NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Adiwangsa Group dan Mantan yang Datang Lagi

Seminggu setelah kejadian di taman, Senja kembali mengajukan permintaan yang sama.

"Saya sudah bisa berjalan normal. Boleh kembali bekerja minggu depan?"

Damar mengangkat mata dari tablet. Pagi itu ia sarapan lebih lambat karena menunggu Bintang menghabiskan telur. "Tidak."

"Dokter bilang aktivitas ringan justru bagus untuk pemulihan. Di rumah sakit saya bisa minta bagian yang tidak perlu mengangkat pasien."

"Kamu baru pingsan karena haid tiga hari lalu."

"Hampir pingsan," koreksi Senja. "Dan sekarang sudah tidak sakit."

Bintang ikut mengangkat tangan seperti di kelas. "Mama sudah bisa kejar Bintang. Kemarin Mama kalah sedikit aja."

Damar menatap anaknya. "Itu bukan bukti sehat."

Senja menahan napas. Setiap hari tanpa bekerja terasa seperti menambah utang tak terlihat. Ia memang menerima gaji selama cuti medis, tetapi berbaring di rumah mewah sambil dilayani membuatnya takut terbiasa.

"Kalau saya terlalu lama cuti, posisi saya bisa diberikan kepada orang lain. Masa magang saya juga tertunda."

"Posisimu masih ada."

"Mas tahu dari mana?"

Damar meletakkan tablet. "Karena rumah sakit itu milikku."

Senja terdiam. Ia masih sering lupa bahwa laki-laki yang mengomel soal sarapan dan kompres hangat itu dapat menentukan nasib ribuan pegawai dengan satu telepon.

"Statusmu akan dibuat tetap setelah evaluasi administrasi selesai," lanjut Damar. "BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan diaktifkan. Gajimu disesuaikan dengan tanggung jawab baru. Posisi tetap kosong sampai kamu kembali."

Sendok di tangan Senja berhenti. "Kenapa?"

"Karena kamu memenuhi syarat."

"Saya bahkan belum menyelesaikan masa magang."

"Kamu menyelamatkan pasien dalam keadaan krisis, laporan kerjamu baik, dan kepala perawat merekomendasikanmu. Jangan membuat semua hal terdengar seperti sedekah."

Kalimat terakhir itu tepat mengenai ketakutannya. Senja menunduk, kemudian mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya akan bekerja lebih baik."

"Kamu akan kembali setelah pemeriksaan berikutnya. Bukan minggu depan."

"Mas ini kalau memberi kabar baik harus selalu disertai larangan, ya?"

Damar menatapnya cukup lama. Senja baru sadar ia mengeluh seperti istri sungguhan, lalu cepat-cepat meminum susu.

Bintang terkikik. "Papa takut Mama sakit lagi."

"Habiskan telurmu," kata Damar.

Sebelum berangkat, Bintang mengeluarkan surat berwarna biru dari tas. Besok sekolah mengadakan pertemuan orang tua untuk membahas kegiatan semester dan kebiasaan belajar anak.

"Papa sama Mama harus datang," katanya. "Bu Guru bilang dua-duanya."

Senja membaca jam yang tercetak. "Mama bisa datang. Papa mungkin ada rapat."

"Aku datang," potong Damar.

Mata Bintang langsung berbinar. Ia memeluk pinggang ayahnya, lalu berlari menyusul sopir.

Damar mengambil kunci mobil. "Hari ini ikut aku ke kantor. Kamu terlalu lama di rumah. Berjalan sebentar boleh, asal jangan membawa apa pun."

"Ke kantor Mas?"

"Adiwangsa Group. Bayu akan mengantarmu pulang setelah makan siang."

"Saya harus melakukan apa di sana?"

"Tidak ada."

"Lalu kenapa ikut?"

Damar memasukkan surat sekolah ke dalam tas kerjanya. "Tim rehabilitasi menyuruhmu menambah jarak berjalan sedikit demi sedikit. Kantorku punya taman di lantai tengah dan klinik pegawai. Kamu bisa berjalan tanpa diawasi lima orang sekaligus."

Senja menatapnya curiga. "Jadi saya dibawa ke kantor untuk olahraga?"

"Anggap saja begitu."

"Mas bisa bilang terus terang kalau bosan melihat saya mondar-mandir di rumah."

Sudut bibir Damar bergerak tipis, nyaris tidak terlihat. "Aku lebih bosan mendengar kamu meminta izin bekerja setiap sarapan."

