Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 Overextend
Debu masih belum sepenuhnya mengendap ketika suara pertama terdengar dari balik pepohonan kristal di sekeliling mereka, sebuah lolongan panjang yang berdenting seperti kaca beradu, disusul lolongan kedua, lalu ketiga, dari arah yang berbeda-beda hingga terasa seperti seluruh hutan itu tiba-tiba terbangun sekaligus.
"Itu bukan pertanda baik," gumam Halden, sudah mencabut pedangnya kembali meski belum lama menyarungkannya.
Arden berdiri di tengah rombongan, fragmen terbungkus masih tergenggam di satu tangan, tangan lainnya sudah bergerak menuju gagang pedangnya. Ia menyapu pandangan ke sekeliling, mencoba memahami situasi mereka: reruntuhan besar menutup jalur kembali ke arah gerbang masuk, di sisi lain, formasi batu tinggi yang mengelilingi area terbuka tempat mereka berdiri membentuk semacam dinding alami, hanya menyisakan satu celah sempit di sisi barat yang mengarah lebih dalam ke hutan.
"Kita terkurung," kata Corym, suaranya tegang meski masih terkendali. "Reruntuhan menutup jalan kembali, dan tebing batu ini menutup sisi lainnya."
"Celah di barat," kata Tomas cepat, sudah bergerak memeriksa arah itu. "Sempit, tapi bisa dilalui."
Sebelum siapa pun bisa merespons, sosok pertama muncul dari balik pepohonan kristal, disusul yang kedua, ketiga, hingga dalam hitungan detik, lebih dari selusin serigala kristal mengelilingi area terbuka itu dari segala arah, jumlah yang jauh lebih banyak dari kelompok kecil yang mereka hadapi sebelumnya, seolah keruntuhan altar dan makhluk besar yang mereka kalahkan tadi membangunkan seluruh penghuni bagian hutan ini sekaligus.
"Formasi lingkaran!" seru Arden, suaranya tegas memotong kepanikan yang mulai menjalar. "Wick, Brann di tengah. Semua yang lain, jaga sudut masing-masing!"
Rombongan bergerak cepat, membentuk lingkaran pertahanan dengan Wick dan Brann terlindung di tengah, sementara Corym, Halden, Petra, Tomas, Ilena, dan Doran mengambil posisi menghadap arah-arah berbeda, punggung saling membelakangi untuk memastikan tidak ada celah terbuka.
Gelombang pertama datang tanpa peringatan lebih lanjut, empat serigala kristal menyerang sekaligus dari sisi timur, tepat ke arah Corym dan Petra.
Corym menahan yang pertama dengan perisainya, mendorong balik dengan kekuatan yang stabil, sementara Petra, mengingat pelajaran Halden, menghindari serangan langsung dan memanfaatkan celah untuk menebas kaki depan lawannya. Namun serigala ketiga berhasil menerobos, cakarnya menyayat lengan Petra sebelum Halden sempat menghalau dengan tebasan cepat.
"Petra!" seru Ilena, suaranya panik, tapi ia sendiri sudah terlibat menahan gelombang dari sisi utara, dua mantra es meluncur berturut-turut dari tangannya, membekukan sebagian tubuh serigala yang mendekat sebelum Doran dan Ashe menghabisinya dari udara.
"Aku baik-baik saja!" seru Petra, meski suaranya menahan sakit, darah mulai merembes dari luka di lengannya, tapi ia tetap berdiri, pedangnya masih terangkat.
Tomas menembakkan panah demi panah dari posisinya, mengurangi jumlah serigala yang mendekat sebelum mereka benar-benar mencapai lingkaran pertahanan, tapi jumlahnya terus bertambah, seolah setiap makhluk yang tumbang digantikan oleh dua yang baru muncul dari kegelapan hutan kristal di sekeliling mereka.
Arden bergerak di antara titik-titik terlemah formasi, menghabisi serigala yang berhasil menerobos dengan tebasan presisi, tapi ia bisa merasakan ritme pertarungan mulai bergeser tidak menguntungkan mereka. Setiap kali satu gelombang berhasil ditahan, gelombang berikutnya datang lebih besar, dan tenaga rombongan mulai terkuras, napas mereka semakin berat, gerakan mereka sedikit demi sedikit melambat karena kelelahan yang menumpuk.
"Berapa banyak lagi?" seru Corym, menahan hantaman ketiga di perisainya yang mulai menunjukkan retakan lebih dalam dari sebelumnya.
"Aku tidak tahu," jawab Doran, memandu Ashe untuk menyerang dari udara sekali lagi. "Terus datang dari segala arah."
