NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 Aturan yang Mengubah Langkahku

"Ada kalanya sesuatu yang terasa seperti batasan pada masa kecil ternyata menjadi jalan yang mengantarkan kita menuju masa depan yang lebih baik."

Setelah beberapa tahun tinggal di rumah itu, aku mulai merasakan begitu banyak perubahan dalam hidupku. Perubahan itu tidak hanya terlihat dari lingkungan tempat aku tinggal, tetapi juga dari kebiasaan-kebiasaan yang perlahan berubah. Jika sebelumnya hari-hariku lebih banyak diisi dengan bermain, kini sebagian besar waktuku digunakan untuk belajar, membantu pekerjaan rumah, dan berkumpul bersama keluarga.

Sebelum tinggal bersama Mama dan Bapak, aku adalah anak yang sangat senang bermain. Hampir setiap sore, setelah pulang sekolah, aku selalu keluar rumah untuk mencari teman-teman. Aku memiliki seorang sahabat perempuan yang sangat dekat denganku. Meskipun rumahnya berada di tempat yang lebih tinggi dan aku harus menaiki tangga yang cukup banyak untuk sampai ke sana, aku tidak pernah merasa lelah. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah bermain bersama hingga lupa waktu.

Nama sahabatku adalah Mirana

Kami hampir selalu bersama setiap kali ada waktu luang. Orang tuanya bahkan sudah menganggapku seperti anak sendiri. Setiap kali mereka hendak pergi berjalan-jalan dan aku sedang berada di rumah mereka, mereka tidak hanya memanggil Mirana, tetapi juga memanggilku untuk ikut bersama. Sambutan hangat itu membuatku merasa nyaman berada di rumahnya, sehingga aku sering menghabiskan waktu di sana tanpa menyadari hari mulai sore.

Namun, semua itu perlahan berubah sejak aku dan Kak Ucaluna tinggal bersama Mama dan Bapak.

Mama memiliki cara mendidik yang berbeda. Beliau tidak pernah melarang kami tanpa alasan, tetapi selalu menjelaskan mengapa sebuah aturan dibuat. Salah satu aturan yang paling kuingat adalah kami tidak diperbolehkan sering bermain di luar rumah setelah pulang sekolah.

Suatu sore, ketika aku melihat beberapa teman sedang bermain di jalan depan rumah, aku berdiri di balik pagar sambil memperhatikan mereka. Keinginan untuk ikut bermain begitu besar hingga tanpa sadar aku menghampiri Mama.

"Ma, Hitas boleh main sama teman-teman?"

Mama menoleh sambil tersenyum, lalu menggeleng pelan.

"Nak, anak perempuan tidak baik kalau terlalu sering bermain di luar rumah. Kalau sudah pulang sekolah, lebih baik tetap di rumah."

Aku hanya mengangguk pelan meskipun saat itu masih belum memahami alasan di balik aturan tersebut.

Mama melanjutkan ucapannya dengan lembut.

"Kalau ingin bermain, bermainlah di rumah. Di luar sana banyak hal yang tidak selalu baik untuk anak perempuan."

Sejak hari itu, aturan tersebut benar-benar diterapkan. Setelah pulang sekolah, kami harus langsung pulang ke rumah. Tidak ada lagi kebiasaan singgah bermain di rumah teman seperti dulu. Awalnya aku merasa sedih karena harus meninggalkan kebiasaan yang sangat kusukai. Aku bahkan sering berdiri di dekat pagar sambil melihat teman-temanku berlari dan tertawa bersama di jalan kampung.

Melihat kami mulai bosan, Mama dan Bapak membuatkan sebuah tempat bermain sederhana di halaman rumah. Tempat itu memang tidak besar, tetapi cukup untuk membuatku dan Kak Ucaluna bermain bersama tanpa harus keluar dari halaman. Kami sering menghabiskan waktu di sana atau bermain di dalam kamar setelah semua pekerjaan selesai.

Perlahan-lahan aku mulai terbiasa dengan kehidupan yang baru. Waktu yang sebelumnya habis untuk bermain kini lebih banyak kugunakan untuk belajar.

Setiap selesai mengerjakan pekerjaan rumah, aku membuka kembali buku-buku pelajaran dan mengulang apa yang diajarkan guru di sekolah. Mama tidak pernah memaksaku untuk mendapatkan nilai tinggi, tetapi beliau selalu mengingatkan agar aku belajar dengan sungguh-sungguh karena ilmu adalah bekal yang tidak akan pernah habis.

Perubahan kecil itu ternyata membawa hasil yang tidak pernah kuduga. Ketika duduk di kelas tiga sekolah dasar, untuk pertama kalinya aku berhasil masuk dalam lima besar di kelas. Aku merasa sangat senang karena usahaku mulai membuahkan hasil. Semangat belajarku semakin bertambah, hingga ketika naik ke kelas empat dan kelas lima aku berhasil meraih peringkat tiga besar.

Prestasi itu bukan karena aku merasa lebih pintar daripada teman-temanku, melainkan karena aku memiliki lebih banyak waktu untuk belajar. Sementara teman-teman yang lain masih bermain sepulang sekolah, aku sudah terbiasa berada di rumah, mengulang pelajaran, dan mengerjakan tugas.

Memasuki kelas enam, kebiasaanku mulai sedikit berubah. Aku kembali sering bermain bersama teman-teman di sekolah sehingga waktu belajarku berkurang. Akibatnya, aku tidak lagi mampu mempertahankan peringkat tiga besar dan kembali berada di lima besar kelas. Meskipun begitu, pengalaman itu mengajarkanku bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri.

Kini, ketika mengingat masa kecilku, aku menyadari bahwa aturan-aturan yang dibuat Mama dahulu bukanlah untuk membatasi kebebasanku. Beliau hanya ingin menjaga kami dan membentuk kebiasaan yang baik sejak kecil. Saat itu aku memang sering merasa aturan tersebut terlalu ketat, tetapi seiring bertambahnya usia aku mulai memahami bahwa kedisiplinan yang beliau tanamkan telah memberikan pengaruh besar terhadap masa depanku.

Saat itu aku mulai memahami bahwa setiap aturan yang diberikan Mama bukanlah untuk membatasi langkahku, melainkan untuk menjaga dan membentuk masa depanku. Namun, aku belum menyadari bahwa tidak lama lagi akan terjadi sebuah peristiwa yang membuatku semakin mengerti mengapa kasih sayang terkadang diwujudkan melalui ketegasan. Peristiwa itu masih sangat jelas tersimpan di dalam ingatanku hingga hari ini.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!