NovelToon NovelToon
Mechabest

Mechabest

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Penyelamat / Action
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

​Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.

​Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tantangan Trial Mechabest

Suara dentuman keras menggema di seluruh sudut ruangan simulasi. Sementara Alip dan Sahla sibuk mengambil seribu langkah ke belakang—bersembunyi di balik tiang penyangga yang bahkan tidak cukup lebar untuk menutupi tubuh mereka—dua sahabatnya yang lain malah menunjukkan reaksi yang sangat bertolak belakang.

Yasing dan Maul tidak berlari mundur. Sebaliknya, mata Yasing menyala-nyala penuh gairah bertarung. Maul yang awalnya pasang muka sok cool pun ikut terpancing adrenalinnya.

"Sing! Jangan kasih nafas!" teriak Maul sambil menerjang salah satu robot simulasi.

"emang robot bisa napas?" tanya Yasing sambil bercanda.

Dengan kekuatan fisik maul yang murni tanpa bantuan alat apa pun, Maul mencengkeram lengan baja robot itu, lalu membantingnya ke lantai matriks hingga bergetar hebat.

"Giliran gua!" balas Yasing penuh antusias. Yasing melompat ke udara, memanfaatkan bahu robot lain sebagai pijakan, lalu mendaratkan pukulan bertubi-tubi tepat di bagian panel dada robot tersebut.

BAM! BAM! KRLAK!

Hanya dalam hitungan menit, empat robot simulasi berukuran tiga meter yang tadi terlihat sangat mengintimidasi kini sudah berubah menjadi tumpukan besi tua yang berasap di tengah ruangan. Sisa-sisa kabel bergetar memercikkan arus listrik kecil.

Yasing mendadak menghentikan aksinya. Matanya membelalak menatap tumpukan puing-puing di depannya. Kesadarannya kembali, dan rasa panik mulai merayap.

"Yah! Gimana nih! Robotnya rusak!" seru Yasing panik sambil menepuk jidatnya sendiri. "Wah, kita bisa disuruh ganti rugi nih! Uang jajan gua setahun juga gak bakal cukup!"

Maul yang ikut sadar kalau mereka sudah melangkah terlalu jauh, langsung menengadah ke atas. Dia menatap ke arah kaca tebal ruangan kontrol di mana Teh Caca, Pasya, Opik, dan Prof. Einstein sedang berdiri memperhatikan mereka.

"Teh! Kalo robotnya rusak gimana, Teh?!" teriak Maul dengan suara lantang sambil menunjuk tumpukan besi tua di bawahnya.

Dari dalam ruangan kontrol, Teh Caca menekan tombol mikrofon intercom. Suaranya terdengar santai dan menggema di seluruh arena.

"Udah, biarin aja. Ntar beli baru. Santai aja, Mechabest kaya kok!" balas Teh Caca santai tanpa beban sedikit pun.

Mendengar jawaban itu, raut wajah panik Yasing dan Maul seketika sirna. Senyum lebar kembali terpatri di muka mereka.

"Oke!" kata Yasing dan Maul bersamaan.

Mereka berdua melakukan TOS khas mereka—kombinasi tepukan tangan, adu siku, dan diakhiri dengan gerakan memutar yang kocak—lalu berjalan santai menghampiri Alip dan Sahla yang masih gemetaran di pojokan belakang.

Yasing melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Alip dan Sahla dengan pandangan tidak percaya. "Lu pada ngapain sih! Bukannya ngelawan malah berduaan di belakang!" ucap Yasing enggak nyantai.

Sahla nyengir kuda, membetulkan posisi tasnya dengan canggung. "Takut, hehe," balas Sahla tanpa rasa dosa.

"Haha hehe haha hehe. Huu, beban!" ledek Maul ke Sahla dengan muka datarnya yang menyebalkan.

"Dih! Siapa yang beban?!" semprot Sahla tak terima. "Gua tuh lagi menyusun strategi dari jarak jauh! Lagian kan kalian berdua emang cocoknya jadi tukang pukul!"

"Udah, udah, enggak usah dihiraukan," timpal Alif dengan gaya sok bijak, membenarkan posisi kacamatanya yang sama sekali tidak miring. "Teori gua terbukti kan? Kalau dua pemukul di depan fokus, yang di belakang cukup memberikan dukungan moral."

