Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Langkah di Istana
Roda-roda kereta kayu jati berukir lambang keluarga Evander berderit malas menapaki jalanan batu yang basah oleh sisa salju musim dingin. Rasa dingin menjalar dari ujung-ujung jemari Aria, merayap perlahan melampaui sarung tangan beludru tipis yang dikenakannya. Di luar jendela, kabut tipis merayap di antara pilar-pilar batu megah yang membatasi distrik bangsawan ibu kota Elgarth. Aria mengembuskan napas panjang, membiarkan uap tipis mengaburkan pandangannya sejenak pada kemegahan luar yang selalu terasa asing.
Perjalanan kembali dari perbatasan utara menyisakan kelelahan yang luar biasa di persendiannya. Keberhasilannya memulihkan para prajurit dari sihir distorsi Kaisar Magnus tidak mendatangkan ketenangan, melainkan kecurigaan baru. Di dalam benaknya, peringatan Kael masih terngiang dengan kejelasan yang mengganggu—bahwa langkah beraninya telah menarik perhatian mata-mata istana. Aria tahu ia sedang menari di atas tali tipis yang siap putus kapan saja. Namun, kembali ke naskah asli novel di mana ia berakhir mati mengenaskan sebagai bidak politik adalah kepasrahan yang tidak akan pernah ia pilih.
Kereta akhirnya berhenti di depan paviliun kediaman Evander yang kini mulai tampak lebih terawat. Di dalam kamar rias yang dipenuhi aroma minyak mawar dan kayu manis, Mia Florent bergerak dengan ketangkasan yang mengagumkan. Jemari pelayan setia itu menyisir helaian rambut perak Aria yang berkilau di bawah cahaya lampu minyak. Mia mengepang beberapa bagian kecil di sisi kepala, lalu membiarkan sisa rambut bergelombang itu jatuh dengan anggun di bahu sang nona.
“Nona, Anda tampak sangat cantik malam ini,” bisik Mia, matanya berbinar menatap pantulan Aria di cermin besar berbingkai perunggu kuno. “Tetapi, Anda terlihat begitu lelah. Apakah Anda yakin ingin menghadiri perjamuan kekaisaran ini?”
Aria tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Mia dengan lembut untuk menenangkannya. “Perjamuan malam ini bukan sekadar pesta, Mia. Ini adalah medan perang tanpa pedang. Jika aku tidak hadir, mereka akan menganggap ketidakhadiranku sebagai pengakuan atas segala fitnah yang beredar.”
Pandangan Aria beralih pada gaun yang telah disiapkan di atas ranjang. Gaun sutra berat berwarna biru safir pekat melilit tubuhnya dengan presisi yang sempurna, dihiasi sulaman benang perak berbentuk ranting-ranting pohon kuno di sepanjang hem dada. Warna biru safir itu adalah warna kejayaan masa lalu keluarga Evander. Aria sengaja memilihnya untuk mengirimkan pesan visual yang jelas kepada para bangsawan tinggi: keluarga Evander tidak lagi bisa diinjak dan diabaikan begitu saja.
Ketika Mia berbalik untuk mengambil kotak perhiasan di sudut ruangan, seberkas cahaya keemasan lembut melayang turun dari langit-langit kamar. Lumi, peri kecil roh pelindung pena takdir, menampakkan diri dengan ukuran sebesar ibu jari di atas pundak Aria. Sepasang sayap transparannya bergetar pelan, menyebarkan serpihan cahaya hangat yang menenangkan.
“Garis-garis takdir di aula istana malam ini sangat kacau, Aria,” bisik Lumi dengan suara sehalus kepakan sayap kupu-kupu. “Aku merasakan distorsi sihir yang sangat kuat di sekitar perjamuan. Naskah dunia ini sedang mencoba memperbaiki jalurnya yang telah kau ubah, dan kau berada di titik pusat pusaran itu.”
Aria menatap sepasang anting perak berbentuk tetesan air yang kini terpasang di telinganya. Jemarinya menyentuh permukaan dingin perhiasan tersebut dengan mantap. “Biar saja naskah itu mencoba, Lumi. Aku telah mengubah garis pertamanya di utara, dan aku tidak akan berhenti sekarang hanya karena naskah itu menolak untuk ditulis ulang.”
