NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22: Kalung Atas Nama Dua Wanita

Azka pulang dengan perasaan sangat bahagia. Ketika Visha menyambut kedatangannya, ia memberikan pujian.

“Ya ampun, senangnya aku pulang kerja selalu disambut oleh bidadari secantik kamu.”

Ia melanjutkan rayuan dengan pelukan hangat dan ciuman bibir lebih lama dari biasa. Meski merasa ada yang janggal, Visha menganggap itu merupakan tanda cinta dari Azka untuknya.

Ketika sedang berada di meja makan, Azka juga tak henti memberikan sanjungan buat Visha.

“Enak sekali ayam balado masakanmu, pedasnya pas, ada gurih juga. Dipadukan nasi yang pulen, terasa nikmat,” pujinya.

Meskipun tidak langsung meneriman, Visha tetap senang karena makanan olahannya diapresiasi Azka. “Padahal sama saja seperti biasanya, lho,” respon Visha malu-malu.

Azka kemudian memberikan kode tentang alasan dirinya menjadi sangat baik terhadap Visha.

“Mungkin karena yang masak sebentar lagi akan ulang tahun ya? Jadi rasanya beda gitu,” ucap Azka.

Dari sini, Visha menduga kalau sikap suaminya lebih baik dari biasa karena telah mendekati hari ulang tahunnya. Selesai makan, tiba-tiba Azka mendekati Visha yang sedang duduk di seberang meja.

Ia kemudian berbisik, “Mandi yuk.”

Visha merespon dengan santai, “Ya sudah sana, aku sudah siapkan handuknya di gantungan pintu lemari”.

Namun tanpa diduga Azka merangkulnya dari belakang. Ia kembali berbisik di telinga Visha.

“Kita mandi berdua.”

“Apa sih kamu, aneh sekali sore ini,” respon Visha kaget mendengar ajakan Azka.

“Sudah lama kita tidak mandi bersama. Tidak ada salahnya juga kan aku minta mandi sama kamu,” rayu Azka lagi.

Azka kemudian menarik tangan Visha yang juga tidak menolak. Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi berdua.

Setelah selesai, Azka keluar dari kamar mandi duluan. Wajahnya mulai berubah, terlihat seperti pria licik seakan sedang merencanakan sesuatu.

Ia kemudian berpura-pura menerima telepon dari kantor pusat.

“Yah, tidak bisa diwakilkan, Pak. Baik Pak, nanti saya coba bicarakan dengan istri untuk kepastiannya,” kata Azka meninggikan volume suara cukup keras agar Visha mendengar meski samar.

Tak berapa lama, Visha keluar kamar mandi bersamaan tangan Azka pura-pura menutup telepon.

“Ada apa? Apa yang mau dibicarakan sama aku?” tanya Visha.

“Tidak apa-apa, hanya urusan kantor. Dari pusat, katanya sekarang untuk pelaporan tidak boleh diwakilkan. Direksi ingin mendengarnya langsung dari aku,” jelas Azka.

Sambil mengeringkan rambut pakai handuk, Visha bertanya, “Lalu rencana kamu gimana?”

“Biarkan saja, nanti aku alasan ada urusan keluarga, istri ulang tahun. Mereka pasti mengerti,” ucap Azka.

“Jangan seperti itu dong. Aku juga tidak mau kamu mengesampingkan pekerjaan hanya karena ulang tahunku,” kata Visha.

Sesuai dugaan Azka, istrinya tak mengizinkan kalau ia mengabaikan pekerjaan demi urusan pribadi. Azka tetap menjalankan rencana dengan sedikit menunjukkan rasa penyesalan.

“Bagaimana ya? Aku tidak enak juga sama kamu kalau harus mengorbankan acara perayaan ulang tahunmu,” ujar Azka bersandiwara pasang wajah sedih.

“Memang kamu berangkat dan pulangnya kapan?” tanya Visha berusaha memikirkan solusi.

Mengetahui rencananya telah berhasil, Azka mulai terlihat santai memberitahukan jadwal keberangkatan. “Kalau dari jadwal, aku pergi selama lima hari, dari tanggal 30 juni sampai 4 juli,” jawabnya.

Visha kini telah berbusana lengkap, mengenakan celana pendek dan kaos gombrong favoritnya mengambil handphone yang sedang di charge di atas meja rias.

Ia membuka kalender, lalu mengatakan, “Ya sudah, kita rayakan ulang tahun aku tanggal 5 juli saja. Kebetulan tepat di hari sabtu, kita bisa sekalian malam mingguan.”

“Kamu benar tidak apa–apa perayaan diundur?” Azka bertanya lagi pura-pura menyesal.

“Tidak apa-apa Azka. Hanya ulang tahun saja, lho. Setiap tahun dirayakan, aku juga bukan anak kecil. Yang penting, kamu harus kasih hadiah!” tegas Visha di akhir kalimat.

Azka refleks tersenyum, “Kamu mau dibelikan apa?”

Tak memiliki keinginan khusus, Visha menjawab singkat, “Surprise me!”

“Oke kalau gitu, aku pasti akan pilihkan hadiah terindah untuk kamu,” sesumbar Azka.

“Makasih ya. Kamu istri yang sangat perhatian,” lanjut Azka sambil memeluk, mencium bibir Azka.

Secara spontan, Azka merebahkan tubuh Visha ke atas ranjang.

“Tadi kan sudah,” protes Visha.

“Aku mau lagi.”

Mereka pun bergumul.

