NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

dr. Silvia dari Cik Anna

Nama pada kartu itu adalah Livia Tanoto.

Karina belum sempat menghubunginya ketika Nathan mengumumkan akan ada tamu penting. Ia menyimpan kartu tersebut di meja kerja barunya dan mengikuti Nathan ke ruang tamu.

"Siapa?" tanyanya.

"Orang yang dikirim Mama."

Karina berhenti. "Mamamu tahu tentang aku?"

"Dia tahu aku menikah dan istriku hamil. Itu cukup untuk membuatnya mengatur setengah dunia dari jauh."

Bel berbunyi tepat pukul sembilan. Perempuan yang masuk mengenakan setelan krem, rambut disanggul rapi, dan membawa tablet. Usianya sekitar akhir empat puluhan, tetapi langkahnya cepat dan tatapannya tajam.

"Saya dr. Silvia Liem, direktur Serenity Mom & Baby Care," katanya. "Cik Anna meminta saya mendampingi kehamilanmu sampai persalinan dan masa pemulihan."

Karina melirik Nathan. "Mendampingi seberapa sering?"

"Hari ini saya menilai kebutuhanmu. Setelah itu ada jadwal nutrisi, olahraga, kesehatan mental, kelas persiapan persalinan, dan koordinasi dengan Sp.OG. Untuk kehamilan tiga, improvisasi bukan pilihan."

Nada profesional itu membuat Karina duduk lebih tegak. dr. Silvia menanyakan riwayat menstruasi, perdarahan, mual, pola tidur, alergi, serta obat yang sedang diminum. Setiap jawaban dimasukkan ke tablet.

"Berat badan sebelum hamil?"

Karina menjawab.

"Riwayat keguguran?"

"Tidak ada. Saya hanya pernah dianggap sulit hamil selama delapan tahun."

dr. Silvia tidak menunjukkan rasa iba. "Anggapan bukan diagnosis. Kita bekerja dengan hasil laboratorium dan kondisi sekarang."

Kalimat sederhana itu terasa melegakan. Karina terbiasa mendengar tubuhnya dibicarakan sebagai kegagalan. Di tangan perempuan ini, tubuhnya menjadi data yang bisa dijaga, bukan kesalahan yang harus disesali.

Nathan duduk di sampingnya dan menyela setiap kali ada istilah yang tidak dia pahami. "Kalau dia mual malam, apa yang harus kulakukan?"

"Jangan memaksa makan banyak. Beri porsi kecil, periksa cairan, dan hubungi saya kalau tidak bisa menahan minum."

"Kalau dia susah tidur?"

"Jangan mengajaknya menonton balapan sampai dini hari."

Karina menahan tawa. Nathan memandang dokter itu dengan tuduhan. "Mama membocorkan semuanya?"

"Saya mengenalmu sejak kamu masih muat digendong satu tangan. Tidak perlu laporan Cik Anna untuk menebak kebiasaanmu."

Nathan terdiam, kalah telak.

Mereka pindah ke ruang kebugaran di lantai atas. dr. Silvia memeriksa matras, pencahayaan, serta ventilasi sebelum mengajarkan peregangan ringan. Karina diminta bergerak perlahan sambil menghitung napas.

"Tidak ada target bentuk tubuh," tegasnya. "Tujuan kita menjaga mobilitas dan mengurangi nyeri. Begitu pusing, sesak, kram, atau keluar flek, berhenti."

Karina mengikuti gerakan tangan dan kaki. Bayangan mereka terpantul di cermin besar. Tubuh dr. Silvia tegak dan penuh kendali, sedangkan perut Karina mulai membulat di balik pakaian olahraga.

"Saya ingin tetap bekerja," kata Karina.

"Boleh, selama ritmenya bisa kamu kendalikan. Jangan jadikan kehamilan alasan berhenti tumbuh, tapi jangan pula menjadikannya musuh yang harus dikalahkan."

Ucapan itu menempel di kepala Karina. Setelah sesi selesai, dr. Silvia mengirim jadwal makan dan latihan. Ada daftar protein, zat besi, kalsium, waktu istirahat, serta tanda bahaya yang harus segera dibawa ke rumah sakit.

Karina memandangi tablet itu. Nathan memiliki keluarga, rumah, dan orang-orang hebat yang bergerak hanya karena satu telepon. Dia sendiri baru saja keluar dari pekerjaan dan bahkan belum tahu apakah akan menghubungi Livia.

"Kenapa diam?" Nathan menyodorkan handuk.

"Aku bertanya-tanya apakah aku pantas menerima semua ini."

dr. Silvia menutup tasnya. "Perawatan bukan hadiah karena seseorang pantas. Ini kebutuhan medis. Dan keputusan untuk bertumbuh tetap harus kamu buat sendiri."

