Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Keesokan paginya, berita tentang Kevin hampir hilang dari semua akun besar.
Akun gosip yang semalam sempat mengunggah potongan video tiba-tiba meminta maaf. Portal kecil yang menulis inisial keluarga Santoso menghapus artikel. Di grup WhatsApp sosialita, topik itu diganti dengan acara amal dan peluncuran restoran baru.
Terlalu rapi.
Alya duduk di meja sarapan, membaca semua jejak digital yang tersisa. Rafi berdiri di dekat pintu, sementara Dinda membantu Maya menuang teh untuk Baskara.
Pemandangan keluarga sempurna.
Kalau orang luar melihat, mereka mungkin akan percaya rumah ini penuh kasih.
Raka datang terlambat, wajahnya lelah. Ia duduk di seberang Alya dan meletakkan ponsel di dekat piringnya. Tidak ada kata, hanya layar yang menyala.
Alya melirik.
Nama perempuan di foto: Livia Ananta.
Anak pemilik vendor acara kecil yang pernah bekerja sama dengan klub tempat Kevin membuat keributan. Livia masuk rumah sakit swasta dini hari setelah kejadian, tetapi catatan IGD-nya ditutup. Keluarganya menolak bicara.
Alya mengetuk meja dua kali, tanda terima kasih.
Raka pura-pura tidak melihat.
Dinda memperhatikan gerakan kecil itu. "Mas Raka, semalam pulang jam berapa? Aku ketuk kamar Mas, tidak ada jawaban."
"Ada urusan."
"Urusan apa?"
Raka mengambil roti. "Kerja."
Dinda tersenyum, tetapi matanya bergerak ke Alya. "Mas akhir-akhir ini sibuk sekali sejak Kak Alya pulang."
Baskara menatap Raka. "Kamu jangan ikut campur urusan yang tidak perlu."
Raka mengoles mentega pelan. "Urusan adikku perlu."
Dinda menunduk. Maya langsung berkata, "Raka, Dinda juga adikmu."
"Aku tidak bilang bukan."
"Tapi sejak Alya pulang, kamu seperti menyalahkan Dinda."
Raka meletakkan pisau. "Kalau Dinda tidak melakukan apa-apa, kenapa harus merasa disalahkan?"
Maya tersenyum tipis. "Kata-katamu makin tajam."
"Mungkin selama ini aku terlalu tumpul."
Sarapan menjadi sunyi.
Alya menggigit roti tanpa suara. Ia tidak membantu Raka. Ada pertempuran yang harus ia biarkan orang lain pilih sendiri. Raka sedang menentukan posisinya. Kalau Alya terlalu cepat menariknya, ia justru akan tampak seperti memengaruhi.
Baskara akhirnya berkata, "Makan malam dengan Santoso tetap jadi. Tidak ada lagi pembicaraan soal berita itu. Mengerti?"
Alya bertanya, "Bagaimana kalau keluarga korban muncul?"
"Tidak akan."
Jawaban itu terlalu cepat.
Alya mengangkat alis. "Papa yakin?"
Baskara menatapnya dingin. "Orang-orang tahu kapan harus diam."
Begitu rupanya.
Di kehidupan lalu, Alya tidak pernah tahu cara keluarga Wiratama dan Santoso menjaga reputasi. Ia hanya melihat hasil akhirnya: orang-orang kecil hilang dari cerita, orang-orang kaya tetap tersenyum di panggung.
Kali ini ia tahu lebih awal.
Setelah sarapan, Alya pergi ke taman belakang. Ia duduk di bangku batu, membuka laptop kecil. Rafi berdiri tidak jauh, menyamar sebagai orang yang sedang mengurus tanaman, meski caranya memegang gunting taman jelas membuat tukang kebun asli ketakutan.
"Kamu menakuti Pak Darmin," kata Alya tanpa menoleh.
Rafi melihat gunting di tangannya, lalu meletakkannya. "Aku tidak cocok jadi tukang kebun."
"Kamu juga tidak cocok jadi pengawal yang terlalu mencolok."
"Kevin lebih mencolok."
Alya tersenyum. "Cemburu?"
"Waspada."
"Bedanya tipis."
Rafi tidak menjawab.
Alya membuka akses ke beberapa rekaman CCTV jalan sekitar klub Senopati. Sebagian sudah dihapus. Namun orang yang menghapusnya tidak cukup bersih. Ada celah di kamera parkir minimarket seberang jalan.
Di sana terlihat Kevin keluar dari pintu belakang klub. Livia mengikutinya, tampak ingin pergi. Kevin menarik lengannya. Dua pria lain tertawa. Tidak ada suara, tetapi gerakan tubuh cukup jelas.
Lalu Livia jatuh.
Alya berhenti mengetik.
Rafi mendekat. "Itu cukup?"
"Belum."
"Untuk menghancurkan makan malam?"
"Cukup. Untuk menghancurkan keluarga Santoso? Belum."
Rafi menatap layar. "Kamu ingin sejauh itu?"
Alya menutup laptop. "Mereka ingin memakai aku untuk menutup luka perempuan itu. Aku hanya membuka perbannya."
