"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Bayang di Balik Cahaya
Angin sore mulai berhembus lebih kencang, menggoyangkan ribuan kelopak bunga matahari yang kini berwarna keemasan diterpa sinar matahari yang mulai turun ke barat. Di bawah pohon besar itu, Su Yi masih bersandar di dada Mo Han, menikmati detak jantung pria itu yang berdetak tenang dan kuat di bawah telinganya. Ia merasa seakan waktu berhenti berputar di tempat ini, seakan dunia luar tidak ada — hanya ada dirinya, Mo Han, dan kebun bunga matahari yang menjadi saksi bisu cinta mereka yang tumbuh sejak masa kecil.
"Kau tahu, Mo Han..." Su Yi berbisik pelan, tangannya melingkar di pinggang pria itu dengan erat. "Aku sering bermimpi tentang tempat ini. Tentang bunga matahari, tentang pohon besar ini, tentang seorang anak laki-laki yang menungguku di sini. Tapi setiap kali aku ingin melihat wajahnya dengan jelas... aku selalu terbangun. Sekarang aku tahu... itu adalah kau. Selama ini yang kucari di dalam mimpiku adalah kau."
Mo Han mengusap rambutnya dengan lembut, mencium ubun-ubunnya perlahan dengan penuh kasih sayang. "Dan aku selalu bermimpi tentangmu. Setiap malam selama sepuluh tahun. Aku ingat setiap detail wajahmu, setiap senyummu, setiap kata yang pernah kau ucapkan. Bahkan saat aku tidak tahu di mana kau berada... aku tahu kau ada di suatu tempat, menungguku menemukanmu."
Ia menarik sedikit tubuh gadis itu agar bisa menatap wajahnya, jari-jarinya menyentuh pipi Su Yi dengan lembut seakan takut ia akan hancur jika terlalu kuat. "Dan sekarang kau ada di sini. Di depanku. Nyata. Bukan lagi mimpi. Aku berjanji, Yi. Apa pun yang terjadi, apa pun bahaya yang datang... aku akan melindungimu dengan nyawaku sendiri. Tidak ada yang boleh menyakitimu. Tidak ada yang boleh memisahkan kita."
Su Yi menatap matanya yang dalam dan tulus, lalu tersenyum — senyum yang paling indah dan paling bahagia yang pernah ia miliki. "Aku tidak takut, Mo Han. Selama aku bersamamu... aku tidak takut pada apa pun."
Namun di saat itu juga, Mo Han merasakan getaran halus di saku jasnya — pesan masuk. Ia mengerutkan kening perlahan, menarik ponselnya dan melihat nama pengirimnya. Wajahnya yang tadinya lembut dan penuh cinta perlahan berubah menjadi serius, tatapannya kembali tajam dan penuh kewaspadaan. Su Yi menyadari perubahan itu, bertanya pelan, "Ada apa? Ada yang salah?"
Mo Han menatapnya sebentar, lalu menyembunyikan kekhawatirannya di balik senyum tipis. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Hanya urusan kantor. Tapi sepertinya... kita harus segera pulang."
Ia meraih tangan Su Yi, menggenggamnya erat. "Aku berjanji... kita akan kembali ke sini. Sering-sering. Ini tempat kita. Dan tidak ada siapa pun yang boleh mengambilnya dari kita. Tapi sekarang... kita harus pergi. Langit mulai gelap, dan aku tidak ingin kau berada di jalan saat malam turun."
Su Yi mengangguk pelan, meski hatinya merasa ada sesuatu yang disembunyikan pria itu. "Baiklah. Kita pulang."
Sebelum masuk ke mobil, Mo Han berhenti sejenak dan menatap ke arah bukit di seberang kebun itu — tatapannya tajam dan penuh curiga, seakan ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sana. Namun tidak ada siapa-siapa di sana selain pepohonan dan semak belukar yang bergerak ditiup angin. Ia mengerutkan kening lagi, lalu segera membukakan pintu mobil untuk Su Yi dan masuk ke sisi pengemudi.
Mobil melaju meninggalkan kebun bunga matahari itu, membelah jalan setapak yang kini mulai remang-remang karena matahari yang hampir terbenam. Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam kabin tidak lagi sehangat tadi. Mo Han terlihat berpikir berat, tangannya sesekali mengetuk setir dengan ritme yang tidak tenang. Su Yi memperhatikannya dari samping, ingin bertanya namun tahu bahwa pria itu akan menceritakannya saat ia siap.