Lumi mengangguk paham sebelum akhirnya memudarkan tubuh cahayanya kembali ke dalam dimensi tak kasat mata saat Mia berjalan mendekat membawa tiara perak kecil. Dengan sentuhan akhir itu, Aria bangkit dari kursi riasnya. Setiap langkahnya menuju pintu keluar memancarkan keanggunan seorang putri bangsawan sejati, menyembunyikan ketegangan yang bergolak di balik dadanya.
Kereta kekaisaran yang dikirim khusus untuk menjemputnya melaju membelah malam menuju Istana Matahari. Ketika pintu kereta dibuka oleh pelayan istana yang berlutut dengan khidmat, hawa dingin malam ibu kota menyambut kulit leher Aria yang terbuka. Langkah kakinya mantap saat menaiki undakan marmer putih yang disorot oleh ratusan lampu minyak esensial.
Di selasar luar sebelum memasuki aula utama, suasana mendadak sunyi ketika Aria melangkah masuk. Beberapa bangsawan yang sedang berbincang kecil menghentikan obrolan mereka, mengalihkan pandangan dengan bisikan-bisikan tertutup di balik kipas sutra. Aria mengabaikan tatapan-tatapan menusuk itu, mempertahankan dagunya tetap tegak dengan sikap tenang yang ia latih berulang kali.
“Sungguh sebuah pemandangan yang menyegarkan mata, Lady Evander.”
Suara bariton yang halus namun sarat akan intonasi manipulatif itu membuat Aria menghentikan langkahnya seketika. Di bawah pilar batu berukir naga kuno, Duke Lucien Veritas berdiri dengan keanggunan yang berbahaya. Pria itu mengenakan jubah beludru hitam dengan sulaman benang emas khas keluarga Veritas, memegang segelas anggur merah yang digoyangkannya perlahan. Sepasang netra gelapnya menyimpan misteri sedalam jurang, menatap Aria seolah gadis itu adalah teka-teki paling menarik yang pernah ia temukan.
“Duke Veritas,” Aria memberi hormat dengan menekuk lututnya sedikit, sebuah gerakan protokol yang sempurna tanpa cela sedikit pun. “Saya tidak menduga akan bertemu Anda di selasar luar seperti ini.”
“Saya lebih suka mengamati dari kegelapan sebelum badai yang sesungguhnya dimulai,” ujar Lucien, melangkah mendekat hingga aroma kayu cendana dan kertas kuno yang khas dari tubuhnya menguar di udara. “Kabar tentang aksi luar biasa Anda di perbatasan utara telah sampai ke telinga beberapa orang yang salah di istana ini. Naskah dunia terkadang tidak menyukai improvisasi yang terlalu mencolok, bukan begitu?”
Aria merasakan debaran jantungnya meningkat satu ketukan. Lucien selalu tahu cara memancing emosinya, merujuk pada pengetahuan rahasia bahwa dunia ini digerakkan oleh sebuah alur cerita. “Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang putri kekaisaran yang setia, Duke,” jawab Aria dengan nada suara yang terkontrol sepenuhnya. “Dan terkadang, naskah yang ditulis dengan buruk memang harus diubah agar tidak berakhir dengan tragedi yang sia-sia.”
Lucien terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar seperti gesekan biola tua di malam hari. “Keberanian Anda selalu berhasil membuat saya kagum, Lady Aria. Namun, berhati-hatilah malam ini. Di dalam aula itu, naga dan serigala sedang sama-sama kelaparan, menanti siapa yang akan tergelincir lebih dulu.”
Sebelum Aria sempat membalas sindiran halus tersebut, sebuah langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema dari arah koridor utama. Aura yang sangat kuat dan menekan mendadak memenuhi selasar, memotong ketegangan yang sempat terbangun di antara Aria dan sang Duke.
“Duke Veritas,” suara dingin Pangeran Kael Ashford memecah keheningan malam dengan ketajaman yang mutlak. “Saya tidak tahu Anda memiliki hobi baru mengadang tunangan orang lain di lorong istana sebelum perjamuan dimulai.”