Nathan menunggu sampai dokter pergi, lalu menyentuh dagu Karina. "Kalau kamu ingin membalas semua fasilitas ini, sehatlah. Itu saja."

Selasa berikutnya, mereka datang ke rumah sakit internasional untuk pemeriksaan rutin. dr. Wibisono, Sp.OG, sudah menerima catatan dari dr. Silvia. Karina menjalani pemeriksaan tekanan darah, urine, darah, berat badan, panjang serviks, dan USG.

Tiga sosok kecil memenuhi layar. Gerakan mereka lebih jelas daripada sebulan lalu. Satu janin menendang, seolah memprotes alat yang menekan perut ibunya.

"Yang ini sifatnya mirip kamu," bisik Karina.

"Belum lahir sudah dituduh," balas Nathan, tetapi matanya tidak berpindah dari layar.

dr. Wibisono memeriksa ukuran satu per satu. "Pertumbuhan ketiganya sesuai. Denyut jantung baik, plasenta terpantau, dan hasil laboratorium Ibu juga bagus. Masa paling kritis sudah lewat, tetapi kehamilan multipel tetap berisiko tinggi."

Karina mengangguk. "Saya boleh lebih banyak aktivitas?"

"Aktivitas ringan boleh. Tidak mengangkat beban, tidak berdiri terlalu lama, dan perjalanan harus dibicarakan. Menjelang usia kandungan sekitar delapan bulan, besar kemungkinan Ibu perlu rawat inap untuk pemantauan sampai waktu persalinan."

Nathan langsung mencatat semua itu di ponselnya.

dr. Wibisono lalu mencetak tiga gambar USG dan memberi tanda kecil agar mereka tidak tertukar. "Ini bukan berarti tiap janin harus diperlakukan sebagai pasien terpisah di rumah. Fokus pada kondisi Ibu. Kalau Ibu cukup nutrisi, cairan, dan istirahat, mereka ikut mendapat manfaat."

"Apakah berat badan saya kurang?" tanya Karina.

"Kenaikannya masih dalam sasaran awal. Mualmu mulai berkurang, jadi kita tambah kalori bertahap. Jangan mengejar angka dengan makanan manis. dr. Silvia akan menyesuaikan menu berdasarkan hasil darah."

Nathan menunjuk salah satu angka di layar. "Kenapa bayi kedua sedikit lebih kecil?"

Dokter menjelaskan bahwa selisih kecil masih normal dan akan dipantau melalui aliran darah serta pertumbuhan berkala. Ia tidak menenangkan dengan janji kosong, tetapi memberi batas angka yang akan dianggap mengkhawatirkan dan langkah yang dilakukan jika itu terjadi.

Karina melihat ketegangan di rahang Nathan berkurang. Penjelasan yang jelas selalu bekerja lebih baik daripada kata jangan khawatir.

"Kontrol berikutnya dua minggu lagi," kata dokter. "Datang lebih cepat kalau ada perdarahan, nyeri teratur, cairan merembes, sakit kepala berat, atau gerak janin berkurang setelah nanti terasa konsisten."

Nathan menyimpan nomor darurat rumah sakit, dr. Silvia, dan klinik dalam daftar favorit. Karina tahu dia akan membaca seluruh catatan itu lagi sebelum tidur.

"Satu lagi," lanjut dokter. "Hubungan suami-istri tetap ditunda dulu. Kondisi sekarang stabil, tapi kita tidak mengambil risiko kontraksi."

Karina merasakan wajahnya panas. Nathan, yang biasanya menjawab apa saja, hanya berdeham.

Dalam perjalanan pulang, dia terlalu patuh menjaga kedua tangan di kemudi. Karina sengaja menoleh ke luar jendela agar Nathan tidak melihat senyumnya.

"Kamu senang aku dilarang menyentuhmu?" tanya Nathan.

"Aku senang melihatmu tidak bisa membantah dokter."

"Aku masih boleh mencium istriku."

"Tanya dr. Wibisono."

Di lift, Nathan berdiri sangat dekat tanpa benar-benar menyentuh. Pantulan tubuhnya mengepung Karina dari tiga sisi. Ketika pintu terbuka, ia menunduk dan mencium sudut bibir Karina dengan pelan, lalu segera mundur.

"Itu sesuai batas," katanya.

Karina masuk ke rumah dengan jantung terlalu cepat. Larangan itu seharusnya membuat jarak aman. Kenyataannya, setiap sentuhan kecil terasa lebih jelas.

Sore hari, dr. Silvia menelepon untuk memastikan Karina tidak lelah setelah pemeriksaan. Sebelum menutup sambungan, nadanya berubah lebih ringan.

"Siapkan waktu pekan depan," katanya. "Cik Anna mau datang dan melihat langsung."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!