"Mo Han..." Su Yi akhirnya memecah keheningan. "Siapa yang mengirim pesan itu? Dan apa isinya?"
Mo Han diam beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Ia tidak ingin menyembunyikan apa pun darinya, tapi ia juga tidak ingin menakuti gadis itu. "Itu dari orang kepercayaanku. Ada orang yang memata-matai kita. Sejak kita meninggalkan rumah tadi pagi... ada mobil yang mengikuti kita dari kejauhan."
Su Yi meneguk ludah, rasa takut perlahan menyusup ke dadanya. "Siapa? Apakah itu keluargamu?"
"Belum pasti." Mo Han jujur, suaranya rendah dan tegas. "Bisa jadi mereka. Tapi bisa juga orang lain. Ada musuh lama yang sedang bergerak. Musuh yang sudah lama aku waspadai. Dan sekarang... sepertinya dia tahu bahwa kau ada di sisiku. Dan itu berarti... kau juga menjadi targetnya."
Ia menoleh sebentar ke arah Su Yi, tatapannya penuh permintaan maaf. "Maafkan aku, Yi. Aku tidak bermaksud melibatkanmu dalam semua bahaya ini. Aku berharap kau bisa hidup tenang, tanpa harus takut pada siapa pun. Tapi sekarang... semuanya sudah berubah. Dan aku harus memastikan kau aman, walau itu berarti aku harus menjagamu dua kali lipat lebih ketat dari sebelumnya."
"Aku tidak takut, Mo Han." Su Yi berkata tegas, tangannya meraih tangan pria itu di persneling. "Dan aku tidak akan lari. Apa pun yang datang... kita hadapi bersama. Kita sudah melewati perpisahan sepuluh tahun. Tidak ada yang lebih berat dari itu. Kita adalah tim. Ingat?"
Mo Han tersenyum tipis, rasa bangga dan kasih sayang meluap di dadanya. "Ya. Kita adalah tim. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengalahkan kita."
Sesampainya di kediaman, suasana rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya lampu terang menyala di seluruh ruangan, namun tidak ada pelayan yang terlihat. Mo Han mengerutkan kening — seharusnya ada dua orang pelayan yang berjaga di ruang tengah saat mereka pulang. Ia meletakkan jari di bibirnya memberi isyarat agar Su Yi diam, lalu berjalan masuk lebih dulu dengan langkah pelan dan waspada.
"Siapa di sana?" Suara Mo Han terdengar rendah namun bergema di seluruh ruangan.
Dari arah ruang tamu, terdengar suara tepuk tangan yang pelan dan berirama — suara yang tajam dan penuh ejekan. Lalu muncul sesosok pria berusia sekitar tiga puluh tahunan, berpakaian rapi namun tatapannya licik dan penuh kebencian. Ia berdiri di tengah ruangan, seakan ia adalah pemilik rumah itu. Di belakangnya, dua orang pelayan terikat dan ditutup mulutnya di sudut ruangan — mereka tidak terluka, namun terlihat ketakutan.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Mo Han." Pria itu berkata dengan nada merendahkan namun penuh ancaman. "Dan tentu saja... selamat kembali bersama kekasih masa kecilmu. Sungguh cerita yang sangat menyentuh hati. Sayang sekali... ceritanya akan segera berakhir."
Mo Han berdiri di depan Su Yi, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Tatapannya begitu dingin dan mengerikan hingga pria itu mundur selangkah tanpa sadar. "Lepaskan pelayan-pelayanku sekarang, Jiang Chen. Dan katakan padaku... berani sekali kau masuk ke rumahku tanpa diundang. Apa yang kau inginkan?"
Jiang Chen tertawa sinis, berjalan perlahan mendekati mereka namun berhenti saat Mo Han mengeluarkan senjata dari balik jasnya — sebuah pistol yang ditujukan lurus ke arahnya.
"Tenanglah. Aku tidak datang untuk berkelahi. Setidaknya belum sekarang." Jiang Chen mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, namun senyumnya masih tetap penuh ancaman. "Aku hanya datang untuk menyampaikan pesan. Dari Tuan Jiang. Ayahku."
