Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 28
“Nduk, maem nya sudah siap,” seru istri Dasim seraya membuka pintu ruang pribadi sang diri kecil, tak lupa mengetuk terlebih dahulu.
“Memang kalau sudah rezeki tak ‘kan kemana. Pucuk dicinta, mbak Wulan pun tiba,” seloroh Hans, senapan di tangan kembali diletakkan pada tempatnya.
Ia kemudian menarik tangan Anne, memintanya gegas berdiri, raut wajah sebelumnya lebih serius kembali jenaka dengan senyum jahil dan kerlingan mata sebelah kiri. “Ayo Anne tak baik menunda lapar, nanti kau bisa pingsan, tak kuat menghadapi serangan cinta dari pangeran berkuda ini.”
Anne berdecak kesal, malas-malas ia beranjak dari duduknya sebab Hans terus menarik tangannya. “Harusnya kau datang sedikit malam, agar tak mengganggu selera makanku, Tuan Williams.”
“Justru aku sengaja datang tepat pukul sekian karena tau kebiasaan jam makanmu, Nona Van Beek. Kapan lagi aku bisa menikmati makan malam yang lezat sambil memandang wajah masam, namun sedap di pandang,” balas Hans.
Perdebatan kecil masih terus berlangsung sampai mereka keluar ruangan menuju teras belakang. Wajah Hans seketika berbinar, cengkraman di pundak Anne terlepas cepat, mulut tak henti berkecap sambil meneguk ludah kasar.
“Firasat ku memanglah tak pernah salah. Sedari kemarin gurihnya kuah santan bercampur koya selalu menari-nari dipikiran, rupa-rupanya hari ini Tuhan mewujudkannya.” Pemuda memakai setelan kemeja dan celana kulit sintesis berpindah memeluk pundak Wulan, bibir tipis terlihat merah alami meski penghisap nikotin melengkung lebar. “Terima kasih, Mbak Wulan, kau memang—”
“Berhenti bicara omong kosong atau ku lempar kau ke kandang kuda!” sergah Anne, netra sendunya menatap tajam sang sahabat yang memasang raut wajah memelas.
“Kau sedang cemburu? Anne … dia adalah pengasuh kita, pengganti ibu kita, tak sepatutnya kau mencurigai kedekatan—”
Bugh
Ocehan Hans Williams terhenti oleh tinjuan di perutnya, meski tak terlalu kencang, namun cukup membuat pemuda itu meringis kesakitan.
“Duduk di tempatmu atau kita tak jadi makan,” ancam Anne saat sang sahabat kembali ingin memprotes.
Dengan bibir mengerucut dan langkah yang di buat-buat lemas, tangan memegang perut, Hans duduk di sebelah Anne, namun baru saja akan meletakkan bokong, gadis galak itu lebih dulu menahan.
“Duduk di bangku sebelah sana.”
“Tapi ….”
“Duduk di tempatmu, Tuan Hans William,” potong Anne dengan bahasa Belanda yang fasih.
Hans buru-buru berpindah, lalu duduk tanpa berani mengeluarkan suara. Ia paham, jika Anne sudah berbicara dalam Belanda, pertanda kesal telah memuncak dalam hati bisa jadi kalau terus digoda ia akan didiamkan dalam waktu lama.
Melihat perubahan raut wajah pemuda Eropa akrab di panggil sinyo atau tuan muda itu, tiga orang kepercayaan keluarga Van Beek mengulum senyum tipis, tatapan mereka saling beradu.
“Ndak sumbut karo badannya yang gagah, baru di pentelengin genduk aja udah ciut,” celetuk Wulan sambil menghidangkan beberapa lauk tambahan. (Sumbut \= sesuai)
Netra Hans melebar seketika, rahangnya mengetat, jari telunjuk berada di depan bibir yang bergumam pelan, mengkode wanita paruh baya itu untuk diam.
Makan malam pun berlangsung dengan suasana sunyi, hanya denting denting sendok dan mangkuk yang mengisi, juga suara burung hantu yang sesekali menyela dari rimbunnya pohon randu dan tarikan napas Rusli, sedari tadi memperhatikan dari balik batang pohon randu.
“Bener-bener podo blejet kaya ibunya. Aku harus segera melapor pada Noni Maria juga penduduk desa, ini tidak bisa di biarkan, gundik itu akan kembali membawa petaka bisa-bisa.”