Senja ingin membalas, tetapi Bik Inah datang membawa obat pagi dan segelas air. Damar menunggu sampai obat itu ditelan. Bahkan saat membahas puluhan ribu pegawai, ia masih mengingat jadwal kalsium dan zat besi Senja lebih baik daripada pemiliknya sendiri.

"Pakai sepatu yang datar," tambahnya. "Jangan yang licin."

"Saya tahu."

"Kemarin kamu juga bilang tahu sebelum hampir pingsan."

"Itu dua hal berbeda."

"Keduanya berakhir dengan aku menggendongmu."

Bik Inah menutup senyum dengan punggung tangan. Senja memilih diam karena wajahnya sudah telanjur panas.

Senja menyetujui sebelum Damar berubah pikiran. Ketika menunggu di teras, ia mencari nama perusahaan itu melalui ponsel. Foto dua menara kaca di SCBD memenuhi layar, disusul berita proyek miliaran rupiah dan potret Damar dalam setelan gelap.

Ada jarak yang terasa semakin lebar di antara telapak tangannya yang kasar dan gedung-gedung itu. Di rumah, Damar dapat duduk di lantai untuk mengganti kompresnya. Di luar, lelaki itu adalah orang yang namanya membuat direktur berdiri menyambut.

Satu artikel menyebut valuasi kelompok usaha itu tanpa menuliskan angka lengkap, hanya deretan nol yang membuat Senja menyerah menghitung. Artikel lain memuat foto Damar saat menandatangani kerja sama rumah sakit baru. Wajahnya tenang, dingin, dan tidak menyisakan jejak lelaki yang semalam membantu Bintang mencari krayon di bawah sofa.

Senja menutup layar. Untuk pertama kalinya, rencana mengembalikan Rp 288 juta terasa bukan sekadar persoalan uang. Ia juga sedang berusaha mengembalikan dirinya ke tempat asal, jauh dari kehidupan yang tidak pernah dirancang untuknya.

"Jangan melamun, Bu," tegur Bik Inah dari belakang. "Pak Damar sudah menunggu."

"Saya cuma lihat alamat kantornya."

"Kalau ikut suami sendiri, kenapa masih cari alamat?"

Senja merapikan ujung lengan blus. "Supaya tidak kelihatan seperti orang Desa yang tersesat."

"Orang Desa juga boleh masuk gedung tinggi. Jangan minder."

Nasihat itu hangat, tetapi tidak sepenuhnya menghapus sesak di dada Senja.

Senja memilih blus sederhana dan rok panjang yang paling rapi. Ia baru melewati gerbang ketika sebuah motor berhenti di tepi jalan.

"Senja!"

Ia mengenali suara itu sebelum melihat wajahnya. Reza melepas helm dan bergegas mendekat, membawa map cokelat yang tampak terlalu tebal.

"Aku sudah menunggumu beberapa kali di rumah sakit," katanya. "Vania bilang kamu cuti."

Senja mundur selangkah. "Ada apa?"

"Aku berhasil mengumpulkan uang." Reza membuka map, memperlihatkan bukti saldo dan beberapa lembar perjanjian pinjaman. "Dua ratus delapan puluh delapan juta. Jumlah yang diminta keluargamu. Aku bisa bayar sekarang. Kita pulang ke Desa dan akad."

Angka itu membuat Senja hampir tertawa. Dulu, ketika ia meminta kepastian, Reza berkata menikahi perempuan miskin hanya akan mengubur masa depannya. Kini lelaki itu berdiri di depan rumah suaminya, membawa utang demi membeli kesempatan yang sudah dibuangnya sendiri.

"Terlambat," jawab Senja.

"Aku tahu aku salah. Vania cuma pelarian. Aku masih sayang kamu."

"Kalau sayang, kamu tidak akan mempermalukan saya ketika saya tidak punya apa-apa."

Reza meraih pergelangan tangannya. Senja langsung menarik diri, tetapi genggaman lelaki itu menguat.

"Aku sudah berkorban. Kamu tidak bisa menolak tanpa mendengarkan."

"Lepaskan. Saya sudah menikah."

Reza membeku sesaat, lalu menggeleng keras. "Vania bilang kamu cuma dipelihara om-om untuk mengurus anak. Itu bukan pernikahan. Aku bisa kasih akad yang benar."

Darah Senja naik ke wajah. "Jangan menghina suami saya."

"Kalau dia suamimu, suruh dia keluar!"

Suara mesin mobil terdengar dari tikungan jalan. Sedan hitam Damar meluncur mendekati gerbang. Kaca depannya memantulkan cahaya pagi, tetapi Senja dapat melihat siluet lelaki di kursi pengemudi.

Reza masih mencengkeram tangannya.

Mobil itu melambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!