Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Bumerang di Atas Panggung
Sekar berdiri tanpa menyentuh pena.
Di atas panggung, pembawa acara mengulangi namanya. Tepuk tangan terdengar terpencar, terlalu rapi untuk disebut spontan.
Wida mendekatkan bibir ke telinga Sekar. "Jangan membuat ini lebih buruk. Baca pernyataannya. Setelah itu keluarga kami akan membiarkanmu pergi dengan terhormat."
"Terhormat menurut siapa?"
"Menurut orang-orang yang menentukan apakah namamu masih pantas dipercaya."
Sekar melirik para wartawan, tamu penting, serta kamera yang menyiarkan wajahnya kepada ribuan orang. Ia lalu mengambil map, bukan penanya.
"Baik," katanya. "Mari kita beri mereka penjelasan."
Wida tersenyum puas.
Sekar menaiki tiga anak tangga menuju panggung. Gaun hitamnya menyerap cahaya, sedangkan gelang rajutan biru di pergelangan tangan tampak kecil di antara kilatan kamera.
Pembawa acara menyerahkan mikrofon.
"Ibu Sekar," katanya, "keluarga telah menyiapkan pernyataan untuk meluruskan kabar mengenai kedekatan Ibu dengan seorang pria selama masih terikat perkawinan. Apakah Ibu bersedia membacakannya?"
Layar besar menampilkan wajah Sekar. Di sudut bawah muncul tulisan: Klarifikasi Keluarga Danuwijaya.
"Sebelum saya membaca sesuatu," jawab Sekar, "boleh saya tahu siapa yang menulis pernyataan ini?"
Pembawa acara melirik Wida.
Wida mengambil mikrofon lain. "Isinya telah disepakati keluarga. Kamu hanya perlu mengakui kesalahanmu dan menjelaskan bahwa foto-foto yang beredar bukan tanggung jawab Danuwijaya."
"Lalu saya harus melepaskan seluruh klaim atas harta pribadi dan aset keluarga ibu saya."
Desis kaget muncul di beberapa meja.
Wida tetap tersenyum. "Itu bagian dari penyelesaian yang adil."
"Adil bagi siapa?"
Hartono berdiri dari meja utama. "Sekar, jangan memainkan kata-kata. Keluarga memberi kesempatan agar urusan memalukan ini selesai baik-baik."
"Kalau begitu, kita mulai dari hal yang paling memalukan."
Sekar menoleh ke ruang kendali.
Ia menekan sisi bros di dadanya satu kali.
Layar besar berkedip.
Logo yayasan menghilang. Sebuah tangkapan layar percakapan muncul, lengkap dengan waktu, nomor pengirim, dan metadata file di sisi kanan.
`Pastikan dia minum sebelum pukul sembilan.`
`Kamar 1108 sudah siap. Pria itu masuk setelah dia kehilangan kesadaran.`
`Foto dari sudut pintu. Jangan sampai wajah pria terlihat jelas.`
Suara di ballroom padam seketika.
Wida menoleh tajam ke teknisi. "Matikan layar itu!"
Tidak terjadi apa-apa.
Sekar mengangkat mikrofon. "Percakapan ini berasal dari tim hubungan publik yang dibayar untuk membuat saya tampak berselingkuh. Mereka menyiapkan kamar hotel, fotografer, dan obat penenang."
Slide berikutnya menunjukkan bukti transfer kepada beberapa akun, diikuti tabel unggahan dengan kalimat seragam.
Istri durhaka harus tahu diri.
Perempuan tanpa anak malah merebut warisan.
Akui saja perselingkuhannya.
Kalimat yang baru saja muncul di siaran langsung kini terpampang bersama bukti pembayaran.
Para tamu mulai berbisik. Wartawan berdiri dari kursi. Kamera yang semula disiapkan untuk menangkap kehancuran Sekar justru menyorot kepanikan Wida.
"Fitnah!" seru Wida. "Siapa pun bisa membuat tangkapan layar seperti itu."
Sekar menggeser layar ke rekaman garis waktu dari hotel. Pukul 20.43, minuman jahe masuk ke kamar. Beberapa menit kemudian, seorang pria muncul di koridor. Foto yang pernah disebarkan keluarga Danuwijaya dipasang berdampingan dengan waktu pengambilan gambar aslinya.