Ia kemudian mengambil sepeda ontelnya yang di geletakkan di samping, tertutup rimbunan ilalang, mengayuh cepat meninggalkan pelataran belakang kediaman keluarga Van Beek.
Di teras belakang, obrolan ringan kembali bergulir setelah masing-masing penghuni rumah menghabiskan makan malam mereka, menyisakan pedas dan panas pada bibir yang memerah.
“Malam ini kita langsung bergerak, jangan sampai lengah, tangkap siapapun yang terlihat berada di area persawahan. Aku tak mau kita kembali kecolongan, karena kalau sekali ini lagi kita kecolongan, maka semua yang aku perjuangkan akan musnah dalam sekejap mata,” ujar Anne, sorot bengis kembali mengilat di matanya.
“Baik, Nduk. Pakde akan menambah orang untuk berjaga-jaga,” sahut Broto.
Hans Williams yang masih asik menghabiskan ceker ayam kampung, turut menyeletuk tanpa berani mengangkat kepala. “Jangan hanya berjaga di malam hari, boleh jadi siang pun mereka menjalankan aksinya dan kalau dipikir, justru siang hari lebih minim dicurigai, sebab orang-orang yang berada di sawah akan mengira mereka pergi menyemprot biasa.”
“Sinyo ada benarnya, Kang Dasim juga curiga mereka melakukannya pada siang hari, bukan malam hari,” imbuh Dasim.
“Entah malam atau pun siang, mulai hari ini kita harus siaga. Mereka tak semata-mata ingin pertanianku gagal, tapi juga menjatuhkan ku dari posisi ketua dan entah apa niat terselubung lainnya, bisa jadi mereka ingin aku pergi dari desa ini.” Anne meraih kretek tergelatak di meja, sudah menjadi kebiasaan tiap usai makan—menghisap asap nikotin.
“Memanglah itu tujuan utama mereka. Kau malah dengan sengaja menatang ingin memberikan semua lahan pertanian.” Hans ikut mengambil satu batang, menyulutnya lewat ujung kretek Anne yang baru menyala.
“Terkadang keputusanmu itu terlalu nekat, Anne. Aku tau kau mampu menyelesaikan semuanya, tapi kau juga harus melihat siapa lawanmu, kalau mereka lebih cerdik, bisa habis kau di lahap, dan terbukti, kali ini lawanmu tak hanya cerdik, tapi licik.” Hans menghisap dalam kretek terselip di jari, menghembuskan asap tipisnya ke depan wajah Anne.
“Tanpa kau sadari, mereka telah memancing emosimu, menyerang titik lemah yang bisa langsung membuatmu terbakar amarah, tentu saja tujuannya agar kau mengambil keputusan gegabah, dan ya … mereka tepat sasaran. Kau terpancing, merasa harga diri terinjak sampai mengambil keputusan tanpa bepikir panjang, untungnya kau juga cukup cekatan mengahapinya, dan ….”
Hans menggantung ucapannya, bergeser ke sebelah Anne yang menatapnya dengan raut serius. “Dan kau harus bersyukur memiliki aku yang selalu menjagamu dari kejauhan, membereskan masalah kecil yang terkadang kau abaikan.”
Pemuda meringis sampai gigi rapi nya terlihat itu mencondongkan kepala, jari telunjuknya mengetuk pipi merona. “Sekarang beri aku upah di sini dan di—”
“Memang salah besar berpikir kau bisa serius.” Anne mendorong kasar wajah Hans seraya beranjak dari duduknya. “Pak de dan Kang Dasim lekaslah bergerak, aku akan mandi sebentar. Kau … pulanglah, aku muak melihat wajahmu yang sudah seperti kuda birahi itu.”
Air muka Hans berubah muram seketika, pundak merosot, bersandar lemas pada sandaran kursi kayu, bibir menggerutu. “Padahal aku hanya ingin membantu.”
Anne menoleh cepat, satu tangan bertopang di pinggang, satu lagi mengangkat dagu sang sahabat untuk mendongak menatapnya. “Berhenti melakukan hal konyol, kalau mau terus membantu, dan … jaga sikap!”
Hans meneguk ludah kasar, kepala mengangguk lemah, tatapan menghiba layaknya anak kucing yang diselamatkan dari kubangan pinggir jalan. Pandangannya masih belum lepas dari gadis yang melenggok anggun masuk kedalam rumah, bibir kembali bergumam, memancing tawa dua orang masih duduk di sebelahnya.
“Terbuat dari apa sebenarnya gadis galak itu?”
Bersambung.
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria