpan di tempat yang tidak pernah diizinkan untuk dilihat orang lain, bahkan oleh perempuan di belakangnya?