"Malam itu saya kehilangan kesadaran setelah meminum minuman yang dikirim ke kamar," kata Sekar. "Pemeriksaan toksikologi menemukan zat penenang. Rekaman cadangan membuktikan pria yang dimasukkan ke kamar tidak menyentuh saya. Foto kemudian dipotong agar peristiwa itu tampak seperti perselingkuhan."
Rendra memucat.
Ia pernah melihat foto itu. Ia pernah menuduh Sekar tanpa menanyakan satu kali pun apa yang terjadi sebelum kamera menyala.
"Sekar," katanya dari bawah panggung, "kenapa kamu tidak pernah menunjukkan semua ini kepadaku?"
Sekar menatapnya. "Karena saat saya meminta Anda percaya, Anda memilih bertanya berapa banyak uang yang saya inginkan untuk diam."
Kalimat itu membuat beberapa kamera berbalik kepada Rendra.
Kirana mengencangkan pelukan pada Sasa. Bayi itu terbangun oleh suara gaduh dan mulai merengek. Perawat mendekat, tetapi Kirana mundur seolah semua orang hendak merebut anaknya.
Hartono memberi isyarat kepada petugas keamanan. Dua orang bergerak menuju ruang kendali, namun Bening muncul dari sisi ballroom bersama kepala keamanan hotel.
"Acara ini sedang disiarkan dan materi menyangkut dugaan tindak pidana," kata kepala keamanan. "Tidak ada yang boleh merusak perangkat."
"Saya pemilik acara ini!" bentak Hartono.
"Bukan pemilik hotel, Pak."
Suara tawa pendek terdengar dari meja belakang. Wajah Hartono berubah merah.
Sekar menekan pengendali kecil di tangannya.
Layar menjadi hitam, lalu suara Kirana memenuhi ruangan.
`Yulia gagal karena orang-orangnya datang terlalu cepat.`
Desahan tajam terdengar di seluruh ballroom.
Rekaman berlanjut.
`Kalau ada kesempatan berikutnya, pastikan dia tidak gagal lagi. Seharusnya Sekar sudah selesai malam itu.`
Lalu suara Rendra terdengar samar dari latar belakang.
`Aku tahu orang-orang Wardhani membuat masalah. Jangan seret namaku.`
Kirana membeku.
"Matikan!" jeritnya. "Itu bukan suaraku!"
Tangisan Sasa membesar. Perawat akhirnya mengambil bayi itu dengan hati-hati, membawanya menjauh dari pengeras suara. Kirana mencoba mengikuti, tetapi langkahnya goyah karena tubuhnya belum pulih.
Sekar tidak menikmati pemandangan itu. Seorang bayi tidak seharusnya berada di tengah penghukuman atas dosa orang dewasa.
Ia meminta teknisi mengecilkan suara sebelum berkata, "Rekaman lengkap telah disimpan. Salinan tertentu telah diperiksa notaris bersama dokumen asal yang tersedia, dan laporan mengenai ancaman terhadap saya sudah disiapkan untuk jalur hukum. Pengadilan yang akan menilai kekuatan setiap bukti. Bukan keluarga ini. Bukan pula media."
Kata-kata itu sengaja berhati-hati. Malam ini ia membuka pola. Untuk perkara resmi, pengacaranya akan menyerahkan bukti melalui prosedur yang sah.
Wida merebut lembar pernyataan dari map dan mengangkatnya. "Jangan teralihkan! Dia masih istri Rendra. Dia telah meninggalkan rumah, mempermalukan suami, lalu mendekati pria lain. Keluarga hanya meminta hak kami dilindungi."
"Hak apa?"
"Aset yang berkembang selama perkawinan."
"Saham warisan ibu saya bukan harta yang dibangun Danuwijaya. Vila Reksonegoro bukan hadiah dari keluarga Anda. Bahkan seserahan dan benda milik saya yang disimpan di rumah kalian belum dikembalikan."
Sekar mengambil lembar itu kembali.
Di hadapan seluruh kamera, ia membacakannya.
Pihak pertama menyatakan tidak memiliki hak, kepentingan, atau tuntutan apa pun atas seluruh kepemilikan Reksonegoro Group, termasuk kepemilikan yang diperoleh melalui pewarisan, pengalihan keluarga, maupun perubahan nilai di kemudian hari.
Beberapa pengusaha di ruangan itu langsung memahami luasnya kalimat tersebut.
Ini bukan perjanjian untuk mengakhiri pertengkaran rumah tangga. Ini upaya mengambil kendali atas warisan.
Sekar mengangkat lembar kedua. "Yang ini memberi kuasa kepada pihak yang ditunjuk keluarga Danuwijaya untuk mengurus pengalihan aset tanpa batas waktu."
Ia mengangkat lembar ketiga. "Dan yang terakhir mewajibkan saya menarik semua laporan serta melepaskan hak menuntut siapa pun yang terlibat dalam penyebaran fitnah."
Om Guntur bersandar di kursinya, tak lagi tersenyum. Eyang Sri bangkit perlahan dengan wajah kaku.
"Cukup," katanya. "Ini urusan keluarga."
Sekar memandang perempuan tua yang selama bertahun-tahun memintanya diam demi martabat rumah.
"Kalau ini urusan keluarga, mengapa Ibu mengundang kamera?"
Tidak ada jawaban.
Sekar memegang ketiga lembar itu di depan mikrofon. Suara sobekan pertama terdengar jelas. Ia merobeknya sekali lagi, lalu membiarkan potongannya jatuh ke lantai panggung.
"Kalian menuduh saya berselingkuh, membius saya, menyusun foto, membayar orang untuk menyerang nama saya, lalu meminta seluruh warisan ibu saya sebagai harga agar kalian berhenti."
Tatapannya menyapu Hartono, Wida, Eyang Sri, lalu berhenti pada Rendra.
"Mengapa kalian begitu takut membiarkan seorang perempuan pergi dengan miliknya sendiri? Sejak kapan keluarga Danuwijaya mengincar Reksonegoro?"
Ballroom meledak oleh pertanyaan wartawan.
"Pak Hartono, apakah dokumen itu disiapkan pengacara keluarga?"
"Bu Wida, siapa yang membayar akun-akun tersebut?"
"Mas Rendra, apakah Anda mengetahui dugaan pembiusan istri Anda?"
"Mbak Kirana, siapa Yulia?"
Kirana menutupi wajah. Wida berteriak bahwa semua bukti palsu. Hartono memerintahkan panitia menghentikan acara. Pembawa acara meninggalkan panggung tanpa menutup sesi.
Di layar ponsel para tamu, jumlah penonton siaran langsung naik setiap detik. Potongan rekaman sudah menyebar bahkan sebelum Sekar turun dari panggung.
Eyang Sri berjalan menuju pintu dengan dibantu staf. Om Guntur mengikutinya sambil menghindari kamera. Bambang berdiri di antara kerumunan, tampak hendak memanggil Sekar, lalu kembali menutup mulut.
Rendra naik satu anak tangga.
"Sekar, tunggu. Aku benar-benar tidak tahu tentang obat itu."
"Tapi Anda tahu keluarga Anda menyerang saya. Suara Anda ada dalam rekaman."
"Aku cuma tahu Wardhani membuat masalah. Aku tidak tahu mereka mencoba membunuhmu."
"Dan setelah tahu ada masalah, Anda memilih menjaga nama sendiri."
Rendra berhenti. Tidak ada pembelaan yang dapat mengubah kalimatnya sendiri.
Bening naik ke panggung dan berdiri di sisi Sekar. Ia tidak menyentuh siapa pun, hanya membuka jalur keluar.
Sekar menyerahkan mikrofon kepada pembawa acara yang terpaku di tepi panggung.
"Yang perlu saya katakan," ucap Sekar, "akan saya katakan lagi di pengadilan."
Ia turun tanpa menoleh.
Di luar ballroom, langkahnya tetap lurus sampai pintu mobil tertutup. Baru setelah suara kamera teredam, Sekar menyandarkan kepala dan membiarkan napas panjang keluar.
Tangannya sedikit gemetar.
Bening duduk di depan. "Semua jalur cadangan aman. Mbak Ningsih sudah menyimpan rekaman siaran."
"Sasa?"
"Sudah dibawa perawat ke kamar atas. Aman."
Sekar mengangguk. Hanya setelah mendengar itu bahunya turun.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Arka hanya satu kata.
`Bagus.`
Sekar menatapnya, lalu tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
Pada saat yang sama, di ruang persiapan hotel, Hartono menutup pintu di depan para wartawan. Ia menatap pengacara keluarga dengan wajah gelap.
"Periksa dari mana dia mendapat semuanya," katanya. "Cari celah hukumnya."
Pengacara itu mengangguk.
Hartono menoleh kepada Rendra yang berdiri seperti kehilangan suara.
"Dan cari tahu tentang tentara itu," lanjutnya. "Kalau Sekar punya pelindung, kita patahkan tangannya lebih dulu."