Ilena, di tengah pertarungannya sendiri, sempat melirik ke arah prisma kecil yang tersampir di ikat pinggangnya, cahayanya berkedip cepat, membaca lonjakan Anima ambient di seluruh area yang jauh lebih tinggi dari yang seharusnya untuk sekadar gelombang monster biasa.
"Ini tidak wajar," serunya, di sela mantra berikutnya. "Terlalu banyak untuk area sekecil ini. Sesuatu memanggil mereka!"
Arden mendengarnya, dan sesuatu di dalam dirinya mulai memahami situasi yang mereka hadapi lebih jelas: mereka tidak hanya menghadapi gelombang monster biasa, mereka menghadapi sesuatu yang lebih besar, dipicu oleh keruntuhan altar atau mungkin oleh fragmen yang masih ia genggam di tangannya sendiri.
Wick, yang seharusnya terlindung di tengah lingkaran, tersandung mundur ketika seekor serigala berhasil menerobos celah antara Petra dan Halden yang keduanya sudah mulai kelelahan, cakarnya terayun ke arah Wick yang tidak sempat menghindar sepenuhnya.
"Wick!"
Kali ini bukan hanya Ilena yang berteriak. Seluruh rombongan menoleh dalam sepersekian detik yang terasa terlalu lambat, dan Arden, yang berada paling dekat dengan celah itu, bergerak tanpa berpikir dua kali.
...----------------...
Ia melompat menutupi jarak itu, tapi kali ini, alih-alih hanya mendorong Wick keluar dari jalur seperti sebelumnya, ia memilih untuk menahan langsung, pedangnya terangkat menghadang cakar serigala itu tepat sebelum menyentuh tubuh Wick yang sudah jatuh terduduk di tanah.
Namun satu serigala bukan lagi ancaman yang mereka hadapi. Di belakang yang pertama, tiga lagi bergerak cepat, mengepung posisi Arden dari berbagai sudut sekaligus, memanfaatkan celah yang terbuka karena seluruh rombongan sudah terpecah menahan gelombang mereka masing-masing.
Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, Arden menyadari ia sendirian menghadapi empat lawan sekaligus, dengan Wick tak berdaya di belakangnya, tidak ada waktu untuk mundur, tidak ada waktu untuk memanggil bantuan yang sudah terlalu sibuk dengan pertempuran mereka sendiri.
Ia membuat keputusan dalam sepersekian detik yang tidak pernah ia buat dengan mudah sebelumnya.
Ia membiarkan dirinya melepaskan kendali yang biasa ia jaga ketat, membuka aliran Anima jauh lebih lebar dari yang pernah ia lakukan dalam pertarungan mana pun sejak insiden tiga belas tahun lalu, mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk menghadapi keempat serigala itu sekaligus, bukan satu per satu seperti biasa ia lakukan demi menjaga tenaganya tetap stabil.
Untuk sesaat, dunia di sekitarnya terasa berbeda.
Kekuatan yang mengalir dari dalam dirinya jauh lebih besar dari yang pernah ia rasakan dalam waktu yang sangat lama, pedangnya terasa jauh lebih ringan di tangannya, gerakannya jauh lebih cepat dari yang seharusnya mungkin bagi seorang S-Rank terendah di benua. Ia bergerak melalui keempat serigala itu dalam satu rangkaian gerakan yang nyaris tidak terlihat oleh mata biasa, tebasan demi tebasan mengenai titik-titik lemah dengan presisi yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
Tiga dari empat serigala itu ambruk seketika, pecah menjadi debu dalam waktu yang jauh lebih singkat dari yang seharusnya diperlukan.
Lalu, tepat saat ia berbalik menghadapi yang terakhir, aliran itu terhenti lagi.
Sama seperti di altar sebelumnya, tapi kali ini jauh lebih keras, seolah tubuhnya sendiri baru menyadari betapa jauh ia sudah melampaui batas yang biasa, dan bereaksi dengan menutup semuanya sekaligus tanpa peringatan sama sekali. Rasa sakit menjalar tajam di dadanya, seperti sesuatu yang tertarik paksa kembali ke tempatnya, dan kakinya kehilangan kekuatan seketika.
Arden ambruk ke satu lutut, pedangnya masih terangkat, tapi tubuhnya tidak lagi memberikan kekuatan yang sama seperti beberapa detik sebelumnya. Serigala terakhir, yang tadinya terdorong mundur oleh kecepatan serangan sebelumnya, kini kembali maju, mengenali kelemahan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Arden!"
Corym sudah bergerak, meninggalkan posisinya sendiri meski itu berarti membiarkan celah terbuka di sisi lain formasi, melesat cepat untuk menahan serigala terakhir itu dengan perisainya tepat sebelum mencapai Arden yang masih terengah di tanah, keringat membasahi wajahnya, napasnya memburu seperti seseorang yang baru saja berlari sejauh mungkin tanpa henti.
