Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Keesokan paginya, tepat pukul enam, Tirta mulai mengerjapkan matanya. Kepalanya berdenyut sakit, sementara matanya terasa silau oleh cahaya lampu. Perlahan ia membuka mata lebih lebar, lalu duduk dan menatap seluruh ruangan yang terasa asing baginya.
Matanya menyapu setiap sudut kamar yang tampak berbeda.
Dirinya sangat yakin bahwa ini adalah kamar Marchel. Namun anehnya, kamar itu kini terlihat sangat bersih. Tidak ada lagi botol-botol minuman berserakan. Bahkan kamar itu jauh lebih rapi dibandingkan sebelumnya.
Tirta menatap kakinya yang sudah diperban, lalu mencoba mengingat apa yang telah ia lakukan semalam. Sayangnya, ia hanya mengingat sampai dirinya menari layaknya orang kesurupan di depan pria itu.
Bahkan dirinya sempat berlari ke sana kemari dan mengacaukan kamar ini. Rasanya kepalanya semakin sakit saat mengingat tingkahnya sendiri.
“Ayo ingat... apa lagi yang kamu lakukan semalam?” gumamnya sambil memukul pelan kepalanya.
Ingin rasanya ia menenggelamkan diri ke dasar laut saat itu juga.
Ceklek...
Sesosok pria yang duduk di kursi roda masuk dengan sebuah paper bag di atas pangkuannya. Pria itu menatap gadis yang sedang menundukkan kepala karena malu. Beribu umpatan untuk dirinya sendiri sudah Tirta lontarkan di dalam hati.
“Mandilah. Ini pakaian baru yang dibawakan temanmu.” Ucap pria itu sambil menyerahkan paper bag tersebut tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
“Lala ada di sini? Di mana dia sekarang?” Tanya gadis itu antusias. Namun, ia tidak mendapat jawaban apa pun. Pria itu hanya menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
“Apa aku membuatmu marah? Maaf karena sudah merusak kamarmu semalam. Sungguh, aku tidak bisa mengendalikan diriku.” Lanjutnya penuh rasa bersalah.
“Aku tidak marah karena hal itu.”
“Lalu karena apa?” Tanya gadis itu penasaran. Selain itu, apakah masih ada tingkah lain yang tidak diingatnya?
“Lain kali, jangan pernah mabuk di hadapan pria mana pun.” Jawabnya tetap datar. Tirta semakin bingung mendengar larangan tersebut.
“Kenapa?”
“Karena kamu sangat gila kalau sudah mabuk.” Tirta langsung melengos mendengar jawaban pria itu.
Perlahan ia turun dari ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi. Seperti biasanya, tanpa meminta izin ataupun bertanya di mana letaknya, ia mencarinya sendiri dan langsung mandi di sana. Kamar itu sudah dibersihkan oleh para pembantu sejak semalam. Siapa pun yang membersihkan kamar tersebut pasti mendadak kaya, karena bayaran yang diberikan mencapai dua kali lipat gaji bulanannya.
Semalam, perintah yang diberikan kepada para pembantu sangat jelas. Jangan sampai tindakan mereka membangunkan gadis yang sedang tertidur lelap. Semua botol minuman dibuang, termasuk beberapa botol whiskey yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah dan masih tersegel. Pria itu tidak peduli apakah botol-botol itu diambil orang atau dibuang begitu saja. Yang terpenting, ia tidak ingin melihat benda-benda itu lagi berada di kamarnya.
Semua orang kini menunggu di ruang tengah. Tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk ke kamar tanpa seizinnya.
“Lala...” Panggil Tirta sambil mendorong kursi roda pria yang masih memasang wajah datar. Bahkan tanpa diminta ataupun menawarkan bantuan terlebih dahulu, gadis itu langsung mendorong kursi roda Marchel keluar kamar.
Lancang sekali, bukan?
Lala hanya diam sambil melipat kedua tangan di depan dada. Tatapannya begitu tajam mengarah kepada Tirta. Dan tentu saja Tirta tahu letak kesalahannya. Lala memang selalu melarangnya menyentuh alkohol berlebihan karena tahu bagaimana kelemahan sahabatnya saat mabuk.
“Pulang sekarang!” Ucap Lala tanpa basa-basi. Jika terlalu lama berada di rumah itu, keberaniannya bisa menghilang karena aura Marchel yang begitu mendominasi.
“Aku pulang dulu ya, Kak. Terima kasih atas tumpangannya, Marchel.” Ucap Tirta sambil melambaikan tangan, kemudian berlari kecil mengejar Lala yang sudah berjalan lebih dahulu.
Kini hanya tersisa Arga dan Marchel.
Pria tampan itu sudah berkeringat dingin ketika hanya tinggal dirinya bersama sepupunya, yang bahkan hanya dengan bernapas saja mampu membuat orang merasa takut. Apalagi ketika pria itu berbicara dengan nada datarnya.