Kael melangkah maju, menyejajarkan posisinya di samping Aria. Pria itu mengenakan seragam militer formal berwarna putih bersih dengan jubah merah tua dan lencana emas naga kekaisaran yang berkilau. Tatapan matanya yang kejam menyapu sosok Lucien dengan permusuhan yang tidak ditutup-tutupi.
Lucien tidak tampak terganggu sedikit pun oleh tekanan aura naga milik sang Putra Mahkota. Ia hanya meletakkan gelas anggurnya di atas meja kecil terdekat, lalu menundukkan kepala dengan senyuman santun yang tampak sangat palsu. “Saya hanya memberikan salam hangat kepada Lady Evander, Yang Mulia. Tidak ada maksud tersembunyi apa pun.”
“Salam Anda sudah diterima. Sekarang, silakan masuk lebih dulu. Saya memiliki hal pribadi yang harus dibicarakan dengan tunangan saya,” usir Kael tanpa basa-basi.
Dengan bungkukan kecil yang elegan, Lucien melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, menyisakan keheningan baru yang tidak kalah menegangkan di antara Aria dan Kael.
Kael menoleh ke arah Aria, matanya yang tajam menyusuri penampilan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung gaunnya. Ada kilatan kekaguman yang melintas sangat cepat di matanya sejenak, sebelum kembali digantikan oleh raut protektif yang dingin.
“Kau terlihat sangat berbeda malam ini,” gumam Kael pelan, suaranya melembut hanya untuk didengar oleh Aria.
“Apakah itu pujian atau sebuah peringatan, Yang Mulia?” tanya Aria dengan senyum tipis yang sengaja ia tunjukkan untuk mencairkan suasana.
“Itu adalah peringatan agar kau bersiap,” kata Kael, menawarkan lengannya untuk digandeng. “Evelyn Roselia telah tiba lebih awal bersama faksi bangsawan tinggi. Dia menyebarkan rumor jahat bahwa kau menggunakan sihir hitam terlarang untuk memanipulasi kesadaran para prajurit di utara. Ayahanda Kaisar juga mengawasimu dari atas singgasananya malam ini. Tetaplah berada di dekatku, apa pun yang terjadi.”
Aria meletakkan jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra di atas lengan kokoh Kael. Panas tubuh pria itu menjalar perlahan melalui kain seragamnya, memberikan kehangatan yang aneh di tengah atmosfer istana yang mencekam. “Saya tidak datang ke sini untuk menjadi mangsa empuk bagi mereka, Yang Mulia,” bisik Aria penuh keyakinan.
Pintu ganda aula utama yang terbuat dari kayu ek berlapis emas dibuka lebar oleh dua kesatria berbaju zirah lengkap. Suara gemerincing gelas kristal, alunan musik kecapi yang megah, dan riuh rendah tawa para bangsawan seketika mereda saat pelayan istana meneriakkan nama mereka dengan lantang.
“Yang Mulia Putra Mahkota Kael Ashford dan Lady Aria Evander dari Baroni Evander!”
Ratusan pasang mata di dalam aula megah itu langsung tertuju pada mereka berdua. Aria mengencangkan genggamannya pada lengan Kael, menjaga ritme langkah kakinya agar tetap anggun di atas karpet merah beludru yang membentang luas. Cahaya dari lampu gantung kristal raksasa memantulkan kilau indah pada gaun biru safirnya, membuat sosoknya tampak bersinar di tengah kerumunan.
Di ujung aula, tidak jauh dari singgasana Kaisar Magnus yang duduk dengan wajah pucat namun menyiratkan kekejaman yang tak terbaca, berdiri Evelyn Roselia. Gadis itu mengenakan gaun sutra berwarna merah muda pucat yang dihiasi renda-renda halus, membuatnya tampak seperti bunga suci yang rapuh dan murni. Namun, saat tatapan mereka bertemu di antara kerumunan, Aria dapat melihat dengan jelas kilatan kebencian dan kedengkian yang mendalam di balik sepasang mata Evelyn.
Aria tahu, dansa di atas pedang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di bawah tatapan mengadili dari seluruh kekaisaran, ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun merebut pena takdir yang kini berada di tangannya.