Halden, menyadari situasi genting, mengambil alih posisi Corym yang kosong, menahan gelombang berikutnya dengan bantuan Tomas yang mengalihkan sebagian panahnya ke arah itu.
Ilena, di tengah kekacauannya sendiri menahan gelombang dari utara, melihat semuanya terjadi, dan untuk sesaat, matanya terbelalak menatap ke arah prisma di ikat pinggangnya, yang masih menyala terang, cahayanya berkedip liar mencatat lonjakan dan penurunan Anima yang baru saja terjadi pada
Arden.
Angka yang tertangkap di sana tidak masuk akal sama sekali.
Lonjakan itu, sesaat sebelum penurunan mendadak, jauh melampaui apa pun yang seharusnya dimiliki seorang S-Rank terendah, mendekati level yang seharusnya hanya dimiliki oleh S-Rank menengah, bahkan mungkin lebih tinggi, sebelum tiba-tiba jatuh drastis dalam hitungan detik ke level yang jauh di bawah normal, hampir seperti tubuh Arden dipaksa kosong seketika.
...----------------...
Pertempuran berlangsung beberapa menit lagi setelah insiden itu, dengan Corym dan Halden mengambil alih pertahanan yang lebih agresif, memaksa gelombang serigala yang tersisa mundur perlahan hingga akhirnya berhenti muncul sama sekali, seolah sumber yang memanggil mereka sejak awal sudah kehabisan tenaga atau kehilangan alasan untuk terus mengirim mereka.
Ketika hutan kembali sunyi, hanya diselingi napas terengah seluruh rombongan dan debu kristal yang masih melayang tipis di udara, mereka berkumpul kembali di sekitar Arden, yang masih duduk di tanah, tubuhnya lemas seperti baru saja mengerahkan seluruh energi yang ia miliki dalam waktu yang sangat singkat.
"Arden," kata Corym, berlutut di sisinya, suaranya berat karena khawatir yang tidak lagi ia sembunyikan. "Kau baik-baik saja?"
"Ya," kata Arden, meski suaranya sendiri terdengar lemah, tidak meyakinkan siapa pun termasuk dirinya sendiri. "Hanya... lelah."
Wick, yang berhasil diselamatkan tanpa luka berarti untuk kedua kalinya hari itu, duduk tak jauh darinya, wajahnya pucat karena syok, tapi matanya penuh rasa bersalah dan terima kasih yang bercampur aduk. "Kau menyelamatkanku lagi. Aku... aku seharusnya lebih waspada."
"Bukan salahmu," kata Arden, mencoba tersenyum meski tampak jelas betapa lelahnya ia. "Situasinya memang kacau."
Petra, dengan lengan sudah dibalut sementara oleh Halden, mendekat, wajahnya penuh kekaguman yang bercampur kekhawatiran. "Aku tidak pernah melihatmu bergerak secepat itu, Kapten. Empat sekaligus, dalam waktu sesingkat itu..."
"Aku juga tidak sepenuhnya mengerti bagaimana itu terjadi," kata Arden, jujur, meski ia berusaha membuatnya terdengar seperti lelucon ringan alih-alih pengakuan yang sesungguhnya.
Ilena berdiri agak menjauh dari kerumunan, prisma masih di tangannya, matanya masih menatap layar kecil itu dengan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan lagi, campuran antara syok dan kekhawatiran yang mendalam. Ia menatap Arden, lalu kembali ke prismanya, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang baru saja ia lihat memang benar-benar terjadi, bukan sekadar kesalahan pembacaan lagi.
Ia melangkah maju, melewati Corym dan Petra, berlutut tepat di hadapan Arden yang masih duduk lemas di tanah. Suaranya, ketika akhirnya keluar, jauh lebih pelan dari biasanya, ditujukan hanya untuk didengar Arden sendiri, meski beberapa orang di sekitar mereka masih bisa menangkap sebagiannya.
"Arden," katanya, matanya menatap langsung ke mata Arden, tidak berkedip, "aku baru saja melihat lonjakan Animamu naik ke level yang seharusnya hanya dimiliki S-Rank menengah, mungkin lebih tinggi, dalam waktu kurang dari lima detik. Lalu jatuh lebih drastis dari itu, dalam waktu yang bahkan lebih singkat lagi."
Arden menatapnya, tidak bisa menjawab segera, tenggorokannya terasa kering.
"Itu bukan level normal S-Rank rendah," bisik Ilena, suaranya bergetar sedikit, bukan karena marah, tapi karena ketakutan akan apa yang mungkin ia temukan. "Apa yang baru saja terjadi padamu?"