Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Jejak Wangi Tengah Malam
Wangi itu muncul lagi pada pukul lewat tengah malam.
Sangat tipis. Hampir hilang di antara udara dingin dari pendingin ruangan dan aroma kayu furnitur tua. Namun Sebastian sudah mengenalinya.
Ia menutup laptop di ruang kerjanya.
Selama beberapa hari terakhir, kejadian di gudang berulang dalam kepalanya pada waktu-waktu yang tidak tepat. Saat rapat, ia teringat berat tubuh Lia di lengannya. Saat meninjau laporan proyek, ia mencium lagi aroma manis yang menempel pada kain kemeja. Bahkan ketika berganti pakaian, tangannya sempat berhenti pada lengan baju yang telah kehilangan wangi itu.
Tanpa sadar, ia juga mulai memperhatikan kebiasaan Lia. Pagi hari, perempuan itu hanya membawa teh untuk semua orang. Siang hari, ia selalu berdalih akan makan setelah Bryan tidur. Malam hari, piringnya sudah tidak ada ketika Sebastian pulang, seakan semuanya telah dihabiskan dengan wajar.
Hanya sekali Popo berhasil membuatnya mengosongkan semangkuk sup. Pada hari itulah aroma Lia memenuhi gudang.
Kebetulan yang terlalu rapi biasanya bukan kebetulan.
Sekarang jejak yang sama melayang di lorong lantai bawah.
Sebastian keluar tanpa menyalakan lampu utama. Seluruh rumah telah diam. Popo dan Engkong tidur di kamar depan. Bryan akhirnya lelap setelah seharian rewel. Pintu kamar Cornelia tertutup, dan tak ada lagi bunyi langkah pekerja rumah.
Hanya ada suara sendok menyentuh mangkuk dari arah kamar belakang.
Sebastian mengikuti suara itu.
Pintu kamar Lia tidak tertutup rapat. Cahaya kuning jatuh melalui celah sempit ke lantai lorong. Aroma manis datang dari sana, tetapi jauh lebih lemah daripada di gudang.
Ia seharusnya kembali ke kamar.
Memeriksa kebiasaan makan seorang pekerja rumah bukan urusannya. Memata-matai perempuan di ruang pribadinya juga bukan sesuatu yang pernah ia lakukan.
Namun bayangan mangkuk kosong di depan Lia sore itu, disusul tubuh hangat yang memenuhi pelukannya, membuat kakinya berhenti tepat di depan pintu.
Dari celah, ia melihat Lia duduk di kursi kecil. Seragam kerjanya sudah diganti kaos longgar dan rok rumah. Rambutnya dikepang ke satu sisi. Di atas meja ada sepiring nasi, sepotong ayam kecap, sayur, dan semangkuk sup.
Hampir semuanya masih utuh.
Lia mengambil satu sendok nasi, memotongnya menjadi dua bagian kecil, lalu memakannya bersama sepotong acar asin. Ia mengunyah lama seolah dengan cara itu perutnya bisa percaya telah menerima cukup banyak.
Setelah dua suap, sendok diletakkan.
Perut Lia berbunyi cukup keras untuk terdengar sampai lorong.
Ia menekan telapak tangan ke sana, menunggu bunyi itu hilang. Tatapannya jatuh pada ayam kecap, tetapi bukannya makan, ia menutup piring dengan tudung plastik.
Sebastian merasakan sesuatu yang lebih tajam daripada rasa ingin tahu.
Kesal.
Sekaligus perasaan berat yang tak pernah ia izinkan muncul untuk orang yang nyaris tak dikenalnya.
Lia berdiri dan membuka bagian bawah lemari. Di dalamnya tersusun dua kotak makan dari hari-hari sebelumnya. Nasi mengering di sudut wadah, lauknya hampir tidak disentuh. Di samping kotak-kotak itu ada botol kecil acar dan sebungkus kerupuk murah.
Ponsel di meja bergetar. Nama `Papa` muncul di layar bersama potongan pesan yang bisa dibaca Sebastian dari celah pintu.
`Jangan pikir kamu bisa lari terus. Papa butuh uang.`
Lia membalik ponsel tanpa membuka pesan. Setelah beberapa detik, ia menarik ransel tua dari bawah ranjang dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Tiga lembar uang seratus ribuan dimasukkan ke dalamnya. Ia menuliskan angka kecil di sudut amplop, menghitung ulang, lalu menyelipkannya ke bagian terdalam ransel.
Sebastian mengenali cara orang menyimpan uang saat setiap lembar memiliki tugas. Lia bukan tidak diberi makan. Ia juga bukan sedang menjaga bentuk tubuh. Ia mengurangi semuanya, makanan, kebutuhan, bahkan ruang untuk bernapas, seolah hidupnya bisa runtuh hanya karena satu pengeluaran yang salah.
Ia belum tahu siapa ayah yang mengirim ancaman itu atau utang macam apa yang menunggu di Singkawang. Namun kini ia tahu kelaparan Lia bukan kebiasaan sederhana. Ada ketakutan yang ikut duduk di depan piringnya setiap malam.
Jadi ia tidak sekadar makan sedikit malam ini.
Ia sengaja menyembunyikan makanan yang diberikan rumah, seolah setiap suap adalah sesuatu yang harus dihindari.
Sebastian teringat banyak hal kecil yang sebelumnya tampak tak berkaitan. Lia selalu berdiri ketika keluarga makan. Ia menolak mangkuk dari Popo. Wangi di tubuhnya hampir tak ada pada pagi hari, menguat setelah sup, lalu memenuhi gudang ketika perutnya kenyang.
Makan sedikit, wangi tipis.
Makan kenyang, wangi menguat.
Rahangnya mengeras saat kepingan itu menyatu.
Namun pertanyaan yang paling mengganggunya bukan lagi tentang asal aroma tersebut.
Mengapa Lia memilih kelaparan untuk menyembunyikannya?
Apa yang pernah terjadi sampai perempuan itu lebih takut pada tubuhnya sendiri daripada rasa sakit di perut?
Di dalam kamar, Lia menuang sup ke wadah tertutup. Tangannya gemetar sedikit. Ia berhenti, memegang tepi meja, lalu mengambil air putih dan meminumnya banyak-banyak.
Sebastian tak tahan lagi.
Jarinya menyentuh daun pintu.
Engsel bergerak pelan. Lia yang sedang membungkuk di depan lemari langsung menoleh. Wajahnya kehilangan warna saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Pandangan Sebastian menyapu piring yang nyaris utuh, acar asin, dan kotak-kotak makanan yang disembunyikan. Kemudian tatapannya kembali pada Lia.
Ia mendorong pintu sampai terbuka penuh.
“Kenapa kamu tidak makan?”