Sore hari, Raka mengirim pesan.
Livia dirawat di RS Paramita. Keluarganya dijaga orang Santoso. Aku belum bisa masuk.
Alya membalas.
Aku yang masuk.
Balasan Raka datang cepat.
Jangan gegabah.
Alya mengetik.
Mas yang jaga pintu belakang.
Tidak ada balasan selama hampir satu menit. Lalu Raka mengirim:
Kamu memang selalu begini?
Alya menjawab:
Baru mulai.
Malamnya, Alya keluar rumah dengan alasan ingin membeli buku. Baskara hampir menolak, tetapi Raka menawarkan diri mengantar. Dinda ingin ikut, namun Maya menahannya dengan alasan ada fitting gaun.
Di mobil, Raka tidak langsung menyalakan mesin.
"Aku tahu kita tidak ke toko buku."
"Kita ke rumah sakit."
"Aku juga tahu." Raka menghela napas. "Alya, kalau ini ketahuan, Papa akan marah besar."
"Mas takut?"
"Iya."
Alya menatapnya.
Raka menyalakan mobil. "Tapi aku lebih takut kalau kamu sendirian."
Kalimat itu membuat Alya diam lebih lama dari biasanya.
RS Paramita adalah rumah sakit swasta yang mahal, bersih, dan terlalu wangi. Raka masuk lewat lobi utama untuk menarik perhatian, sementara Alya dan Rafi masuk lewat jalur staf belakang yang sudah Rafi buka aksesnya.
Kamar Livia berada di lantai tujuh.
Di depan kamar ada dua pria berbadan besar. Raka berdiri di ujung koridor, menelepon seseorang dengan suara cukup keras agar perawat menoleh. Saat dua pria itu terganggu, Rafi bergerak cepat. Tidak ada suara pukulan keras, hanya dua tubuh yang tiba-tiba tersandar lemas di kursi tunggu.
Alya masuk.
Livia terbaring di ranjang. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Ibunya duduk di samping ranjang, matanya bengkak. Begitu melihat orang asing masuk, perempuan itu berdiri panik.
"Siapa kamu?"
"Alya Wiratama."
Wajah ibu Livia berubah. "Keluar."
"Saya datang bukan untuk keluarga Santoso."
"Semua orang kaya sama saja." Suara perempuan itu bergetar. "Mereka sudah menyuruh kami diam. Kalau kamu datang untuk menakut-nakuti kami, kami sudah cukup takut."
Alya menatap Livia. Gadis itu membuka mata sedikit.
"Aku tidak datang menyuruh kalian diam," kata Alya. "Aku datang menawarkan pilihan."
Ibu Livia tertawa getir. "Pilihan? Anak saya dipukuli, difitnah mabuk, lalu mereka kirim orang membawa uang dan ancaman. Pilihan apa?"
"Bukti."
Livia menatap Alya lebih fokus.
Alya mengeluarkan ponsel, menunjukkan potongan rekaman parkir. "Ini belum cukup untuk menghukum Kevin sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat mereka takut. Kalau kalian punya bukti lain, saya bisa bantu simpan dan bawa ke orang yang tepat."
Ibu Livia masih curiga. "Kenapa kamu membantu?"
"Karena mereka mau menikahkan saya dengan Kevin."
Livia tersentak. Suaranya serak ketika bicara, "Jangan."
Satu kata itu lebih jujur daripada seluruh keluarga Santoso.
Alya mendekat. "Apa yang terjadi malam itu?"
Livia menutup mata. Air matanya jatuh pelan. "Aku menolak masuk mobilnya. Dia marah. Teman-temannya menertawakan aku. Aku jatuh. Dia bilang kalau aku bicara, ayahku tidak akan dapat kerja lagi."
Ibu Livia menangis tanpa suara.
Alya bertanya, "Ada rekaman suara? Chat? Foto?"
Livia mengangguk lemah. "Di ponselku. Tapi ponselku diambil."
"Oleh siapa?"
"Orang Kevin."
Alya menatap Rafi.
Rafi mengerti.
Pintu tiba-tiba diketuk.
Suara pria dari luar berkata, "Bu, kami perlu bicara. Dari keluarga Santoso."
Ibu Livia langsung pucat.
Alya memberi isyarat agar semua diam. Rafi berdiri di balik pintu.
Pria itu mengetuk lagi. "Bu, jangan membuat kami menunggu."
Alya membuka pintu.
Pria di luar terkejut. "Kamu siapa?"
Alya tersenyum. "Calon tunangan Kevin."
Wajah pria itu berubah.
"Tolong sampaikan pada keluarga Santoso," kata Alya pelan, "kalau mereka masih mengganggu Livia, aku akan datang ke makan malam besok dengan membawa wartawan."
Pria itu menelan ludah.
Di ujung koridor, Raka menghentikan telepon pura-puranya dan menatap Alya seperti baru mengenal adiknya.
Alya menutup pintu kembali.
Besok malam, keluarga Santoso ingin pertunjukan.
Ia akan memberi mereka panggung.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