"Dukungan moral gundulmu!" gerutu Yasing sambil menjitak jidatt Alip.

BZZZZT!

Suara pintu geser di ujung arena memotong perdebatan mereka. Suara Teh Caca kembali terdengar dari pengeras suara.

"Kerja bagus untuk tahap pertama. Sekarang, kalian disuruh lanjut ke ruangan berikutnya oleh Teh Caca," ujar suara dari intercom. "Jangan senang dulu, ujian sebenarnya baru dimulai."

Keempat sahabat itu saling pandang, lalu melangkah menuju pintu yang baru saja terbuka. Mereka memasuki ruangan kedua yang ukurannya tidak kalah luas. Namun, bedanya, ruangan ini tidak berisi robot-robot seram, melainkan deretan halang rintang yang sangat rumit dan tinggi.

Ada tiang-tiang berputar, jaring rantai raksasa, papan pijakan melayang yang terus bergerak, hingga lintasan besi sempit yang berada di atas kolam busa bertekanan tinggi.

"Wah, ini mah..." Yasing mengamati lintasan itu dengan mata berbinar. "Kayak Ninja Warrior yang di TV-TV, Ul!" ucap Yasing semangat.

Maul menatap lintasan besi padat di depannya dengan pandangan horor. "Yang di TV mah pake udara, balon. Lah ini besi, woyy!" balas Maul sambil menunjuk tiang besi tebal yang berputar dengan kecepatan tinggi.

"Okey, aturan untuk tes kali ini sederhana," suara Teh Caca kembali bergaung dari pengeras suara. "Ini adalah tes kecepatan dan kelincahan. Kalian harus melewati berbagai rintangan kayak di Ninja Warrior ini sampai ke garis akhir. Waktu kalian dimulai dari... SEKARANG!"

BEEEP!

Tanpa menunggu instruksi dua kali, mereka berempat langsung melompat ke area rintangan. Dan dari sinilah momen-momen kocak mulai terjadi.

Alif dan Sahla, yang di tes pertama sama sekali tidak berguna, justru menunjukkan taringnya di tes kali ini.

Alip yang bertubuh jangkung dengan kaki panjangnya bisa melangkahi papan pijakan melayang dengan sangat mudah. Dia cukup melangkah dua kali di saat orang lain harus melompat tiga kali. Sementara Sahla, dengan tubuhnya yang kecil, lincah, dan gerakan refleksnya yang cepat, meluncur melintasi tiang-tiang berputar bagaikan belut.

"Daaaag! Gua duluan ya, para beban!" teriak Sahla sambil melompati rintangan jaring dengan sangat santai, lalu mendarat mulus di seberang.

"Teori aerodinamika tubuh jangkung memang tidak pernah bohong!" seru Alip penuh percaya diri. Tanpa hambatan berarti, Alip menyusul Sahla dan sampai di garis akhir hanya dalam hitungan detik.

Sementara itu di belakang... kondisi Yasing dan Maul benar-benar memprihatinkan.

Yasing dengan gaya bertarungnya yang selalu memaksakan kehendak, mencoba menerobos tiang besi berputar bukannya menghindarinya. PAK! PAK! BUK! Besi-besi itu berkali-kali menghantam dada dan lengannya. Tapi bukannya mundur, Yasing malah makin emosi dan menabrakkan dirinya sampai tiang itu berhenti paksa.

Maul yang tubuhnya paling bongsor juga tidak mau kalah ekstrem. Bukannya melompati pijakan melayang dengan elegan, Maul menyeruduk semua rintangan besi di depannya bagaikan badak mengamuk. Besi-besi rintangan itu penyok, tapi tubuh Maul juga babak belur.

Setelah perjuangan yang dipenuhi suara dentuman dan rintihan kesakitan, Yasing dan Maul akhirnya berhasil menyentuh garis akhir. Keduanya langsung ambruk terlentang di lantai matriks sambil memegangi pinggang dan bahu mereka.

"Aduh... encok gua..." keluh Yasing sambil meringis kesakitan.