Arga sudah pasrah jika dirinya akan dimarahi, atau bahkan dibunuh. Sekarang ia hanya mengandalkan keberuntungannya.
“Lanjutkan saja rencanamu.” Kalimat itu tidak hanya membuat jantungnya mencelos, tetapi juga hampir membuatnya pingsan. Bahkan setelah mengucapkannya, Marchel langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.
“Maksudnya... dia setuju kalau aku membuat situasi supaya mereka bertemu lagi?” Tanyanya pada diri sendiri. Sedetik kemudian, Arga langsung kegirangan hingga melompat-lompat sendiri. Masalah bagaimana Marchel bisa mengetahui rencananya bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Dengan IQ pria itu yang jauh di atas rata-rata, hal seperti itu sudah bisa ditebak.
“Yes! Berarti situasi ini sudah didukung oleh Marchel sendiri. Jadi tidak ada lagi yang bisa menghentikanku menyatukan mereka.” Lanjutnya penuh semangat. Itu berarti pria itu sudah mulai tertarik dan perlahan membuka hatinya. Ini adalah kesempatan langka setelah delapan tahun.
Tuhan memang telah mempertemukan mereka. Namun kesempatan yang membuat keduanya terus bertemu mungkin akan datang dalam waktu yang sangat lama. Karena itulah Arga memutuskan membantu meringankan tugas Tuhan untuk menyatukan dua insan yang memang sudah ditakdirkan.
...****************...
Di Perusahaan C, Lala masih diam seribu bahasa. Bahkan Tirta terus-menerus mencoba mengajaknya mengobrol, tetapi gadis itu tetap keras kepala dan masih merajuk.
“Kenapa dengan Mbak Lala?” Tanya salah satu anak training di divisinya. Tirta hanya bisa mengembuskan napas panjang. Membujuk gadis itu jauh lebih sulit daripada menyelesaikan tugas dari atasannya.
“Dia sedang marah karena aku tidak bercerita apa pun kepadanya. Lalu... karena aku juga sempat mabuk semalam.” Jawabnya lesu. Anak training itu hanya mengangguk paham dan memilih tidak ikut campur urusan kedua seniornya.
“Maaf, Lala. Aku semalam cuma ingin menemani dia minum, tapi malah kebablasan.” Cicit Tirta sambil memegang ujung kemeja putih sahabatnya. Lala menghentikan jemarinya yang sedang mengetik.
“Kalau memang begitu, lain kali aku tidak akan ikut campur urusanmu. Lagi pula, apalah arti persahabatan ini untukmu.” Sahutnya, lalu kembali mengetik di komputernya. Tirta langsung menggeleng cepat.
“Bukan begitu. Kami baru bertemu beberapa kali, dan aku juga tidak tahu kenapa selalu dipertemukan dengannya lagi.” Jelasnya jujur. Kini Lala menoleh menatap Tirta.
“Sungguh? Lalu kenapa kalian terlihat sangat akrab dan mesra? Apa dia kekasih barumu dan kamu tidak memberitahuku?” Tanya gadis itu layaknya sedang menginterogasi. Tirta menggeleng dengan yakin.
“Tidak. Kami terlihat biasa saja. Tidak ada hubungan apa pun. Tapi memang harus aku akui, saat bersama dengannya aku merasa nyaman dan aman.” Jawabnya jujur. Ia memang tidak pernah menyembunyikan apa pun dari gadis yang duduk di hadapannya itu.
Lala mengangguk pelan.
Namun apa yang ia lihat semalam membuatnya merasa hubungan keduanya tidak akan berhenti sampai di situ. Tatapan pria itu kepada Tirta begitu tulus. Entah kenapa, ia justru merasa senang karena akhirnya ada seseorang yang benar-benar memperhatikan sahabatnya.
Bahkan semalam ia melihat sendiri bagaimana keras kepalanya Marchel saat memerintahkan Arga mencari pembantu meski waktu sudah sangat larut. Marchel juga tidur di kamar yang berbeda dari Tirta. Arga pun berkali-kali meyakinkannya bahwa sepupunya adalah pria yang baik. Melihat Lala kembali melamun, Tirta melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu.
“Kenapa melamun? Apa aku melakukan hal buruk semalam?” Tanya Tirta. Lala menggeleng pelan.
“Jadi kamu sudah tidak marah lagi?” Tanya Tirta memastikan. Lala mengangguk, lalu kembali duduk dengan benar di kursi kerjanya.
“Tidak. Tapi lain kali kamu hanya boleh mabuk saat bersama pria kemarin saja. Kalau dengan pria lain, jangan pernah minum terlalu banyak.” Sarannya dengan tenang. Tirta menatapnya heran.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau melihat kamu duduk di pangkuan seorang pria seperti semalam.”
“APA?!”
Jederr!!
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