***

Pagi itu, tanggal 30 Juni, suasana terasa sedikit lebih hangat dari biasa. Embun masih menempel di kaca jendela. Sedangkan langit ibarat kanvas pucat belum sepenuhnya diwarnai cahaya matahari. Kota kecil itu masih setengah terjaga, seperti sedang menyambut sesuatu yang besar.

Di dalam rumah, Azka berdiri di depan koper tertutup rapi. Pakaian telah dilipat dengan hati-hati, dokumen tersusun lengkap. Segala hal yang perlu ia bawa sudah siap.

Azka menatap jam dinding, jarum bergerak perlahan, namun baginya waktu terasa berlari. Hari itu bukan seperti biasa. Ia tahu ada hal-hal yang tak bisa diulang setelah pagi ini berlalu.

Dan sebelum langkah kakinya benar-benar menjauh dari rumah, ia berdiri sejenak sambil berpikir membiarkan waktu mengendap dalam ingatannya.

“Aku pergi dulu ya,” ucap Azka di teras sambil memeluk lalu mencium Visha sebelum masuk ke dalam mobil.

Visha kemudian mengingatkan agar Azka tidak berlama-lama di kantor karena pesawatnya akan terbang siang ini.

“Sebelum jam sepuluh kamu sudah harus di rumah, supaya kita tidak buru-buru ke bandara,” pesan Visha.

“Iya. Dadah!” respon Azka dari dalam mobil dengan kaca terbuka.

Tak butuh waktu lama untuk mobil Azka menghilang dari pandangan Visha.

Di dalam mobil, Azka mengambil handphone, lalu menelpon seseorang. “Saya on the way ke toko,” ucapnya.

Ternyata Azka tidak pergi ke kantor. Itu hanya dijadikan alasan kepada Visha agar ia bisa mengambil pesanan di sebuah toko perhiasan.

Sesampainya di lokasi, Azka langsung masuk ke dalam toko mengambil pesanan berupa kalung berlian yang merupakan hadiah ulang tahun untuk Sesilia.

Tapi betapa terkejutnya ia karena kalung yang disiapkan oleh pegawai toko justru pesanan milik Visha. Kebetulan Azka memesan dua kalung berlian berbeda.

Meskipun nilai dan keindahan setara, tapi dokumen yang tercatat menunjukkan nama kepemilikan kalung tersebut, sehingga ia tidak bisa menukarnya begitu saja.

“Tolong disiapkan segera pesanan yang atas nama Sesilia Kaylani ya,” ucap Azka tegas sedikit kesal.

“Baik kak, saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Mohon tunggu sebentar untuk pesanan kalungnya,” sesal pegawai setelah melakukan kesalahan.

Azka hanya mengangguk pelan lalu duduk di sofa yang tersedia di sudut ruangan.

Waktu berlalu, sudah beberapa kali ia mengeluh, tapi pegawai toko hanya bisa memohon tenggat waktu. Azka mulai gelisah karena kalungnya belum juga selesai disiapkan.

“Mbak, berapa lama lagi?” tanya Azka kepada pegawai yang wajahnya sudah tegang sedari tadi.

“Sebentar lagi kak, kalungnya sudah siap, hanya butuh tanda tangan dari manajer toko untuk persyaratan dokumen.”

Azka terlihat geram tapi hanya bisa menghembuskan nafas panjang.

“Mohon maaf sekali kak, sekarang beliau sudah dijalan menuju ke sini kok,” lanjut pegawai berusaha untuk menenangkan Azka.

Tapi sepertinya upaya tersebut tidaklah berhasil. “Tolong hubungi dia agar segera datang karena saya harus berangkat ke ibukota. Saya tidak mau tertinggal pesawat,” tegas Azka.

“Baik kak,” ucap pegawai, segera mengambil handphone dari sakunya.

Ia langsung menghubungi manajer toko, mendesaknya supaya bisa secepat mungkin datang ke toko.

Setelah menunggu beberapa menit, orang yang ditunggu pun tiba. Begitu masuk toko, ia bergegas memarahi pegawai karena melakukan kesalahan. Azka hanya diam menyimak karena menurutnya wajar ia marah sebagai bentuk pertangungjawaban.

Tak berapa lama, manajer toko ditemani pegawai menghampiri Azka sambil membawa kalung pesanan.

“Selamat pagi Kak, mohon maaf sekali atas keterlambatannya. Berikut ini kalung pesanan atas nama Sesilia Kaylani, mohon dilihat dulu barangkali apakah sudah sesuai,” ucap manajer toko terdengar sangat ramah.

Azka menerima kotak kalung berlian lalu memeriksanya.  “Baik, sudah sesuai,” jawab Azka.

Manajer toko kemudian memerintahkan pegawai untuk merapikan kotak kalung beserta dokumen, memasukkannya ke dalam tas berlambang toko perhiasan.

“Untuk kalung yang atas nama Visha Aurelia, apakah sekalian mau diambil kak?” tanya manajer toko, polos.

Azka terhenyak, ia tidak menyangka kalau akan ditanya seperti itu. “Tidak, saya akan ambil kalungnya antara tanggal 4 atau 5 juli,” jawabnya.

Pada saat bersamaan, Visha menelpon. Azka menyadari kalau ia pasti akan menanyakan keberadaannya. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.03 menjelang siang.

Azka menyingkir beberapa meter dari manajer toko dan pegawai, mengangkat telepon Visha.

“Iya, aku sudah dalam perjalanan pulang,” kata Azka.

“Aku nyetir dulu ya, kamu siapkan semua di teras, supaya nanti kita tinggal berangkat,” lanjutnya kemudian langsung menutup telepon dengan cepat.

1
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!