Maul yang duduk di sampingnya sambil mengelus siku yang memar berusaha tetap pasang muka sok kuat, walau matanya berkaca-kaca menahan sakit.

"Lebay lu, Sing. Baru gitu doang," ucap Maul sok tangguh, padahal napasnya terengah-engah bagaikan habis dikejar serigala.

Yasing menoleh cepat dengan muka tidak terima. "Lebay matamu! Badan lu gede, badan gua kecil, Ul-Ul! Lu mah enak jalurnya udah lu hancurin setengah, gua yang di belakang lu ketimpa sisa besinya!"

"Lah, siapa suruh lu ngintil di belakang gua!" balas Maul tidak mau kalah.

Alip dan Sahla yang sudah berdiri nyaman di garis akhir sejak tadi cuma bisa menatap dua temannya itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aduh, aduh... yang tadi sok jagoan waktu lawan robot, sekarang malah tepar gara-gara tiang besi," ledek Sahla sambil berkacak pinggang, menatap Yasing dan Maul dari atas dengan senyum mengejek.

"Itulah akibatnya kalau cuma mengandalkan otot tanpa perhitungan matematis kecepatan sudut berputar," pamer Alip sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya, bergaya seolah dia adalah ilmuwan paling jenius di dunia.

"Diem lu, Lip! Lu tadi cuma hoki gara-gara kaki lu panjang kayak jangkrik!" semprot Yasing sambil mencoba berdiri walau kakinya masih agak gemetaran.

Di ruang observasi, Teh Caca, Pasya, Opik, dan Prof. Einstein hanya bisa tertawa melihat kelakuan empat remaja itu melalui layar monitor.

"Keren, keren" ujar Pasya sambil tersenyum tipis. "Yasing sama Maul punya daya tahan fisik sama kekuatan serangan yang masif banget. Tapi Alip sama Sahla punya kelincahan alami yang tinggi. Mereka saling melengkapi."

Opik mengetikkan beberapa baris kode di papan ketiknya, lalu mengangguk puas. "Data analisis fisik selesai. Kelincahan Sahla cocok untuk Mecha Speed, jangkauan dan mobilitas Alip pas untuk Mecha Fly, kekuatan murni Yasing ideal sebagai Mecha Damage, dan daya tahan ekstrem Maul sempurna untuk Mecha Tank."

Prof. Einstein tersenyum lebar, mengelus janggut putihnya dengan bangga. "Proses seleksi telah selesai. Mereka tidak hanya lolos uji fisik dan mental, tapi dinamika persahabatan mereka akan menjadi fondasi terkuat untuk Kota Mecha."

Teh Caca menekan tombol mikrofon sekali lagi, suaranya kembali terdengar di ruangan tempat empat sahabat itu masih sibuk adu mulut.

"Selamat, kalian berempat!" panggil Teh Caca. "Tes kelayakan telah selesai. Kumpulkan sisa tenaga kalian, dan berjalanlah ke ruangan utama. Ada sesuatu yang sangat spesial yang sudah menunggu kalian di sana."

Mendengar kata 'sesuatu yang spesial', Yasing langsung mendongak, rasa sakit di tubuhnya seolah lenyap seketika. "Denger gak?! Sesuatu yang spesial! Pasti jam perubah Mechabest!"

"Wah, beneran nih?!" mata Sahla berbinar-binar. "Gua bakal dapet jam canggih yang bisa bikin gua keren?!"

"Sudah gua duga, teori keberhasilan kita mencapai seratus persen," celetuk Alif sok tenang, walau tangannya langsung gemetaran karena antusias.

Maul berdiri pelan-pelan, membetulkan kerah bajunya agar kembali terlihat rapi dan cool. "Yaudah, tunggu apa lagi? Ayo kita ambil hak kita sebagai pahlawan baru Kota Mecha."

Dengan langkah mantap—meskipun Yasing dan Maul masih agak pincang—keempat sahabat itu berjalan bersama meninggalkan arena tantangan menuju takdir baru yang menanti mereka.

1
Ayyasying
GG BANGET BANG! GACORRR!!N/Drool//Drool//Smile/
Dwi Agustina
keren banget ceritanya 👍👍
Dwi Agustina
keren Abang, lnajutkan berkarya 💪💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!