"Katakan." Mo Han berkata singkat, tidak menurunkan senjatanya sedikit pun.
"Ayahku bilang... kembalikan apa yang bukan milikmu. Serahkan proyek pengembangan tanah di kawasan utara, dan tinggalkan kota ini dalam waktu tujuh hari. Jika kau melakukannya... mungkin kami akan membiarkan wanita ini hidup. Tapi jika kau menolak..." Jiang Chen menatap tajam ke arah Su Yi di belakang bahu Mo Han, matanya menyala penuh kebencian. "...maka jangan salahkan kami jika sesuatu buruk terjadi padanya. Ingat, Mo Han. Kau mungkin kuat di siang hari. Tapi tidak ada yang bisa menjaganya dua puluh empat jam sehari. Dan kami selalu punya cara untuk masuk ke tempat yang paling dijaga sekalipun."
Mo Han menegang, urat di lehernya menonjol karena menahan amarah yang meluap-luap. "Kau berani mengancamnya? Kau tahu konsekuensinya jika kau menyentuh sehelai rambut pun di kepalanya."
"Kami hanya memberi pilihan." Jiang Chen mengangkat bahu dengan santai. "Tujuh hari. Jika pada hari ketujuh kau belum pergi... maka wanita cantik ini akan menjadi pengganti harta yang hilang. Pilihan ada di tanganmu. Sampai jumpa, Tuan Muda."
Dengan kata-kata itu, Jiang Chen mundur perlahan, lalu keluar melalui pintu belakang yang ternyata sudah ia buka sejak tadi. Mo Han tidak mengejarnya — ia tahu itu mungkin jebakan. Ia segera menurunkan senjatanya dan berbalik ke arah Su Yi, wajahnya penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.
"Yi... maafkan aku. Kau harus mendengar semua itu."
Su Yi tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju dan memeluk pria itu dengan erat, seakan ingin menenangkan badai amarah yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. "Aku tidak takut, Mo Han. Dan aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian. Kita hadapi bersama. Ingat?"
Mo Han memejamkan matanya, memeluknya balik dengan penuh rasa syukur sekaligus ketakutan yang luar biasa. Ia tidak takut pada siapa pun untuk dirinya sendiri. Tapi memikirkan bahwa ada orang yang berani mengancam nyawa Su Yi... itu membuatnya merasa begitu takut dan begitu berbahaya.
"Mereka tidak akan menyentuhmu." Mo Han berjanji dengan suara bergetar namun teguh. "Aku akan melindungimu. Bahkan jika aku harus menghancurkan seluruh keluarga Jiang... aku akan memastikan kau aman. Tidak peduli apa pun harganya."
Malam itu, di kediaman yang seharusnya damai itu, dua hati yang baru saja menemukan satu sama lain kini harus menghadapi ancaman nyata yang mengancam memisahkan mereka. Namun di pelukan satu sama lain, mereka tahu satu hal — selama mereka bersama, tidak ada bahaya yang terlalu besar, tidak ada musuh yang terlalu kuat. Karena cinta mereka bukan sekadar perasaan. Itu adalah kekuatan yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun.
Dan di kejauhan, di sebuah gedung tinggi di pusat kota, Jiang Chen berdiri di jendela besar sambil menatap ke arah kediaman Mo Han yang remang-remang di kejauhan. Di belakangnya, duduk seorang pria tua yang wajahnya penuh kerutan namun matanya tajam seperti elang — Tuan Jiang, kepala keluarga Jiang.
"Bagaimana?" Suara pria tua itu terdengar berat dan dingin.
"Mereka menerima tantangannya, Ayah." Jiang Chen tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan rencana jahat. "Mo Han tidak akan menyerah pada wanita itu. Dia akan bertarung. Dan itu adalah kelemahan terbesarnya. Saat dia mulai melindunginya... dia akan menjadi lemah. Dan saat dia lemah... kita akan menghancurkannya."
Pria tua itu tersenyum samar, senyum yang mengerikan. "Bagus. Biarkan dia berpikir bahwa dia bisa melindunginya. Semakin dia mencintainya... semakin mudah dia jatuh. Dan saat itu terjadi... wanita itu akan menjadi senjata terbaik kita untuk menghancurkan Mo Han selamanya."
salam interaksi thor😉